Dua kali sudah matahari terbenam dan terbit. Tak ada tanda-tanda lelaki berkulit bersih itu datang menjenguk. Mungkin terlalu muluk jika Sekar meminta Hasan untuk memperhatikannya, tapi apakah sulit baginya bersandiwara sedikit saja demi calon anaknya? Sekar menurunkan kaki di bawah ranjang dengan hat-hati, dibantu oleh Marni. “Hati-hati,” ucap Marni. Sekar dituntun ke kursi roda. Dirinya tak boleh banyak beraktifitas terlalu berat, bahkan berjalan saja tak Marni izinkan. Calon cucunya ada di dalam rahim Sekar, ia tak akan membiarkan terjadi sesuatu pada cucunya. Sesekali Sekar melirik pada jendela kamar, jendela yang menembus langsung pada taman rumah sakit. Benaknya tak hanya sampai pada taman itu, tapi melaju lurus, melewati jalan raya, gedung-gedung bertingkat hingga sampai pada h

