Sudah sebulan berlalu sejak ia menyandang status baru sebagai mahasiswa ekonomi Universitas Atmaja Buana dan pacar sah pertamanya, Aldo Kusuma yang juga seniornya.
Ia masih tidak menyangka, Aldo yang notabenenya cukup populer dikalangan para mahasiswi menyatakan cintanya saat makrab sebulan lalu. Meski bukan yang tercantik namun Key adalah salah satu adik kelas rupawan bagi kalangan para senior. Sehingga bersanding dengan Aldo, merekapun cukup tampak serasi. Key benar-benar ingin menikmati masa-masa kuliahnya. Ia ingin bebas. Bukan seperti saat jaman-jaman sekolah dulu. Key yang cupu, kegiatan sehari-hari selalu sekolah-pulang-sekolah-pulang. Tanpa main, tanpa ada kisah asmara. Tak salah ia dulu dicap sebagai “Jomblo Sejati.” Entahlah, hidupnya terasa monoton dahulu. Key benar-benar ingin melukis lembaran baru yang seru, menantang, dan jauh lebih berwarna. Tak dipungkiri, dia juga sempat mengkhayalkan siapa tau dia akan mengakhiri sebutan jomblo sejati di bangku kuliah ini,dan ternyata benar sosok Aldolah orangnya. Pria berambut hitam ikal, dengan tinggi sekitar 170 cm itu benar-benar sosok yang perhatian terhadapnya, bahkan boleh dibilang sedikit posesif. Meskipun begitu, Key amat bahagia. Mengingat baru seumur-umur ini dia punya pacar, dan merasa dispesialkan sebagai wanita. Hari-hari menjadi indah seperti yang diimpikannya.
Namun, hubungannya dengan Aldo tidak serta merta diterima semua orang, karena Doni sahabatnya yang sempat tau percakapan kekasih Key itu dengan teman segerombolannya membuat Doni was-was dan memperingatkan Key meski sempat khilaf mendukung hubungan mereka yang ternyata berjalan cepat. Doni pikir sahabatnya itu akan benar masak-masak memikirkan sembari mencari tau siapa sebenarnya Aldo. Nyatanya Keysha terlanjur jatuh hati.
“Kamu sebenarnya kenapa si Don? Tak bisakah kamu ikut senang dengan kebahagiaan Key sekarang?” Bahas Lala ketika mereka bertiga sedang berkumpul bersama di sela-sela jam kosong kuliah.
“Karena Aldo nggak sebaik yang kalian kira.” jawab Doni dengan kalimat sederhana.
“Apa sih yang kamu tau dari Kak Aldo? Satu fakultas pun tidak bahkan kenal pun tidak. Jangan membuat kesimpulan aneh-aneh, Don. Aku nggak suka.” Kini Key tak terima.
“Aku pernah mendengar dan melihat secara langsung, ia dan teman-temannya membahas soal taruhan buat dapetin hati junior yang paling cepat.” Ceritanya tak kalah singkat. Key dan Lala saling bertatapan dan kemudian tertawa.
"Kalian tidak mempercayaiku." Doni mulai kesal.
“Konyol sekali. Kamu yakin itu kak Aldo?” Tanya Lala membuat Doni berfikir kembali.
“Ya. Itu pasti dia.” Jawab Doni yakin.
“Sudahlah, nyatanya Kak Aldo yang kukenal adalah sosok yang penyayang dan tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu, buat apa juga bermain taruhan-taruhan.” Kata Key tak ambil pusing. Saat itu juga sebuah pesan datang, dari Aldo.
"Well, aku cabut dulu ya teman-teman. Kak Aldo udah jemput." Ujarnya sembari memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
"O iya, Don, kuharap kamu tidak bicara yang tidak-tidak lagi tentang dia". Lanjutnya setelah itu pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
Doni akhirnya mengalah, ia juga tak ingin terlalu banyak berdebat dengan sahabat-sahabat ceweknya itu.
