Bab 9. Lengket, Basah, Geli

1507 Kata
“Bangs4t!” Spaso memukul setir saat terjebak lampu merah. Wajahnya memerah penuh amarah, dad4nya bergemuruh. Spaso benar-benar ingin membu nuh Paolo detik ini juga. Rupanya ketakutan Spaso benar terjadi. Spaso kecolongan hingga Paolo bisa menculik Daisy. Spaso merutuki kesalahannya, andai dirinya tidak meninggalkan Daisy di kantornya, pasti gadis itu tidak akan diculik kakaknya. Spaso semakin semrawut saat lampu merah belum juga berubah hijau, padahal sudah lama sekali. Apakah mesinnya ada yang rusak? Rupanya tidak hanya Spaso yang mengum-pat, melainkan para pengendara yang lain. Rasanya Spaso ingin menghancurkan rambu-rambu lalu lintas saat ini juga. Lima menit kemudian, akhirnya lampu berganti hijau. Tin tin tin Spaso memberondong klakson tidak sabar saat mobil yang ada di depannya tidak kunjung bergerak. Setelah lolos dari lampu merah, Spaso mempercepat laju mobil dan sesekali menyalip mobil yang dia anggap lelet. Hingga kemudian sampailah Spaso di gedung apartemen Paolo. Spaso memencet tombol lift dengan gugup menuju lantai 13. Setelah pintu lift terbuka, Spaso berlari sekencang-kencangnya menuju apartemen Paolo. Tok tok tok Begitu Paolo membuka pintu, ia langsung dihadiahi satu tonj0kan hingga membuat hidungnya mengeluarkan cairan merah. Paolo menyeka cairan merah itu seraya tersenyum kecut. Ia tidak bisa membendung Spaso yang tiba-tiba nyelonong masuk ke apartemennya begitu saja. Spaso menghentikan langkah saat melihat dua buah lukisan teronggok di atas meja ruang tamu. Spaso memandangi lukisan itu. Paolo lekas menjawab rasa penasaran adiknya.“Itu oleh-oleh Papa pulang dari Italia. Pilihlah salah satu. Tapi kau tahu syarat mengambil lukisan itu, kan?” Spaso menoleh ke belakang, memberikan tatapan menghunusnya. “Di mana kau sembunyikan gadis itu?!” ujarnya dengan suara penuh murka. Paolo mengangkat bahu, berisyarat bahwa dia tidak tahu. Paolo memang sangat menyebalkan! Dia sengaja mempermainkan Spaso untuk memenuhi egonya. Paolo memang manusia biad4b. Buru-buru Spaso bergerak menuju kamar, mencari asisten rumahnya di sana. Namun, tempat tidur itu telah kosong. Lalu di manakah Daisy? Ceklekkk Pintu kamar mandi yang terbuka, menjawab kecemasan Spaso. Rupanya Daisy muncul dari sana. “Tuan!” pekik Daisy dengan senyum manis. Dia tampak sangat senang saat tuannya datang menjemput. Daisy berlari menghampiri Spaso, menarik tangan Spaso menuju meja ruang tamu di mana dua lukisan itu bertengger. Lalu jari Daisy menunjuk satu lukisan yang dia rekomendasikan. “Bukankah lebih bagus ini? Sepertinya ini cocok dengan karakter Tuan.” Alih-alih menanggapi perkataan Daisy, Spaso dengan kasar kini gantian menarik tangan Daisy, menuntunnya untuk segera keluar dari apartemen Paolo. Senyum Daisy yang tadi cerah kini memudar hingga hilang dari wajah cantiknya. Daisy tidak bisa menghentikan aksi Spaso yang kasar padanya. Dia berusaha menepis tangan Spaso yang mencengker4m kuat pergelangan tangannya. Tetapi apa daya, cengker4man Spaso lebih kuat. Saat melewati Paolo, Daisy melihat kakak Spaso itu meliriknya dengan senyum yang sulit diartikan. Daisy membatin, Apa yang terjadi antara kakak beradik ini sebenarnya? Spaso melepaskan tangan Daisy begitu sampai di basement, di dekat mobil Spaso yang terparkir. “Masuk!” Gadis dengan gaun vintage itu menurut untuk masuk, melirik Spaso yang tampak sangat marah. Spaso menyalakan mesin lalu mengendarai mobil meninggalkan gedung apartemen. “Apa kau tidak bisa menunggu saya sebentar?” ketus Spaso, sesekali fokus menatap jalan, sesekali menatap Daisy tajam. Bad4n Daisy gemetaran, takut akan kemarahan sang majikan. “Ma-maaf, Tuan. Saya hanya dimintai tolong Tuan Paolo memilihkan lukisan untuk Tuan.” Spaso hanya tersenyum masam menatap lurus ke depan. Spaso merasa jijik dengan cara kotor kakaknya yang selalu menghalalkan segala cara demi ambisinya. “Apa Tuan dan Tuan Paolo tidak akur?” tanya Daisy takut-takut. Alih-alih menjawab pertanyaan Daisy, Spaso justru menanyakan hal lain. “Berapa lama kau ada di apartemennya. Apa yang sudah dia lakukan padamu?” Daisy kemudian menjelaskan bahwa dia hanya dimintai pendapat memilihkan lukisan untuk Spaso. Setelah itu, Paolo keluar kamar untuk menerima telepon. Dan setelahnya, Daisy tertidur. Daisy bangun ketika Paolo kembali datang dan menyuruhnya bersiap pulang. Karena tiba-tiba kebelet pipis maka Daisy ke toilet dahulu. Setelah keluar dari toilet, barulah Daisy melihat Spaso datang menjemputnya. “Jadi dia tidak melakukan apa-apa kepadamu?” Daisy menggeleng yakin. Itu artinya Paolo hanya merekayasa foto yang dikirimkan kepada Spaso. Paolo tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada Daisy, dia hanya berakting seolah-olah habis ngapa-ngapain dengan Daisy untuk menyulut kemarahan Spaso. Daisy heran kenapa Spaso seperti sangat membenci Paolo. “Memangnya kenapa, Tuan? Apa Tuan Paolo itu jahat?” Spaso diam sejenak, berpikir harus menjawab apa. Jika dia jujur mengatakan bahwa Paolo adalah musuh bebuyutan untuk meraih gelar king of mafia, maka Daisy akan tahu jika keluarga Spaso adalah mafia kelas kakap. “Lupakan,” cetus Spaso tidak ingin membahas itu lagi. Sementara itu, di apartemennya, Paolo mengangkat telepon dari sang ayah, Wallian. [“Apa kau sudah memberikan satu lukisan untuk adikmu? Lukisan itu harganya milyaran, simpan dan jual suatu saat ketika kalian sedang terjepit,”] kata Wallian. “Spaso sudah menjual lukisannya pada Paolo, Ayah,” kata Paolo berdusta, padahal dia merebut jatah lukisan Spaso dengan cara yang sangat licik. [“Benarkah? Padahal Papa berharap Spaso menyimpannya untuk sementara waktu. Tapi tidak masalah kalau itu memang keinginannya.”] Setelah sambungan telepon terputus, Paolo tersenyum menang. “Kau memang bodoh, Spaso. Kau rela menukar uang milyaran hanya untuk asisten rendahan itu.” *** “Tuan belum makan malam?” tanya Daisy setelah turun dari mobil. Spaso menggeleng. “Mau saya buatkan mie kuah?” “Nyemek saja,” pintanya dengan muka datar. Daisy berusaha menyejajarkan langkahnya dengan sang majikan. “Malam-malam begini memang paling enak yang lengket-lengket bikin geli gitu ya, Tuan?” Spaso menghentikan langkah seketika. Satu alisnya naik ke atas. “Lengket-lengket bikin geli?” beonya. Karena Spaso menghentikan langkah, Daisy pun mengikutinya, matanya berkedip tiga kali. Ctak! Spaso melayangkan satu j!takan untuk asisten rumahnya. Bisa-bisanya seorang asisten rumah berani bicara tidak sopan dengan majikannya. Mana itu hal-hal er0tis! “Aw!” pekik Daisy meringis kesakitan seraya memegangi jidatnya yang memerah. “Mie nyemek, Tuan. Kan, lengket-lengket bikin geli gitu. Memang ada yang salah, Tuan? Oh, masih tentang mie nyemek, pikir Spaso telah berprasangka buruk kepada Daisy. Spaso tidak menjawab pertanyaan Daisy, langsung melanjutkan langkah begitu saja seraya berkata, “Cepat buatkan, saya sudah lapar!” Daisy menghentakkan kaki kesal. “Yee, main j!tak aja!” “Mau dipakein cabe gak, Tuan?” tanya Daisy sedikit berteriak karena punggung Spaso semakin menjauh. Tidak ada jawaban. “Saya kasih sepuluh cabe setan ya, Tuan?” Hening lagi. “Kalau diam itu artinya iya,” putus Daisy sepihak lalu menuju dapur, menyiapkan bahan-bahan untuk membuat mie nyemek. Aroma wangi rempah- rempah menguar seketika Daisy menumisnya, setelah bumbu mulai layu, Daisy memasukkan sebutir telur, memasukkan air, lalu setelah mendidih dua keping mie dicemplungkannya. Lepas mie nyemek matang, Daisy memanggil Spaso yang kebetulan baru selesai mandi. Rambut Spaso masih basah, ada sisa-sisa bulir air di sana. Daisy menyangga wajah pada kedua tangannya yang bertumpu meja, memandangi wajah Spaso yang tampak sangat segar. Daisy senyum-senyum sendiri. Spaso yang baru menyupit mie melayangkan tatapan kesal saat Daisy menatapnya aneh seperti itu. “Kau kenapa?” “Eng-enggak papa, Tuan, hehe,” responnya lalu nyengir kuda. Spaso mendengus, memasukkan sumpit yang penuh mie ke dalam mulut. Setelah makanan itu membaur dengan lidah dan ludah, Spaso kembali menatap Daisy seperti tatapan ingin memangsa. “Kau sengaja ingin meracuni saya?” Daisy menggelengkan kepala kuat-kuat. “Kenapa ini pedas sekali? Huh hah!” Spaso mengipas-ngipas mulutnya, wajahnya memerah kepedasan. “Bukankah tadi Tuan setuju saat saya tawari mau menambahkan sepuluh cabe?” Melototlah bola mata Spaso. “Sepuluh cabe? Sepuluh?!” beonya penuh penekanan di akhir kalimat. Dengan polosnya Daisy mengangguk. “Tuan tidak menjawab pertanyaan saya, jadi saya anggap Tuan memang setuju hehe. Maaf, Tuan!” Daisy menunduk menampilkan muka bersalah. “Suruh siapa Tuan diam kayak orang bisu!” desis Daisy pelan, diam-diam menertawakan majikannya yang rupanya tidak suka makanan pedas. “Dasar lemah!” “Kau mengejek saya?!” ketus Spaso, rupanya ia mendengar desisan Daisy. Tamatlah riwayatmu, Daisy! Daisy menggeleng tidak mengakui. “Saya akan buktikan kalau saya bisa makan pedas. Saya akan habiskan semua ini!” Dengan semangat karena butuh validasi, Spaso melahap dan melahap mie nyemek pedas itu. Daisy terkekeh dalam hati, melihat wajah majikannya memerah sempurna. Sepertinya dia berusaha sangat keras untuk menghabiskan makanan buatannya. Setelah piring itu kosong, Spaso membantingnya tepat di depan Daisy. Seolah memberitahu bahwa Spaso bisa membuktikan bahwa dirinya bukan pria lemah yang tidak bisa makan makanan pedas Daisy mengangguk-angguk seraya menunjukkan dua jempolnya. “Tuan memang top!” Spaso menyilangkan tangan di depan d**a, ekspresi wajahnya sangat menyombongkan diri. Lalu tiba-tiba ponsel di dalam saku Spaso berdering. Pria dengan rambut basah yang kini mulai mengering itu cepat-cepat mengangkatnya. “Baik, Ayah,” ucapnya setelah mendengar perintah dari seseorang di balik telepon. Spaso bangkit dari kursi, dia tampak terburu-buru. “Jangan lupa kunci pintu dan semua jendela. Saya ada urusan sebentar,” pesannya kepada Daisy lalu berjalan pergi. “Tuan mau ke mana?” sahut Daisy seraya beranjak dari kursinya. Spaso menoleh ke belakang beberapa detik. “Pergi memancing,” jawabnya singkat lalu meneruskan langkah, meninggalkan rumah. “Tengah malam begini pergi memancing?” desis Daisy merasa ada yang janggal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN