Senior

1943 Kata
Kampus sudah tak seramai dan sepadat pagi tadi. Para mahasiswa baru sebagian besar sudah meninggalkan tempat itu untuk segera pulang ke rumah masing-masing, ada juga yang memutuskan hangout bersama teman baru yang langsung akrab, dan sebagian kecil lain memilih tetap di kampus sekadar untuk melihat-lihat tempat belajar yang akan mereka diami selama kurun beberapa tahun ke depan. Kampus yang rindang dengan bangunan-bangunannya yang modern membuat mereka betah berlama-lama di sana. Tak terkecuali Keysha dan Lala, keduanya memilih untuk ke pujasera kampus yang kebetulan tak jauh dari fakultas mereka berada, sehingga keroncongan perut mereka tak perlu berlama-lama terdengar. Bayangan menu apa saja yang dijual di sana, membuat Lala mempercepat laju langkah dan otomatis Key juga mempercepat lajunya menyusul sahabatnya itu. Untungnya, pujasera ini benar-benar strategis. Tempatnya di sebuah Gedung tersendiri di tengah-tengah kampus. Ada dua lantai, lantai pertama berisi kios-kios khusus berjualan alat-alat tulis, tempat fotocopy, warung internet, counter jual beli paket data internet dan pulsa, reparasi laptop, ponsel, bahkan tempat berjualan pakaian juga ada. Di depan kios fotokopi, tampak seorang lelaki dengan kemeja motif salur serta celana bahan warna krem. ia berdiri dan kedua tangannya diletakkan di atas meja dimana di depannya ada tumpukan buku yang sepertinya akan difotokopi, satu buku teratas dalam kondisi terbuka, lelaki itu tampak berkomat kamit menghafal pasal-pasal yang tertera di sana, sesekali ia melihat isi buku tersebut. Ok, sepertinya ia anak dari jurusan hukum. Sedangkan lantai dua khusus untuk berjualan makanan dan minuman. Key membuka pintu utama pujasera, seketika aroma semerbak masakan menyeruak keluar dan terhirup hidung. Suara keroncongan perut Key dan Lala semakin keras berbunyi dipancing aroma sedap sedemikian rupa. Untung suasana di sana sangat riuh, sehingga ronta-ronta perut yang menuntut untuk segera diisi tidak terdengar jelas. Cukup takjub ketika pertama kali masuk sudah disuguhi pemandangan rentetan kedai yang bersekat dari ujung ke ujung. Di tengah-tengah puluhan kedai makanan dan minuman ada barisan kursi dan meja yang tertata rapi. Beberapa masih kosong, cukup untuk mereka segera memilih tempat. Key tak sepusing Lala yang masih bingung menentukan menu makan siangnya, karena ia sudah membawa bekal dan hanya tinggal membeli minum saja. Key membantu menjaga tempat duduk setidaknya untuk tiga orang sekembalinya membeli jus jambu. Dikeluarkannya bekal yang dibawakan Mama dari tas. Ketika membuka tutup bekal itu, bulir-bulir uap air yang menempel di tutup berjatuhan, kemungkinan Mama menutupnya ketika nasi masih panas. Key segera mengelap air yang membasahi mejanya. Nasi goreng, menu yang sama seperti tadi pagi ketika ia sarapan. Bedanya, apabila tadi pagi toping nasi gorengnya berupa sosis, sedangkan sekarang topingnya berupa nugget dan telur mata sapi kesukaannya.             