Ospek Fakultas

1379 Kata
Hari pertama ospek secara resmi di fakultas ekonomi. Mereka dikumpulkan di belakang fakultas yang halamannya cukup luas dan ada semacam panggung outdoor permanenn yang permukaannya berlantai, panggung itu tepat di tengah-tengah halaman. Jam 8 pagi namun cuaca amat panas bahkan pakaian mereka banyak yang sudah mulai basah oleh keringat. Pemandangan umum, dimana para maba yang kebanyakan memang lulusan SMA tahun ini, semua masih tampak polos-polos, tenang, rapi, patuh akan apa yang diucapkan para seniornya. Tak terkecuali Key dan Lala. Sampai tiba saatnya saatnya sang MC mempersilahkan ketua ospek untuk perkenalan diri. Kini Key entah untuk keberapa kali dibuat kembali terkejut hari ini demi menyaksikan siapa yang naik ke podium. “Key, dia yang tadi pagi kan?” Bisik Lala memastikan, mengarahkan pandangannya ke Key yang tampak terbengong. Lala mengerutkan kening, dan mencoba meraih telapak tangan Key. Tangannya terasa senyap berkeringat. “Kenapa kamu jadi gugup gitu, Key?” tanyanya lagi, lantas Key menoleh ke Lala. “Entahlah, tiba-tiba aku deg-degan liat orang itu.” jawaban sahabatnya tambah membuat Lala bingung. “Halo semua, perkenalkan saya Aldo Kusuma. Biasa dipanggil Aldo dari jurusan Akuntansi semester 3. Saya wakil BEM di fakultas ekonomi ini juga ketua panitia untuk ospek kali ini. Salam kenal dan selamat datang di fakultas tercinta kita.” Sambutnya dengan elegan, diikuti tepuk tangan massa. Masih di tengah-tengah sambutan, Key dan Lala terlibat dalam obrolan sendiri. “Jangan-jangan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama sama senior kita itu, Key?”. Ceplos Lala menerka-nerka. Mata Key berkedip. Lala memang sahabat yang paling tau luar dalam Key, bahkan bahasa tubuhnya. “Demi Tuhan, jangan-jangan dia jawaban instan dari mimpiku semalam.” Kini Key mulai geli dengan apa yang barusan diucapkannya. Sebuah kebetulan sekali kalau bukan takdir, orang yang bertabrakan dengannya ternyata satu fakultas, bahkan memiliki posisi cukup keren pikirnya. “Hehe, bisa jadi. Aku dukung deh kalo itu, keren euy!” Jawab Lala kemudian dan terkekeh kecil. “Yang di sana, berdua bicara sendiri bisa berdiri segera!” Sebuah suara tetiba membuat suasana hening senyap. Aldo, si pemilik suara merasa gusar karena ada yang ngobrol ketika dia berbicara. Tanpa dikomando sekitar ratusan pasang mata menoleh ke arah barisan belakang dimana telunjuk Aldo menunjuk. Ya, tepat dimana Key dan Lala berada. Mereka berdua tampak kikuk dan segera meminta maaf sembari menahan malu luar biasa. “Ok, kalian berdua boleh segera kesini menemani saya di panggung.” Tegas Aldo. “Mampus kita, Key!” Bisik Lala lagi. “Kalian ngomong apa?” Aldo seperti cepat respon mendengar um-patan Lala. “Nggak Kak, eh maksud kami baik Kak.” Jawab Key tanggap dengan da-da panas. Mana ada orang suka di posisinya. Jadi pusat perhatian tapi pada hal yang memalukan. Siapapun tolong!, jeritnya dalam hati. Ragu-ragu mereka menuruti perintah Aldo. Namun akhirnya mereka berdua terpaksa berdiri dan menunduk pasrah siap mendengar kiranya hukuman apa yang akan mereka dapat. “Mungkin ada yang mau menemani mereka?” Tanya Aldo sembari matanya menyapu massa. Tentu saja tidak ada yang menjawab. Para maba beberapa hanya membatin, betapa beruntung tidak di posisi Lala dan Key. Tensi banget. “Jangan ada forum dalam forum. Itu aturannya, jika kalian masih ingin aman mengikuti ospek kita.” Sindir Aldo dan segera memandang ju-nior di sampingnya. “Perkenalkan nama dan jurusan kalian ke kami semua.” Suruhnya. “Kamu dulu yang ujung” Tunjuknya ke arah Key. Key dengan tanggap segera merespon gugup. “Saya Keysha Larasati biasa dipanggil Keysha, dari jurusan manajemen. Kelahiran Semarang, 8 Agustus, alamat Tembalang misi dan visi saya menjadi..”  “Cukup! Apa namamu Keysha? kamu robot?” Aldo memotong perkenalan Key. “Bukan, Kak.” Jawab Key mulai ketakutan. “Lantas kamu tidak perlu memperkenalkan lengkap siapa kamu, saya hanya meminta perkenalkan nama dan jurusanmu, hah! Bahkan robot pun sangat akurat akan info yang diberikan.” Tambah Aldo diikuti cekikikan seluruh penjuru. “Diam kalian, kalian ingin ikut ke sini, hah?!” bentaknya. Suasana kembali hening. Mata Key mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya dia lari dari tempat itu. Satu hal yang iya pastikan hari ini, ternyata hari pertamanya tak sepenuhnya lancar. Pasti selalu ada Drama. “Maaf, Kak.” Sahut Key dengan suara mulai mulai sumbang. “Kamu selanjutnya.” Kini Aldo menunjuk Lala. “Perkenalkan saya Lala Lulupi biasa dipanggil Lala dari jurusan Manajemen.” Singkat Lala. “Baik, Key dan Lala. Karena tadi kalian membuat forum sendiri diam-diam. Sekarang saya persilahkan kalian untuk melanjutkan apa yang kalian bahas.” Kedua sahabat itu masih terdiam tak menanggapi. “Cepat!” tegas Aldo lagi dan lagi. Seperti latah Key dengan sigap segera akhirnya tertantang segera menjawab, “Kami tadi membicarakan kakak…aduh!” belum selesai Key berbicara, Lala sudah mencubit lengan Key. Kebiasaan banget ini anak, latahnya  terlalu lugu dan jujur! Bisa gawat kalau sampai semua tau kami lagi membicarakan si Aldo! Sungut Lala dalam hati. “Kenapa dengan saya? Kenapa berhenti?” Tanya Aldo mulai tak sabar. “Maaf Kak, tadi saya kurang mendengar ketika awal kakak perkenalan jadi saya bertanya ke Keysha untuk mengulangi informasi. Hanya itu kak.” Lala berbohong mengambil alih tanggung jawab. Awalnya Aldo mengernyitkan dahi, tapi akhirnya tak ambil pusing alasan yang cukup masuk akal dilihat dari dua juniornya tadi memang berada di barisan paling belakang. “Baiklah, supaya kalian lebih jelas mendengar arahan dan menyerap informasi. Kalian tetap di podium sampai sesi ini usai.” Ultimatum Aldo. “Tapi Kak, bukan..” Key baru akan protes sampai Lala dengan segera memintanya untuk sabar dan menerimanya. “Percayalah, ini yang terbaik.” Key mulai pasrah mendengar Lala berkata demikian, meski jiwanya berontak tidak rela menerima hukuman. Oh Tuhan, drama absurd apa ini yang menimpa di hari pertama di kampus! Jeritnya. *** Matahari mulai meninggi, tampak para mahasiswa baru sudah merasa gerah berada di sana. Sudah dua jam lebih para senior bercuap-cuap ria. Akhirnya mereka diminta untuk membuat tim terdiri dari lima anak per timnya dan diberi nama sesuai tema, “Superhero”, untuk menjalani tugas dan rangkaian kegiatan selama tujuh hari kedepan. Tak susah bagi anak-anak baru itu mengenal Key dan Lala, dua orang yang sudah terpatri di ingatan masing-masing dari mereka. Tak dipungkiri mereka pun juga dengan mudah mendapat anggota dan membentuk tim untuk ditugaskan mendiskusikan tentang apa saja yang trending akhir-akhir ini. Kegiatan pertama ini membuat mereka terbuka dengan memberi masukan. Mereka dibuat seaktif mungkin untuk saling mengenal satu sama lain dan menjadi akrab,terutama dalam kelompok mereka. Setelah perundingan panjang, keluarlah nama Iron Man sebagai nama tim dimana Key, Lala, Alicia seorang gadis berkacamata dari Bandung, Ben si kalem dari Bau Bau, dan Ahmad si bijak dari Demak. Meski Key sempat mengacaukan hari pertamanya pagi tadi, tapi setelah itu dia mulai terbiasa dengan keadaan dan situasi. Lagipula kesalahannya tidaklah serius amat, tak perlu terlalu dipikirkan. Baik Key maupun Lala fokus ke tim mereka. Di sisi para mahasiswa baru sedang bersibuk ria membangun kekompakan yang baru terjalin. Di sisi belakang ada sekumpulan senior yang menjadi panitia ospek sedang membahas jalannya acara sejauh ini. “Bisa juga kamu, Al, galak kaya barusan.” Celetuk salah satu dari mereka. “Tuntutan. Kalau nggak digertak di awal nanti mereka kurang disiplin, nggak ada hormat-hormatnya ke kita.” Jawab Aldo sedikit cuek, matanya membolak balikan kertas di tangannya. “Setuju banget, bro”. Sahut yang lain. “Cewek yang namanya Key tadi, boleh juga. Cantik.” Kata temannya lagi. Aldo mengingat kembali pertemuan awal dengan gadis itu. Dan tidak menyangka justru dia maba yang kena semprot pertamanya. Aldo melirik ke kerumunan juniornya dan dengan cepat menangkap sosok familiar Key. Gadis itu rupanya sudah bisa membaur dengan timnya. “Mau bertaruh nggak?” Tetiba sebuah suara memecah kesunyian. Membuat panitia yang berada di ruang yang sama dengannya menoleh ke arahnya. “Para jomblo di sini siapa cepat dapat pacar dari para newbie bakal dapetin hadiah.” Seorang lelaki yang berpenampilan sedikit acak-acakan mulai ngaco. “Buat seru-seruan aja.” Lanjutnya. “Jangan aneh-aneh deh kamu, Gor.” Protes Aldo ke Tegor yang memberi usulan tadi, dan segera lanjut memeriksa kembali rundown acara untuk hari itu. “Boleh-boleh. Biar nggak monoton ni acara. Syukur-syukur beneran dapet dan langgeng sampe nikah.” Sambut antusias orang di samping Tegor. Ajaibnya yang lain justru menanggapi serius usulan itu. Aldo malah menggeleng-gelengkan kepala tak peduli dan segera meminta teman-temannya untuk segera bersiap ke acara selanjutnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN