“T-Tuan kenapa?” gugup Daisy yang kini bisa merasakan deru napas Spaso yang hangat karena jarak wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.
Spaso tidak menjawab pertanyaan asistennya, matanya sibuk mengamati wajah Daisy di bawahnya, lalu menghentikan pandangannya ke bola mata Daisy.
Keempat bola mata itu saling beradu, tanpa berkedip.
Lalu beberapa detik kemudian, seperti tersadar dari lamunan, Spaso berkedip cepat lantas beranjak berdiri. Spaso berdehem untuk menetralkan kegugupannya, menatap Daisy dingin lalu duduk di sofa.
Daisy tergesa-gesa bangkit. "S-saya akan ambilkan Tuan obat."
Daisy kembali dengan kotak P3K, duduk di samping Spaso tanpa disuruh. Daisy meneteskan cairan desinfektan ke kapas bersih, lalu tangannya terulur untuk menggapai sudut bibir Spaso.
“Saya bisa sendiri,” Spaso ingin merebut kapas basah itu, tetapi Daisy langsung menjauhkannya.
“Biar saya saja, Tuan,” kekeuh Daisy yang cemas lalu membersihkan luka Spaso.
Dia terlihat sangat khawatir dengan lukaku,” batin Spaso.
Spaso mengamati wajah Daisy lekat-lekat. Gadis itu memiliki hidung mancung, bibir ranum, dan kulit putih mulus tanpa pori-pori selayaknya seorang bayi. Satu lagi, mata sayu gadis itu membuatnya terlihat sangat lugu. Spaso buru-buru mengalihkan pandangan begitu Daisy menatapnya.
“Siapa yang telah memukuli Tuan? Apa anak buah pemilik bar itu lagi?” cetus Daisy penasaran.
Spaso mengangguk bohong. Padahal bukan anak buah pemilik bar yang menyerangnya, melainkan anak buah kakaknya, Paolo. Paolo tidak mau melihat Spaso sukses, karena dia ingin menjadi yang terbaik di depan ayahnya.
Daisy berdecak kesal, terlihat tidak terima saat Spaso diperlakukan semacam itu. “Dasar orang tidak punya malu! Suruh siapa melanggar perjanjian bisnis!” omelnya.
Daisy meyudahi omelannya dengan helaan napas berat. “Ma-maaf, Tuan,” ucapnya yang sadar kelepasan mengomel di depan majikannya sendiri.
Spaso menatap Daisy sekilas kemudian berdiri, melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Daisy bergumam, “Sembari Tuan Spaso mandi aku akan menyiapkannya makan malam.”
Sejurus kemudian, makanan pun jadi. Daisy membawa makanan yang asapnya masih mengepul itu menuju kamar majikannya.
Tok tok tok
Tak lama kemudian, pintu terbuka, menampilkan sosok Spaso dengan jaket hitamnya. Sepertinya malam ini Spaso akan keluar rumah.
“Tuan mau kemana?” heran Daisy, tidak mungkin ada urusan kantor tengah malam seperti ini. Lagi pula luka di wajah Spaso belum sembuh.
Tak menjawab, Spaso hanya menatap Daisy datar sepersekian detik kemudian berjalan melewati asisten rumahnya begitu saja.
Daisy memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. “Apa Tuan tidak mau makan dulu? Saya sudah menyiapkan makan malam, Tuan!” teriak Daisy.
***
Bersama anak buahnya Spaso memasuki markas perkumpulan para mafia. Di ruangan yang merupakan gedung kosong itu, ada puluhan pria dengan pakaian serba gelap.
Seorang pria dengan alis terbelah menyambut kedatangan Spaso dengan senyum mengejek seraya bertepuk tangan. “Rupanya seorang pecundang berani mendatangi pertemuan ini!” ejek Paolo, kakak Spaso.
Spaso tersenyum miring seraya menatap Paolo datar. “Sayangnya orang yang kau panggil pecundang berhasil lolos dari kematian.” Spaso menjeda kalimatnya, mendekatkan wajah ke telinga Paolo untuk berbisik, “Semua anak buahmu sudah aku kirim ke neraka. Aku tahu kau sengaja meminta mereka untuk menyerangku.”
Memang benar jika tadi Paolo yang mengutus anak buahnya untuk melukai Spaso. Paolo ingin Spaso tidak mendatangi pertemuan penting ini.
“SEMUANYA BERKUMPUL!” seru seorang pria paruh baya dengan rambut putih.
Para pria serempak berkumpul, tangan mereka mengait di belakang selayaknya pasukan baris berbaris yang mendengar aba-aba ‘istirahat di tempat’. Mereka semua tampak serius untuk mendengarkan pria paruh baya itu berbicara.
“Selain pembagian senjata, ada hal yang ingin saya sampaikan,” ucap Wallian, ayah Paolo dan Spaso. Dia adalah King of Mafia alias raja dari para mafia.
Wallian memusatkan perhatiannya kepada Spaso, anak keduanya. “Kenapa kau gagal menaklukan pemilik bar itu?”
Spaso menjawab, “Dia terlalu bersih sehingga susah untuk diajak kompromi. Dia bersikeras menolak pendistribusian Paradise Crsytal di bar miliknya.”
Paradise crystal (Kristal Surga), sejenis obat-obatan terlarang yang menjadi bisnis gelap para mafia. Dengan serbuk paradise crystal, seseorang akan mendapatkan sensasi terbang melayang seperti hidup di surga. Orang akan langsung kecanduan yang susah berhenti setelah mengonsumsi serbuk ini.
Paolo berdehem. “Jika ayah mengizinkan, Paolo akan menggantikan tugas Spaso. Sebagai gantinya, Paolo ingin mendapatkan jatah senjata Spaso.” Paolo mengalihkan pandangan ke adiknya. “Bukankah lebih baik seperti itu, Spaso?” ujarnya diakhiri dengan seringai licik.
Spaso memandang Paolo datar kemudian kembali memandang ayahnya. “Jika ayah memberi satu kesempatan lagi, Spaso yakin bisa menaklukan pemilik bar itu.”
Wallian membuang napas berat. “Jika perlu, rebut bar itu. Bukankah kau terkenal sebagai pebisnis real estat terkenal? Seharusnya hal semacam itu mudah kau lakukan.”
“Saran Ayah sudah Spaso pikirkan sejak tadi,” ujar Spaso.
“Jika kau kembali gagal, jangan salahkan ayah apabila Paolo mengambil alih semua tugasmu. Dan jangan salahkan ayah apabila mewariskan gelar King of Mafia kepada Paolo.”
“Baik, Ayah.”
Wallian mengedarkan pandangan ke semua anak buahnya, termasuk anak buah Paolo dan Spaso. "Misi kita masih panjang. Kita harus berhasil menjadikan kota B sebagai basis nark0ba, dengan bagitu kita akan menjadi orang terkaya di kota ini. Kalian sanggup?"
"SANGGUP, AYAH!" jawab para anak buah serempak.
“Sekarang bagikan semua senjata. Setelah itu kalian boleh bubar!” Setelah mengatakan itu, Wallian meninggalkan markas.
Puluhan pria itu telah mendapatkan senjata yang dibeli secara ilegal dari luar negeri. Bagi seorang mafia, senjata adalah pilar kehidupan. Semakin canggih senjata yang dimiliki, maka seorang mafia akan semakin percaya diri dalam berkelahi.
Setelah mendapatkan jatah senjata, Paolo kembali mendekati Spaso. Pria dengan alis terbelah itu menepuk-nepuk pundak Spaso seraya terkekeh. “Ngomong-ngomong dari mana kau menemukan gadis cantik itu? Apa kau sudah menikmati tubuhnya? Bolehkah aku meminjamnya untuk satu malam saja?”
Spaso menatap Paolo tajam. “Tutup mulutmu! Jangan pernah kau berani sentuh dia!”