Bab 8. T!dur Bareng

1339 Kata
Paolo tidak menjawab kecemasan dari Daisy, justru fokus memacu mobilnya memasuki area basement apartemen. Paolo memarkirkan mobil di basement dengan lincah. Setelah mobil terparkir dengan rapi, dia membuang napas panjang, menatap Daisy dengan senyum ramah. “Bisa temani ke apartemen saya sebentar? Saya mau meminta pendapatmu, kebetulan saya mau memberi kejutan untuk Spaso. Ada dua barang, saya bingung harus memberi Spaso yang mana.” Jadi hanya untuk meminta pendapat Daisy? Ketegangan di wajah Daisy mereda. “Meminta pendapat?” Tunggu! Apa Paolo serius dengan ucapannya? Atau mungkinkah dia hanya menjebak Daisy agar mau masuk ke apartemennya? Keraguan kembali muncul. Alis Paolo yang sobek membuat Daisy yakin jika pria dengan tinggi 180 cm itu pasti pintar bertarung. Bagaimana jika sebenarnya Paolo adalah preman atau orang jahat? “Jangan takut. Saya tidak akan berbuat aneh-aneh kok.” Paolo menampilkan senyum terbaiknya. Senyum yang mengandung tuntutan. “Bagaimana, mau?” lanjutnya. Daisy masih ragu. Bagaimana kalau Paolo berbuat yang tidak-tidak pada dirinya? Tapi, bagaimana kalau dari apartemen Paolo, Daisy bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan fail gehenna? Lagi-lagi demi fail gehenna Daisy rela melakukan semua hal. “Baik, Tuan,” putus Daisy akhirnya. Keduanya keluar dari mobil. Daisy berjalan membuntuti Paolo, seraya membangun rasa percaya bahwa Paolo memang tidak akan bersikap buruk kepadanya. Daisy harus berani mengambil keputusan ekstrim demi mendapatkan fail itu. “Jangan berjalan di belakang saya, nanti orang akan mengira kau bodyguard saya. Kemarilah.” Paolo melambaikan tangan, mengode Daisy agar berjalan beriringan dengannya. Dengan ragu, Daisy melangkah mendekat. Keduanya pun berjalan menuju apartemen milik Paolo. Setelah membuka kunci apartemen, Paolo mempersilakan Daisy masuk lebih dulu. “Masuklah.” Daisy pun melangkah masuk, lalu melihat apartemen Paolo yang tertata rapi. Seperti apartemen pada umumnya, tidak ada yang mencurigakan di sana. “Duduklah.” Daisy menurut, duduk di sofa ruang tamu, menuruti perintah si tuan rumah. Tak lama kemudian, Paolo muncul membawa dua kanvas berukuran sedang. Meletakkan kanvas di atas meja berjejeran. “Bagaimana menurutmu, mana yang sebaiknya kuberikan kepada Spaso?” Daisy membandingkan dua lukisan yang ada, lalu menunjuk salah satunya. “Sepertinya Tuan Spaso lebih cocok dengan lukisan abstrak ini.” “Pendapat kita sama. Itu sesuai dengan karakter Spaso yang sulit ditebak, bukan?” Daisy mengangguk pelan. Drrttt Drrttt “Sebentar, saya angkat telepon dulu. Setelah itu saya akan mengantarmu pulang,” cakap Paolo lalu keluar dari apartemen. Setengah jam. Sudah selama itu, tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Paolo kembali. Apa selama itu mereka mengobrol di telepon? Daisy yang mulai bosan hanya duduk di sofa, pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Daisy mengamati seisi apartemen Paolo. Di meja nakas ada beberapa patung kecil berbentuk hewan. Ada yang bentuknya singa, dinosaurus, kura-kura, dan lain-lain. Sepertinya Paolo memang suka mengoleksi mainan anak kecil. “Dia seperti anak kecil,” komentar Daisy mengangkat satu demi satu patung hewan itu. Daisy tidak tahu jika di dalam patung-patung itu ada plastik-plastik kecil berisi serbuk paradise crystal. Apabila dijual, satu plastik kecil saja dibandrol dengan harga jutaan rupiah. “Bagaimana kalau aku mulai mencari fail gehenna, jangan-jangan fail itu Tuan Spaso sembunyikan di apartemen ini.” Secepat kilat Daisy merapikan kembali patung-patung hewan. Ia kemudian memberanikan diri untuk membuka laci nakas, memeriksa bawah lampu tidur, hingga mengecek kolong meja. Toilet dan lemari-lemari yang ada di sana juga tidak luput dari perhatian gadis itu. Lagi-lagi nihil. Lalu Daisy menyimpulkan bahwa fail itu memang tidak ada di sana. “Apa Tuan Paolo tidak tahu kalau Tuan Spaso menyembunyikan fail penting negara?” Sore telah beranjak menjadi malam. Saking lamanya menunggu Paolo yang tak kunjung kembali, Daisy tidak sengaja tertidur di atas ranjang. Posisi tidur Daisy berada di tepian ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai. *** Di bar. “Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau mengizinkan pendistribusian barang haram itu di bar saya,” tegas pemilik bar. “Saya jamin akan lebih banyak orang yang datang di bar ini. Saya juga akan menambah penawaran pajak. Dari tawaran saya kemarin, saya lipatkan menjadi dua kali. Bagaimana?” Spaso bernegosiasi. Pemilik bar berdecak kesal. “Sudah saya bilang saya tidak mau. Saya tidak mau bar saya diincar polisi.” “Saya sudah menyuap polisi di daerah sini, jadi kau tidak perlu khawatir.” Spaso meyakinkan. Sang pemilik bar tetap kekeh. “Saya bilang tidak ya tidak!” ketusnya dengan suara naik satu oktaf. Sok suci sekali, batin spaso. Spaso tersenyum kecut, menantap Frans dengan menengadahkan tangan, tanda bahwa dirinya meminta sesuatu dari orang kepercayaannya. Paham maksud sang bos, Frans pun menyerahkan kartu AS di dalam amplop coklat. Spaso melempar amplop coklat di meja. “Bagaimana dengan ini?” Pemilik bar menaikkan satu alis, meraih amplop itu, membukanya. Bola matanya seperti ingin lepas dari kelopak begitu melihat isi dari amplop itu. Ia menatap Spaso dan Frans gugup. “Bagaimana kalian mendapatkan ini?!” Spaso terkekeh licik. “Bayangkan jika istrimu tahu kalau di belakangnya kau diam-diam punya ani-ani. Kudengar-dengar keluarga istrimu itu kaya, dan yang memberikan modal untukmu mendirikan bar ini. Setelah foto-foto perselingkuhanmu sampai di tangan istrimu, saya jamin kau akan ditendang dari keluarga mereka, lalu kau akan menjadi gelandangan.” Pemilik bar mendengus, merasa kalah. Daripada didepak dari keluarga istrinya yang kaya, lebih baik dia menerima tawaran Spaso meski itu akan berpotensi mendapatkan masalah hukum. “Berapa pajak yang akan kau berikan padaku?” Senyuman kemenangan tersungging di wajah Spaso dan Frans. “1% dari setiap bungkus yang terjual. Selain itu, saya juga akan memberikan bonus untuk kau pribadi.” “Kau menghasut saya untuk mengkonsumsi benda haram itu? Saya masih waras dan tidak akan tergoda dengan hal haram itu,” pria pemilik bar menatap nyalang Spaso. Pemilik bar itu merasa amat sangat suci, mengaku sama sekali tidak tergiur dengan paradise crystal. Ia tidak ingat jika dirinya adalah pria bangs4t. Bagaimana dia tidak bangs4t jika dia diam-diam punya wanita selingkuhan? “Kau bilang begitu karena belum merasakan sensasi setelah menghirup serbuk ini. Padahal serbuk ini bisa membuatmu melayang ke surga. Apa kau pernah berpikir menikmati istrimu dan selingkuhanmu dalam satu ranjang?” “Maksudmu serbuk itu akan membantu mewujudkan fantasiku selama ini?” kejar pemilik bar yang sepertinya mulai terhasut oleh Spaso. “Tentu saja. Serbuk ini akan membuatmu selalu bahagia.” Si pemilik bar bungkam. Spaso menatap manik mata pemilik bar intens. “Bagaimana, apa kau menerima tawaran ini?” tuturnya seraya mengulurkan tangan. Pemilik bar menjabat tangan Spaso dengan mantap. “Baiklah, saya menerima tawaran ini. Saya setuju bar saya menjadi tempat pendistribusian paradise crystal.” Spaso pun mengakhiri pertemuan itu. Akhirnya dia bisa membuktikan kepada sang ayah bahwa dia becus bekerja. Dengan begitu Spaso berpeluang besar menjadi the next king of mafia. Frans berjalan di belakang Spaso. Dengan kode tangan, Frans mampu mengoordinir pasukan yang dia bawa untuk lekas meninggalkan bar. Para pasukan yang menyamar sebagai pengunjung bar pun segera keluar dari tempat tersebut, dengan tidak menimbulkan kecurigaan. Tidak boleh ada orang yang tahu bahwa mereka adalah kumpulan mafia anak buah Spaso. Saat Spaso dan Frans akan naik mobil, tiba-tiba ponsel Spaso berdering. Spaso tergesa-gesa mengangkat telepon begitu membaca nama yang tertera di layar. Paolo. Jika pria itu menelepon, sudah pasti keributan akan terjadi. [“Aku akan mengirimkan foto bagus kepadamu, Spaso,”] ujar Paolo dari seberang telepon. Buru-buru Spaso memeriksa foto yang baru saja dikirim oleh kakaknya. Foto itu rupanya adalah foto Paolo dan Daisy yang tidur dalam satu ranjang. Daisy tampak tertidur nyenyak dengan selimut menutup sampai leher. Sedangkan Paolo tampak tersenyum bahagia di kamera dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Tunggu, Paolo tengah bertelanj4ng d4da? Itu artinya telah terjadi sesuatu di antara Paolo dan Daisy? Spaso mendengus kasar. “Bajing4n!” ump4tnya dengan rahang mengeras. “Mana kunci mobilnya!” pinta Spaso belingsatan, tidak ingin membuang banyak waktu. Frans yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menuruti permintaan bosnya. Spaso gugup menyambar kunci mobil, menaiki mobil, lalu membawa mobil meninggalkan Frans yang bahkan belum sempat naik. “ HEI, BOS! SAYA BELOM NAIK!” kaget Frans, lalu berlari mengejar mobil Spaso yang berjalan dengan kecepatan tinggi. “WOY, BOS. SAYA KETINGGALANNN!!!” Apakah perang ke 1001 akan tersulut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN