Waktu menunjukan jam sembilan malam ketika pertunjukan dari tim-tim superhero yang kalah telah usai. Acara dilanjutkan dengan renungan malam di aula Villa itu sampai sejam kemudian dan seusai acara renungan sekalipun mereka tak diizinkan untuk tidur di dalam kamar karena benar saja kamar yang hanya berisi tiga kamar itu tak cukup menampung untuk tidur puluhan bahkan ratusan manusia. Mereka diminta untuk tidur berjajar layaknya ikan pindang di dalam Aula.
Pagi datang, para junior dan senior bersiap-siap untuk acara senam pagi. Tak jauh dari tempat Key dan Lala sedang berdiri, dua orang senior sedang menatap mereka.
“Kita mulai nih ya perburuan, aku incer cewek yang berbaju biru itu ya, Bi.” instruksi seorang senior bernama Axel ke temannya Abi yang juga memandang ke tempat yang dimaksud.
“Ok, aku incer yang berbaju hitam. Tu cewek tampak tangguh dengan penampilannya” Pandangan Abi mengarah ke Lala.
“Seleramu gak ada feminim-feminimnya sama sekali. Yuk ah beraksi!” Ajak Axel memberi instruksi. Kedua senior itu berjalan mendekati Key dan Lala berada dengan gaya senatural mungkin. Namun, tanpa mereka sadari sepasang mata dengan tajam melirik mengawasi gerak gerik mereka. Ketika saatnya mereka mulai melancarkan aksi untuk mendekati kedua gadis itu, dia mulai merasa harus ambil tindakan.
“Hei, kalian Keysha dan Lala kan?” sapa Axel. Seketika merasa namanya disebut Key dan Lala menoleh.
“Iya, Kak?” balas keduanya kompakan.
“Boleh minta nomor hp kalian?” tanya Abi tanpa basa basi. Belum sempat kedua gadis itu menjawab, tiba-tiba Aldo datang.
“Alex, Abi kenapa kalian masih di sini? Bukannya, seharusnya kalian sudah siap berjaga di pos satu untuk acara selanjutnya.” Mendengar itu kedua lelaki itu saling bertatapan.
“Bukannya sudah ada yang berjaga ya di pos satu?” Tanya Abi memastikan, atau apakah ia salah?
“Tidak ada, bukankah kalian tadi melihat ada perubahan karena yang berjaga di pos satu harus dipindahkan ke pos tambahan.” Terang Aldo lagi.
“Maaf Al, kami nggak begitu memperhatikan. Okelah kami cabut dulu buat kesana.” Jawab Alex mengalah. Kedua lelaki itu pun pergi berlalu meninggalkan mereka dengan segera. merasa rencananya berhasil, ia merasa lega. Aldo berpaling ke Key dan Lala setelah dua lelaki itu sudah pergi.
“Kalian cepat berbaris untuk senam ya!” Perintah Aldo lagi ke Key dan Lala, dengan patuh mereka mengiyakan dan segera bergabung dengan mahasiswa lain.
Beberapa menit kemudian panitia yang menjadi instruktur senam sudah memimpin di depan mereka. Setelah melakukan pemanasan, mereka memutar berbagai lagu dari lagu melow sampai nge-beat dengan gerakan mereka menyesuaikannya.
Seusai senam, acara berlanjut untuk menjalankan misi tim. Mereka ditugaskan harus berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan untuk membuat acara menjadi lebih menantang, mereka harus berjalan berkilo-kilo jauhnya di sekitaran willayah itu. Ada lima pos di setiap jarak tertentu yang dijaga beberapa senior. Untuk menjalankan misi mereka harus menyelesaikan tugas dari tiap-tiap pos yang ada. Tim demi tim sudah mulai diberangkatkan, tiba saatnya tim ke lima belas yaitu tim Iron Man mendapat giliran untuk mengemban tugas.
Mereka melewati gang-gang yang cukup lebar, kanan kirinya banyak bangunan-bangunan yang fungsinya sama yaitu berupa villa-villa dan tempat karaoke yang memang menjamur di sana.
Bagi Key, kegiatan seperti inilah yang ia tunggu-tunggu, diberi tugas namun tidak membosankan, bahkan mereka bisa berjalan-jalan melihat pemandangan yang memang asri di Bandungan. Keluar dari gang, mereka di suguhkan dengan jalan raya yang tak begitu padat kendaraan, sepanjang jalan terdapat penjual jajanan pasar, bunga hias warna warni, dan hasil tani khas daerah dataran tinggi.
“Bagus ya kaktus-kaktus itu.” Alicia menunjuk jajaran rapi kaktus mungil dalam pot. Ia sedikit meyakinkan penglihatannya dengan mengatur tatanan kacamatanya.
“Lucu sekali. Kayaknya di taruh di dalam kamar bisa jadi moodbooster tuh.” Key mulai membayangkan jika ia membeli sebuah kaktus dalam pot mungil yang menarik perhatiannya berbentuk bulat telur dengan kuncup bunga kuning di atasnya dan ia letakkan di atas meja belajarnya.
“Kalau sempat nanti beli yuk.” ajak Alicia. Key mengangguk setuju.
“Kamu nggak ingin beli, La?” celetuk Ben karena di antara teman wanitanya itu hanya Lala yang tidak tampak tertarik dengan bunga.
“Oh, no. Thanks. Kalian saja.” mereka sudah menduga jawaban Lala yang jauh dari kata feminim itu.
Mereka pun tiba di pos pertama, Tim Iron Man bertemu dengan senior mereka Alex dan Abi.
“Ok, selamat datang di pos pertama. Silahkan perkenalkan siapa kalian dan tunjukan yel-yel tim kalian!” Perintah Abi tegas. Berbeda saat awal Key bertemu dengan mereka.
Ben memimpin timnya, “Siap gerak!”. Semua anggotanya menata barisan.
“Tunjukkan siapa kita, mulai!” lanjutnya lagi, timnya pun dengan kompak mulai menyanyikan yel-yel dengan nada lagu opening dari kartun anak-anak Ninja Hatori, kartun yang setiap minggu pagi pernah menghiasi layar kaca ketika mereka masih kanak-kanak, sebagian liriknya diubah menyesuaikan kebutuhan dan diikuti gerakan yang sok asik dan kocak tapi menghibur.
Mendaki gunung lewati lembah
Tim Iron Man datang menunaikan tugas
Bersama-sama tak akan gentar!
Meski tugas kadang tak masuk akal
Tim Iron Man harus selesaikan semua
Selalu waspadalah pada senior galak
Siap dan patuh di mana saja
Iron Man Iron Man itulah kami
Pantang menyerah dan semangatlah
Hei Tim Iron Man
Tim baik hati siap beraksi!
Gerakan terakhir mereka mengepalkan kepalan tangan kanan ke atas seolah-olah akan berjuang melawan penjajah.
Beberapa senior yang berjaga di pos itu tertawa geli.
“Lapor! Kami dari Tim Iron Man siap melaksanakan tugas!” Hormat Ben lantang sudh seperti pimpinan upacara lagaknya.
“Well, tugas kalian adalah silahkan memilih salah satu papan puzzle kayu ini dan buka petunjuk gambar di dalam amplop. Di dalamnya ada sebuah card penampakan dari gambar utuh puzzle itu, ingat setiap potongan gambarnya karena kalian tak diperbolehkan membawa papan puzzle dan card petunjuknya. Nantinya, setiap anggota harus berpencar untuk mencari lima potongan puzzle yang tersebar dalam sebuah area di sana.” Alex menunjuk ke sebuah arah yang tak begitu jauh.
“Baik, Kak!” Jawab mereka kompak setelah mencerna apa yang barusan dikatakan oleh sang senior. Segera Tim Iron Man mengambil sebuah puzzle dan di sampingnya tertempel sebuah amplop yang di dalamnya ada gambar berupa lima tanaman bumbu dapur dalam sebuah wadah. Mereka memastikan masing-masing mengingat gambar utuh dari puzzle tadi. Mereka pun pamit dan segera berlalu mulai mencarinya.
Kira-kira setelah berjalan kurang lebih lima ratus meter, tim berhenti di sebuah kebun yang tampak sangat luas dan rimbun. Saking luasnya kemungkinan jika diukur ada sekitar dua hektar tanah yang di atasnya ditanami berbagai macam tumbuh-tumbuhan seperti singkong, pohon pisang, dan masih banyak lagi. Tinggi rata-rata pohon yang ditanam melebihi tinggi para anggota setim mereka. Menjadikan akan ada rintangan ketika mencari potongan puzzle mereka tak bisa melihat satu sama lain dengan jelas. Merekapun segera berpencar dengan hati-hati karena banyak juga tanaman liar yang mendominasi kebun itu dan beberapa bisa menyebabkan bentol-bentol gatal bila tersentuh.
Di sisi lain di pos pertama itu, Alex, Abi dan serta beberapa senior yang lain sudah kembali senggang, tim selanjutnya masih belum tampak. Kegarangan mereka tak ditampakkan untuk sementara dan inilah saatnya di sela-sela waktu tugas mereka mulai membahas soal taruhan itu lagi.
“Yuk lah, gimana kelanjutan.” Alex membuka percakpan, tentu saja yang lainnya terasa ada energi lagi sekedar berbasa-basi ria di tengah kesibukannya mereka.
“Kalau gue dapat tu motor, gue traktir dah semua yang ada di sini.” mendengar penuturan Abi, semua bersorak akan menagih janji itu.
Lagi-lagi Aldo mencuri dengar obrolan rekannya secara tak sengaja ketika patroli dari pos ke pos. Mereka mulai mengincar beberapa nama adik kelas. Entah kenapa dalam benak Aldo tertantang harus segera bertindak menyatakan perasaannya Key sebelum mereka.
Tepat saat itu hujan turun amat deras, orang-orang segera berlarian mencari tempat berteduh. Aldo yang tau Key dan timnya sedang menjalankan tugas dari pos tersebut, berusaha mencarinya. Aldo menemukannya, Key sedang berteduh di bawah sebuah pohon, melihat tindakan bahaya tersebut dengan cepat Aldo menghampiri Key dan menariknya segera ke sebuah gubuk yang memang tersebar di setiap sudut-sudut kebun.
“Jangan berada di bawah pohon seperti itu saat hujan, Keysha. bahaya. Bagaimana bila ada petir menyambar, pohon yang basah pengantar yang baik untuk listrik.” Aldo melepaskan tangannya dan berusaha menjelaskan, Key hanya terbengong masih tidak percaya karena baru saja dia sibuk sendirian mencari sesuatu ketika tiba-tiba hujan turun dan membawanya untuk segera berteduh, dan sekarang dengan tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dari sana dengan kekhawatiran yang demikian rupa.
“Iya, baik Kak. Terima kasih sebelumnya.” Jawabnya dan entah apa yang harus diucapkannya lagi selain kalimat singkat itu. Suasana menjadi hening, hanya ada suara hujan yang terus mendominasi mereka. Key mengusap-usapkan kedua telapak tangannya, rasa gugupnya entah mengapa semakin membuat kedua tangannya serasa bertambah dingin. Aldo melepas almamaternya dan menyelubungkan ke badan Key. Gadis itu terkejut dan berusaha mengembalikan almamater berwarna kuning cerah itu.
“Tak apa, pakailah dahulu, sekarang memang dingin-dinginnya.” Sahut Aldo ramah. Key tak bisa menolaknya lagi, dan lagi pula benar hawa disini sangatlah dingin dan membuatnya menggigil.
“Kak Aldo, tadi kesini sedang apa?” Pertanyaan bodoh apa itu, Key baru menyadari pertanyaan basa basinya tak bermutu. Tentu saja seniornya itu punya kesibukan sendiri tentang kegiatan ini.
“Untuk menemuimu.” Jawabannya singkat.
Key tertegun, “Menemui saya?” lama iya berpikir apakah ada kesalahan yang telah dibuatnya selama ini yang fatal.
“Key, aku mencintaimu.” Tanpa basa-basi bahkan terkesan santai Aldo sudah menyatakan niatnya sehingga menemui gadis itu. Tentu saja membuat Key lagi-lagi tertegun dan cukup membuat dirinya meragukan pendengarannya, “Maaf Kak, saya nggak salah dengar kan ya?”
Aldo menatap Key lekat-lekat, hujan menjadi saksi sebuah penyataan to the point itu, “Tidak, apa yang kamu dengar benar adanya. Aku mencintaimu Keysha Larasati.”
Aldo memperjelas pernyataannya dengan pandangan mata yang tajam, bagaimanapun ia yakin benar bakal bisa mendapatkan hati adik kelasnya itu,”Maukah kamu menjadi pacarku?.”
Key sekonyong-konyong dibuat bingung sendiri. Kenapa tiba-tiba seniornya datang dan membuat pernyataan yang seacak itu, hal absurd macam apa lagi ini? Namun, yah di satu sisi key merasakan kekaguman pada seniornya tersebut dan ingin rasanya ia melonjak kegirangan dan menjawab aku mau, namun di sisi lain ia tak cukup berpengalaman menerima pernyataan yang datang secara tiba-tiba tersebut. Semua terlalu cepat bagi Key. Aldo masih terus saja memandangi wajah Key dengan mata sebelah yang dipincingkan seakan-akan mengatakan “Ayolah terima saja.”
“Key?” Panggilan Aldo membuyarkan pikiran Key yang sempat ngeblank.
Aku harus jawab apa?! Kenapa badanku semua jadi kaku begini sih! Dalam hati Key kelimpungan sendiri. Aldo masih dengan setia menunggunya. Dua mata mereka saling bertatapan. Semakin membuat Key kacau balau dibuatnya.
“Aku..aku tak tau harus berkata apa Kak.” Akhirnya ia sanggup bersuara kembali, entah dingin atau gugup atau keduanya berpadu membuat mulutnya tadi terasa beku dan tak bisa digerakan. Mendengar kejujuran gadis itu, Aldo mengerti, sepertinya ia memang terlalu memaksakan jika meminta Key segera menjawabnya.
Tepat saat itu hujan pun berhenti, menyisakan basah di setiap hamparan. Tetesan air masih belum usai menetes dari atas atap yang mereka gunakan untuk berlindung. Aldo mengecek ke atas langit, hanya tinggal gerimi tipis yang turun dan samar-samar terdengar suara sekelompok orang memanggil-manggil nama Keysha.
“Keysha! Keysha! Keysha!” panggil suara yang bertubi-tubi, seperti suara Lala dan teman setimnya. Temannya menyelamatkan suasana canggung di antara mereka berdua.
Aldo menghembuskan napas panjang, “Itu pasti teman-temanmu mencarimu, segeralah temui mereka.” kata Aldo yang beranjak akan pergi dan lalu menoleh kembali ke arah Key yang masih mematung.
“Tidak harus sekarang, kamu berhak untuk menjawabnya setelah dipikirkan terlebih dahulu Key. Aku pergi dulu ya.” Setelah berkata demikian, Aldo menghilang di antara kabut tipis dan tak terlihat lagi.
“Keysha! Di sini kau rupanya.” Sahut Lala seraya memeluk Key dengan senang karena sahabatnya sudah berhasil ditemukan.
“Kami sudah menemukan potongan-potongan puzzle nih.” sahut Ahmad, yang lainnya juga menunjukkan apa yang mereka dapatkan dari area yang mereka cari.
“Punyamu, Key?” Lala bertanya pada sahabatnya yang masih setengah linglung itu.
“Eh, maaf aku tadi belum sempat menemukan, dan tau-tau hujan datang.” Balasnya ketika sadar.
“Okelah, ayo kita cari bersama-sama mungkin saja bisa ketemu.” Balas Ben memimpin mereka untuk teliti mencari potongan puzzle yang belum ada.
Key dan Lala mengekor ketiga temannya dari belakang. Lala masih terus memperhatikan Key dan berbisik lirih di telinganya, “Milik siapa yang kau pakai itu?” menunjuk almamater yang bertengger di badan Keysha.
Key terkejut karena Lala cepat menyadarinya , “Aku berhutang cerita padamu dan Doni.”