“Tapi aku selalu senang merebut milikmu, Spaso. Termasuk Luna. Apa kau tahu aku menikmati tubuh Luna setiap hari? Ternyata dia benar-benar sangat nikmat! Pantas dulu kau sangat menyukainya” ucap Paolo diakhiri dengan senyum miring.
“Paling tidak aku bukan binatang sepertimu yang menyukai wanita hanya karena naf-su!” tukas Spaso kemudian meninggalkan sang kakak yang terus membual.
Spaso mendengus setelah berjalan lumayan jauh. “Pasti anak buah Paolo yang sudah memata-matai rumahku!”
***
Sesampainya di rumah, Spaso terkejut melihat seorang gadis tertidur di sofa ruang tamu. Spaso melihat rona wajah Daisy yang kelihatan tampak lelah, pasti karena menunggu majikannya pulang. Tiba-tiba muncul perasaan aneh, entah perasaan tidak enak atau kasihan, yang jelas Spaso tidak tega melihat Daisy terlelap di sana.
“Rupanya gadis ini sangat merepotkan!” gumam Spaso sebelum akhirnya mengangkat tubuh Daisy, menggendongnya ala bridal menuju kamar Daisy. Selepas itu, Spaso meninggalkan Daisy menuju kamarnya sendiri.
Guyuran air shower membasahi sekujur tubuh Spaso. Pria yang memiliki d**a tegap dan perut kotak-kotak itu mengeramas rambutnya sambil memikirkan perkataan Paolo tentang Luna.
“Apa dia benar-benar bahagia dengan kakakku?” desisnya mengingat sang mantan.
***
Di meja makan, seperti biasa Daisy menunggui majikannya untuk menyarap sebelum berangkat ke kantor. Daisy terus memandangi majikannya, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Semalam Tuan pulang jam berapa?” cetus Daisy akhirnya.
Spaso melirik Daisy dengan ekspresi datarnya. “Bukan urusanmu!”
Daisy kembali buka suara. “Semalam saya ketiduran saat menunggu Tuan di ruang tamu, tapi saat bangun, saya heran kenapa tiba-tiba ada di kamar.” Daisy diam sejenak. “Apa Tuan yang menggendong saya ke kamar?”
Enggan menjawab pertanyaan Daisy, Spaso pun melangkah pergi untuk berangkat ke kantor.
“Dia sangat dingin,” gumam Daisy melihat sikap Spaso yang dingin seperti kulkas. Gadis itu kemudian menepuk jidat karena melupakan satu hal. “Kenapa aku tidak bilang mau ke pasar karena bahan masakan habis? Dasar pelupa!” rutuknya menyalahkan diri sendiri.
Andai para preman itu tidak menghancurkan ponsel Daisy, pasti gadis itu sekarang bisa menghubungi Spaso untuk meminta izin. Satu lagi, Daisy bisa menghubungi abangnya bahwa dirinya telah berhasil masuk ke rumah konglomerat yang diduga sebagai pemilik fail gehenna.
Daisy menjentikkan jari seperti tengah mendapatkan ide brilian. “Aku akan belanja bahan makanan sekalian menemui Bang Diego. Aku hanya harus kembali ke rumah ini sebelum Tuan Spaso pulang kerja.”
Daisy segera berkemas. Gadis itu berjalan ke halte untuk menunggu bus kota. Lima menit menunggu, akhirnya bus pun lewat, Daisy segera naik menuju pasar.
Sesampainya di pasar, Daisy segera mulai untuk berbelanja. Daisy terkesiap ketika tiba-tiba seseorang menarik tangannya, mengajaknya bersembunyi di belakang kios kosong.
“Bang Diego?!” pekik Daisy. “Baru saja Daisy mau cari Abang.”
Diego meletakkan jari telunjuk di bibir, memberikan kode kepada Daisy agar memelankan suaranya. Pria dengan baju selayaknya tukang cilok itu memegang bahu Daisy, menatapnya penuh kekhawatiran.
“Kamu dari mana saja, Daisy? Abang mencarimu ke mana-mana. Kenapa kamu gak pernah angkat telepon dari Abang?”
“Ponsel Daisy dihancurkan preman yang ketahuan mengh4jar anak buah pemilik bar sampai mati. Dia ingin melenyapkan Daisy karena takut Daisy akan melapor ke polisi. Begitu mendengar mereka menyebut nama ‘Spaso Wallian’, Daisy langsung meminta mereka membawa Daisy bertemu dengan bosnya untuk melakukan negosiasi,” jelas Daisy.
“Terus?”
Senyum Daisy merekah. “Daisy berhasil melakukan negosiasi dan sekarang menjadi asisten di rumah Tuan Spaso. Daisy berhasil masuk ke rumah target Abang!”
Mendengar penjelasan Daisy, seketika mata Diego berbinar. Sudah lama Diego tertarik untuk menyelidiki fail gehenna demi mendapatkan apresiasi dari atasan lalu dipromosikan untuk naik jabatan. “Bagus. Kamu memang adik Abang yang pintar. Kamu harus menemukan fail gehenna itu!”
Daisy mengangguk mantap, tertantang untuk membantu abangnya yang merupakan seorang agen rahasia Badan Intelijen. Fail gehenna adalah sebuah fail yang berisi bukti-bukti kejahatan para petinggi Indonesia. Dengan fail itu, Badan Intelijen dapat menjebloskan para pejabat yang kotor ke dalam penjara. Setelah semua kotoran dibasmi, tentunya negara akan bersih dan masyarakat akan hidup damai.
“Ngomong-ngomong kenapa Abang pakai baju kayak tukang cilok?” heran Daisy.
“Ada isu oknum mafia Italia yang berkeliaran di pasar ini. Sebelum mereka membuat keributan, Abang akan menangkapnya,” papar Diego.
Daisy ber-oh ria kemudian pamit untuk pulang.
“Tunggu!” Diego mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Gunakan ponsel ini untuk mengabariku.”
Daisy mengangguk kemudian meraih ponsel. Selepas itu, Daisy pun pulang.
Setelah turun dari bus, Daisy berjalan menuju rumah majikannya. Mata Daisy terpukau begitu melihat ada toko bunga di pinggir jalan. Gadis penyuka bunga itu tidak mau melewatkannya begitu saja.
“Pasti rumah Tuan Spaso akan indah dengan bunga-bunga ini,” ujar Daisy yang tengah memilih-milih bunga.
Tanpa Daisy sadari ada dua pria yang tengah mengintainya. Rupanya dua pria itu adalah anak buah Paolo yang ditugaskan untuk menculik Daisy.
“Sepertinya gadis itu yang dimaksud,” cetus salah seorang pria.
“Kita harus segera membawanya karena Bos Paolo menginginkannya!” cetus pria lainnya.