Mendengar kandungan Sekar melemah tak ayal membuat lelaki itu seketika melemas. Bagaimana bisa Sekar menghadapi badai selanjutnya jika Hasan sudah menyediakan badai paling besar— mungkin—di dalam hidup Sekar. Rasanya Hasan ingin menjambak rambutnya sendiri jika saja ia tak malu pada lelaki di hadapannya. “Kamu mau tetap di sana seolah punya porsi?” sindir Hasan. “Aku yang membawa dia ke sini. Kenapa aku harus pergi dari sini?” Rofiq menjawab telak. Tangannya bersedekap, air wajahnya tenang, tatapannya tak teralihkan dari hadapan Sekar yang masih terpejam. “Bukankah harusnya kamu mengucapkan terimakasih ada sahabat istrimu?” “Apa masih wajar hubungan kalian disebut sebagai sahabat jika cara menatapmu seperti itu?" Rofiq menarik tipis bibirnya. Dalam hati Rofiq ingin tertawa terbahak