Key menuruni tangga dan dilihatnya Aldo sudah berada di dekat pintu keluar gedung Pujasera. Key berjalan pelan sembari menikmati pemandangan yang ada di depannya, lelaki itu mengenakan kaos berkerah berwarna navy dengan celana jeans senada. Ia tampak masih merapikan tatanan rambut ikalnya dan menoleh ke arah Key ketika pantulan gambar Key tampak di kaca spionnya.
"Jadi, mau kemana kita?" Tanya Aldo dengan menirukan suara khas Dora di serial kartun anak-anak Dora The Explorer. Key tertawa kecil, geli dengan cara bicara kekasihnya itu.
"Nonton?" Usulnya.
"Well, film apa yang ingin kau tonton."
“Dari berita katanya hari ini ada premiere film bagus, aku sempat melihat trailernya. Mau nonton sebentar?” Key meraih handphonenya dan membuka youtube lalu memperlihatkan ke Aldo. Tanpa penolakan, Aldo nurut dengan yang Key sodorkan, ada sekitar 2 menit sepersekian detik sebuah cuplikan film yang akan mereka tonton.
“Film action ya.” Aldo memberi kesimpulan.
“Iya, tampaknya seru ya.” Tatap Key berbinar-binar berharap kekasihnya itu tergerak untuk mau menonton film yang diinginkannya.
“Baiklah tuan putri, lets go!” Ucapnya dan dengan segera Aldo memasangkan helm ke kepala Key, hal dulu yang sempat terulang.
Mereka lantas bergegas menuju ke area simpang lima, pusat mall di Semarang berada. Mereka memilih sebuah mall yang memang sedang premier film yang akan mereka tonton. Saat memasuki area mall suhu panas dari luar dengan suhu dingin ruangan ber-AC sangat kontras. Sejuk langsung menjalar mereka rasakan. Dengan pasti mereka berjalan menyusuri jalan menuju bioskop yang ada di lantai atas, banyak pasangan muda mudi seperti mereka berseliweran. Mereka tampak serasa satu sama lain. Key bahkan melihat beberapa pasangan sedang melihat-lihat di sebuah butik dan tampak mendiskusikan sebuah pakaian couple, di sisi lain di sebuah food court tampak muda mudi sedang duduk berhadapan sambil tertawa renyah bersama dan di antara mereka terdapat dua buah soft drink lengkap dengan kentang goreng dan dua hamburger, dan pasangan lainnya berjalan seperti dirinya dengan asik bergandengan tangan, atau lengan si cewek dikaitkan ke lengan cowoknya. Key tertegun dan melirik kekasihnya itu. Aldo berjalan beriringan tepat di sebelahnya. Ia mengingat-ingat selama sebulan hubungan mereka berjalan biasa saja, tidak ada kontak fisik yang terjadi seperti bergandengan tangan atau semacamnya. Dia memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, kenapa tidak memintanya? Terlalu tabu buatnya. Memiliki seorang pacar yang seumur-umur baru dimilikinya sudah sebuah anugerah tersendiri sehingga dia mengesampingkan untuk lebih dari itu.
Saat menatap Aldo sembari berjalan, ternyata Aldo sadar bahwa Key sedang memperhatikannya, “Key, kenapa?” Tanyanya kemudian, merasa ketauan, Key salah tingkah, “Ah tidak apa-apa.” Balasnya sembari tersenyum. Aldo membalas senyuman key dengan senyuman yang manis pula.
Bioskop ada di lantai teratas, saat akan menaiki eskalator, Aldo dengan reflek menggenggam tangan Key agar aman dan berada dalam satu tik tangga yang sama. Jantung Key seakan meloncat kaget, hawa panas seketika menjalar ke seluruh tubuhnya bahkan seakan pipinya langsung bersemu merah.
“Eh, maaf ya.” Ucap Aldo lantas melepaskan genggaman tangan mereka. Dengan merasa bersalah dia memandang gadis itu, ada raut kecewa yang nampak di wajah Key ketika lelaki itu melepas genggaman mereka.
“Ya, tidak apa-apa.” Balas Key mencoba tegar.
Aldo menyadari akan hal itu, dia hampir lupa, bukankah mereka adalah sepasang kekasih. Dengan sigap lalu ia menggandeng tangan Key kembali, kali ini bukan gerakan reflek, namun dengan sadar ia lakukan. Digandeng seperti itu Key bingung dan menatap Aldo yang ternyata juga sedang menatap dirinya. Key tersenyum lagi, tak bisa membendung kebahagiaannya. Kini mereka menaiki eskalator bersama dengan bergandengan dan diiringi sebuah lagu romantis yang sedang diputar di seantero Mall. entah mengapa, Rey merasakan sensasi istimewa saat berada di sana dalam posisi mereka saat ini, mereka benar-benar seperti pasangan sesungguhnya. Dan memang benar, itulah status mereka sekarang.
Kini mereka sudah sampai di depan gedung bioskop, Aldo membukakan pintu kaca untuk mereka lewat. Saat memasuki area lobi, nuansa khas bioskop tampak terasa, dengan lampu hangat yang terpasang menyinari seluruh lobi, karpet bermotif sederhana terpasang di seluruh lantai area tersebut, ada beberapa loket lengkap dengan petugas yang berjualan tiket di sana, sudah ada antrian yang mengular.
“Key, kamu tunggu di sini ya. Aku akan kesana sebentar.” Ujar Aldo sembari melepaskan genggamannya dan meminta Key duduk di salah satu sofa yang kosong. Key mengangguk, dengan segera Aldo masuk dalam barisan belakang antrian. Sesampainya di sana, Aldo menoleh ke arah Key yang terus memperhatikannya, “Tunggu ya.” Kata Aldo lirih dari kejauhan, dan tentu saja Key tak mendengar suaranya itu, hanya dia paham dari gerakan mulut Aldo saja.
“Ok.” balasnya Key sembari mengangkat jari jempol tangannya.
Sudah 10 menit berlalu sejak Aldo mengantri untuk membeli tiket, dan dilihat kekasihnya itu baru dapat setengah antrian. Key sesekali masih mengecek keberadaan posisi antrian Aldo, dan beralih pandangan ke antrian di loket-loket sebelahnya. Di ujung loket, terdapat petugas yang sedang melayani seorang pelanggan yang memesan minuman dan camilan. Key berinisiatif untuk segera kesana dan ikut mengantri membeli. Bukankah bioskop kurang lengkap tanpa minuman ringan dan popcorn. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia akan menuju sofa tempat dirinya tadi duduk menunggu, sayangnya sekembalinya dari membeli tadi, seluruh sofa sudah dipenuhi orang, dengan pasrah ia akhirnya menyibukkan dirinya untuk melihat-lihat sekitar, ada papan poster yang berjajar dalam jarak yang pas terpasang di sepanjang tembok bioskop. Ada banyak film yang sedang diputar maupun sedang dalam perilisan. Pada salah satu papan poster yang berisi sebuah film yang akan segera rilis membuat Key penasaran, ia lekat-lekat memandangi poster itu. Dalam poster itu tergambar ada seorang perempuan muda dan seorang lelaki sedang berhadap-hadapan dengan tatapan yang sangat sendu seperti tatapan takut kehilangan, dan kedua tangan mereka saling mengatupkan, seakan-akan salah satu dari mereka akan pergi dan satunya lagi berusaha untuk tetap berlama-lama mencegah kepergian pasangannya. Tetiba saja bayangan Key langsung terpendar ke sosok di mimpinya yang sering hadir, matanya terpejam untuk mengingat-ingat. Dan saat itu juga tiba-tiba Aldo menepuk bahunya dan segera menyadarkannya. Key menoleh ke belakang, kekasihnya itu dengan bangga menunjukkan dua tiket yang berhasil didapatkannya. Dan Key pun juga tak kalah memamerkan apa yang didapatkannya, dua gelas soft drink dalam plastik beserta satu cup besar popcorn.
“Good job.” sahut Aldo mengapresiasi, “Ayo.” Ajak Aldo untuk segera memasuki ruang bioskop tempat mereka akan menonton, karena tinggal beberapa menit lagi film akan diputar. Key menurut, ia meninggalkan tempatnya berdiri dan menyempatkan dirinya untuk menoleh poster berisi film melow romance yang baru dilihatnya. Entah mengapa, perasaannya berkata dia akan segera menonton film itu.
***
Sudah sepekan ini Keysha diberi kepercayaan untuk mengendarai motor sendiri oleh kedua orang tuanya. Dia sudah cukup mahir untuk dilepas sendiri menyusuri jalan pantura yang sangat ramai akan kendaraan dari kecil sampai kendaraan berat. Ha itu membuatnya jauh merasa seperti anak yang mandiri, dan tentunya ia lebih leluasa berpergian kemanapun dan kapanpun. Seperti hari ini, ia berencana mengajak Lala untuk pergi berboncengan ke Mall di salah satu kota semarang. Dan ketika mengetahui dua sahabatnya ada acara tanpa dirinya, Doni merasa tak terima dan berakhir menyusul keduanya.
Memasuki sebuah butik khusus tas, mereka bertiga mulai melihat-lihat isi koleksi yang ada di dalamnya.
“Wah, tas ini cantik sekali.” Mata Key tertuju pada sebuah tas dengan brand lokal yang terpajang di etalase utama.
“Keysha, fokus. Sekarang kita akan membeli tas bukan buat dirimu. Ingat.” Lala mulai menjadi mode pengingat untuk Key. Key hanya tertawa, dan menaruh kembali tas yang sempat dipegangnya dan dipatutkan di depan cermin itu.
“Bagaimana kalau ini?” Doni mengambil sebuah tas coklat dengan bahan kulit hewan. Key dan Lala tampak tertarik, namun ketika melihat bandrol harga yang tertera di tas itu, mereka semua terkejut.
“Wah, yang benar saja. Harganya di luar jangkauanku.” Sesalnya kemudian.
“Benar, ini terlalu mahal untuk kita yang masih mengharap uang saku orang tua.” Lala meminta Doni untuk segera mengembalikan tas tersebut ke posisi semula. “Budgetnya berapa, Key?” Lala bertanya supaya nantinya dia juga lebih berhati-hati memilih harga tas yang sesuai. Key menyebutkan sebuah nominal maksimal yang bisa ia tanggung.
“Oke, mari berburu lagi.” Ajak Lala. Mereka bertiga mulai menyusuri tas-tas itu lagi. Di sana ada berbagai macam merek tas, mulai dari brand lokal sampai internasional, mulai dari bahan kulit sintetis sampai bahan kulit hewan sungguhan dan tentunya harganya pun bervariasi.
“Guys, kalau yang ini?” Key memperlihatkan sebuah tas berwarna kuning terang seperti warna stabilo. Lala dan Doni yang melihat itu kompak menggelengkan kepala.
“Ibuku sendiri tak kan mau memakai warna yang terlalu mencolok seperti itu.” Ujar Lala menyipitkan mata memandang tas tersebut.
“Yah, aku juga akan risih berjalan dengan ibuku yang membawa tas itu.” Sahut Doni membayangkan betapa warnanya terlalu berlebihan untuk seseorang yang sudah paruh baya.
“Ok, ok. Big no ya.” Key menyerah tak melanjutkan memuji tas tersebut.
Setelah menimbang-nimbang beberapa tas dan perundingan selama tiga puluh menit di butik tersebut, pilihan jatuh pada sebuah tas berbentuk tote bag berwarna abu-abu yang elegan. Tas dari brand lokal itu sangatlah elegan dipakai segala usia dan bisa menampung banyak muatan. Pilihan pada tas berbentuk trapesium itu juga didukung karena Mbak yang jaga disana mengatakan bahwa model tas tersebut praktis dan juga bisa dibawa ke berbagai acara.
“Bukankah kegiatan kita hari ini sangat berfaedah? Kalian juga bisa memberikan barang serupa ketika sudah menemukan calon mertua.” Kelakar Key di sela-sela makan siang mereka di sebuah food court. Kedua sahabatnya membenarkannya.