Di sisi lain tampak seorang lelaki memasuki pujasera yang sama. Langkahnya langsung tertuju ke kedai nasi goreng yang tak jauh dari tempatnya berdiri, sembari menunggu pesanannya jadi, ia melihat keliling-keliling tempat tersebut, dan dari kejauhan ia bisa menyaksikan dua sahabat ceweknya sibuk mencari tempat duduk, lelaki tersebut tersenyum, mereka adalah alasan kenapa ia mendatangi pujasera ini. Kedai yang didatanginya cukup ramai, ia adalah pe-langgan ketiga, setelah kedatangannya ada sekelompok mahasiswa yang juga memesan nasi goreng di kedai itu. Salah satunya yang tak lain dan tak bukan adalah Aldo. Sang ketua ospek di fakultas Keysha dan Lala, ia tampak berbincang-bincang dengan kawan-kawannya. Sebenarnya ia bukan tipikal orang yang suka mengurusi kehidupan orang lain, namun para mahasiswa itu seakan-akan berbisik-bisik tepat di dekat telinganya. Mereka membicarakan sebuah rencana yang sangat kekanak-kanakan untuk didengar. Bagaimana tidak, mereka merencanakan taruhan untuk mendapatkan cinta salah satu Ju-nior di kampus mereka. Karena terganggu, lantas ia menengok ke sekelompok mahasiswa itu dan yang dilihat pun merasa ada yang memandang, lalu memandang balik lelaki itu. Ia cukup jengah berlama-lama di sana, kebetulan nasi goreng pesanannya sudah jadi dan dengan segera membayar pas nasi goreng tersebut lalu segera pergi meninggalkan tempat itu. “Hei, gadis Bento!” sapa sebuah sumber suara berat. Ternyata lelaki itu Doni, lelaki pemesan nasi goreng. Ia menarik kursi di sebelah Key dan segera mendudukinya, diletakannya nasi goreng yang dibawanya ke atas meja. “Hi, Don.” Key balik sapa, ia melihat ke arah piring yang dibawa Doni, “Wah, menu makan siang kita sama!.” Girangnya kemudian. “Wah iya, pertanda apa ini, mungkin kita jodoh.” Kelakar Doni dan Key hanya memutar bola matanya. “Hei Don, sudah datang rupanya.” Sapa Lala yang segera bergabung dengan sepiring nasi ayam fillet di tangan. “Yoi, sorry lama, kalian pasti sudah nunggu berjam-jam ya?” Balas Doni. “Ah, ngga juga, kita juga baru aja sampai sini.” Jawab Key santai. Doni tersenyum lalu memulai percakapan sembari meniriskan timun yang tidak begitu disukainya “By the way, ayo cerita, gimana kehidupan awal di kampus kalian tadi?” Doni segera menagih penjelasan, lantaran kedua sahabatnya itu sempat membahas sedikit kekacauan tadi pagi di grup w******p yang hanya beranggotakan mereka bertiga. Lelaki jangkung dengan tinggi 170 cm itu mengingat, entah berapa kali notifikasi dari group w******p “Pantang Galau” berbunyi berulang-ulang ketika ia sedang menjalani ospek pertamanya, sehingga mau tak mau dia heningkan ponselnya. Meski dalam satu kampus, Doni ternyata berada di fakultas berbeda. Keysha dan Lala memilih mengambil jurusan Ekonomi manajemen, lalu Doni nyatanya punya pendirian sendiri. Dia memiliki cita-cita sebagai Arsitektur jauh sebelum mengenal kedua sahabat berharganya tersebut, alhasil ia memilih menjadi anak teknik, tapi untungnya mereka bertiga dapat diterima di Universitas yang sama. Menjadikan kedepannya akan selalu ada waktu quality time bersama di tengah-tengah kesibukan kuliah mereka nanti. Baru saja Lala memasukan suapan nasi ayam filletnya ke mulut, dan segera gadis itu bersemangat sekali demi mendengar Doni menanyakan kejadian memalukan itu.  “Bagus, mari kita bahas itu! Sobat kita satu ini sungguh luar biasa seperti biasanya.” Ujar Lala dengan mulut penuh makanan, suaranya seperti akan kumur-kumur, namun masih cukup bisa terdengar. Dia menunjuk Keysha yang baginya adalah tersangka utama kasus memalukan tadi. Doni mulai terpancing semangat Lala, diseruputnya es teh yang baru saja diantar untuk sedikit memabasahi tenggorokannya dan menarik kembali kursinya ke depan agar nyaman dalam menyimak cerita. “Dih Lala, kan tadi bukan Cuma aku yang salah. Kamu juga tahu.” Sungut Key. “Ya habis gemes banget sama kamu, Key. Jadi orang polos amat. Kita tadi diminta ke panggung kan gegara ketahuan ngobrol sendiri dan diminta buat cerita oleh Ketua Ospek kami itu ngobrolin apa, malah ini anak mau ngomong jujur.” Lala memonyongkan bibirnya ke arah Keysha. Yang dibahas tidak terima. “Jujur itu baik, La” balas Key ngotot. “Jujur ajur, Key.” Lala tidak mau kalah. Doni yang menyaksikan kedua gadis di depannya ribut malah pusing sendiri. “Sudah-sudah, sebenarnya yang kalian obrolin apaan sih sampai segitunya.” Doni mulai melerai. Key menghentikan sejenak makan siangnya, dan meneguk jus strawberry kesukaannya. Tangannya mulai bergerak, mengikuti irama saat Key bercerita, “Jadi kami tadi itu lagi ngobrolin senior kami, pas Ketua Ospek ngasih sambutan. Padahal suara sudah pelan banget, bahkan mungkin seekor semut pun tak akan bisa mendengar, tapi itu senior bisa-bisanya peka ada anak yang ngobrol. Dan tau Don, bahkan anak yang di sebelah kami sampai heran, dia aja nggak sadar kami ngobrol loh.” “Udah, Key. Biar aku saja yang nerusin, Doni tanya kita ngobrolin apa?.” Lala menyela Key, “Jadi kami itu ngobrolin itu senior yang jadi Ketua Ospek kan, dan ternyata dia itu orang yang sama yang tadi pagi nabrak Key di gerbang kampus. Sebuah kebetulan sekali bukan?, kami pikir mungkin tanda-tanda takdir gitu. Yah, selanjutnya bisa ditebak, rumpi berakhir tatkala kami ketahuan. Nggak mungkin kan kita jujur lagi ngomongin dia, bisa amsyong, tapi ini anak malah mau jujur hmm.” Lala Kembali menyalahkan Key. Kini Doni mulai mengerti, dan dia hanya tertawa saja menyaksikan  sahabat-sahabatnya itu kembali ribut. Sudah biasa. Doni ingat betul, sekitar dua tahun lalu awal dia dipertemukan dengan Key dan Lala adalah ketika dia menjadi murid pindahan kelas XI di sekolah mereka, bahkan di kelas yang sama. XI IPS 1. Menjadi anak pindahan dari sekolah pinggiran ke kota, serta alasan orang tuanya bercerai dan dia memilih ikut ayahnya pindah membuat ia menjadi anak yang pendiam saja tak pandai bersosialisasi dan tak banyak hal yang bisa ia lakukan, sampai pada hari di mana guru Bahasa Indonesia mereka memerintahkan para siswanya untuk segera membuat kelompok terdiri dari tiga orang untuk membuat tugas drama. Secara kebetulan Doni sekelompok dengan Keysha dan Lala, mereka yang kompak, ceria dan mudah bergaul mampu merangkul Doni untuk lebih percaya diri. Awalnya canggung memang, tapi lama kelamaan tugas drama tersebut menuntut mereka untuk totalitas menjadikannya terbiasa dan akrab dengan mereka sejak saat itu. Ya, mereka bak malaikat buat Doni. “Eh, sudah-sudah. Kok malah pada ribut.” Doni melerai mereka lagi, “Tapi, aku jadi penasaran seperti apa tampang orang yang jadi bahan ribut kalian ini.” Tambahnya. Keysha dan Lala sudah mulai tenang, “Sebenarnya itu cowok lumayan juga, Don. Bener ngga Key?” tanya Lala, yang ditanya mengangguk setuju. Tepat saat itu, rombongan mahasiswa yang ada Aldo salah satunya lewat di depan mereka bertiga berada. Sontak saja Lala mencubit lengan Key dan Doni bersamaan, “Itu dia orangnya.”. Doni menoleh ke arah yang dikode Lala. Ia cukup terbelalak, karena rombongan itu rupanya adalah orang-orang yang sama di kedai nasi goreng tadi. Doni memasang wajah sinis, “Buruk, aku nggak suka, lebih baik kalian jauh-jauh deh dari orang seperti mereka.” “Lah, kaya kamu oke aja ngatain orang buruk.” Sahut Lala tak terima dan kemudian tertawa diikuti tawa Key juga karena menyaksikan Doni memasang wajah serius. Ia tak menjawab maupun menanggapi tawa kedua gadis tersebut, hanya saja ada perasaan aneh yang membuatnya was-was. Tentu ini berkaitan dengan apa yang ia dengar beberapa saat lalu dari sekelompok mahasiswa tadi. Tapi Doni tak menghiraukannya lagi, mungkin saja mereka hanya bersenda gurau saja. “Don, coba sekarang giliran kamu certain kesan ospek pertamamu. Kira-kira ada yang mulai ada yang bisa dilirik nggak?” Key membuyarkan lamunan Doni. Ia mencoba mengingat apa kiranya yang dilihatnya sejauh ini. “Percayalah sejauh ini kalianlah gadis-gadis yang menarik bagiku.” Ujar Doni sembari mengedipkan sebelah matanya dengan jail. “Wuuu, gombal. Pantes nggak laku-laku.” Kini Lala memukul pelan kepala sahabat cowoknya itu,. “Eh benar tau, di kampusku itu terkenal minim ceweknya. Mungkin kalau kalian masuk kesana, kalian bisa jadi ratu primadona.” Penjelasan Doni cukup masuk akal, yang lain baru sadar dan membenarkan perkataan Doni. Mayoritas anak-anak teknik adalah cowok. Suara denting perpaduan antara sendok dan piring sama mendominasinya dengan suara hiruk pikuk para pengunjung pujasera. Meski terlalu ramai dan bising, bahkan hari pun sudah menjelang sore nyatanya tak memudarkan kebersamaan ketiga sahabat itu untuk tetap berbincang-bincang. Di sisi lain dalam pujasera itu, Aldo dan rombongannya tadi masih melanjutkan perbincangan mereka di sela-sela menikmati pesanan. "Sudah fix ya, siapa cepat yang bisa selama masa ospek ini jadian dengan adik kelas, maka dia pemenangnya." Bak ultimatum dari lelaki yang juga pencetus ide ngawur itu, membuat semuanya girang setuju. Bagaimana tidak, lelaki yang biasa dipanggil dengan sebutan sultan Tegor itu tak tanggung-tanggung akan menjadi sponsor satu-satunya bila kawan-kawannya ada yang berhasil menang. Udin meraih kunci motor ninja yang sedang dimainkan Tegor dengan cara diputar-putar di jari telunjuknya, dan menggenggamnya. "Kau yakin, kunci ini akan kau berikan jika aku yang berhasil?" Udin bertanya meragukan sang Sultan. "Ambil! Eh tapi kalau kau berhasil ngalahin dia, feeling si Aldo yang bakal menang hahaha." Tegor tertawa puas dan lengannya menyikut lengan Aldo. Hanya Aldo yang masih terlalu malas menanggapi kekonyolan kawan-kawannya. Sebentar kemudian, Aldo mengecek jam tangannya tepat jam 3 sore sudah waktunya ia harus segera pulang. “Gimana Al, kamu ikut kan?” Tegor masih berusaha membujuk. “Yah,akan kupikirkan nanti, aku cabut dulu ya” Balas Aldo pada akhirnya dan kawan-kawannya pun bersorak puas bahkan suaranya masih terdengar samar-samar ketika Aldo keluar dari pujasera.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN