Calon?

2224 Kata
"Turun Ngresep Tembalang!" Suara kondektur Angkutan BRT Semarang nyaring, seketika mampu mengejutkan Keysha yang baru saja terbangun dari tidurnya. "Hah, sampai mana ini?" Masih sedikit linglung, iya bergumam sendiri, namun penumpang di sebelah kirinya mampu mendengar gumamannya dan tak tega melihat Key seperti kebingungan seperti itu , "Sampai Ngresep Tembalang, Dek. Adek turun mana?" Tanya lelaki paruh baya tersebut. Mendengar pernyataan itu, Key langsung terperanjat, seakan nyawanya langsung terkumpul semua. "Astaga, saya kelewatan Pak. Harusnya turun RS. Elizabeth." Key lantas berterima kasih ke Bapak tersebut dan segera pamit untuk turun. Untung bis masih belum lanjut berjalan. Antrian penumpang yang akan turun ternyata masih tertahan oleh seorang Ibu-ibu yang tampak berusia sekitar 40 tahunan yang turun dengan amat sangat hati-hati, kakinya tampak sedikit pincang sebelah dengan bawaan yang cukup banyak di kedua tangannya. Ketika si ibu itu berhasil keluar dari bis menuju halte pemberhentian, antrian penumpang tadi seakan langsung berhamburan keluar lega, begitupun dengan Key. Tak berapa lama para penumpang tadi sudah berjalan pergi dan beberapa ada yang langsung dijemput oleh penjemput yang memang sudah menunggu di dekat halte. Kini suasana halte menjadi cukup lenggang, menyisakan Key, Ibu dengan bawaan banyak tadi, dan seorang petugas penjaga halte yang sekarang mendapat giliran menjaga halte Ngresep Tembalang dan menjual karcis. Key kesal sendiri dan mengutuk dirinya sendiri kenapa ia harus tertidur begitu lelapnya sehingga melewatkan banyak pemberhentian bus. "Ih dasar bodoh!" Jarinya mengetuk-ketuk dahinya sendiri, "Auh!" Kini ia merasa kesakitan sendiri akan ulahnya. Key mulai mengingat flashback, di hari pertamanya ngampus ia diantarkan Papanya ke kampus, tapi pulangnya justru ia harus pulang sendiri lantaran Papanya menelpon tidak bisa menjemput karena ada rapat dadakan di kantornya, dan perkiraan baru selesai menjelang malam. Tidak mungkin juga ia menunggu selama itu di kampus sendirian apalagi kedua sahabatnya sudah duluan pulang dengan mengendarai sepeda motor dan berboncengan, ya mereka searah jadi bisa sama-sama berbarengan, sayangnya, arah rumah Key berlawanan dengan arah rumah Lala dan Doni. Sebenarnya Papa Key sudah memintanya untuk pulang menggunakan kendaraan online saja, tapi ketika mengecek tarif dari kampusnya ke rumahnya, Key urung. Jiwa hematnya bergejolak, ia lebih memilih naik bus trans Semarang yang tarifnya hanya 1000 rupiah sekali jalan. Ya karena ia seorang mahasiswi jadi begitulah tarifnya. Key menyebrang jalan pantura yang memang berada di depan kampus menuju halte bus. Setelah membeli tiket dari petugas yang berjaga di halte, ia duduk di bangku merah senada dengan warna haltenya. Di dinding halte yang sebagian terbuat dari kaca terdapat selembar informasi rute yang dilewati BRT tertempel di sana. Sedikit menyipit,ia berusaha membaca rute-rute itu.   Rute BRT Semarang  Dari Arah Kaligawe : Kaligawe ↠ Universitas Atmaja Buana ↠ LIK ↠ Taman Besar Semarang ↠ Ladang Besar Kaligawe ↠ Pasar Rame ↠ Raden Patah ↠ Kota Lama ↠ Universitas Ajisaka ↠ Johar ↠ Balai Kota ↠ Katedral ↠ RSUP Kariadi ↠ Ngaglik ↠ SPBU Gajahmungkur ↠ Halte Transit Taman Diponegoro/RS Elisabeth ↠ Kagok ↠ Akpol ↠ SMA Aruma ↠ Ngadem Sari ↠ Pasar Jatingaleh ↠ Bukitsari ↠ Ngesrep/Tembalang   Ada lebih dari sepuluh halte yang harus Key lewati dari halte Universitas Atmaja Buana ke halte terdekat rumahnya di halte transit Taman Diponegoro/ RS Elisabeth. Jarak yang lumayan jauh, dan saat itu Key sudah menguap entah keberapa kalinya, ngantuk berat. Dari arah Kaligawe tampak Bis berwarna merah itu muncul. Calon penumpang melongok untuk memastikan bahwa itu bis yang sesuai rute mereka. Bis akhirnya berhenti di depan halte, beberapa calon penumpang mundur dan kembali duduk di bangku halte karena bis tadi bukan melewati rute mereka,dan ada banyak mahasiswa yang masuk ke bis tersebut termasuk Key. Key mendapat tempat duduk paling belakang saat itu, sehingga wajar dia tak begitu mendengar sang kondektur dengan jelas, karena riuhnya para mahasiswa sedang ngobrol akan sesuatu. Ia ingat, saking lamanya perjalanan serta nyamannya dingin AC di dalam bis setelah seharian Key gerah di luar dengan cuaca panas memanjakannya, awalnya ia hanya memasang sebelah kanan earphone warna putihnya dengan volume pelan, sembari mendengarkan musik jazz yang mengalun merdu ia terlena juga oleh pemandangan kota dari balik kaca, lama-lama Key benar-benar terlelap dan tau-tau sudah kelewatan. Kesal sekali Key.   Dengan segera Key mendatangi petugas Trans Semarang yang sedang sibuk mencatat di sebuah buku. Dengan senyum ramah dan penjelasan yang baik, pemuda kisaran 20 tahunan dengan setelan kemeja putih dan celana bahan hitam itu menjelaskan ke Key arah jalan yang harus ditempuh untuk kembali ke halte di Elizabeth. Mendengar detail jarak jalan yang harus ia tempuh serta waktu kedatangan bis yang dimaksud akhirnya Key urung melanjutkan perjalanan dengan bus trans Semarang itu. Key berfikir, mungkin dari tempatnya sekarang ke rumahnya tak akan memakan biaya banyak bila menggunakan ojek online. Saat akan memesan ojek online, dari jarak 100 meter mata Key melihat sosok Ibu dengan jalan agak pincang tadi tampak akan menyebrang. Lalu lalang kendaraan yang sangat padat membuat Ibu itu maju mundur untuk segera menyebrang. Tetiba, sebuah kendaraan melesat hanya beberapa senti dari si Ibu berdiri, bahkan hampir menyerempet dan membuatnya kaget sehingga menjatuhkan barang bawaannya. Beberapa buah jeruk tampak menggelinding keluar dari dalam kresek putih yang dibawanya. Tanpa menghiraukan rencana order ojek onlinenya, Key dengan cepat membantu Ibu itu mengambil jeruk-jeruk itu, ada dua biji sudah tak bisa diselamatkan karena sudah terlindas ban kendaraan. Key mengajak Ibu itu ke pinggir dan duduk sebentar di bangku yang ada di pinggir jalan. "Terimakasih, ya Nduk." Ujar Ibu itu setelah hilang rasa kagetnya. "Sama-sama, Bu. Ibu mau kemana?" Tanya Key dengan penuh peduli. "Mau pulang ke rumah, di ujung seberang jalan itu. Tapi ko ya rame sekali jalannya." Jawabnya kemudian dan segera berdiri lagi. "Biar saya antar saja, Bu." Key menawarkan bantuan, melihat betapa repot si Ibu. "Ngga usah repot-repot, Nduk. Pasti kamu juga lagi ada urusan." Seketika itu wanita paruh baya itu menampakan wajah tidak enak hati. "Tidak apa-apa, Bu. Saya juga barusan pulang dari sekolah mau ke rumah, jadi santai."jawab Key tulus, senyumnya mampu membuat ketidak enak hatian Ibu itu sirna.  "Mari saya bantu bawakan belanjanya." Key mengambil salah satu kresek belanjaan yang tampak paling berat. Awalnya Ibu itu menolak tapi Key meyakinkan si Ibu menjadikannya pasrah akan kemauan Key. Merekapun menyebrang bersama lewat di atas zebra cross yang warnanya mulai memudar. Namanya Bu Miranda, usianya sekitar 40 tahunan namun ketika kamu melihatnya secara langsung wajah Bu Mira sapaan beliau, jauh lebih muda daripada usia sebenarnya, mungkin kau akan mengira Bu Mira berusia 30 tahunan. Sepanjang perjalanan banyak hal yang Bu Mira ceritakan, suaminya sudah meninggal sekitar 10 tahun yang lalu akibat terkena diabetes yang sudah diderita selama kurun lima tahunan, oleh karena itu Bu Mira menasehati Key untuk sangat menjaga pola makan dan kesehatan seperti jangan terlalu banyak mengkonsumsi gula, perbanyak minum air, rajin olahraga supaya umurnya panjang. Ia memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan, ketika menanyakan usia Key, beliau terkejut karena usianya hampir sama dengan usia anak pertamanya yang laki-laki dan bertambah takjub ketika ia tahu di mana Key bersekolah, awalnya ia mengira ketika Key bilang baru pulang sekolah disangkanya masih SMA namun rupanya memberikan penjelasan bahwa ia baru saja pulang dari kuliah dan kampusnya ternyata sama dengan tempat anaknya menimba ilmu. Saking asyiknya mengobrol tak terasa mereka sudah berjalan sekitar 15 menit dari halte pemberhentian tadi, kini mereka berbelok ke kiri. Ketika dihadapkan pertigaan jalan. Terpampang gapura bertuliskan huruf kapital semua “GRAND DIAMOND RESIDENCE” dan logo berlian di sampingnya. Tampak pos satpam tepat di sebelah gapura itu dan seorang satpam dengan seragam warna hitam lengkap dengan atribut seperti peluit dan tongkat tersemat di pinggangnya. Bu Mira dan satpam tersebut saling menyapa. “Baru dari rumah sakit, Bu?” Tanya satpam itu ramah. Ada tulisan Bejo di bawah bet bertulisan SATPAM di seragamnya. “Iya, Jo. Biasa.” Balas Bu Mira lagi. “Lah, tumben bawa gadis siapa ini, Bu Mira?” Satpam Bejo mulai kepo. Pandangan asing ketika melihat sosok Keysha. “Calon.” Bu Mira berbisik-bisik amat lirih. Keysha hanya geli menyaksikan percakapan mereka. Setelah melewati gapura, Key langsung disuguhkan deretan perumahan elit yang struktur bangunan dan warna catnya semua sama dari ujung satu ke ujung yang lain. sangat enak dipandang. Perumahan elit yang terkenal di Semarang atas. Tempat ini berada di area perbukitan, sehingga udaranya lumayan sejuk  apabila dibanding Semarang bagian bawah yang bersebelahan langsung dengan laut dan panas ketika siang hari. Pemandangan yang disuguhkan di perumahan ini juga sangat menawan. Pastilah betah para penghuni di sini. Sesekali Key mengalihkan beban belanjaan tadi ke tangan satunya, ternyata lama-lama tangannya terasa pegal juga, namun Key malah senang karena dia mampu membantu Bu Mira. Tak butuh waktu lama, selang beberapa meter dari gapura tadi, akhirnya mereka berhenti. “Ini rumah ibu, Nak. Ayo, mampir dulu.” Ajak Bu Mira sambal tersenyum sangat cantik. Key mengecek jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan jam setengah lima sore. “Terima kasih, Bu. Sepertinya lain kali saja saya mainnya karena ini sudah hampir sore nanti keburu dicariin sama orang tua.” tolak Key sopan. “Baiklah, terima kasih ya, Nak Keysha. Pintu rumah akan selalu terbuka lebar untukmu." Bu Mira mengelus pundak Key. “Baik, Bu. Apabila ada waktu luang saya akan mengunjungi ibu. Jaga kesehatan ya Bu.” Setelah itu Keisha berpamitan dan mulai melangkah pergi setelah menyerahkan belanjaan yang dibawanya. Mendengar suara kedatangan Bundanya, Aldo lantas bergegas turun dan menemuinya. Nina tampak membantu membawakan sebagian belanjaan yang dibawa Bu Mira, sebagian lagi langsung diambil Aldo. Setelah memapah Bu Mira untuk duduk, Aldo mengambil segelas air mineral dan menyerahkannya ke Bundanya. Baru setelah Bu Mira selesai minum, ia mulai bertanya. “Bunda, kenapa tidak menunggu Aldo saja ke rumah sakitnya?” tanyanya, sembari tangannya memijat kaki Bunda. Nina juga menunggu jawaban. “Tidak apa-apa, tadi kalian kan sekolah, sedangkan Bunda di rumah sedang tidak ada kerjaan, yasudah Bunda sempetin menjenguk anak itu.” jawabnya, memandandang bergantian dari Aldo ke Nina yang tampak lega setelah melihat kondisi orang tua mereka tersebut. “Bunda, masalahnya kaki Bunda sedang sakit, untung sekarang Bunda baik-baik saja, coba kalau ada apa-apa dan kami tidak ada di sana?” Nina berandai-andai kondisi terburuknya. “Hush! kalau ngomong itu dijaga, syukurlah semua baik saja.” ada jeda sejenak, Bu Mira teringat sesuatu, “Oh iya, tadi Bunda dari halte bis diantar seorang anak gadis. Untung ada dia yang bantu dan antar bunda sampai depan rumah.” jawab Bu Mira senang. Anak-anaknya juga tampak lega masih banyak malaikat bertebaran di luaran sana.  “Oh, iya. mungkin sekarang dia masih belum jauh berjalan. Bisa kamu susul Al, dan antarkan dia ke rumahnya. ini sudah menjelang sore kasihan.” dengan cekatan, Aldo segera menyambar jaket dan kunci motornya lalu menoleh ke Bundanya lagi. Seperti paham apa yang dimaksud putranya, Bu Mira menjelaskan ciri-ciri gadis yang menolongnya. “Dia pakai atasan putih dan rok hitam, rambutnya sebahu bergelombang dan diikat banyak pita, membawa tas selempang.”  “Baik Bun, terimakasih. Aldo pergi dulu.” Aldo segera menstarter motor dan beberapa saat kemudian sudah melesat meninggalkan rumahnya. Di sisi lain, tampak Keysha sedang berkutat memandangi ponselnya, dia sedang menunggu abang ojek online yang tersambung dengan pesanannya. dari peta informasi, si abang ojol ini tampak sudah dekat dari posisi Key menunggu. Benar saja, dari belokan tampak motor dengan pengemudinya berseragam hijau senada dengan warna helm yang dikenakan. Setelah mendekat, si abang ojol membuka helm dan bertanya memastikan, “Dengan Keysha?” Key mengangguk, “Benar Pak, dengan saya sendiri.” lantas abang ojol itu tersenyum dan menyerahkan helm lain ke Key. Ia menerimanya dan segera memakainya. Saat itulah Aldo tiba di tempat tak jauh dari mereka berada. Matanya menangkap sosok yang ciri-cirinya disebutkan Bunda. Ketika Key merapikan helm dan melesat meninggalkan lokasi itu, Aldo sempat menangkap sekilas wajah gadis itu. “Sepertinya aku pernah melihat gadis itu tapi siapa dan dimana?” Gumamnya, karena tak sempat bertemu akhirnya ia memutuskan untuk berbalik kembali ke rumahnya. “Aku pulang,” Aldo masih sampai di pintu, namun Bu Mira dan Nina sudah mencegatnya dan memberondong pertanyaan. Reaksi Aldo justru menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat kedua bahunya. Melihat hal itu dan terlebih kedatangan Aldo terlalu cepat untuk hitungan waktu dan jarak mengantar orang pastilah sangsi seketika. Aldo segera mengajak masuk kedua Wanita berharganya tersebut memasuki rumah. Mereka duduk di ruang keluarga. Bu Mira kembali melanjutkan cerita tentang gadis yang menolongnya tadi. “Padahal ya gadis itu udah manis, cantik, baik hati sekali. Coba kalau tidak ada dia, Bunda bisa-bisa terserempet kendaraan tadi.” Masih dengan kekaguman Bu Mira melanjutkan. ”Siapa ya tadi namanya?” Kini Ibu dua anak itu berpikir keras. “Ke…” masih terus mengingat. “Ken-ken?” Sahut Nina, Bu Mira menggeleng. “Kekeyi?” Sahut Aldo, seketika Nina dan Bundanya menyipitkan mata ke arah Aldo. “Bukan. Yah, calon mantuku..” katanya sambil lesu. Mendengar hal itu, kedua anaknya cekikikan. “Bentar, Bunda ingat satu hal, gadis itu mahasiswa baru di tempat kuliahmu juga, Al!” Mata Bu Mira seperti bersinar kembali, “Jurusan Ekonomi juga!” Semangat 45 menguasai Bu Mira. Nina bertepuk tangan ikut girang. “Baiklah, besok coba Aldo cari tau dulu ya Bun.” Janji Aldo. “Yay, calon kakak ipar.” Sahut Nina lagi. “Yay, calon menantu!” Sahut Bu Mira tak mau kalah. Mereka pun tertawa bahagia mengetahui kebetulan-kebetulan yang terjadi hari ini. Aldo menyaksikan mereka berdua dengan tersenyum simpul. Tak ada yang lebih diinginkan dari senyum orang-orang terkasihnya saat ini, bahkan soal perginya Bu Mira ke rumah sakit pun sengaja tidak ia bahas, biarlah lupakan dulu kegetiran yang pernah ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN