Perhatian

1789 Kata
Kicauan burung saling bersahut-sahutan di halaman teduh nan sejuk Universitas Atmaja Buana. Semakin menanjak matahari, arus lalu lintas di depan kampus itu semakin padat saja. Dua orang petugas keamanan terlihat membantu menyeberangkan para mahasiswa dan dosen untuk menyebrang di jalan pantura itu. Ada lampu lalu lintas di jalan depan kampus yang dipasangi penanda waktu dan papan peringatan terbuat dari besi bertuliskan “AWAS! BANYAK MAHASISWA MENYEBRANG!”. Dengan warna hitam dan background kuning menyala. Mungkin beberapa tahun lalu peringatan bagi pengendara tak selengkap itu, namun sejak banyak korban yang kecelakaan yang mayoritas mahasiswa, tempat itu menjadi rawan. Parkiran motor maupun mobil yang tadinya hanya beberapa buah sekarang menjadi puluhan bahkan ratusan kendaraan terparkir rapi. Para mahasiswa dan dosen saling berseliweran di area tersebut. Tampak para mahasiswa baru sudah mulai akrab dengan teman-teman sesama mahasiswa baru. Para panitia pengurus dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang mengospek para mahasiswa baru tengah bersiap-siap untuk persiapan ospek hari kedua. Aldo juga tengah memberikan sedikit briefing yang ia utarakan, karena evaluasi dan persiapan menyeluruh sudah dilakukan kemarin seusai ospek pertama. Key, Lala, dan Doni sudah berada di kampus sejak setengah tujuh pagi. Masih ada satu setengah jam lagi sebelum kegiatan perospekan dimulai. Mereka sengaja janjian untuk datang awal karena ingin berkeliling-keliling sekitaran kampus terlebih dahulu sembari quality time bersama. Mengikuti ospek kedua ini. Tak semua bersemangat menjalani kegiatan ospek seperti mereka, karena senoritas terasa kental terasa, namun karena kegiatan ini wajib membuat mereka mau tak mau harus mengikuti kegiatan sampai akhir, tentu karena katanya di masa tersebut mereka diperkenalkan dengan lingkungan kampus, diberi informasi tata tertib, organisasi, bahkan administrasi kampus. Salah satu senior perempuan mengecek absen satu persatu, dan ketika nama “Keysha Larasati” diucapkan sejenak Aldo tertegun. Pandangannya mengarah ke sosok gadis berpita 16 buah itu yang sedang mengacungkan jari saat namanya disebut. Saat itu juga Aldo tersadar, Keysha mirip dengan gadis yang dia lihat bersama ojol kemarin dan tentunya yang disebut malaikat penolong oleh Bundanya. I found you! Gumamnya. Kegiatan ospek kedua berjalan dengan lancar. Aldo bersikap professional sejauh ini. Namun tak dipungkiri pandangannya sering tertuju ke arah Key. Sepertinya ia mulai tertarik dengan gadis yang tampak ceria itu. Hal ini tentunya membuat kawan-kawan Aldo yang juga sesama panitia BEM merasa seru sendiri, apalagi ketika mendapati Aldo tampak senyum-senyum sendiri tiap melihatnya. “Sepertinya Aldo yang akan keluar sebagai pemenang.” Ucap Tegor tanpa disadari Aldo. “Yoi, Bro. Gak ada yang ngalahin pesona dia kalau sudah beraksi.” Hari menjelang siang, para mahasiswa tampak sudah mulai lesu dan kepanasan. Ac yang cukup banyak terpasang tidak mampu menyejukkan ruangan Aula fakultas Ekonomi yang dijejali ratusan mahasiswa tersebut. Mereka seperti berebut oksigen dalam satu ruang yang sama. Terlebih ada yang mulai tampak bosan karena dari pagi hari kegiatan hanya berisi materi, pengenalan seputar kampus, dan sambutan-sambutan dosen yang belum sempat memberikan sambutan saat ospek pertama. Beberapa juga ada yang berbisik dengan teman sebelahnya, kenapa juga duduk laki-laki dan perempuan harus dipisah, bagian kanan untuk laki-laki dan sebaliknya bagian kiri baris perempuan. Coba saja dibiarkan posisi duduk mereka bercampur, bukankah sedikit ada penghiburan dan semangat untuk melewati ospek yang membosankan dengan main lirik-lirik lawan jenis? Pikir mereka. Begitulah awal pagi ospek kedua ini, tak ada kegiatan yang menyenangkan selain kegiatan pasif tadi. Ketika pergantian sesi acara, pemandu menginformasikan untuk istirahat selama 60 menit dimulai pukul 12 siang. Para mahasiswa baru tersebut akhirnya bernafas lega, muka yang awalnya kusut seakan diberi energi lagi demi mendengar kata istirahat diucapkan. “Ingat ya, kalian harus segera kembali dan sudah berada di aula ini lagi tepat jam 1 siang. Tidak boleh ada yang terlambat bahkan satu menit sekalipun, karena setelah kalian kumpul di Aula kita akan segera pindah ke tempat lain. Mengerti?!” Tegas Delia, senior yang terkenal cantik namun juga galak itu. “Mengerti, Kak!” sahut para mahasiswa patuh dengan nada yang keras terutama dari kaum lelaki. “Ini tidak kompak ya, mana suara yang perempuan?” Delia mengulang. “Mengerti, Kak!” Dengan Agak agak malas barisan perempuan menjawab. “Baiklah, kalau begitu sekarang kalian bubar dan silahkan istirahat. Salam” Ujar Delia menutup sesi tadi. Tak ada yang aneh selama jam istirahat berlangsung, Key selalu bersama Lala dan beberapa teman baru yang sekelompok dengan mereka. Mereka habiskan jam istirahat di Pujasera. Sampai ketika sepuluh menit menjelang jam istirahat berakhir dan otomatis mereka harus segera kembali, Key merasakan sakit perut luar biasa. Usus di dalam perutnya seperti melilit-lilit bahkan mencengkramnya. berulang -ulang tangannya mencoba memijat perut namun tak membuahkan hasil. “Kalian duluan saja ya, aku mau ke kamar mandi sebentar.” Key tiba-tiba minta pamit. “Kamu yakin nggak apa-apa? Aku temani saja ya?” Lala menawarkan diri, Key menggeleng, “Gausah, La. Aku bentar ko. Sepertinya perutku mulas-mulas dari tadi, aku mau ke toilet bentar ya setelah itu kususul kalian.” Terang Key, Lala dan yang lain mempersilahkan, meninggalkan Key yang berjalan beda arah dengan mereka. Key buru-buru ngirit mencari kamar mandi yang kosong, setelah menemukan ia lantas masuk dan cepat menutup pintu dan menguncinya. Di dalam toilet ia mengecek sesuatu. Perasaannya sudah tidak enak dan sempat terlintas di benaknya, apakah ini sudah waktunya? Benar saja. Gejala nyeri perut khas, dan rasanya seperti mau pingsan yang biasa didapatkan setiap bulannya selama 6-7 hari. Oh My, I get my period! Batinnya cemas. Bagaimana tidak, seharusnya sesuai jadwal apabila teratur biasanya ia akan kedatangan sang tamu istimewa di awal bulan, tapi ini baru dua minggu sejak ia bersih dari datang bulan dan kini harus mengalaminya lagi tentunya membuat ia shock. "Aduh, kenapa harus sekarang sih." Key amat gelisah tatkala ia tahu tidak membawa pembalut dan harus segera kembali ke gedung dimana Pujasera dan kios-kios serba ada berada, namun waktu tinggal lima menit lagi sebelum jam istirahat usai. Bagaimana bila ia terlambat dan kena hukuman? Key memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke tempat ospek, namun baru beberapa langkah perutnya terasa nyeri luar biasa membuatnya harus berhenti sejenak untuk menunggu rasa nyerinya mendingan. Sebentar-sebentar ia kembali mengecek arlojinya dan waktu sampai terasa tak mungkin ia gapai. Ia memutuskan untuk segera berlari sekencang mungkin, lari dan terus lari. “Auh!” larinya terhenti, karena kini bukan hanya perutnya yang sakit tapi juga dadanya yang amat sesak. Sejenak ia sandarkan dirinya ke tembok terdekat sembari terus memegangi perutnya yang terasa amat panas dan perih. Rasanya sudah terengah-engah berlarian ditambah jam sudah lewat. “Tamatlah riwayatku”. Sungutnya. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan, begitu sampai diulang tiga kali sambil ia memutuskan untuk pelan-pelan menaiki anak tangga satu per satu ke lantai tiga dimana terakhir ospeknya diadakan. Sesampainya di lantai tiga, ia segera menuju aula utama yang ternyata pintunya sudah tertutup. Ragu-ragu ia akan membuka pintu itu, malu, was-was, dan bingung ingin beralasan apa ketika masuk nanti. Tentunya ia akan menjadi pusat perhatian kembali. Baru dua hari ospek, namun selama dua kali berturut-turut ia masa membuat kesalahan. Kembali ia menarik nafas dan membuka pintu itu. “Kosong? kemana mereka?” Key bengong menyaksikan Aula yang harusnya sesak dengan orang-orang kini hanya berisi tas-tas yang bertumpuk di depan ruangan serta ada sound besar dan proyektor yang terpasang di langit-langit ruangan. “Ah, kemana lagi mereka?” dengan lunglai dan masih sakit tentunya ia keluar dari Aula. ia segera mengecek handphonenya, ada pesan dari Lala! Dengan segera ia membukanya. Cepetan ke belakang gedung ekonomi. Tanpa membalas pesan itu, Key segera melesat menuruni anak tangga tiga lantai itu. Kembali terengah-engah dan susah payah ia turun, dan menuju ke belakang gedung fakultasnya. Benar saja, disana semuanya kumpul. Dari kejauhan ada seseorang melambai ke arahnya. Itu Lala. ia mengisyaratkan Key untuk segera bergabung dengan kelompok mereka. Delia si senior galak tampak sedang memberikan arahan. Sepertinya ia tidak sadar akan kehadiran juniornya yang terlambat datang. Key lega menyaksikan itu, hal baik karena dia bisa leluasa mengendap-endap seperti kucing yang akan mencuri ikan. Aksinya hampir berhasil dan teman sekelompoknya sudah menyambutnya dengan lirih, namun sayang salah satu senior yang baru saja datang dari arah belakang menarik kerahnya. “Sedang apa kamu mengendap-endap?!” tanya seorang senior cewek lain dengan lantang. Sontak kembali berpasang-pasang mata menoleh ke arahnya. "Saya mau duduk, Kak." Jawab Key dengan polosnya. "Hem, enak benar ya sudah datang telat, berusaha mengelabui kami dan dengan santai mau duduk." Dengan wajah sinis senior itu bicara sembari masih memegang kerah Key. "Maaf kak…" Key pasrah, begitupun teman-temannya hanya bisa terkesima melihat dan tak bisa berbuat apapun. "Sudah sana ke podium!" Dengan ketus si senior menyuruh Key dan melepaskan cengkramannya. Key segera menuruti perintah. Ia berjalan ke arah pondium, suasana hening dan Key berani bertaruh sebenarnya di dalam hati mereka sedang ramai mengutuki kemalangannya. "Kamu lagi rupanya. Tak jera-jera ya rupanya. Sudah, cepat berdiri di sana!." Key dengan patuh berdiri di atas podium. Ia sudah pasrah dengan tatapan mereka, dan mungkin beberapa dari mereka sedang membicarakannya diam-diam. Rasa sakit yang terus dirasakannya membuatnya sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar sesekali dia meringis kesakitan. Dari sisi samping Aldo menyaksikan ada gelagat aneh yang ditampakkan oleh Key, wajahnya amat sangat pucat dan ia berdiri tampak tidak nyaman. Lelaki itu memutuskan untuk berjalan ke arah podium, dan berdiri disamping Key sembari mengawasi sesama panitia dari dekat sehingga ia tak begitu kentara sedang mendekati Key. Entahlah, institusinya mengatakan untuk segera berjalan dan berdiri saja di samping gadis itu. Semakin didekati rupanya ada keringat dingin di sekitar wajahnya. "Are you ok?" Tanyanya pelan dan dengan penuh kecemasan. Tak ada tanggapan dari Key yang masih meringis menahan sakit perut. "Keysha, are you ok?" Tanya Aldo lagi, kali ini Key mendengar dengan jelas dan kaget ketika mengetahui ada orang di sebelahnya. "Eh iya, saya baik-baik saja Kak. Maaf, saya tidak tau Kak Aldo di situ." Jawabnya merasa bersalah. Namun Aldo tampak ragu, karena ucapan dan kondisi gadis itu nyatanya berbanding terbalik dengan keadaannya yang jauh dari sehat. Dan benar dugaan Aldo, karena setelah obrolan singkat itu Key merasakan penglihatan sekitar seperti berputar-putar hebat, suara Delia yang tadinya kencang dengan mikrofon dan speaker tepat di sebelahnya lama-lama mulai tak terdengar bahkan seakan-akan suara itu menjauh darinya, dan seketika dunia pun menjadi gelap. "Key, kamu boleh istira…" Belum selesai Aldo memintanya untuk istirahat, benar saja tiba-tiba Key roboh dan dengan gerakan reflek tangan Aldo menangkap tubuh gadis itu. Tentu saja, semua yang ada di sana heboh, dengan jelas Key terjatuh tak sadarkan diri di depan mata kepala mereka sendiri. Dengan sigap Aldo segera membopong tubuh Key untuk dibawa ke klinik kesehatan yang ada di kampus mereka. Dia mengisyaratkan satu temannya untuk ikut dan panitia lain melanjutkan ospek. Lala yang menyaksikan kejadian yang begitu cepat itu masih terbengong, yang dibawa tadi adalah sahabatnya. Ia berusaha meminta izin ke panitia untuk mendampingi Key, awalnya tidak diijinkan, namun karena pernyataan Lala yang meyakinkan soal kedekatan dengan Key, akhirnya ia diperbolehkan ikut ke klinik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN