“Duduklah di sana!” Spaso menunjuk sofa panjang dalam ruang kerjanya yang biasa digunakan untuk mengobrol dengan tamu, sementara dirinya menuju meja kerja.
“Baik, Tuan,” siap sedia Daisy, meletakkan rantang makanan di meja, lalu duduk di sofa.
Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam.
Sudah puluhan kali Daisy menguap, matanya mulai diterpa kantuk. Daisy melirik Spaso yang fokus menatap layar monitor dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya yang mancung.
“Apa dia tidak punya jadwal meeting atau kepentingan lain supaya dia meninggalkan ruangan ini?” desis pelan Daisy mulai bosan. Sampai kapan Daisy harus menunggu Spaso meninggalkan ruangannya?
Lalu muncullah inisiatif Daisy untuk bertanya, “T-Tuan?”
Spaso mengedarkan mata dari layar laptop ke wanita dengan gaun vintage seperti gadis-gadis p!nterest yang tengah duduk di sofa. “Hm?” singkatnya dengan muka triplek.
“Tuan masih lama kerjanya? Tuan gak ada jadwal meeting atau apa gitu?”
“Memangnya kenapa?”
Mendapatkan tatapan tajam, Daisy hanya bisa menggeleng kikuk. “Tidak apa-apa, Tuan. Saya cuma bertanya.”
“Tidurlah jika mengantuk!” tutur Spaso lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
“Padahal bukan itu maksudku,” gerutu Daisy, menempelkan punggung di sandaran sofa.
Lalu sayup-sayup mata Daisy mulai mengantuk. Ngantuk berat, Daisy menyandarkan kepala hingga mata bulat itu benar-benar memejam.
Spaso melirik Daisy. “Tidur juga akhirnya.”
Spaso masih sibuk mengurus pekerjaan, tetapi sesekali matanya melirik untuk memandang Daisy. “Sepertinya posisi tidurnya kurang nyaman,” komentarnya saat Daisy tidur dalam posisi duduk yang kelihatan tidak nyaman.
Spaso melepas kacamata bulatnya, beranjak dari kursi putar, melangkah mendekati sofa. Spaso membenarkan posisi tidur asisten rumahnya dengan lembut, meletakkan kepala Daisy di bantalan sofa, kakinya diselonjorkan lurus.
“Jangan! Jangan sentuh saya! Saya tidak sudi lagi bekerja di sini! Dasar aki-aki m3sum!” racau Daisy dengan mata tertutup. Keringat gelisah membasahi kening hingga pelipisnya.
“Sepertinya dia mimpi buruk!” Entah bisikan dari mana, tiba-tiba Spaso berjongkok untuk mengelus lembut rambut Daisy. “Siapa yang dia maksud aki-aki m3sum? Sepertinya orang itu hampir melakukan hal buruk kepada gadis ini."
Tunggu, apa Spaso kini sedang berusaha menenangkan aisten rumahnya? Sejak kapan Spaso bisa bersikap semanis ini dengan wanita selain Luna?
Mendapatkan sentuhan dari Spaso, racauan Daisy berhenti. Raut wajah Daisy yang gelisah kini perlahan tenang, keringatnya mulai mengering.
"Sepertinya dia lebih tenang sekarang," lirih Spaso, merasa usahanya membuahkan hasil.
Tiba-tiba…
Pintu ruangan Spaso terbuka, lalu muncullah Frans, orang kepercayaan Spaso. Bisa dibilang tangan kanan, sekretaris, ataupun asisten pribadi.
Cepat-cepat Spaso berdiri, berdehem, bersikap datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sementara Frans menutup mulut tidak percaya. Seorang Spaso bersikap semacam itu bersama wanita selain Luna?
“Bos…” lirih Frans seraya menggeleng merasa melihat keajaiban dunia ke seribu. “Saya gak nyangka. Jangan-jangan kalian sudah…”
“Tutup mulut sampahmu itu!” tukas Spaso lalu berjalan menuju meja kerjanya. “Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan,” desaknya seraya menjatuhkan diri di kursi putarnya.
Frans tertawa mengejek, senang melihat bosnya gugup, seraya berjalan mendekati meja kerja sang Bos. “Tentang pemilik bar itu. Saya sudah buat janji temu. Kita diminta datang ke barnya sekarang.”
“Kau sudah mendapatkan kartu AS nya?”
“Sudah, Bos,” jawab Frans seraya mengangkat amplop coklat berisi fail, yang entah fail apa yang dimaksud.
“Bagus. Jika dengan kartu AS dia masih berani mengelak, maka kau tahu kita harus apa?”
“Perang,” mantap Frans, sudah hapal dengan tradisi keluarga Wallian yang akan menggunakan cara kasar apabila lawan sulit diajak untuk kompromi baik-baik.
Spaso mengangguk membenarkan, lalu pandangan matanya beralih memandang gadis manis yang terlelap tidur di sofa.
Frans mengikuti arah pandang Spaso, ikut menatap Daisy. “Kenapa, Bos?”
Spaso menggeleng, lalu bangkit dari kursi. Spaso menyambar jas yang dia sampaikan di sandaran kursi, memakainya. “Siapkan pasukan untuk plan B, berjaga-jaga apabila plan A gagal.”
“Baik, Bos.” Frans langsung menelepon seseorang. “Koordinir pasukan. Kalian harus siap siaga di sekitar bar. Maju setelah aku memberikan aba-aba, paham?” Lepas itu, Frans memutus sambungan telepon.
“Semua sudah siap, Bos. Saya yakin setelah ini paradise crystal bisa didistribusikan di bar itu,” kata Frans mantap.
“Ayo!” aba-aba Spaso. Keduanya pun meninggalkan kantor menuju bar.
Beberapa jam kemudian.
Saking lelahnya mengerjakan pekerjaan rumah, Daisy ketiduran cukup lama, hingga kini telah masuk waktu sore hari.
Daisy membuka mata, lalu buru-buru beringsut duduk. “Apa aku tadi ketiduran?” herannya padahal seingatnya dia tadi hanya duduk. Lalu Daisy menatap sekeliling.
Sepi.
“Tuan Spaso di mana? Apa dia meeting?” terka Daisy, lalu berdiri, berjalan mendekati meja kerja majikannya.
“Sepertinya dia benar-benar meeting,” yakin Daisy. Ia menggerakkan tangan seperti saat seseorang tengah berhasil mendapatkan apa yang dia mau. “Yes! Itu artinya sekarang adalah waktunya aku mencari fail gehenna.”
Daisy mulai membuka-buka tumpukan fail di atas meja. Berkas-berkas di sana cukup banyak, jadi Daisy harus teliti memeriksanya.
Tidak ada.
Daisy kemudian membuka laci meja, berharap fail itu ada di sana. Masalahnya Daisy tidak tahu wujud dari fail itu, entah berupa lembaran kertas, flashdisk, atau fail lunak di komputer.
Nihil.
Satu-satunya tempat yang belum Daisy sentuh adalah laptop Spaso. Daisy memandang pintu. “Bagaimana kalau Tuan Spaso tiba-tiba datang?” ragunya.
Tapi sepersekian detik berikutnya, Daisy menepis pikiran buruk itu. “Ah, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Daisy mencoba membuka laptop, tetapi rupanya laptop itu menggunakan sandi password. “Duh, apa ya sandi password-nya.”
Daisy mencoba mengetikkan kombinasi angka dan huruf secara random, tetapi usahanya sia-sia. Daisy mengeluarkan napas berat. Saat dirinya hendak mencoba untung-untungan lagi memasukkan password, tiba-tiba pintu terbuka.
Lekas-lekas Daisy menyambar sembarang berkas di atas meja Spaso, pura-pura membaca. “Tuan habis dari mana?” sambut Daisy memasang senyum cerah.
Namun…
Senyum cerah itu lenyap ketika pria yang masuk bukanlah Spaso, melainkan pria beralis sobek yang tidak dikenal oleh Daisy.
Dia adalah Paolo. Mau apa dia di sana?
“Kau siapa? Di mana Spaso?” Tanya Paolo seraya memasuki ruang kerja Spaso.
“Emm, sepertinya Tuan Spaso sedang meeting. Maaf, tapi Tuan siapa?”
Dengan percaya diri Paolo melangkahkan kaki mendekati Daisy. Paolo menyunggingkan senyum ramah, mengulurkan tangan untuk berjabatan. “Saya Paolo, kakak Spaso.”
Pupil mata Daisy melebar. “Kakak Tuan Spaso?” kejutnya menjabat tangan Paolo.
Daisy baru tahu Spaso memiliki seorang kakak, karena setahunya Spaso tidak memiliki keluarga.
Paolo mengangguki pertanyaan Daisy. “Kau asisten rumahnya?”
Daisy kini yang gantian menganggukkan kepala.
“Siapa namamu?”
“Daisy.”
Paolo mengangguk-angguk lalu melepas jabatan tangan. “Saya tidak tahu kalau Spaso lagi keluar meeting.” Paolo mengangkat jam tangan. “Sudah menjelang sore, seharusnya Spaso sudah kembali ke kantor. Kalau Spaso belum juga balik sini, itu artinya dia akan pulang tengah malam.”
Daisy penasaran. “Memangnya meeting apa sampai selama itu, Tuan?”
“Banyak yang harus diurus oleh bos perusahaan, Daisy. Bagaimana kalau kau saya antar pulang?”
Daisy bergeming, menatap wajah Paolo lekat-lekat. Ada keraguan di benaknya.
“Kau takut dengan saya?” Paolo terkekeh. “Saya bukan orang jahat. Kebetulan saya juga mau mampir ke rumah Spaso, ada hal yang harus saya bicarakan dengan adik saya."
Daisy masih menimbang-nimbang keputusan sampai akhirnya dia mengangguk menerima tawaran. Keduanya pun keluar dari ruang kerja Spaso, berjalan menuju basement kantor, tempat di mana mobil Paolo terparkir.
Di kursi samping kemudi, Daisy hanya diam menatap lurus ke depan, dan sesekali memandang jendela.
Ia begitu canggung semobil dengan pria asing yang baru saja dikenalnya. Hingga terbesitlah pikiran bahwa bisa saja Paolo mengetahui fail gehenna.
Jangan-jangan dia tahu di mana Tuan Spaso menyembunyikan fail gehenna, kata hati Daisy.
Daisy yang sibuk melamun terkesiap saat tiba-tiba mobil Paolo berbelok arah, memasuki area gedung apartemen yang cukup mewah.
Jantung Daisy berdebar kencang, menatap Paolo dengan pupil mata melebar. “Mau apa kita ke sini, Tuan Paolo?!”
Apartemen? Apa jangan-jangan Paolo akan bertindak macam-macam kepada Daisy? Apakah nasib Daisy akan berakhir sama seperti Luna?