Bab 4. Diculik?

814 Kata
Daisy menyerahkan sejumlah uang setelah mendapatkan beberapa jenis bunga yang disukainya. “Makasih, Kak,” ucap Daisy menerima uang kembalian kemudian bergegas melanjutkan perjalanan pulang. Daisy berjalan sambil bernyanyi riang, mendapatkan bunga adalah suatu kebanggaan baginya. Daisy adalah gadis yang ceria dan periang, seperti makna bunga Daisy yang selalu tampak cantik dan menyenangkan apabila dipandang. Sifat Daisy yang periang juga membuat orang di sekitarnya merasa nyaman, seperti makna bunga Daisy (yang masih berkerabat dengan bunga matahari) yang selalu memancarkan kebahagiaan. Daisy jadi ingat pemilik toko florist tempatnya bekerja. Pak Yono, pria botak dengan perut buncit itu hampir saja mengambil mahkota kegadisan Daisy. Andai saja dia tidak kabur, pasti Daisy telah ternodai oleh pria gembrot itu. “Dasar Pak Yono gila! Aki-aki m3sum itu hampir saja menghancurkan hidupku!” rutuk Daisy sangat membenci mantan bosnya. Saat kabur dari kejaran Pak Yono itulah Daisy justru tidak sengaja melihat preman-preman Spaso menghabisi nyawa anak buah pemilik bar. “Sepertinya aku lebih aman di rumah Tuan Spaso,” ujar Daisy karena berpikir Pak Yono bisa saja kini tengah mencarinya. Tak lama kemudian... Tiba-tiba sebuah mobil menepi, memblokade jalan Daisy, memaksa gadis itu menghentikan langkah. Dua orang dengan pakaian preman turun dari mobil lantas menarik tangan Daisy, membuat belanjaan Daisy seketika jatuh di jalan. “Ayo ikut kami!” ketus salah satu preman, menarik paksa Daisy. “Siapa kalian? Aku tidak punya urusan dengan kalian!” Daisy mencoba memberontak, tetapi sepertinya tenaga dua pria itu lebih kuat dari dirinya. “Jangan banyak omong! Cepat masuk mobil!” Dua pria itu menarik kasar tangan Daisy menuju mobil. Daisy menoleh ke belakang dengan raut wajah ketakutan. Ponsel pemberian Diego ada di dalam tas belanja yang kini tergeletak di atas aspal. Daisy harus mengambil ponsel untuk mengabari abangnya bahwa sekarang dia sedang dalam bahaya. Namun sepertinya hal itu sulit untuk dilakukan karena Daisy tidak bisa lepas dari cengkeraman dua preman. Daisy semakin panik, mengerahkan semua tenaga yang ada untuk bisa lepas dari dua pria menakutkan. “Kalian pasti orang suruhan Pak Yono, kan?! Katakan aku sudah tidak sudi bekerja di toko kakek m3sum itu!” tuduh Daisy. Siapa musuh Daisy jika bukan Pak Yono? Dua preman yang menarik tangan Daisy saling pandang dengan kening berlipat kemudian menggeleng. Bahkan mereka tidak kenal siapa yang dimaksud kakek m3sum oleh Daisy. “Lepaskan aku! Aku tidak mau lagi bekerja dengan Yono sinting itu!” Daisy masih berusaha menghempaskan tangan kuat dua preman itu. Namun sayang, dua pria itu lebih kuat sehingga kini nyaris berhasil mendorong tubuh Daisy untuk masuk mobil. "Tolonggg! Tolonggg!" teriak Daisy berharap ada orang yang bisa membantunya, meskipun hal itu sedikit mustahil karena kebetulan di sana sedang sepi. "Jangan banyak bacot! Cepat masuk!" tukas salah seorang preman, terus mendorong tubuh Daisy, tapi Daisy berpegangan di badan mobil agar tubuh mungilnya tidak tersungkur ke dalam. Ia tetap berusaha berteriak. "tolonggg! Siapapun tolong sayaaa!" Tiba-tiba… Sebuah mobil Lamborghini Aventador LP700 yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba mengerem mendadak, tepat di belakang mobil para preman itu. Seorang pria tinggi kekar dengan setelan jas berwarna navy itu turun dari mobil, melepas kacamata hitamnya. “Lepaskan dia!” seru pria tampan yang rupanya adalah Spaso. Dua anak buah Paolo saling pandang. “Lebih baik saat ini kita lepaskan saja. Kemarin sepuluh teman kita kalah dengan dia, apalagi kita yang hanya berdua,” bisik salah satu preman itu. Preman lainnya mengangguk setuju, dari pada nyawa mereka melayang, lebih baik mereka melepaskan Daisy sekarang. Dua preman itu sontak melepaskan Daisy dengan cara mendorongnya hingga gadis itu terjerembab ke jalan. “Aw!” pekik Daisy karena lututnya tergores oleh aspal. Dua preman itu bergegas masuk mobil, buru-buru melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Spaso menghampiri asisten rumahnya. Pria dengan gaya rambut belah pinggir yang tertata rapi itu menjulurkan tangan, menawarkan tumpuan kepada Daisy agar dapat berdiri. Perlahan tapi pasti, Daisy menyambut uluran tangan itu kemudian berusaha berdiri. Namun, sepertinya luka Daisy membuatnya tidak bisa berdiri dengan tegak. Cepat-cepat Spaso memegangi pundak gadis yang hampir saja terjatuh itu. “Bisa jalan?” singkat Spaso dengan suara dingin, kering kerontang. Daisy meringis menahan rasa perih lukanya seraya mengangguk palsu. “Bisa, Tuan.” Saat ia mencoba melangkahkan kaki, Daisy kembali memekik, “Aw!” Spaso berdecak kesal karena Diasy membohonginya. “Kau hanya bisa menyusahkan saya!” keluhnya kemudian tanpa aba-aba Spaso mengangkat tubuh Daisy ala bridal, memasukkan gadis itu ke mobilnya. Spaso memungut belanjaan Daisy yang berceceran di aspal, memasukkannya ke dalam bagasi. Sejurus kemudian barulah Spaso duduk di kursi kemudian, mengendarai mobil menuju rumahnya. Mata Daisy membelalak sontak meraih pegangan tangan (hand grip) ketika mobil bergerak dengan kecepatan sangat tinggi. Daisy melirik pria di sampingnya dengan penuh tanya hingga pada akhirnya Spaso menginjak rem mendadak. Cittttt Tubuh Daisy terhempas ke depan, jantungnya benar-benar hampir copot. Daisy tahu jika majikannya sepertinya tengah marah padanya. Tubuh Daisy gemetar hebat. “Kenapa kau keluar rumah tanpa seizin saya?!” murka Spaso dengan wajah memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN