Di tengah keterpurukannya, Key mencoba diri untuk tetap tenang ia mencari ponselnya, ia ingin mengecek menggunakan GPS yang ada di gawai tersebut, sebenarnya dimana dirinya berada. Namun, saat berusaha mencari sinyal, tak satupun sinyal tertangkap di ponselnya, ia berusaha berjinjit siapa tau ada sinyal yang menyangkut, nihil, ia coba lagi berputar-putar di sekitaran tempatnya berdiri, nihil. Sepertinya tempat ini memang susah mendapatkan sinyal, atau memang tak terjangkau oleh sinyal? Saat mengangkat tangan mencoba mencari sinyal itulah gelang tali berwarna merah pemberian Aldo menyembul dari lengan kanannya. Seketika wajah Aldo kembali terlintas. Key tidak terima. Ia tarik kuat-kuat gelang pasangan itu dan dibuangnya sejauh mungkin yang bisa Key lempar. Tak ada suara sampai sejauh mana gelangnya berakhir, yang ia tahu benda itu sudah terjun bebas ke dalam dasar jurang yang dalam.
Seperti belum puas, Key juga menendang sebuah kerikil yang berada di dekat sepatunya. Kerikil itu terlempar jauh masuk ke jurang dan menimbulkan suara sedikit gema ketika kerikil itu sampai ke dasar. Adakah hal yang lebih sial dengan harinya saat ini?
“Aaaa!!!”. Dengan lantang Key berteriak sekuat-kuatnya pada semesta alam akan nasib buruk yang bertubi-tubi menimpanya. Seketika segerombolan kelelawar yang sedang tertidur bergelantungan di sebuah pohon tinggi dibuat kaget dan mulai berhamburan terusik oleh suara teriakan Key. Rasa-rasanya sedikit lega setelah ia berteriak sedemikian rupa.
“Kau kira kau saja yang memiliki telinga?!” Gertak seseorang. Key terlonjak kaget,karena dipikirnya tempat itu adalah tempat teraman di buka bumi ini untuknya bersembunyi dan tak seorangpun menemukannya. Tapi lihat, baru beberapa detik ia berpikir demikian, setelah itu ada seseorang yang entah dari mana munculnya telah mendapatinya.
“Maaf”. Hanya itu yang bisa diucapkan, tanpa menoleh.
“Sedang apa kau di sini?” Sahut suara laki-laki itu mulai mengintrogasi. Ya mungkin cukup aneh ketika seseorang melihat gadis sendirian di tempat antah berantah saat hari menjelang petang.
“Tak ada.” Masih sesenggukan Key berusaha tidak menoleh ke suara berat di belakangnya, ia harus memastikan air mata ini kering terlebih dahulu sebelum orang lain melihatnya dalam keadaan yang amat menyedihkan. Sekalipun orang yang tak dikenalnya.
“Jika tak ada urusan apapun, sebaiknya kau segera pergi dari sini!"
Key seperti hilang kesabaran diusir seperti itu. Benar-benar sial pikirnya.
“Kenapa sih, tak bisakah aku hidup tenang. Kenapa kau juga harus mengganggu sih. Aku juga pasti akan segera pergi tanpa kau suruh!" lanjutnya lagi berusaha mengusir orang itu.
“Dan satu hal, ni tempat umum, yang jelas bukan urusanmu jika aku ingin di sini!”
Hah? Siapa sih ini orang, datang-datang mengganggunya saja! Batin Key mulai kesal.
“Jelas, ini urusanku. Kau berada di wilayahku!” Jawab lelaki itu tak kalah lantang. Demi mendengar hal itu Key merasa sekujur tubuhnya panas karena amarah. Ia pun sudah tak memperdulikan mata sembab, ataupun mukanya yang acak-acakan tak karuan demi ingin membalas pernyataan orang itu. Seketika Key berbalik, dan alangkah takjubnya ia.
Di depannya telah berdiri sosok lelaki dengan tinggi di atas rata-rata, meski mereka berdua berdiri dalam jarak tiga meter, tapi Key yakin lelaki itu benar-benar terlihat tinggi sekali. Key sempat tertegun sesaat menyaksikan sosok wajah dengan ketampanan yang sangat memikat siapa saja yang baru pertama kali melihatnya atau biasa disebut face genius. Lelaki itu sedang mengerutkan dahi ke arahnya. Sepasang alis tebal yang selaras dengan mata tajamnya sedang menyipit menatap tajam ke arah Key. Benar-benar ciptaan Tuhan yang amat indah.
“Malah diam.” lelaki yang jelas tak tambak tak bersahabat itu membuyarkan lamunan Keysha, setelah tersadar, Key sempat mengumpat ke dirinya sendiri karena betapa bodohnya terlihat norak dengan memandang kagum ke lelaki yang baru ditemuinya.
“Ini jalan umum ya, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa jalan ini milik perorangan!” Key tak terima, “Kecuali kalau kau preman yang mengaku-aku jalan atau suatu tempat adalah kekuasaanmu.” lanjutnya sengit.
Tunggu. Preman? Alamak, Key baru berfikir, jangan-jangan lelaki yang di depannya benar-benar preman. Ia mulai sedikit ngeri membayangkan apabila orang itu benar-benar apa yang dikhawatirkannya, secara sering muncul di berita-berita aksi kawanan preman atau bahkan yang lebih sadis adalah komplotan begal yang biasanya mendiami tempat sepi-sepi seperti ini. Bisa-bisa keesokannya Key sudah ada dalam sebuah sampul sebuah surat kabar dengan judul besar, “Ditemukan jasad wanita muda tergeletak di semak-semak.” Idih ngeri juga membayangkannya. Tapi ketika Key memperhatikan dengan seksama penampilan rapi lelaki itu secara keseluruhan, rasa-rasanya tak mungkin ia salah satu dari komplotan-komplotan itu.
“Kau yakin, seorang gadis sendirian di tempat seperti ini?” Tanya lelaki itu dengan nada mengejek dan tatapan sinis.
“Memangnya kenapa? Suka-suka aku dong mau dimana.” Kini Key mulai nyolot, karena lelaki ini terlalu ingin tau.
“Yah, hari sudah mau gelap dan tempat ini jarang dilalui kendaraan bahkan orang sekalipun berada di sini.” Balas lelaki itu santai dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Nyatanya baru beberapa menit aku berada di sini, kau sudah berada di sini mengusikku. Kau kira dirimu sendiri bukan orang?” Key berkata demikian sembari juga tersenyum sinis. Namun, lelaki di depannya hanya datar menanggapi tingkah Key, sama sekali tidak merespon pernyataan Key barusan.
“Kau orang kan bukan dedemit?” Rasanya Key justru ingin tertawa sendiri saat bertanya hal itu. Namun, lelaki itu hanya terdiam.
Kaku sekali sih ini orang padahal ia sekedar sedikit bercanda. Batin Key.
"Terserah kamu saja.” kata si lelaki mulai merendah suara intonasinya, “Yang penting aku sudah memperingatkanmu." Lelaki itu pun berbalik badan dan berjalan meninggalkan Key sendiri lagi.
"Ya, sudah. Dasar orang aneh!" Balas Key lumayan lirih namun ketus, dan lelaki itu hanya geleng-geleng kepala ketika mendengar u*****n yang meski lirih itu.
