Keysha

1462 Kata
“Kak Keysha, bangun, bangun, bangun!” Tangan itu kembali menepuk-nepuk pipi si gadis, bahkan sekarang juga mulai merambah dari pipi ke hidung lalu mencubit-cubitnya. Masih terpejam, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghindar dari tangan-tangan usil itu. “Hoam..tangan siapa ini?” masih setengah mengantuk dia berusaha menepis tangan itu dan kembali melanjutkan tidurnya. Sesekali kedua tangan gadis yang dipanggil Keysha itu saling mengelus-elus seperti gerakan memeluk dan tak rela melepaskannya. “Tangan siapa apanya? Kakak mimpi m***m ya?!” Tanya orang yang membangunkannya curiga. Seketika, Gadis yang dipanggil Keysha itu segera membelalak terbangun dan kaget demi mendengar kata m***m disebut. Otak warasnya segera bekerja, tak ingin ada kesalahpahaman. “Ah, jam berapa ini?!” Keysha berusaha mengalihkan pertanyaan. Kini ia tersadar dari mimpinya. Muka bantalnya mulai mengkerut cemas. Dia menunggu jawaban orang di sisinya. Seorang anak laki-laki yang terpaut lebih muda lima tahun darinya. “Huh, akhirnya bangun juga.” Dicubitnya berkali-kali hidung kakaknya itu kembali. “Ih, tanganmu bau tau…” Ia segera menyingkirkan kembali tangan jail yang ternyata adiknya itu. “Yaiyalah, kan aku tadi habis poop kak.” Ujarnya membuat kedua bola mata Key seakan melotot akan keluar. Yang dipelototi hanya tertawa puas. Dengan segera sebuah bantal mendarat sempurna ke muka si adik. “Habisnya kakak, dibangunin dari tadi susah amat.” Masih dengan terkekeh Ia melanjutkan ucapannya, “Jam setengah 6, segera bersiap-siap sana!. Kakak tidak ingin jadi pusat perhatian kan karena telat datang?” “Ah iya, terimakasih, Dek. Kakak bersiap-siap dulu.” Ucapnya mengingat ini hari pertamanya ke fakultas. Key sapaan untuk Keysha masih sibuk mengucek-ucek matanya yang belum sepenuhnya terbuka. Ia menyandarkan badannya ke pinggiran tempat tidur dan sesekali menguap. Andai ini masih hari libur, mending aku melanjutkan tidur beberapa jam lagi pikirnya. Adiknya membantu menyibakkan gorden di kamar itu. Seketika udara sejuk dari luar meruak masuk ke dalam penjuru kamar. Matahari belum sepenuhnya muncul, namun di luar sudah mulai terlihat terang ketika lampu-lampu luar dimatikan. “Beruntungnya Kakak punya adik perhatian dan cekatan kaya kamu, Van” Kata Key mengacungkan jempol tangan kanannya, dan segera berdiri dan dengan malas berjalan menuju kamar mandi. “Iyalah, Devan gitu loh. Enggak seperti kakak, cewek tapi pemalas, ceroboh, gak pinter lagi.” Devan mulai menggoda lagi. “Adik kurang ajar, nyesel udah muji barusan.” Sungut Key sembari mengepalkan tangan kanannya dari kejauhan ke arah Devan. “Dih, fakta. Lagian tadi tuh kakak ngigau terus-terusan gak jelas. Pakai acara teriak-teriak segala. Baru setelah itu senyum-senyum. Kakak sebenarnya mimpi apa sih sampai segitunya?” “Pasti lupa baca doa sebelum tidur ya? Atau lagi mimpi basah ?” lanjut Devan asal. Yang diajak bicara masih terbengong, pipinya merona merah. “Sotoy kamu! Lagian istilah mimpi basah tuh buat laki-laki, dan perlu kamu tau, kakak nggak mimpi seperti apa yang ada di otakmu itu, Dek.” Key ngotot tidak terima  ”Lalu mimpi apa?”  tanya Devan mulai kepo. Key mencoba mengingat apa mimpinya semalam. Namun sepertinya nyawanya  belum sepenuhnya terkumpul. Sulit sekali untuk merangkai kembali ingatan meski terjadi barusan. Yang jelas, dia ingat sisi terakhir mimpinya sebelum tangan bau tin-ja adiknya itu menyerang. Sosok malaikat yang bercahaya itu… “Entahlah, Dek. Kakak juga lupa, yang jelas mendebarkan sekali mimpiku. Seperti dikejar sesuatu. Mungkin efek dari begadang nyiapin apa aja yang kudu dibawa ke ospek hari ini. Serasa dikejar deadline.” Ujarnya sembari membasuh mukanya.  Ya, beberapa hari ini Key sedang menikmati awal-awal menjalani status baru sebagai seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa baru lain, ia juga andil dalam sebuah kegiatan wajib yang harus dijalani sebelum benar-benar menjalani perkuliahan yaitu kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau singkatnya disebut ospek. Sudah tiga hari Key menjalani ospek kampus yang berjalan tiga hari, dan kemarin proses penyerahan dari kampus ke fakultas. Di sana para mahasiswa baru juga wajib kembali menjalani ospek fakultas yang dengar-dengar akan lebih intens dari ospek sebelumnya. “Ok, terserah deh. Oya, nanti kalau sudah selesai segera ke bawah ya Kak, Mama udah siapin sarapan.” Ucap Devan sebelum meninggalkan kamar dan Key hanya berdehem. Kini suasana Kembali sunyi. Key berdiri tepat di depan wastafel, dengan masih sedikit enggan diraihnya sikat gigi dan dikeluarkannya beberapa pasta gigi dan dengan segera menyikat pelan giginya. Ia memandangi pantulan dirinya di cermin dan sempat kaget beberapa saat, siapa itu? “Uh, je-lek sekali kamu…heheheh”. Ujarnya terkekeh tak karuan melihat betapa berantakannya ia. Mulut penuh busa, mata bagaikan panda hasil dari begadang semalaman, rambut mengembang acak-acakan bak model rambut singa. Tawanya kemudian berhenti, karena beberapa saat Key mulai mengingat serpihan-serpihan mimpinya. Terutama bagian Ketika seorang lelaki bercahaya merangkulnya. Wajah yang belum pernah dikenalnya bahkan ditemuinya. Dan itu membuatnya kembali senyum-senyum geli sendiri. Jam sudah menunjukkan jam enam lewat seperempat. Key masih saja berkutat dengan tatanan rambutnya. Ada briefing dari panitia ospek fakultas seusai penyerahan dari kampus ke fakultas kemarin, ada list yang wajib  ia patuhi jika ingin tenang aman sentosa selama menjalani ospek, salah satunya memberi pita warna pink sejumlah bulan lahirnya dan pita warna ijo stabilo sejumlah tanggal lahirnya. 8 Agustus. Berkali-kali ia mengulangi menghitung, demi memastikan sudah lengkap pitanya. Ada 16 pita bertengger di kepalanya kini. Banyak sekali. Sampai bingung bagaimana menatanya agar tetap terlihat kece di hari pertama nanti. Key tak bisa membayangkan bagaimana anak-anak lain yang tanggal lahirnya apabila dijumlah hasilnya lebih banyak darinya, pasti jadi toko pita berjalan tuh kepala. Selesai dandan dan beberes semua yang udah disiapkannya semalaman, segera Key turun kebawah. Bergabung dengan keluarganya untuk sarapan. Dari atas lantai dua dimana kamarnya berada, Key bisa melihat keluarganya sedang berkutat dengan kegiatan masing-masing. Pak Joko, sang Papa duduk sembari serius membaca koran pagi yang biasanya sudah tergeletak di depan pintu rumah mereka sejak pagi buta. Meski koran berita bisa di baca lewat ponsel di era sekarang, namun lelaki 40 tahunan itu lebih suka membacanya dalam bentuk koran yang bisa dipegang secara fisik. Suara srek! Srek! Setiap membuka lembarannya membawa melodi khas tersendiri untuk didengar. Di samping kursi lelaki itu, ada Devan yang juga sedang terduduk membaca buku yang sedang dipegangnya. Ada tulisan Buku Sejarah untuk SMP di sampul buku tersebut. Sesekali Devan tampak memejamkan mata, keningnya berkerut, dan mulutnya berkomat kamit menghafal info di buku tersebut. Mungkin hari ini adik lelakinya tersebut akan ada ulangan harian. Di sudut lain, tampak Bu Joko, Wanita yang hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dari Pak Joko sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk di letakkan di atas meja. Kedua tangannya terlihat membawa piring-piring yang dipenuhi karya masakannya pagi itu. “Pagi Ma, Pa, Devan.” Sapa Key sembari berjalan menuruni tangga dan membantu mengambil gelas-gelas yang terisi hampir penuh su-su putih. Mereka menyapanya balik. Mama menghampiri Key dan menyerahkan kotak makan berwarna hijau yang sudah disiapkan untuk putri tercintanya. “Nasi gorengnya dihabiskan ya. Jangan lupa bawa bekal makanannya.” Tutur Mama lembut. Key berterimakasih dan tersenyum mengiyakan. Kini ia menggeser kursi makannya dan segera mendudukinya. “Key, awal-awal kuliah biar tetap Papa antar saja dulu ke kampusnya. Baru nanti kalau sudah familiar dengan rute kampusmu, Papa ijinin Key nyetir motor sendiri.” Ucap Papanya kemudian. “Siap, Papa!” jawab Key girang. “Ih, Kakak boleh bawa kendaraan sendiri, lalu Devan kapan? Kan juga mau.” Sungut Devan yang sudah rapi dengan setelah pakaian putih biru khas siswa SMP. “Devan kan masih belum cukup umur, belum boleh bawa kendaraan sendiri, Sayang.”Mama menenangkan anaknya sembari mengelus lembut kepala Devan. “Iya, Devan. Nanti kalau sudah 17 tahun, baru Papa ijinin Devan juga bawa kendaraan, itupun setelah Devan dinyatakan lulus dari serangkaian tes mengemudi nanti.” Papa berusaha menjelaskan, “ Sekarang Devan usianya berapa?” lanjutnya lagi. “15 tahun.” Jawab Devan singkat. “Wah, udah boleh tuh.” Key ikut bersuara. Seketika Devan berbinar matanya.  “Beneran, Kak?” “Iya, tuh ambil saja sepeda roda tigamu di Gudang, kendarai sendiri ke sekolah hahaha”. Seloroh Key. “Ih Kakak!” Devan cemberut kesal, tak henti-hentinya sang kakak menggodanya. Balas dendam karena tadi dia juga diusilin mungkin. “Key…” Pak Joko dan Bu Joko kompak memperingatkan Key. “Okay, sorry…”. Ucap Key tak begitu merasa bersalah dan segera memasukan sesuap nasi goreng sosis kesukaannya ke mulut. Selesai sarapan, Keysha, Papa dan Devan berpamitan ke Mama lalu segera melesat pergi. Tujuan pertama mereka adalah kampus Key, karena posisinya memang yang terdekat dari kediaman mereka. Setelah sampai di kampus yang terkenal sebagai kampus hijau itu, key turun dan melambaikan tangan ke Papa dan adiknya, “Semangat Kakak!” Ucap mereka bebarengan. “Kalian juga! Semangat!” Timpal Key sembari mengangkat kepalan tangannya tanda menyemangati. Dan mereka pun pergi.  Key masih memandangi mobil yang membawa keluarganya itu sampai mereka benar-benar tak terlihat lagi, ada rasa haru di lubuk hatinya, bersyukur dikaruniai keluarga yang hangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN