Setiap detiknya berat bagi Hasan. tak disangka mencari Sekar bisa sampai seperti ini. Hasan tak ayalnya seorang gembala tak tentu arah, beberapa kali ia mencari ke setia sudut rumah, tapi hasilnya tetap sama saja, sosok itu tak ada di rumah. ia kembali ke kamar, membanting pintu kamar kencang “Kemana wanita itu? hidupnya selalu saja membuatku sulit.” Hasan membuang napasnya kasar. Kembali matanya menubruk pada koper. Untuk koper itu ada di bawah ranjangnya? Bukan di sana tempat koper. Baik, Sekar mungkin akan pergi, dan hal itu semakin diyakininya saat Hasan membuka isi koper tersebut. Tumpukan pakaian juga beberapa barang-barang yang ia yakini milik Sekar. Namun, kenapa justru Sekar memilih tak membawa kopernya di saat dirinya sudah tak ada di rumah ini? Hasan mengerang kesal. Meskipu

