Bayang-bayang

1257 Kata
Aldo menuju ke parkiran, dan segera menemukan motor bebek dengan plat H yang sudah setia menemani hari-harinya selama kurun waktu dua tahun ini, lalu segera menstarter motornya dan bergegas pulang. Panasnya kota Semarang memang tak terkalahkan. Meski sudah sore pun, ternyata matahari masih cukup membuat gerah para pengemudi yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Tak salah, bila ada meme menggambarkan jika posisi kota Semarang itu berada di antara Matahari dan bumi. Memang di kampusnya tadi sedikit sejuk karena banyak pepohonan, tapi ketika sudah turun ke jalan pantura sengatan matahari amat terasa. Terlebih sepanjang trotoar di Jl. Kaligawe di mana kampusnya berada, pohon-pohonnya masih rendah, karena beberapa bulan lalu baru saja daerah situ diadakan pelebaran dan meninggikan jalan supaya terhindar dari genangan banjir karena memang daerah itu rawan akan banjir dan rob dari laut yang tak jauh dari jalan ini. Sayangnya pelebaran jalan ini mengharuskan pohon-pohon yang tadinya tinggi nan rindang harus ditebang dan setelah jalan selesai dilebarkan, bibit-bibit pohon baru mulai ditanam. Butuh bertahun-tahun lamanya sampai bibit itu tumbuh menjadi pohon rindang. Tentu saja saat itu tiba Aldo sudah tak berkuliah di kampus itu lagi. "The hot is not public!" Umpat sekelompok pemuda yang sedang berjalan di trotoar, beberapa dari mereka berusaha mencari tempat teduh untuk jalan. Keringat mulai membanjiri kepala dan badan Aldo, sampai saat ketika setetes peluh melewati mata kanannya, dan saat berusaha menyekanya tetiba saja datang dari arah berlawanan sebuah motor dengan kecepatan tinggi, kontan saja Aldo kaget dan membuat kemudinya langsung oleng, ia berusaha memfokuskan diri ke kendalinya, namun semakin ia berusaha fokus, justru ia semakin tegang. Saat itu juga flashback masa lalunya terlintas, di mana ia sedang mengemudikan mobil dan dari tikungan dalam jarak dekat di depan tampak seseorang muncul dan kecelakaan tak terhindarkan. Gubrak! Aldo terpelanting bersama sepeda motornya. Ia berguling dua kali sampai akhirnya bisa berhenti dan terjatuh, untung beberapa kendaraan langsung sigap berhenti meski mendadak. Seorang pemuda yang melihat dan menjadi saksi kejadian tersebut langsung meneriaki si pengendara motor yang melarikan diri. Dengan tertatih-tatih Aldo dibantu untuk bangun dan seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahunan tampak membantu meminggirkan sepeda motornya. Dari kejauhan segerombolan siswi SMA tampak ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka berbisik sembari menggigit jari dan saling menebak tentang kecelakaan yang Aldo alami. "Kamu tak apa-apa, Nak?" Seorang wanita paruh baya pemilik warung emperan pinggir jalan datang tergopoh-gopoh dengan segelas teh di tangan kanannya. Aldo mengecek kondisinya, ada goresan sedikit di telapak tangannya yang sedikit terasa perih, di beberapa bagian pakaiannya ada bekas goresan juga dan debu. “Saya baik-baik saja, Bu.” Jawabnya sopan. Semakin banyak orang-orang yang berkerumun. Kerutan di dahi orang-orang yang berniat membantu maupun sekedar melihat keadaan Aldo tampak terlihat jelas. Rasa takut yang membuat merinding mereka seakan sirna ketika melihat ia baik-baik saja, hanya kaget saja. Kerumunan orang itu lega, beberapa dari mereka bahkan sudah mulai meninggalkannya dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing yang sempat tertunda karena penasaran menyaksikan kecelakaan tadi. Melihat kerumunan mulai sepi, segerombolan siswi tadi akhirnya memberanikan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju halte bus trans Semarang yang letaknya tak jauh dari tempat Aldo terjatuh. Mereka tak lepas pandangan ketika melewati Aldo, memastikan memang kecelakaan tadi tak memakan korban jiwa, atau mereka akan terngiang-ngiang setiap melewati tempat itu. Biasanya sebuah tempat kejadian perkara terdapat gambar berupa garis putus-putus atau gambar orang dengan pilox putih. Gambar-gambar itulah yang membuat mereka bergidik akan kisah di baliknya tiap kali melewati jalan itu lagi. Seusai mengucap terima kasih pada mereka yang menolong dan menyeruput seperempat gelas teh hangat, lalu ia pun berpamitan pergi. Aldo masih merasakan gemetaran di kakinya, dan ada rasa linu di sana, sempat sesaat kakinya sedikit kebas. Rasa sakit itu tak begitu dihiraukannya kemudian, karena berangsur-angsur hilang. Gang di mana rumahnya berada sudah tampak. Ia semakin lega. Semakin dekat, rumah dengan pagar besi bercat putih menyapanya. Turun dari motor, ia menepuk-nepuk celana, baju, dan merapikan rambutnya untuk memastikan kan bahwa dia tidak tampak seperti baru jatuh. "Aku pulang." Aldo membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, seketika itu juga bau masakan dari arah dapur tercium. Dari aroma masakannya, Aldo tahu betul siapa yang sedang memasak saat itu. "Masak gulai ya Nin, kakak mau dong di ambilin." Pintanya ke adik perempuan satu-satunya itu. Benar saja seperti dugaannya. "Bukannya tadi kakak bilang ya kalau sudah  makan di kampus?." "Percayalah meskipun baru semenit yang lalu kakak makan, tapi demi mencium bau masakanmu rasanya perut kembali kosong." Seloroh Aldo menimpali. "Baiklah akan ku ambilkan gulai untuk kakak." Dengan patuh si adik menyiapkan makanan untuk kakaknya. Aldo lantas mengelus-elus rambut hitam adiknya sebagai bentuk apresiasi. Pandangannya melihat sekeliling isi dalam rumah, mencari sosok yang dari tadi belum dijumpainya. "Bunda, mana?" Nina menarik nafas panjang mendengar pertanyaan kakaknya itu, namun dia tak lantas segera menjawab justru menyodorkan semangkuk gulai ayam beserta nasi dan taburan bawang merah goreng di atasnya, “Makan dulu, Kak.” “Woah, looks so delicious!” Aldo selalu lahap apabila Bunda atau adiknya yang masak. Entahlah, mungkin karena terbiasa dari lahir selalu disuguhi masakan rumah jadi membentuk citra seleranya sendiri. “Kakak akan mendukungmu jika kamu ingin ikut ajang kontes memasak yang ada di Tv itu, Nin. Kakak yakin dengan keahlian memasakmu ini, bisalah kamu masuk 10 besar.” Nina geleng-geleng sambil tersenyum mendengar pujian kakaknya itu, “Baiklah, akan kupikirkan.” Jawab sekenanya. “Itu baru adekku.” Kini Aldo menyeruput kuah gulai dengan nikmatnya, “Jadi, kemana Bunda pergi, Nin?” lanjutnya lagi. Sudah kedua kali kakaknya bertanya hal serupa. Kini Nina sudah tidak bisa lagi mengulur waktu. “Menjenguk orang itu lagi, Kak.” Jawaban Nina membuat Aldo seketika itu juga menghentikan makannya. Tiba-tiba pening terasa di kepalanya,entah karena efek terjatuh atau karena mendengar jawaban Nina. Rona murung menggelayut di mimik mukanya. “Nin, kakak ke atas dulu ya. Makasih loh buat makanan lezatnya.” Ucap Aldo tanpa melihat wajah adiknya dan menuju ke tangga yang menghubungkan ke kamarnya. “Loh, kakak nggak habisin nih makanannya. Mubazir loh.” Sahut adiknya berusaha menahan. “Kakak, sudah kenyang, Nin.” Aldo menapaki anak tangga dengan sedikit pilu di kaki, sebelum masuk ke kamarnya, ia menoloh ke arah bawah, di mana Nina masih menyaksikannya. “I’m fine, maafin kakak ya.” Senyumnya dan segera masuk kamar. Dilemparnya ransel hitam dari brand lokal yang dipakainya tadi ke atas tempat tidur ukuran single bed. Kemudian Aldo melempar juga badannya ke sana. Ia memandangi langit-langit kamar, bersih, bercat putih, ada lampu dengan cahaya putih hangat tergantung di sana. Bayang-bayang masa lalunya kini seakan kembali tergambar jelas di plafon kamarnya itu. Tepat sekitar dua tahun lalu, Aldo menabrak seorang lelaki ketika dia mengendarai mobilnya. Dengan sigap dan terburu-buru ia turun dan menyaksikan seseorang sudah terbujur di jalan. Suasana genting dan panik menyelimutinya saat itu. Untungnya, orang yang ditabraknya masih bernafas lalu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, si lelaki tidak kunjung siuman, ia koma dalam kurun yang entah berapa lama. Sangat lama, karena sampai hari ini pun lelaki itu belum siuman. Ia koma sejak dua tahun lalu. Sebenarnya keluarga lelaki yang ditabrak sudah mengikhlaskan, namun keluarga Aldo terutama Bundanya bersikukuh untuk ikut andil dalam perawatan lelaki yang ditabrak Aldo itu. Waktu yang cukup lama, dan menguras materi maupun waktu, nyatanya lelaki itu tak bangun-bangun dari tidur lama nya. Sedikit demi sedikit harta keluarga Aldo terkikis demi merawat korban sebagai bentuk rasa tanggung jawab. Sering Aldo masih merasa sangat menyesal, andai waktu bisa diulang kembali, andai dia bisa menghindari kesialan hari itu, pasti sekarang keluarganya tak sesusah ini, Bundanya tak perlu merasa terbebani terlebih beliaulah pencari nafkah utama sejak Ayahnya meninggal ketika ia berusia 10 tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN