Bab 6. Misi Berlanjut!

1370 Kata
Setelah dibukanya pintu itu, Daisy menyembunyikan rasa gugupnya dengan senyuman palsu. “Kenapa Tuan pulang lagi?” Spaso menatap Daisy datar tanpa menjawab sepatah pun kata. Spaso melewati Daisy begitu saja, berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Perempuan dengan rambut dikuncir pita berwarna merah itu menatap Spaso yang tengah menaiki tangga dengan cemas. “Semoga Tuan Spaso tidak curiga kalau aku habis dari kamarnya.” Cemas Daisy mendadak berubah kesal. Ia mendengus. “Lagian kenapa dia cepat sekali pulang. Mengacaukan rencanaku saja. Huh!” Sesampainya di kamar, Spaso segera duduk di tepi kasur, menatap sudut ruangan dengan helaan napas panjang. “Aku bisa dengan mudah meminta anak buahku mengambilkan barang yang tertinggal, tapi kenapa aku sekarang justru pulang sendiri?” Jangan-jangan Spaso khawatir dengan Daisy, ingin memastikan Daisy baik-baik saja karena anak buah Paolo bisa saja datang menculiknya? Tunggu, sejak kapan Spaso peduli dengan wanita selain Luna? “Lagi-lagi gadis itu merepotkanku!” keluh Spaso. Spaso tengah berpikir, apa lebih baik dia memecat Daisy saja? Dengan begitu Daisy tidak ada hubungan lagi dengan Spaso maka Paolo tidak akan lagi mengincar gadis yang tidak bersalah. "Ah... tidak-tidak!" Spaso menggeleng kuat, tidak setuju dengan pemikiran itu. Kalau Daisy dipecat begitu saja, bagaimana jika Daisy melapor polisi? Daisy adalah saksi anak buah Spaso yang menghabisi nyawa anak buah pemilik bar malam itu. Spaso pun berdiri, meraih jaket kulit di centelan belakang pintu, merogoh bagian saku untuk mengambil Jagoan Neon alias pist0l kebanggaannya. Dinamai Jagoan Neon karena pelatuk pada pist0l itu bernama hijau neon. Lalu barang yang tertinggal itu ia simpan di balik saku jasnya, lalu Spaso keluar dari ruang kerjanya. Saat menuruni anak tangga, Spaso melihat Daisy tengah mengelap vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Melihat ketekunan Daisy, Spaso menjadi tidak rela jika harus memecat asisten rumahnya itu. “Mau ikut saya kerja?” cetus Spaso tatkala dirinya sampai di dasar tangga. Jangan lupakan ekspresi wajahnya yang selalu datar bak triplek. Gerakan tangan Daisy dengan lapnya berhenti sesaat, menoleh ke belakang. “I-ya, Tuan?” Spaso menatap jengkel gadis dengan celemek itu. “Jika mau kau boleh ikut saya ke kantor,” ulangnya, menganggap Daisy tidak hanya merepotkan tetapi rupanya juga budeg. “Ke kantor? Untuk apa, Tuan?” beo Daisy lantas menggeleng dengan senyum hangat. “Maaf, Tuan. Tapi saya belum selesai dengan pekerjaan rumah,” tolaknya halus. Tentu Daisy enggan ikut ke kantor karena ada misi yang harus dia selesaikan. Daisy harus menemukan fail gehenna di rumah itu, lalu memberikannya kepada Diego. Spaso kelihatan kecewa, tapi ia tidak mau memaksa. “Baiklah. Kalau begitu jangan lupa kunci pintu. Karena jika kau diculik saya juga yang repot!” pesan pria dengan setelan jas rapi lengkap dengan tuksedo lalu berjalan meninggalkan rumah. Sepertinya detik ini Spaso mulai terbuka, mau berbicara lumayan panjang dengan asisten rumahnya. Ya, meskipun suara kering dan ekspresi tripleknya itu masih melekat kuat. “Tuan mengkhawatirkan saya?” ceplos Daisy tiba-tiba berdiri, membuat Spaso menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang, padahal beberapa langkah lagi dia sudah sampai di pintu utama. Spaso melihat gadis dengan rambut lebat panjang berpita menatap dirinya dengan bola mata berbinar. Alih-alih menanggapi omongan Daisy, Spaso hanya menatapnya datar lalu melanjutkan langkah meninggalkan rumah. “Kenapa dia tiba-tiba mengajakku ke kantornya? Apa dia khawatir aku akan mencuri fail gehenna?” Daisy berspekulasi saat tubuh tinggi tegap Spaso telah hilang dari baik pintu. Gadis dengan mata bulat dan bulu mata lentik itu kemudian merogoh ponsel di dalam saku bajunya. Menghubungi abangnya lagi. [“Kamu gapapa, kan? Siapa yang datang tadi?”] “Tuan Spaso.” [“Dia curiga kau masuk kamarnya?”] “Tidak. Dia malah mengajak Daisy ke kantornya.” [“Sekarang kita harus melanjutkan pencarian kita. Coba ke kamar mandi, kadang orang menyembunyikan barang penting di ruangan yang tidak terduga.] Daisy pun mengikuti aba-aba dari abangnya. Berjalan menuju kamar mandi, mencari fail gehenna di sana. *** Keesokan harinya. Usai mandi Spaso mematut diri di depan cermin, memakai kemeja panjang berwarna hitam di tubuh tegapnya, membuat kemeja itu tampak seperti dipakai oleh patung manekin di mall-mall. Selepas itu, Spaso memakai jas dengan dua kancing berwarna senada dengan kemeja. Tiba-tiba sekelebat bayangan Luna muncul. Dulu Luna yang selalu membantu merapikan jas Spaso. Senyuman manis Luna adalah sarapan Spaso sebelum berangkat kerja. Buru-buru Spaso membuang kenangan itu. Untuk apa dirinya masih terus menerus memikirkan Luna, jika Luna saja telah bahagia dengan pria lain? Spaso hanya menyayangkan, kenapa harus Paolo yang Luna pilih dari sekian banyak pria di muka bumi. Spaso lebih bisa menerima jika Luna berselingkuh dengan pria yang bukan satu dar4h dengannya. Setelah menyisir rambut belah pinggir dan menyemprotkan parfum maskulin, Spaso bergegas meninggalkan kamar. Begitu membuka pintu kamarnya, hampir saja jantung Spaso copot menemukan Daisy di sana. “Astaga!” pekik Spaso sambil memegangi d4da. Meski sedang kaget pria itu tetap saja tampan, sepertinya tidak memiliki sisi kejelekan. Sementara Daisy hanya nyengir kuda. Daisy dengan gaun selutut ala-ala vintage dengan celemek di depan dan seperti biasa rambut lebatnya dia kuncir dengan pita merah bertanya, “Apa tawaran Tuan masih berlaku untuk hari ini?” Spaso mengerutkan kening. “Tawaran?” Daisy menganggukkan kepala dengan senyum cerah yang tidak luntur. “Kemarin Tuan menawari saya untuk ikut ke kantor. Dan sekarang saya menerima tawaran itu. Lagi pula semua pekerjaan rumah sudah saya selesaikan, Tuan.” Spaso bungkam. Selain merepotkan, asisten rumahnya ini juga bisa membuatnya jantungan. Kenapa dia tiba-tiba ingin ikut ke kantor? Tangan Daisy mengait di depan. “Hehehe, boleh, kan, Tuan?” Mata Daisy berbinar penuh harapan, selayaknya bocah kecil yang meminta jajan. Melihat mata memelas Daisy membuat Spaso sedikit tidak tega, dan berakhir dengan mengangguk mengizinkannya. Diamatinya Daisy dari ujung kepala sampai ujung kaki, tampak berpikir. “Lepas celemek itu!” suruh Spaso. Masa iya, Daisy ke kantor seperti orang yang ingin ikut kontes masak. “Oh, iya, Tuan,” buru-buru Daisy melepaskan celemek dari tubuh indahnya. “Apalagi yang harus saya lepas, Tuan?” polosnya, menganggap Spaso sebagai penata busana. Kening Spaso kembali berkerut, kali ini dengan sorot mata tajam. Kalimat ‘Apalagi yang harus saya lepas?’ terdengar seperti Daisy tengah menggoda Spaso. Daisy berkedip cepat setelah mendapatkan tatapan menghunus dari majikannya. Daisy refleks menutup mulut karena sadar ada yang salah dari ucapannya. Padahal Daisy tidak bermaksud apa pun. “Ayo berangkat sekarang,” ajak Spaso kemudian. Daisy kaget. “Tuan tidak sarapan dulu? Saya sudah siapkan semuanya, Tuan,” Daisy memblokade langkah Spaso agar pria itu berhenti dulu. Spaso mengangkat pergelangan tangan, menatap jamnya. “Gara-gara kau saya hampir telat ke kantor,” ujarnya datar, ada kilatan cahaya saat manik mata Spaso memandang Daisy. Untuk itu, Daisy menelan ludah kasar, menyadari kesalahannya lagi. “Ka-kalau begitu tunggu sebentar, Tuan. Saya akan siapkan bekal untuk, Tuan.” Daisy pun berlari tergopoh-gopoh menuju dapur. Dengan kelincahan tangannya, Daisy cepat memasukkan sarapan ke wadah bekal. “Ayo cepat, Daisy!” desisnya menyemangati diri sendiri. Setelah sudah, Daisy pun kembali berlari terbirit-b***t seperti dikejar maling menghampiri Spaso. “Ayo kita berangkat, Tuan.” Daisy muncul dengan napas tersengal-sengal, seperti habis lari maraton. Spaso menatap heran dengan bekal yang dibawa Daisy. Sepertinya itu bukan bekal untuk berangkat ke kantor, melainkan bekal untuk mencangkul di sawah. Rantangnya besar dan bersusun panjang! Apa Daisy berniat memberi makan orang satu kantor? “Kenapa, Tuan?” ceplos Daisy melihat Spaso memandang rantang makanan yang dia bawa dengan tatapan sulit diartikan. Daisy menggeleng malas, lalu berjalan lebih dulu, dan Daisy mengekor di belakangnya seperti anak itik. *** Sesampainya di kantor. Spaso yang muncul dengan Daisy membuat para staf kantor terpana. Baru kali ini mereka melihat sang bos muncul dengan seorang wanita selain Luna. Bukan rahasia umum lagi jika hubungan Spaso dan Luna kandas akibat orang ketiga. Beberapa dari mereka menutup mulut menahan tawa saat melihat Daisy menenteng rantang makanan yang bersusun panjang. Daisy terbirit-b***t mengikuti langkah Spaso yang cepat hingga dirinya ngos-ngosan . “Tuan, apa jalannya bisa pelan-pelan? Saya capek, Tuan.” “Maka lebih baik kau di rumah saja!” ketus Spaso. Daisy menelan saliva sesaat, dengan susah payah mengejar langkah Spaso lagi. Sabar, Daisy. Kau cuma perlu ke ruangan Tuan Spaso, lalu diam-diam mencari fail gehenna di sana, batin Daisy bersemangat. Jadi Daisy ingin ikut ke kantor hanya untuk fail gehenna?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN