bc

Asisten Cantik Tuan Mafia

book_age18+
335
IKUTI
4.4K
BACA
dark
family
arrogant
badboy
mafia
gangster
drama
bxg
kicking
campus
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

(Mohon bijak, cerita mengandung unsur 21+)

Daisy Caraka membantu kakaknya yang merupakan agen rahasia untuk mengungkap kejahatan negeri. Daisy menjadi mata-mata berkedok ART (pembantu) Spaso Wallian, konglomerat yang diduga pemilik fail gehenna.

Spaso Wallian, mafia kelas kakap berkedok pengusaha real estat yang berambisi untuk menaklukan Kota B agar menjadi basis peredaran obat-obatan terlarang. Spaso terkenal dingin, kejam, dan tidak berperasaan. Namun, setelah mengenal Daisy, Spaso menjadi cair dan menentang kejahatan.

Tinggal di atap rumah yang sama membuat Spaso dan Daisy akhirnya saling jatuh cinta. Namun, fakta baru kemudian terungkap bahwa keluarga Spaso rupanya adalah pembunuh ayah Daisy. Apakah rasa cinta Daisy akan berubah menjadi dendam?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Menjadi Asisten Mafia Tampan
Spaso mengungkung tubuh Daisy sambil menggerakkan pinggul maju mundur. Sementara Daisy mengalungkan kedua tangan di leher Spaso sembari memejamkan mata merasakan sensasi yang memabukkan. Spaso memelankan gerakan pinggulnya seraya berbisik, “Rupanya kakakmu adalah seorang agen rahasia. Apa karena aku seorang mafia kau mendekatiku untuk memenjarakanku?” Deg. Mata Daisy seketika membuka, hatinya mencelos, penyamarannya akhirnya terbongkar. Dengan lembut Daisy menarik wajah Spaso, menatap manik mata dengan sorot tajam itu lekat-lekat. “Bukan karena itu, Tuan. Bahkan saya baru tahu jika Tuan adalah bos mafia.” Tanpa menghentikan gerakan maju mundur dengan ritme pelan itu, Spaso menatap nanar wanita yang dicintainya. “Lantas?” “Fail gehenna,” jawab Daisy. *** 365 hari sebelumnya... Seorang preman mendorong tubuh Daisy hingga bersimpuh di hadapan Spaso Wallian, sang bos mafia. Spaso, pria berusia 34 tahun dengan tubuh tinggi tegap selayaknya model celana dalam itu duduk di kursi kebanggaannya, menyilangkan kaki seolah raja. Spaso menatap rendah seorang wanita dengan wajah ketakutan yang kedua tangannya diikat ke belakang. “Dia adalah saksi yang melihat kami menghabisi anak buah pemilik bar itu. Saat kami ingin menghabisinya juga, katanya dia ingin melakukan negosiasi,” ungkap salah seorang preman. “Siapa namamu?” tanya Spaso dengan suara dingin. “Daisy,” lirih perempuan dengan rambut kepang yang berantakan. Maklum dia habis melakukan perlawanan pada preman yang ingin melenyapkannya. “Kau mau negosiasi?” Daisy mengangguk pelan kemudian mendongakkan kepala, menatap Spaso penuh keyakinan seraya mengatupkan dua tangan di depan. “Saya tidak mau mati, Tuan. Tuan boleh jadikan saya apa saja. Daripada harus mati, lebih baik saya menjadi bud4k Tuan.” Spaso menaikkan satu alis lalu menatap anak buahnya seolah tengah menimbang-nimbang keputusan. Jika Daisy tidak dimusnahkan maka akan berpotensi untuk melaporkan tindak kejahatannya kepada pihak berwajib. Namun, Spaso tertarik dengan negosiasi yang dilakukan oleh gadis itu. “Kau bisa masak?” “Bisa, Tuan. Saya pernah mengikuti kursus memasak.” “Mencuci dan menyetrika baju?” Daisy mengangguk. “Saya pernah kerja paruh waktu di tempat laundry baju selama satu tahun.” “Membersihkan rumah?” “Saya selalu bersih-bersih rumah setiap hari.” “Apa pekerjaanmu sebelumnya?” Spaso seperti HRD yang tengah mewawancarai calon pegawai. “Saya seorang florist. Saat pulang kerja, saya tidak sengaja melihat anak buah Tuan mengh4jar pemilik bar. Saya sudah janji tidak akan melaporkan mereka, tetapi mereka tidak mempercayai saya. Maka daripada saya mati, lebih baik saya menjadi bud4k Tuan,” jelas Daisy menceritakan kronologi bagaimana bisa dia dibawa oleh preman-preman itu. Spaso mengendikkan mata seolah bertanya apakah yang diucapkan Daisy itu benar kepada anak buahnya. Saat anak buah Spaso mengiyakan barulah Spaso menghela napas panjang. “Baiklah, mulai sekarang kau jadi asisten rumah ini. Jika kau masih mau hidup, jangan laporkan kami ke polisi. Dan satu lagi, jangan pernah meninggalkan rumah ini tanpa seizin saya,” tutur pria dengan alis tebal, rahang tegas, dan sorot mata tajam itu. *** Cahaya matahari yang masuk dari celah ventilasi jendela menelisik wajah rupawan Spaso, membuat pria itu membuka matanya. Spaso menggeliatkan bad4n kemudian turun dari ranjang. Saat pria dengan tinggi 182 itu masuk kamar mandi, dia terkejut melihat keranjang baju kotornya telah kosong, itu artinya Daisy sudah mencucinya. Spaso keluar dari kamar usai bersetelan rapi dengan jas yang lengkap dengan tuksedo berwarna grey. Ketika keluar kamar, Spaso kembali dikejutkan dengan rumah yang sangat bersih dan rapi, bahkan sepertinya tidak ada debu sedikit pun di lantai. Spaso melangkah ke dapur. Dia melihat seorang gadis dengan celemek menempel di tubuh tengah menyusun makanan di meja. “Tuan sudah bangun?” sambut gadis berusia 22 tahun itu dengan wajah ceria. “Saya sudah membuat sarapan untuk Tuan. Bukankah Tuan akan segera berangkat ke kantor?” Spaso menatap dingin Daisy sepersekian detik kemudian menarik kursi lalu duduk. Spaso pun meraih sendok dan garpu bersiap sarapan. Spaso memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulut, kemudian matanya berbinar setelah merasakan makanan Daisy yang ternyata cocok dengan lidahnya. “Bagaimana, Tuan?” tanya Daisy, berharap Spaso menyukainya. Spaso tidak menjawab, tetapi melanjutkan suapan kedua hingga suapan-suapan selanjutnya. Melihat itu, Daisy tersenyum senang karena artinya Spaso menyukai masakannya. Spaso menjeda kegiatan makan, memandang gadis dengan tinggi 165 di depannya. “Apa kau tahu kenapa anak buah saya mengh4jar orang itu?” “Mungkin karena dia melanggar perjanjian bisnis dengan Tuan. Saya tahu Tuan adalah pebisnis real estat yang sukses.” Sepertinya dia tidak tahu jika aku sebenarnya adalah bos mafia, pikir Spaso. Spaso kemudian mengangguk-angguk, publik memang mengenalnya sebagai pengusaha terkenal. Mereka tidak mengetahui jika bisnis Spaso tidak hanya real estat melainkan juga bisnis gelap. Setelah makanan di piring tandas, Spaso bangkit dari kursinya. “Saya berangkat ke kantor dulu.” “Tunggu!” Daisy menyerahkan tas kecil berisi kotak makanan. “Ini bekal untuk makan siang, Tuan.” Spaso mengernyitkan kening. Tanpa aba-aba Daisy menarik tangan Spaso, memaksa pria itu untuk membawa bekal makan siang yang telah dia siapkan. *** Tengah malam. Daisy tergopoh-gopoh membuka pintu setelah mendengar suara pintu diketuk. Mata Daisy membulat sempurna begitu melihat sosok majikannya muncul dalam keadaan pakaian berantakan. Spaso tiba-tiba menyerbu tubuh Daisy, segera memeluk dan ambruk ke bad4n mungil Daisy dengan napas terengah-engah. Daisy yang kaget, tidak mampu menahan pelukan tuannya, hingga mereka jatuh dengan posisi tubuh Spaso berada di atas tubuhnya. Saat itu Daisy baru menyadari bahwa wajah tampan Spaso lebam dan ada luka di sudut bibirnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook