“Kamu yakin tak ingin kita pergi keluar?” Tanya Aldo dari seberang tempat lain. Nada bicaranya seperti mengatakan, Ini hari minggu loh, kita sama-sama tidak ada jadwal kuliah. Kita bebas, kita bisa bertemu dan kemanapun. Dan kau menolak untuk pergi?.
“Yakin. Seyakin-yakinnya. Hari ini aku sudah janji dengan Mama minta mau diajarin membuat kue.” Jawab Key, tangannya sesekali mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya dengan jari telunjuknya. Di atas meja itu ada buku catatan membuat kue yang baru dibacanya tepat sebelum Aldo menelepon. Key melirik buku itu, ia tadi mencetangi bahan apa saja yang sekiranya sudah ada di rumah.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mengajak yang lainnya untuk futsal bersama saja.”
“Ide yang bagus, lagian baru saja kemarin sabtu kita sudah seharian bersama-sama tak ada salahnya hari ini waktumu bersama teman-temanmu.” Jelas Key, suara di seberang sana tampak mendengus kecil, “Barena aku selalu merindukanmu.”
Key tertawa kecil, “Ayolah, bukankah besok kita akan bertemu Ibumu. Aku akan membuat kue untuknya.” Akhirnya Key mengatakan alasannya mau belajar membikin kue. Mendengar alasan itu, Aldo kembali bersemangat.
“Baiklah. Aku dukung. Jangan lupa buatkan aku juga yang spesial.” sahutnya di akhir telepon sebelum pamit menutup telponnya.
Sekarang Key bisa kembali fokus ke daftar di depannya. Setelah semuanya selesai, ia berjalan ke dapur dimana Bu Joko berada. Ternyata beliau sudah menyiapkan semua peralatannya beserta bahannya di atas meja dapur.
“Sudah siap anak cantik?” Sapa Bu Joko ketika melihat Key.
“Sudah.” Jawab Key sembari mengacungkan kedua jempol tangannya. Agendanya mereka berencana membuat kue nastar. Kemarin malam minggu Key dan mamanya sudah berbelanja bahan-bahan di supermarket yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka mulai mengenakan celemek masing-masing dan menguncir kuda rambut. Selesai berdoa, mereka mulai membuat selai nanas sendiri. Ya, sebenarnya banyak selai yang dijual di luaran, namun Bu Joko kurang begitu cocok dengan hasilnya ketika pengalaman membuat nastar dengan selai instan.
“Jadi kita bisa mengatur kepadatan,aroma dan serat selainya juga, Key.” Bu Joko menjelaskan setiap detailnya kepada putri semata wayangnya itu sembari memarut nanas sebagian dan Key mengikuti apa yang dikerjakan mamanya, dengan memarut nanas sebagian yang lain. Key ingat betapa mamanya itu orang yang sangat detail, ketika berbelanja nanas kemarin adalah momen yang unik baginya, mamanya mengecek tingkat kematangan setiap nanas yang diambilnya dengan mencium satu per satu, padahal bagi Key aromanya hampir mirip semua.
Setelah usai, Bu joko memasak parutan selai ke dalam teflon. Sembari mengaduk sampai airnya menyusut, wanita paruh baya itu menjelaskan langkah-langkah selanjutnya. Key sangat menikmati waktu bersamanya dengan mamanya itu. Jarang-jarang ia mau diajak memasak seperti ini, dan ketika Key mengutarakan keinginan untuk belajar membuat kue, Bu Joko langsung mendukungnya. Mamanya itu memang luar biasa, tak hanya cantik tapi juga pandai membuat berbagai masakan dan kue. Tak khayal, Mamanya sendiri bahkan sudah punya ratusan resep yang ia posting di salah satu platform khusus berbagi resep masak memasak dan sudah diikuti oleh ribuan orang. Makanan mamanya adalah yang terbaik menurut Key. Ia amat bersyukur memiliki Bu Joko sebagai mamanya, karena ia jadi jarang beli makanan di luar dan bisa menikmati indahnya cicip mencicip dan memakan masakan terbaik setiap saat.
Ketika Bu Joko membimbingnya untuk membuat kue, Key jadi berpikir kenapa dia terlalu malas dahulu untuk berlatih bersama seperti ini. Bukankah Bu Joko adalah guru terbaik untuk mengajarinya cara memasak? Yah, bagaikan langit dan bumi. Jika mamanya sudah seperti seorang ahli, dan Keysha adalah kebalikannya, ia tidak begitu pintar memasak bahkan terkadang ia lupa terbalik-balik dalam mengenali bumbu-bumbu dapur yang bentuknya mirip-mirip, ia hanya mampu selain masakan-masakan yang gampang dan paling butuh beberapa menit saja membuatnya, untuk yang rumit-rumit ia menyerah. Pernah dulu ketika ia masih SMA, iseng membuat donat sendiri berdasar melihat resep masakan mamanya yang diposting di sebuah platform sebagai kejutan ketika mamanya ulang tahun. Namun sayang, hasilnya justru donatnya menjadi keras dan bantat, meski bisa dimakan tapi hasilnya tidaklah enak. Padahal ia bikin sudah seharian.
Butuh beberapa jam, sampai akhirnya ia membuat Nastar keseluruhannya. Hasilnya, sangat memuaskan. Dibantu Bu Joko, Key menata hasil karya mereka ke sebuah toples bulat dengan sangat hati-hati dan rapi. Tak lupa diberi pita di atas tutup toples untuk menghiasinya. Key mengangkat hasil karya mereka.
“Wah, indah sekali.” Ia terharu menyaksikan bulatan-bulatan mengkilap berwarna kuning itu. Bu Joko terharu menyaksikan putrinya sudah berhasil menyelesaikan pembuatan kue dengan sempurna.
“Jadi, buat siapa sebenarnya kue itu, Key?” Pertanyaan Bu Joko membuat Key segera menurunkan kembali toples yang berisi kue tersebut. Ia tersipu malu seketika, “Lain kali deh, key akan cerita semuanya. Key sekarang belum siap.” Ujar Key kemudian.
Tersenyum Bu Joko mendengarnya, dan membelai lembut rambut anaknya, “Baiklah, Mama menantikan hari itu. Mama akan senang mendengarnya.” Ucap Bu Joko lagi. Key mengangguk setuju.
***
Paginya, Key sudah mematut-matut kan dirinya di depan cermin besar yang bersandar di dinding kamar. Beberapa pakaian tercecer di atas kasur. Gadis yang dilanda asmara itu masih terus mencoba kiranya pakaian mana yang cocok untuknya ke kampus dan sekaligus bertemu dengan Bu Mira, ibu dari kekasihnya. Pilihan terakhirnya jatuh pada setelan casual jeans biru dengan blouse floral biru renda yang sangat manis, tak lupa ia tetap membawa tas ransel hitam yang mengkilat di bahunya dengan slop warna hitam juga, membuatnya tampak feminim. Lantas ia mengeriting ujung rambut sebahunya sehingga tampak lebih fresh. Key tersipu sendiri menyaksikan rupanya dalam pantulan cermin, terkadang ia masih tidak menyangka, dulu dirinya ketika SMA masih seperti anak ingusan yang tak paham mode maupun make up terlebih emang ia berteman dekat dengan Lala, si tomboy yang juga tidak peduli pada hal kecewan semacam ini. Mereka jadi sama-sama buta akan fashion. Barulah setelah ada jeda waktu luang seusai kelulusan SMA, ia menyempatkan mencoba berbagai kegiatan baru salah satunya belajar make up dan memadu padankan pakaian yang dilihatnya dari para selebgram yang ia ikuti.
Key memastikan hampers berupa tote bag dan setoples kue nastar sudah berada di ranselnya. Diraihnya kembali dan dibawanya ke depan cermin lagi.
“Ternyata kamu cantik juga, Key.” Katanya pada diri sendiri. Setelah puas berputar-putar dan melihat penampilannya, barulah ia turun untuk bergabung sarapan dengan keluarganya.
***
Rencananya sore hari ini ia dan kekasihnya akan memberitahukan hubungan mereka kepada Bu Mira dan Nina di acara ulang tahun Bu Mira. Mereka sudah berjanji akan bertemu setelah kuliah Key berakhir. Kata Aldo hubungan mereka bisa menjadi sebuah hadiah kejutan yang tak akan dilupakan. Bahkan ia sudah membawa kado yang lebih mirip hampers, di dalamnya ada tas yang ia cari bersama kedua sahabatnya beberapa hari lalu beserta ada satu kotak kue nastar bikinannya sendiri! Rasanya ada kebanggaan tersendiri bila mengingatnya.
Namun ternyata ia bisa datang lebih awal karena kelas mata kuliah yang harusnya jam satu ada jadwalnya saat itu kosong. Dosen yang seharusnya mengajar tetiba memberitahukan di chat group berhalangan hadir dan diganti lain waktu. Dengan segera dia chat Aldo soal kabar baik tersebut. Pesannya masih terlihat centang dua yang belum terbaca, saking lamanya demi menunggu notif centang biru bahwa pesannya sudah terbaca ternyata lama, ia memutuskan untuk langsung menyamperi kekasihnya itu saja. Key menuju ke basecamp Aldo dan teman-temannya biasa nongkrong. Selama perjalanan entah kenapa hatinya berbunga-bunga sendiri, dia merasa sempurna hari ini dan tak sabar kiranya tanggapan yang akan Aldo berikan tatkala melihatnya hari ini. Melihat sepasang kupu-kupu yang berterbangan saling berkejaran yang tepat melintas di depannya, membuat Key sejenak berhenti dan memandangi mereka terbang di antara bunga pentas yang memang tumbuh rimbun di sepanjang pinggiran jalan yang ada di kampusnya. Pemandangan yang semakin membuat Key berbunga-bunga, ia pikir betapa jika seseorang yang mau bersedia memotretnya dengan background yang matching dengan pakaian yang dikenakannya pastilah sangat ciamik. Tak ingin berlama-lama di sana, Key lanjut melewati lorong yang menuju ke gedung yang khusus untuk UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), tepatnya di UKM BEM pusat. Tempat dimana Aldo biasanya ada sudah terlihat dari kejauhan, ia berjalan pelan-pelan dan elegan menuju kesana, saat sudah mendekati ruangan itu tak sengaja Key mencuri dengar obrolan Aldo dengan teman-temannya. Ya, ia yakin benar ada salah satu suara khas dari kekasihnya di antara suara gerombolan itu. Awalnya dengan iseng dia mencoba mencuri dengar sebentar percakapan mereka sebelum ia memanggil Aldo. Namun, apa yang ia dengarkan justru menjadi sebuah penyesalan! Hati Key tiba-tiba luluh lantak, apa yang ia dengar adalah sesuatu yang tak seharusnya merusak awal hari yang dianggapnya sangat indah.
“Tos ah! Jadi Aldo nih pemenang sejati kita!” Teriak suara Tegor.
"Yoman, dia yang paling cepat dapat pacar!" Sahut Andre.
“Gila lu Al, baru juga beberapa waktu lalu masih ngeluh jadi jomblo dan sekarang udah dapetin tuan putri aja!” Seloroh Boy.
“Eh jangan lupa, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." Tegor mengingatkan
"Bener-bener, cocok tuh pepatah. Dapetin Keysha iya, motor juga iya." Sahut yang lainnya.
Semua lantas tertawa bersama, Aldo hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan teman-temannya itu.
"Sudah ya, jangan bahas aneh-aneh. Hari ini dia kuajak menemui keluargaku. Aku tak ingin pembicaraan kalian terdengar orang lain." Akhirnya Aldo bersuara lagi demi menenangkan teman-temanya yang terlalu heboh.
Telat! Bukan orang lain, tapi aku sendiri yang mendengarnya Al! Kata Key dalam hati. Demi mendengar percakapan yang baru didengarnya itu tentu saja seketika badan Key bergetar begitupun tangannya. Tangannya sudah mengepal ingin rasanya ia keluar dari tempatnya berdiam diri sejak tadi dan melabrak mereka. Keinginan dalam hatinya yang terbakar amarah sangat kuat membuncah, namun reaksi badannya bagaikan pengecut, bereaksi sebaliknya, hanya gemetar dan tak ada reaksi lain, membuat dadanya jadi terasa mulai panas dan sesak, sesekali ia menepuk-nepuk kepalan tangannya ke dadanya berusaha menenangkan diri. Blouse floralnya yang cantik mulai basah akan air yang keluar dari pelupuk matanya. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Jadi selama ini ia hanyalah sekedar bahan taruhan, kakinya terasa lunglai dan mundur beberapa langkah ke belakang dan,
”Klontang!” kaki kanannya menyenggol sebuah kaleng bekas cola yang entah orang kurang ajar mana yang membuang sampah dengan sembarangan, dan kenapa juga kakinya harus mengenai benda sialan itu di saat yang tak tepat.
Aldo mengangkat satu jari untuk mengisyaratkan semua orang diam, telinganya mencari suara berisik yang sempat didengarnya.
"Apa kalian dengar itu?"tanyanya.
“Ya,aku dengar.” Jawab Boy.Yang lainnya juga mengangguk mengiyakan.
“Halah, paling juga kucing garong piaraan UKM sebelah.” Ujar Tegor tidak ambil pusing. Aldo merasakan instingnya berkata ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok tak jauh dari dia dan keenam kawannya ngobrol, namun lantaran Tegor berbicara kemungkinan semacam itu membuat dirinya ikutan lega, toh memang banyak kucing berkeliaran di kampusnya.
Keysha masih membekap mulutnya tepat setelah ia menyenggol kaleng itu, dia tak ingin suara kaget beserta isakan yang tak bisa dicegah terdengar oleh mereka, masih beruntung suara kaleng tadi yang sempat disenggolnya tidak menimbulkan curiga akan keberadaannya. Sesak bukan main, geram, kecewa menumpuk di dadanya masih terus saja menerjang, dan bulir air matanya menetes tanpa henti. Pening dan masih tidak percaya. Dengan hati-hati ia berjalan melangkah menjauh, Ia putuskan untuk segera meninggalkan tempat itu, pergi dengan amarah.
Ternyata apa yang dikatakan Doni benar! Batinnya sesak. Sesal kemudian karena ia sama sekali tak menaruh curiga ketika Doni pernah memperingatkannya, apakah cinta yang sudah membuatnya bodoh dan tidak bisa berpikir rasional. Kenapa juga ia tak curiga akan sifat manis Aldo selama ini. Cinta Key hanya untuk permainan, ketika ia tulus mencintai Aldo. Tuhan, hari macam apa ini. Kenapa seketika hidupnya berbanding terbalik saat pagi tadi. Harusnya ini hari yang membahagiakan tapi kenapa berubah menjadi bencana? Rencana terbaik apa yang sebenarnya ingin kau ciptakan? Ratap Key dalam hati pedih.
Saat itu juga kebetulan Aldo mengecek ponselnya dan mendapati pesan Keysha yang ternyata dikirim beberapa menit lalu. Nalurinya berkata untuk segera menjemput Key.
"Yaudah, aku cabut dulu ya!" Pamit Aldo.
"Uhuy!, Sang Pangeran mau nyamperin Sang Putri nih ye." Sahut Boy. Aldo hanya mengedipkan sebelah mata untuk mengiyakan.
Seketika teman-temannya riuh kembali, "wah kita juga kudu nyari pacar nih kaya Aldo." Sahut salah satunya. Aldo tertawa mendengar itu dan segera pergi meninggalkan mereka yang masih ribut membahas taruhan itu.
Aldo melewati beberapa ruang UKM sembari jarinya terampil mengetik pesan balasan untuk Key, Aku kesana. Tunggu ya. Saat itulah dari kejauhan ia melihat sang kekasih pergi terburu-buru.
“Key!” Panggilnya lantang.
“Keysha!” Ulang Aldo lagi jauh lebih lantang, namun Key tak menggubrisnya meski samar-samar mendengar Aldo memanggilnya. Tidak! Bahkan ia tak sudi menoleh ke arah kekasih yang sudah amat membuatnya rapuh.
Ia terus berjalan bahkan tampak seperti berlari, menembus lalu lalang mahasiswa yang saling berseliweran.
Sayang, Aldo tak berhasil mengejar Key. Gadis yang luar biasa sakit hati atas pengkhianatan itu hilang di tengah kerumunan orang-orang. Aldo kalah cepat. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Key namun sia-sia.
Key ternyata ke arah parkiran motor. Dengan sigap dia segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi tanpa arah tujuan jelas, saking kalutnya. Pergi meninggalkan kampusnya. Masa bodoh meski sebenarnya masih adanya mata kuliah sampe sore. Beberapa saat kemudian, Key telah melaju di sepanjang jalanan berupa pohon-pohon tinggi yang teduh, semakin bersyukur akan jarak yang semakin jauh dari dirinya dengan tempat Aldo berada. Ponsel yang selama perjalanan tak berhenti bergetar ia rasakan, memasuki hutan ini sudah tidak terasa lagi getarannya. Mungkin saja dia sudah menyerah untuk menghubungiku, pikirannya. Padahal di sisi lain tad sahabat-sahabatnya yang sempat memanggilnya juga tak dihiraukan. Yang ada dipikirannya sekarang adalah untuk segera menjauh dari tempat itu. Ia ingin menenangkan diri sepuasnya. Sampai dia menyadari, ketika bensin di kendaraannya habis. Dia berhenti di sebuah dataran luas yang kanan kirinya masih banyak pohon tinggi sama seperti di hutan tadi. Dia turun dari motor. Sejauh mata memandang tak terlihat bangunan satupun. Lemas dan terduduk di pinggir jalan. Angin menjelang senja menerpanya. Pemandangan yang sebenarnya indah menjadi menakutkan baginya. Lantas di situ dia menangis sejadi-jadinya. Takut, sedih, kecewa, marah menjadi satu. Hari yang seharusnya indah dengan bayangan sedang berkumpul bersama dengan keluarga Aldo berakhir dengan kesendirian yang mengecewakan dan entah di mana ia berada.
Apa yang menjadi alasannya pergi tanpa arah semacam ini, tak lain dan tak bukan adalah karena ia ingin menyembunyikan dirinya dimana tak seorang pun dapat menemukannya maupun menyakitinya. Secara sepintas bayang-bayang kebersamaannya dengan Aldo muncul, menambah lagi luka yang menganga. Bagaimana bisa sesuatu yang dianggapnya takdir itu ternyata sebuah permainan belaka. Kebersamaan yang ia lalui bersama Aldo terasa indah dan nyata ternyata semuanya palsu. Key hanya dijadikan ajang permainan paling tak bermutu, yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Ternyata cinta tulusnya hanya dihargai sebuah motor. Mengingat itu sendiri pun membuatnya putus asa.
Ketika sepasang burung emprit melintas dan berkicau bersama-sama menyuarakan betapa mereka dalam asmara sekarang, membuat Key bertambah merana. Ia tak menyangka, bagaimana bisa ketika makhluk indah lain yang sebenarnya damai dipandang itu membuat cemburu di hatinya. Key berusaha menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, ternyata cinta bisa membuat dirinya sekonyol ini. Ia menangis kembali sejadi-jadinya, meluapkan segala emosi yang sudah membuncah. Bukankah tak ada orang lain di sana, dia tak perlu membekap tangisannya dengan sebuah bantal agar tak terdengar orang lain bukan?