Key juga berbalik kembali, saking jengkelnya ia menaiki motornya dan akan menyalakannya, ia ingin segera pindah dari tempat itu. Tentu saja kendaraannya tak bisa jalan, barulah ia ingat bahwa alasannya berhenti disini karena motornya itu mati kehabisan bahan bakar. Ah, berkali-kali ia memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
"Dasar betapa bodohnya aku!" Berulang-ulang ia mengutuk dirinya sendiri, dan barulah ia tersadar ada rasa sesal karena tidak meminta bantuan dari lelaki tadi. Saat itu juga tiba-tiba ada suara burung kedasih yang melengking tajam dan panjang membuat suasana menjadi mengerikan. Key memandang alam di sekitarnya, jalanan sepi, langit menjingga dan hanya tinggal menunggu hitungan beberapa menit saja tempat ini bakal menjadi gelap, dan tak ada yang lewat selama ia mendekam di sana kecuali lelaki yang sempat membuat keributan. Key mengusap-usap kedua lengannya, angin dingin serasa meniup tengkuk lehernya. Sekonyong-konyong ia buru-buru turun dari motornya dan mengejar lelaki itu, mungkin saja ia belum berjalan terlalu jauh pikirnya.
Keysha berlari menyusuri jalan raya yang jalannya menanjak dan menurun itu. Ditolehnya kanan dan kiri siapa tau lelaki yang dikejarnya sudah berbelok ke suatu tempat. Suara kedasih masih saja menjadi backsound tempat itu, masih jelas terdengar, seakan-akan suaranya menggema ke seluruh penjuru tempat. Key sudah tak bisa lagi menutupi ketegarannya. Ia ingat betul, dulu dikala ia masih anak-anak setiap mudik tiba pasti datang mengunjungi rumah neneknya yang berada di daerah Bruno, Purworejo. Ya daerahnya mirip dengan sekarang Key berada, di dataran tinggi yang dikelilingi hutan. Bahkan rumah neneknya bersebelahan persis dengan sebuah alas yang masih banyak babi hutan di dalamnya. Suara kedasih yang nyaring sering membuat dirinya bergidik, mirip suara lengkingan hantu-hantu yang ia lihat di bioskop. Ketika suaranya sudah tak terdengar, Keysha kecil lega luar biasa. Dan sekarang, ia harus mendengar suara burung itu lagi seperti sedang mengiringinya.
Key berhenti sejenak untuk mengatur pernapasannya yang mulai sesak. Ia kembali melihat sekeliling, dan kesal juga, perasaan baru beberapa menit saja lelaki itu meninggalkannya namun tak juga ia temui. Apakah ia sudah kehilangan jejak?
Lagi-lagi tekuk lehernya bergidik, Key merasa ada yang mengawasinya. Ia menoleh ke arah rerimbunan pohon yang menjulang tinggi. Seperti sesuatu membawanya untuk melongok ke sana, namun semakin diperhatikan hanya kegelapan yang tidak bisa ia tembus.
“Come on! Jangan berpikiran macam-macam Key.” Katanya pada diri sendiri.
Kenapa harus terdampar di tempat seperti ini sih! Key melanjutkan perjalanan mencari lelaki itu dan mempercepat larinya dan terus mengusap-usap lengannya.
Seperginya Keysha, benar saja dari balik kegelapan tadi mulai tampak sosok wanita berambut panjang cantik dengan pakaian serba putih yang sangat kontras dengan warna gelap di sekitarnya. Ia tersenyum sinis menyeringai sambil memperhatikan gadis yang baru berlalu itu. Ya, ia sudah mengawasi gadis itu sejak berinteraksi dengan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai kekasihnya. Meski lelaki itu selalu cuek terhadap kehadirannya, dan apa yang sekarang dilihat oleh Si cantik Jembatan Mberok? Kekasih rupawannyalah yang justru berinisiatif memulai obrolan dengan wanita lain. Ia merasa harga dirinya terpuruk tak terima. Terlihat sekali ketika dilihatnya lelaki itu bicara dengan penuh kepedulian, yang bahkan selama ini ia sendiri diacuhkan keberadaanya. Saat itu juga gendang permusuhan ditunjukkan ke Keysha. Ia cemburu, rasanya ia ingin melahap bulat-bulat gadis itu.