Bab 5. Misi Dimulai...

816 Kata
“Ma-maaf, Tuan. Saya hanya berniat belanja bahan makanan kemudian pulang,” jawab Daisy dengan suara bergetar. Gadis itu kini menunduk, kedua tangan saling meremas jari di depan, sepertinya dia menahan tangis. Takut. Daisy takut akan kemarahan Spaso. Melihat mata sayu itu mendung, mendadak wajah Spaso yang memerah karena marah tiba-tiba mengendur. Pria itu menghela napas panjang. “Jangan ulangi kesalahan yang sama jika tidak ingin mendapatkan hukuman!” ancamnya kemudian kembali menginjak gas, melanjutkan perjalanan. “Baik, Tuan,” lirih Daisy. *** Pagi hari. Spaso mengerjap-ngerjapkan mata seraya mematikan jam beker yang berdering. Pria dengan hidung mancung dan gigi rapi itu beringsut duduk, mengumpulkan nyawa sebelum bergegas mandi. Spaso menggerakkan tangan sambil menggeliat, merasa bugar setelah bisa tidur nyenyak. Spaso menajamkan mata menatap barang warna-warni di meja nakas. “Bunga?” herannya melihat vas bening berisi fresh flower di sana. Baru kali ini Spaso melihat ada bunga di rumahnya. “Pasti asisten cengeng itu!” muak Spaso. Spaso turun dari ranjang, menyambar vas bunga itu, berniat membuangnya karena sebenarnya dia tidak suka bunga. Saat Spaso berniat memasukkannya ke tempat sampah, entah mendapat bisikan dari mana, ia tiba-tiba mengurungkannya. “Tapi sepertinya bunga ini yang membuat tidurku tadi malam nyenyak.” Spaso akhirnya meletakkan kembali vas bunga itu di meja nakas. Spaso kemudian masuk kamar mandi, menyalakan shower agar mengguyur tubuhnya yang kini tanpa penutup apa pun. Spaso menyambar spons mandi, mengucurkan sabun cair lalu spons itu ia gosokkan di tubuh atletisnya. Usai mandi, Spaso mengenakan pakaian kantornya, sebuah setelan jas brand mahal berwarna dark grey. Spaso tidak pernah lupa menyisir rapi rambut belah pinggir dan menyemprotkan parfum maskulinnya. Selepas itu, Spaso keluar kamar, berniat sarapan seperti biasa. Piring-piring berisi makanan sudah tertata rapi di meja makan. Namun sepertinya ada yang kurang, biasanya gadis itu menungguinya saparan. “Kenapa aku merasa hampa?” gumam Spaso yang menyarap sendirian. Spaso berpikir mungkin asistennya itu tengah beristirahat karena luka di lututnya. Usai sarapan, Spaso pun bergegas berangkat kerja. Saat melewati kamar Daisy, tiba-tiba Spaso ingin melihat keadaan gadis itu. Spaso tahu jika luka lutut yang Daisy alami adalah karena dirinya. Anak buah Paolo tidak mungkin mencelakai Daisy jika gadis itu tidak tinggal di rumahnya. Ceklekkk Kening Spaso berlipat ketika melihat kamar asisten rumah itu kosong. Perasaan khawatir menyergapnya, takut apabila anak buah Paolo kembali berniat menculik gadis itu. Spaso pun mencari Daisy ke semua sudut dalam rumah. Dan di saat itu pula dirinya menyadari jika rumahnya penuh bunga-bunga. Di meja ruang tamu, di meja dekat TV, di atas kulkas. Sepertinya asisten rumah itu telah mengubah rumah Spaso seperti toko bunga. "Dia benar-benar menjengkelkan!" jengah Spaso. Spaso melanjutkan pencariannya dengan melangkah ke halaman belakang. Saat itulah Spaso mengembuskan napas lega. Rupanya gadis itu tengah berkebun di lahan kecil samping kolam renang. Tangan mungilnya yang dibungkus sarung tangan plastik tengah menata tanah di dalam pot berisi bunga. “Tuan Spaso?” pekik Daisy menyadari Spaso tengah mengamatinya. Daisy lantas berdiri. “M-maaf, saya belum sempat meminta izin untuk memanfaatkan lahan kosong ini menjadi taman.” Spaso bungkam. Dia sangat kesal dengan Daisy karena telah mengubah rumahnya menjadi full flowers tanpa izin. Tetapi, Spaso lebih kesal karena Daisy suka sekali membuat dirinya khawatir. Ya, meskipun tidak pernah ada yang meminta Spaso mengkhawatirkan asisten rumahnya. “Oh ya. Tuan sudah sarapan? Saya sudah menyiapkan sarapan untuk Tuan.” “Jangan lupa kunci pintu rapat-rapat selagi saya berada di luar rumah. Preman-preman kemarin mungkin saja akan datang lagi,” ujar Spaso kemudian meninggalkan Daisy, berangkat ke kantor. Daisy mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi sang kakak usai Spaso lenyap dari pandangannya. “Dia sudah meninggalkan rumah,” lapornya begitu panggilan telah tersambung dengan sang abang. [“Bagus, sekarang coba cari fail gehenna itu.”] Melalui panggilan telepon, Diego memberikan arahan kepada adiknya untuk menemukan fail gehenna. [“Coba cari di ruang kerjanya!” ] Daisy pun segera memasuki ruang kerja Spaso, membuka semua laci dan lemari. Namun, nihil. Tidak ada fail gehenna di sana. [“Sekarang coba cari di kamar tidurnya. Biasanya mereka akan menyembunyikan fail penting di tempat yang paling privat.”] Ucapan Diego bak perintah yang terus dituruti oleh Daisy. Daisy membuka semua laci nakas, membuka lemari pakaian, memeriksa di balik bantal maupun di bawah kasur. Kolong ranjang pun tidak luput dari pengamatan Daisy, tetapi fail itu tetap tidak dia temukan. Tok tok tok Daisy tercengang begitu mendengar suara pintu diketuk. Tubuh gadis itu gemetar hebat. “Ada orang yang datang, Bang. Daisy harus apa?” [“Pastikan kau merapikan semuanya seperti sedia kala. Jangan sampai meninggalkan kecurigaan sedikit pun. Setelah itu, kau buka pintu. Bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa.”] Daisy mengangguk kemudian mematikan sambungan telepon, cepat-cepat menyembunyikan ponsel di sakunya. Tidak boleh ada yang tahu jika Daisy memiliki ponsel untuk menghubungi abangnya. Daisy berjalan menuju pintu dengan perasaan was-was. Kira-kira siapa yang tengah mengetuk pintu? Spaso atau orang suruhan Paolo?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN