The First Dating

1902 Kata
Akhirnya Tim Iron Man sampai di pos terakhir. Di pos tersebut setiap anggota tim diminta menuliskan nama  senior favorite mereka beserta kesan dan pesan di sebuah secarik kertas. Sedikit merasa tertantang Key menuliskan secara gamblang siapa yang terlintas di bayangannya. Kak Aldo. Seperti tanpa dikomando, jari-jarinya bergerak begitu saja menuliskan sosok Aldo selama ini. Dengan bebas ia menulis karena memang surat ini nantinya tak perlu diberi nama siapa penulisnya. Tiba saatnya di penghujung acara. Para panitia membuka satu persatu kertas yang terlipat itu, pendapat senior favorite terbanyak jatuh kepada Aldo. Ada rasa senang dan cemburu di benak Key. Semua bersorak. MC meminta sang ketua panitia itu segera maju ke depan. “Keren ya, kira-kira tuh cowok sudah punya pacar belum ya?” tanya sebuah sumber suara perempuan bertanya kepada teman di sebelahnya. Key yang pendengarannya menjadi tajam meski suara yang mirip bisikan di tengah gaduhnya acara segera membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis dengan kuncir kuda yang cukup cantik sedang memuji lelaki yang telah menyatakan perasaan kepada Key tepat beberapa waktu lalu. Dia milikku!, kata ke dirinya sendiri. “Kamu kenapa?” Lala penasaran setelah melihat sahabatnya itu tampak bengong. “Eh, Nggak apa-apa.” Cengir Key. Cinta kadang membuat orang sepertinya menjadi posesif dan konyol. Key pun kembali fokus menghadap kedepan, dimana Aldo sedang berdiri dengan memegang mic di tangan kanannya memberikan sambutan di depan orang-orang yang sedang duduk lesehan. Sebenarnya orang seperti apa Kak Aldo itu? Apakah yang dia ucapkan tadi sungguh-sungguh? Key mulai meragu. Matanya menyorot tak kedip ke arah lelaki itu. Tepat ketika ia berpikir demikian, pandangan Aldo sedang mengarah ke Keysha juga dan melayangkan seulas senyum manis padanya. Dengan gugup dan tersipu Key membalas juga dengan senyuman yang terasa canggung. Makrab berakhir ketika hari mulai siang. Semua panitia dan peserta kembali ke kampus dengan bis yang sama dulu membawa mereka. Selama perjalanan ke kampus, Key bercerita banyak ke Lala secara langsung yang memang duduk di sebelahnya dan pastinya Doni lewat grup w******p. Mereka meminta Key untuk menunggu dan tak perlu buru-buru mengambil kesimpulan, memastikan bahwa pernyataan cinta Aldo memang nyata. Meski awalnya Doni bersikukuh tak mendukung nyatanya ia berakhir hanya bisa mendoakan semoga jalinan kisah asmara keduanya berjalan lancar. Sesampainya di kampus, para peserta ospek itu berhamburan keluar secara rapi dari dalam bis. Hujan yang usai telah menyambut mereka dengan menyisakan tanaman serta pohon yang bersuka cita dan semakin memancarkan warna hijaunya.  Setelah ospek resmi berakhir dan para peserta diperbolehkan pulang, Key dan Lala menyempatkan diri untuk sekedar berswa foto di depan bunga yang bermekaran. Sampai salah satu teman lelaki seangkatan mereka yang juga menjadi peserta mahasiswa baru mendekat dan mengutarakan ingin berswa foto juga. sudah sejak awal mengikuti ospek ini, pandangan lelaki itu selalu terfokus ke arah Keysha, saat itu ia ragu-ragu untuk sekedar lebih dekat dengan gadis itu. Namun, sekarang ia rasa momen yang sesuai untuk lebih dekat sudah tepat dan ingin meminta nomor kontak Keysha secara langsung. Dan beruntungnya Key menyambutnya dan dengan senang hati Key memberikan. Tanpa mereka bertiga sadari, setiap gerak-geriknya telah dipantau oleh sepasang mata yang merasa harus was-was setiap saat. Meski di tengah kesibukan mengurus pra ospek, sepertinya ia juga harus kembali merangkap sisi kewaspadaannya. Benar saja, selang tak berapa lama, ketiga orang tadi sedang berswafoto dan ketika Key berusaha menyeimbangkan tumpuannya pada sebuah batu, ia hampir terjatuh, dengan sigap lelaki yang meminta kontak ponselnya berniat menangkap Key, namun sayangnya ia tak kalah cepat dengan Aldo yang tetiba datang dan segera menangkap Key. Ya, dialah yang mengawasi gerak-gerik ketiga orang tersebut. Sesaat dunia Key terlihat oleng sampai tangan seseorang mampu menumpu berat badannya dengan waktu yang tepat. “Kau tak apa?” tanya Aldo setelah membantu Key berdiri. “Iya Kak, saya baik-baik saja. Terima Kasih.” Dengan tersipu-sipu ia menyeimbangkan tubuhnya. Mereka yang berada di sana terdiam. Mata mereka menatap dan menunggu Aldo mengutarakan maksud kedatangannya. Merasa dipandang seperti itu, Aldo tersadar. "Ah iya. Ada yang ingin aku bicarakan ke kamu, Keysha." Aldo menimbang-nimbang lagi rencananya. "iya, Kak?" Key mulai bingung sendiri. "Maaf apa kalian sedang sibuk?” Ketiga juniornya menggeleng. “Mungkin jika nanti Keysha akan pulang, bisakah kita bisa pulang bareng sambil ngobrol nanti?" Mendengar tawaran yang diutarakan Aldo secara langsung itu membuat ketiga orang yang di depannya bengong sesaat. Lelaki yang meminta nomor kontak ke Key serasa minder, firasatnya mengatakan bahwa ia berhadapan dengan rival yang unggul. Key menatap ke Lala, matanya mengisyaratkan apa yang harus iya lakukan. “Iya Kak Aldo, bawa saja Keysha. Kami juga sebenarnya akan pulang setelah ini.” Lala mendorong badan Key ke arah Aldo, ia merasa ini kesempatan emas untuk sahabat yang selama ini menjomblo itu. Teman lelakinya barusan pasrah, sepertinya percuma ia mendapatkan nomor Keysha. Seusai memberi pesan ke Pak Joko bahwa papanya tak perlu menjemputnya, ia pamit pergi meninggalkan kedua temannya yang masih berdiri di dekat taman. Key dan Aldo berjalan beriringan menuju parkiran. Beberapa mahasiswa baru melirik ke arah mereka dan bertanya-tanya kenapa Keysha dan Aldo tampak akrab. Key juga menemukan teman-teman ceweknya yang sempat ia tahu memuji seniornya itu sempat memandangnya dengan tatapan iri ketika ia melewati mereka. Namun jujur, ada sensasi kebanggaan tersendiri ketika ia dipandangi seperti itu, dalam benak Key berpikir karena sebentar lagi Aldo akan menjadi miliknya. Menjadi pacarnya. Ya, ia sudah bertekad akan menyatakan kesediaannya untuk menjadi pacar Aldo. Sesampainya di parkiran, ia serasa mengulang kejadian hari-hari sebelumnya ketika Aldo memberinya helm dan membantu memasangkannya. Masih dengan posisi duduk yang sama, ada sekat yang di isi tas Keysha di antara ia dan Aldo, ketika ia mencoba berpegangan ke behel motor, Aldo menyadarinya. “Kamu bisa berpegangan di jaketku, Keysha.” “Eh, iya Kak.” Key menurut untuk menggenggam jaket kulit berwarna hitam yang dikenakan Aldo barusan. Setelah dirasa aman, mereka pun meluncur pergi. Seperti biasa, Aldo aktif mengajak bicara Key dengan segala hal untuk membuat gadis yang diboncengnya tak diam saja. Baru saat melewati sebuah taman kota yang berada di kawasan Kota Lama di Semarang, ia meminggirkan motornya sejenak. “Kamu mau berkeliling-keliling sebentar di sini?” Key melihat sekitar. Banyak orang di sana, mungkin tak masalah bila mereka sejenak di sana. “Iya Kak.” Setelah memarkirkan motor di tempat yang disediakan, mereka pun berjalan. Mereka melewati sebuah gereja dan berhenti sejenak memandang bangunan itu. Namanya Gereja Blenduk, begitu orang-orang menyebutnya. Bangunannya cantik, tempat ibadah yang berdiri sejak jaman penjajahan kolonial Belanda itu masih berdiri kokoh sampai sekarang. Gereja dengan pilar-pilar bergaya Romawi itu menjadi salah satu spot foto yang banyak diminati pengunjung sebagai latar belakangnya. “Mau kufotokan di sini Key. Bagus loh.” Seru Aldo yang ternyata sudah siap dengan kamera ponselnya sedang mengarahkan ke Keysha dan bangunan itu. Key terperajat dan dengan malu-malu ia mengiyakan dan mengambil pose yang sebenarnya terlihat sekali bahwa ia sedang canggung dengan pose yang monoton. “Smile..” Key menyunggingkan bibirnya sedikit. Aldo melihat hasil jepretannya, lalu tersenyum puas. “Nice!” Melihat hal itu Key malu sendiri. Mungkin ia sudah berkali-kali ke Kota Lama bersama keluarga atau sahabatnya dan mengambil foto di sana sudah puluhan kali, namun baru kali ini rasanya beda, semacam ada sensasi tersendiri. Mereka menyebrang, menuju ke taman kota Srigunting yang persis berada di samping Gereja Blenduk. Taman ini dulunya merupakan panggung parade saat zaman kolonial, dan kini menjadi tempat terbuka untuk berkumpul dengan banyak tanaman hijau tersebar. Bagaikan oase di tengah kota. Biasanya di sini menjadi titik awal orang-orang memulai tur mereka di Kota Lama. Aldo mengajak Key untuk duduk di salah satu kursi besi yang disediakan sebagai fasilitas di sana. Mereka melihat ke sekeliling, banyak orang berdatangan baik sekelompok pelajar, pasangan muda mudi, bahkan keluarga. Melihat muda mudi saling berjalan beriringan dan mesra, jantung Key kembali bergemuruh. Ia menoleh ke arah Aldo, dan betapa terkejut ia karena ternyata lelaki itu sedang memandangnya. Dengan kikuk Key kembali melihat ke arah lain. “Key.”  “Iya Kak?” “Soal apa yang kusampaikan ketika di kebun tadi..” Aldo memberi jeda sejenak, “Kira-kira sampai kapan aku harus menunggu?” Aldo tersenyum sambil menatap serius ke arah Key. Key mengambil nafas dalam-dalam,  pada akhirnya pertanyaan itu harus segera dijawab juga. ya,ia memang berencana akan segera menjawabnya jika seniornya membahasnya kembali. Karena terlalu gengsi bila ia tiba-tiba membahas duluan. Dengan ragu-ragu dan seperti biasa kedua telapak tangan Key menjadi terasa dingin, “Sekarang?” balasnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Baiklah. Jadi apa jawabanmu?” Detik demi detik mendengar jawaban Keysha, serasa menunggu bom akan meledak bagi Aldo. “Ya, aku mau bersama Kak Aldo.” Key merunduk dan masih dengan suara amat lirih saking malunya. Aldo terlonjak senang dalam hati namun ia harus memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya benar, ia pun mencoba ikut sedikit menunduk melihat muka Key, “Bisa ulangi sekali lagi?” Key kaget, dan ia segera mendongak kembali menatap kedua bola mata Aldo, “Ya Kak, Keysha mau jadi pacar Kak Aldo.” ulangnya kali ini dengan nada mantap. Aldo tersenyum bahagia hampir rasanya ia akan memeluk gadis yang di depannya itu jika tidak ingat bahwa mereka di tempat umum dan baru saja jadian. “Terima kasih, Keysha.’ Taman Kota menjadi saksi hubungan mereka diresmikan. Pepohonan rindang nan sejuk semakin meneduhkan hati kedua insan yang sedang berbunga-bunga. Di tengah-tengah keromantisan pasangan baru tersebut tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara keroncongan dari perut Keysha. Ia malu sekali, kenapa di saat seperti ini perutnya tak bisa diajak kompromi. Aldo geli sendiri dan hanya tersenyum sesaat, takut pacar baruna itu tersinggung. “Sebagai peresmian jadian kita, kita makan bareng di sana yuk!” Aldo menunjuk sebuah warung besar yang berada di depan Gereja Blenduk. Di sana ada banner yang menghiasi depan warung bertuliskan “Sate  Gule kambing 29”. “Kamu suka sate?” Aldo menatap kembali pacarnya. “Suka sekali.” Ya tentu saja, itu salah satu makanan favoritnya. Mereka pun beranjak berdiri dari bangku dan berjalan ke arah warung dengan interior kayu yang ada sejak 1963 itu. Menikmati kulineran yang melagenda di sana. Mereka memilih tepat dengan meja panjang beralaskan warna putih yang menghadap ke tembok. Di dalam warung tersebut masih berisi beberapa pe-langgan saja yang sedang menikmati menu serba kambing. Tampak juga tiga abang ojek online menunggu pesanan datang. Aldo menggeserkan bangku plastik dan mempersilahkan Keysha untuk menempatinya sebelum ia juga duduk di sebelah pacar barunya. Hal itu membuat Key tersentuh . Key memandangi jejeran foto-foto berbingkai yang tertata sedemikian rupa, di sana terdapat potret-potret bangunan tua di kota lama. Seorang pria dengan kaos berwarna biru tua menghampiri mereka dan mencatat pesanan. Setelah mencatat dua porsi sate kambing lengkap dengan nasi dan es teh, ia pergi ke dapur. “Keysha” Panggil aldo, ia lantas mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam saku celananya. Diberikannya kotak itu ke Key. “Apa ini?” Ketika dibuka di dalamnya berisi sepasang gelang tali berwarna hitam dan merah yang bisa diatur kekencangannya, dan ada liontin magnet berupa kunci dan gembok menjuntai dari kalung itu. “Sini aku pakaikan.” Aldo mengambil gelang bertali merah dan melingkarkannya ke lengan Keysha. Gelang tersebut sangat cantik dan kontras dengan kulit kuning langsat Keysha. “Wah, bagus sekali.” “Iya kan, tadi pas di Bandungan aku nemu ini. Kepikiran soal kamu.” Kata Aldo semakin membuat Keysha tertarik, ternyata lelaki itu sudah memiliki inisiatif romantis seperti itu. Aldo lantas juga memakai gelang bertali hiam lalu ia pun juga memakai gelang satunya lagi. Keduanya lalu mendekatkan gelang yang sudah dikenakan itu dan memandangnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN