Seluruh mahasiswa baru sudah dikumpulkan seluruhnya di depan Gedung Fakultas Ekonomi. Setelah pengecekan kelengkapan usai mereka diberangkatkan ke Villa di daerah Bandungan, Semarang atas dengan menggunakan dua bis besar yang dipinjam panitia dari kampus. Key duduk di dekat jendela dan bersebelahan dengan Lala. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar sejam itu, mereka habiskan untuk mengobrol soal kejadian kemarin dengan Aldo, dan bagaimana tatapan lelaki itu pagi ini.
Di dalam bis, salah satu senior memutar lagu-lagu indonesia bahkan barat, baik yang sedang trending maupun lawas.. Rata-rata lagu yang diputar sangat mengkondisikan gambaran Key saat ini, ya, seluruh melodi yang ia dengar seakan diperuntukan untuknya.
Di sisi lain, dalam sebuah mobil yang mengikuti rombongan bis dari belakang sejumlah panitia yang berisi Tegor, Andre dan lima panitia laki-laki yang lain membahas tentang progres taruhan mereka.
“Sejauh ini sepertinya baru Aldo ya yang udah take action paling banyak, liat aja selama ospek ini dia udah deketin si Keysha dengan getol.” Bahas Tegor.
“Yoi, man. Dan kayaknya tuh cewek udah mulai kebawa perasaan kalau dilihat dari kacamata gue.” Timpal Andre sambil menerawang-nerawang seolah gadis itu ada di sana.
“Denger-denger Aldo bakal melancarkan shot terakhirnya di acara penutupan ospek ini.”
“Dia bakal nembak Keysha?”
“Yoi.”
“Yang lain gimana nih?”
“Aku baru aja mulai chatingan ma Anya anak dari Surabaya. Belum mengarah ke tembak menembak si, soalnya aku baru kemarin juga minta nomernya dan mulai kenalan.”
“Kalau gue deketin Bela, lu tau kan yang kemarin sempet nyanyi suaranya merdu banget. Asli si, gue langsung terpesona sama doi pas gegara itu.”
Yang lainnya masih saling bersahut-sahutan membahas taruhan itu ketika di tempat lain, di sebuah Villa, Aldo sebagai Ketua Panitia sudah berada di sana paling awal datang menggunakan motornya dan berboncengan dengan rekannya. Ia memastikan semuanya sudah beres sebelum para mahasiswa baru datang.
Setelah semuanya beres, ia mencoba merogoh seragam almamaternya, memastikan sebuah benda yang ia siapkan masih terselip di dalamnya. Ia pun tersenyum simpul, dan memandang langit yang cerah hari itu.
Dua buah bis yang masing-masing berisi 29 tempat duduk yang nyatanya penumpangnya sendiri sekitar empat puluhan lebih jika dihitung yang berdiri juga dengan ukuran sedang memasuki lahan seluas hampir satu hektar. Setelah beberapa senior membantu mengarahkan parkiran, bis-bis tersebut berhenti dan dengan antusias semua penumpangnya keluar. Mereka dibuat takjub dengan suguhan pemandangan di sana. Tepat di atas lahan itu, berdiri sebuah villa mewah seluas 1500m2 yang dikelilingi pohon cemara di kiri kanannya. Di depan bangunan itu terdapat halaman luas yang mampu menunjang kegiatan-kegiatan semacam malam pengakraban secara leluasa untuk kapasitas puluhan bahkan ratusan orang sekalipun. Villa itu memiliki banyak kaca yang tampak tidak bergorden. Seusai berbaris dan diberi arahan, mereka diminta untuk menaruh barang bawaan ke dalam villa sebelum mereka harus kembali berbaris.
Memasuki bangunan itu, keseluruhan dindingnya berupa tembok yang dicat warna kuning telur. Ada tiga kamar di dalamnya, mereka lantas segera berebut memilih kamar. Key dan timnya dapat kamar yang tak begitu lebar namun juga tak sempit, ada dua kamar luas sebenarnya, namun sudah penuh. Mereka berfikir, mana cukup tiga kamar menampung keseluruhan orang?
Setelah setengah harian mereka hanya diberi materi yang membosankan, tiba saatnya sore mereka diberi game. Beberapa berfikir permainan adalah acara yang sangat dinantikan, karena biasanya para senior memiliki ide permainan yang sangat seru dan menantang dan bisa mengembalikan semangat mereka.
Permainan pertama berupa permainan tradisional yang dimainkan secara berkelompok, gobak sodor. Saat nama permainan ini disebut sebagian masih terasa asing, entah dulu mereka pernah bermain atau hanya berbeda namanya saja di daerah lain namun tanpa mereka sadari sebenarnya pernah memainkan seperti galah sebutannya di daerah lain. Key sendiri amat beruntung, karena ia amat mengenal permainan ini dan menjadi salah satu permainan kesukaannya. Dulu pada jaman masih anak-anak, ia dan tetangganya suka memainkannya ketika sore sampai menjelang petang. Meski sudah mandi, namun apabila memainkan permainan ini pulang-pulang sudah penuh dengan keringat dan bau asem menjadikan ia harus mandi lagi apabila ingin tidur nyenyak. Meski begitu banyak kenangan akan berbagai permainan tradisional di kala itu, sebelum permainan-permainan gawai menjadikan anak lebih individualis.
Permainan outdoor ini membuat mereka kembali menghirup udara di luar. Panitia sudah menyiapkan lapangan berpetak berbentuk segi empat. Tiap tim dari awal sudah dibagi menjadi lima orang, nantinya akan ada dua tim yang bertanding, secara bergantian dua tim akan bergantian jaga dan main, dan apabila tim yang menang terbanyak meloloskan anggotanya sampai finish tanpa tersentuh lawan yang berjaga maka tim tersebutlah pemenangnya, dan berhak memilih botol berisi gulungan-gulungan hukuman yang akan diberikan ke tim yang kalah. Karena jumlah tim yang yang berisi lima orang berjumlah 22 tim, maka untuk mempersingkat waktu dan persiapan menampilkan hukuman dilakukan di sesi acara permainan berakhir, ketika semua tim mendapat giliran.
Sorak sorai riuh para penonton membanjiri halaman Villa itu. Tim yang kedapatan menjaga dengan mati-matian berusaha menjaga garis mereka, dan tim yang kedapatan bermain berusaha untuk mengecoh lawan agar bisa melewati kotak demi kotak sembari mengulurkan tangan untuk menarik teman mereka.
Tiba saatnya Tim Iron Man yang berisi Key, Lala, Alicia, Ben dan Ahmad untuk bertanding melawan Tim The Flash. Seluruh kemampuannya digerakkan. Suara penonton semakin membuatnya bersemangat tatkala Key yang pertama yang harus mencoba meloloskan diri dan membantu kawan-kawannya ikut lolos. Pada giliran mereka, tiga orang berhasil lolos termasuk Key dan Lala, namun sayang salah satu temannya yaitu Ahmad yang menjadi penerobos keempat tersentuh di bagian lengan, meski hanya sedikit dan sempat dikira menang tapi akhirnya kalah juga dan harus bergantian. Tiba giliran tim The Flash yang berusaha menerobos dan Tim Iron Man yang berjaga di perbatasan, empat anggota tim The flash berhasil lolos, dan sudah dipastikan tim Iron Man kalah dan dengan lapang d**a bersiap menerima hukuman. Tim The Flash mengocok isi botol dan berusaha mengeluarkan gulungan kertas dari dalamnya, deg-degan tim Iron Man menunggu, dan ketika dibacakan hukumannya berupa, “Dance ala boyband/ girlband”, mereka ada sensasi malu namun juga seru mulai terbayang.
Sembari menunggu semua tim mendapat giliran bermain, Tim Iron Man duduk berkelompok tak jauh dari kerumunan berada. Mereka memutuskan untuk berlatih dance dari sebuah lagu yang dibawakan boyband berasal dari Korea Selatan yang sedang trending akhir-akhir ini.
Sebelum jam lima sore semua tim sudah mendapat giliran. Didapat 11 tim sebagai pemenang dan 11 tim lain kalah dan harus mendapat hukuman. Ada bermacam-macam hukuman yang didapat, menari, menyanyi, bermain drama singkat, ber pantomim, dan masih banyak lagi yang bertujuan untuk acara penghibur nanti malam.
Seusai istirahat, mandi dan makan, pukul tujuh malam mereka kembali dikumpulkan. Seorang MC dari senior lelaki dan perempuan mengomando jalannya acara makrab hari ini. Bagi peserta yang kalah dalam permainan Gobak Sodor, satu per satu menunjukan kebolehannya sesuai yang tertera di gulungan kertas. Key dan timnya mendapat giliran ke lima. Setelah penampilan dari keseluruhan empat tim yang awal sejauh ini berjalan lancar, ada drama, nyanyi dua kali, drama dan kini giliran Key dan timnya yang tampil. Sorak sorai dan tepuk tangan penampilan tim kelima menggema, kini key bersiap. Ketika panitia baru memutarkan intro sebuah lagu berbahasa korea, sorak sorai penonton semakin riuh terlebih pagi beberapa dari mereka yang sudah familiar akan lagu tersebut. Bak seorang idola, key dan timnya Iron Man dengan lihai menari mengikuti alunan musik yang ada beatnya, beberapa penonton bahkan ikut menyanyikan lagunya menambah semangat untuk Key dan tim. Sebelumnya kurang dari sejam mereka telah berlatih tari kreasi yang langkah-langkahnya bisa mereka lihat di platform Youtube dengan pengubahan dan penambahan gerakan-gerakan sederhana. Aldo dan senior yang lain takjub tak bisa lepas dari penampilan mereka. Apa yang disajikan di depan mereka sungguh menghibur mereka dan seakan sempat melupakan lelah yang mereka rasakan akhir-akhir ini.
“Wah, menawan juga mereka.” Celetuk seorang senior laki-laki tatkala melihat penampilan yang sangat keren dari Tim Iron Man..
“Yang pakai baju putih dan celana jeans biru itu cantik ya.” puji senior lain di sebelahnya.
“Yang mana? Ada dua tuh yang pakai baju putih dan celana jeans biru.” balas yang lainnya. Mereka memandang kelima juniornya yang sedang beraksi itu.
“Yaelah, yang cewek dong...kan aku bilang cantik, masa yang cowok..yang bener aja, aku nggak m**o ya.” Kata senior itu dengan nada meninggi.
“Hahaha, bercanda Mas Bro. Ok, aku incer dia!” balasnya dengan semangat.
Aldo yang mendengar dan kebetulan berada di dekat kedua temannya itu seketika was-was, karena gadis yang mereka bicarakan adalah incerannya dari awal. Namun itu buka pertama kali ia merasa harus segera menggaet Keysha, sudah sering ia mendengar rekan-rekan seniornya membicarakan mahasiswa baru tahun ini disebut dan salah satu yang kerap ia dengar pujian datang untuk Keysha.
Penampilan dance K-Pop Tim Iron Man berakhir, seluruh penonton bertepuk tangan dengan meriah, bahkan ada beberapa yang berteriak untuk mengulangi lagi.
“Replay! Replay! Replay!” Teriak penonton laki-laki namun akhirnya juga diikuti penonton perempuan. Sang MC Senior perempuan bernama Berdia itu menghidupkan mic nya dan berdiskusi dengan partner MC laki-laki bernama Jonny.
“Antusias yang luar biasa dari penonton rupanya. Bagaimana kalau kita meminta mereka mengulangi dancenya lagi ya, Kak Jon?”
“Wah, boleh juga tuh. Bagaimana pemirsa?!” Tanya Jonny.
“Ya! Replay! Replay! Replay!” sahut penonton antusias.
“Ok, baiklah. Harap tenang, kita tanyakan dulu apakah Tim Iron Man bersedia untuk tampil kembali?” Tanya Jonny kepada Tim Keysha. Yang ditanya saling menatap anggota sesama tim. Salah seorang gadis berkacamata di tim Iron Man melambaikan tangan malu-malu, dan membuat yang lainnya pun juga enggan untuk tampil kembali.
“Rupanya Tim Iron Man tak ingin tampil lagi pemirsa.” Sahut Berdia.
Nada kecewa bergema dan sorakan untuk tampil kembali disuarakan, “Maju, maju, maju!”
Karena seperti didesak seperti itu akhirnya Tim Iron Man berdiskusi kilat, dan mereka pun berakhir menyetujui untuk tampil kembali. Teriakan kegirangan terdengar riuh.
Tim Iron Man kembali ke depan panggung dan mulai diputar lagi lagu itu lalu menari dengan lebih lincah saat ini. Diantara keramaian itu Aldo tak henti-hentinya tersenyum dan tambah terpesona pada sosok Key dan semakin membuatnya semakin mantap akan sebuah rencana yang telah ia tunggu untuk direalisasikan.