[“Memancing tengah malam?”] pekik Diego dari seberang telepon.
Daisy menjawab. “Iya, Bang. Aneh gak sih? Dia memang sering keluar malam-malam, terus sering pake pakaian yang warnanya gelap gitu. Daisy rasa ada yang aneh dari dia.”
[“Awasi dia. Abang curiga dia punya rahasia besar.”]
“Iya, Bang.”
Obrolan via telepon itu pun berhenti. Daisy menurunkan benda pipih yang semula dia tempelkan di telinga, lalu memutar-mutarnya sambil berpikir apa yang telah Spaso lakukan di malam-malam pekat seperti sekarang.
Sementara itu..
Sebuah mobil dengan plat palsu berhenti di dekat dermaga. Tiga orang turun dari mobil, memakai kacamata dan topi hitamnya.
Wallian menatap dua pria di samping kanan dan kirinya secara bergantian. “Sebagai king of mafia, kalian harus memahami alur bisnis kita dengan baik. Mulai dari mencari mitra yang sesuai, memilih bahan bagus untuk membuat produk premium, menentukan ekspedisi pengantaran bahan, mendistribusikan, dan mencari pelanggan. Bagian mana yang sudah kalian pahami?”
Spaso menjawab, “Pendistribusian barang.”
“Mencari pelanggan,” sahut Paolo tidak mau ketinggalan.
Kemudian Spaso dan Paolo saling bertatapan dengan ekspresi datar mengandung ambisi masing-masing. Sebenarnya detik ini Spaso bisa melaporkan kelicikan Paolo tentang lukisan tadi. Namun, Spaso memilih untuk bungkam daripada Daisy harus kembali menjadi jaminan.
Wallian membenarkan. “Sebagai penerus Ayah, kalian juga harus pintar dalam memilih barang dan mengurus alur lainnya.” Pria dengan beberapa kerutan di wajah menunjuk kapal di pinggir dermaga.
“Pasokan barang kita sudah mendarat dari Jepang. Ayah akan tunjukkan mana bahan serbuk yang bagus dan yang tidak.” Wallian kemudian berjalan menuju kapal, Spaso dan Paolo mengikuti langkah sang ayah seperti anak bebek.
“Tunggu di sini.” Dengan gerakan tangannya, Wallian meminta kedua putranya untuk berhenti. Lalu Wallian berjalan menghampiri seorang pria tua dengan jambang panjang penuh uban.
Entah apa yang dibicarakan Wallian kepada pria tua itu, Spaso dan Paolo kemudian melihat pria tua itu menyerahkan dua tas berukuran lumayan sedang kepada Wallian.
“Bawa ini dan ayo kembali ke mobil,” titah Wallian setelah kembali menghampiri dua putranya.
Spaso dan Paolo membawa masing-masing satu tas, lalu mengikuti sang ayah yang berjalan menuju mobil.
Ketiganya pun kini telah masuk dalam mobil. Di kursi belakang ketiganya duduk berjejeran, Wallian di tengah.
“Buka tas itu,” perintah Wallian.
Spaso dan Paolo langsung membuka tas masing-masing.
“Coba kalian tebak mana bahan yang berkualitas paling bagus?” kata Wallian seperti guru yang tengah memberikan kuis kepada muridnya.
Mata Paolo dan Spaso menatap kedua tas berisi bahan serbuk bergantian, mereka tengah membandingkan untuk menjawab pertanyaan dari ayahnya.
“Bisa berikan jawaban sekarang?” tagih Wallian merasa waktu untuk memikirkan jawaban telah habis.
Spaso dan Paolo kemudian menunjuk tas yang dibawa oleh Paolo.
Wallian tertawa mendengar jawaban dari kedua putranya.
Itu artinya jawaban Spaso dan Paolo salah?
Pria yang sebentar lagi genap berusia 70 itu kemudian mengambil sejumput dari dua tas pada masing-masing tangan putranya. “Coba lihat baik-baik! Cari perbedaan dari dua macam serbuk ini.”
Spaso dan Paolo menajamkan pandangan, mencari perbedaan. Mereka berpikir keras karena dua serbuk itu sama-sama berwarna putih.
Wallian menghela napas berat. “Rupanya kalian masih belum menemukan jawabannya. Coba lihat serbuk yang ada di tangan kanan Ayah. Lebih mengkilap, bukan?”
Setelah mengamati lekat-lekat Spaso dan Paolo mengangguk.
“Itu artinya serbuk ini jauh lebih bagus kualitasnya. Kalian harus memilih serbuk seperti ini untuk menghasilkan paradise crystal yang sempurna.”
Spaso dan Paolo mengangguk-angguk lagi.
“Baiklah, Ayah akan memberikan kalian tugas. Kalian harus cari bahan serbuk kualitas tinggi entah bagaimanapun caranya. Barang siapa yang berhasil mendapatkan serbuk paling bagus akan mendapatkan tambahan satu bintang.” Wallian menatap Paolo. “Kau sudah mendapatkan berapa bintang, Paolo?”
“Lima, Ayah.”
“Kau, Spaso?” Mata Wallian mengedar ke putra keduanya.
“Empat, Ayah.”
“Kalian masih ingat berapa bintang lagi yang pantas untuk mendapatkan gelar the next king of mafia?”
“SEPULUH, AYAH,” jawab Paolo dan Spaso serempak.
Wallian membenarkan. “Barang siapa yang lebih cepat mendapatkan sepuluh bintang, dia yang akan menjadi penerus ayah sebagai raja mafia.”
***
Pukul 03.00 dini hari.
Spaso baru sampai di rumahnya. Saat Spaso baru hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu sudah dibuka, lalu muncullah Daisy yang membawa sapu.
Rupanya Daisy sudah siap sedia membuka pintu setelah mendengar desu mobil Spaso memasuki halaman rumah.
“Tuan...” sambut Daisy dengan senyuman hangat. Lalu matanya memeriksa kedua tangan Spaso.
Kosong.
Senyuman hangat Daisy seketika sirna. “Mana ikannya, Tuan. Bukankah Tuan pulang dari memancing?”
Spaso mengikuti arah pandang Daisy. Melihat tangannya tidak membawa apa-apa tentu membuat Daisy akan bertanya-tanya. “Umpan saya tidak ada yang disambar ikan,” alibi Spaso.
“Memangnya Tuan memancing di mana sampai-sampai tidak mendapatkan ikan sama sekali?”
“Di laut,” jawab Spaso malas, berjalan melewati Daisy dengan wajah seperti biasanya…dingin dan datar.
Dengan membawa sapu, gadis yang memakai scarf di kepalanya itu, mengejar Spaso, menyejajarkan langkah, masih penasaran. “Lah, bukannya laut tempatnya ikan, Tuan. Seharusnya Tuan mendapatkan ikan meski cuma seekor. Atau jangan-jangan Tuan yang tidak pandai memancing.” Di akhir kalimatnya Daisy tersenyum mengejek.
“Bisa tidak kau jangan banyak bicara? Badan saya capek, saya mau istirahat. Lagi pula hari masih gelap kenapa kau sudah bersih-bersih?” ucapnya menghentikan langkah, menatap kesal asisten rumahnya.
Ditatap seperti itu membuat Daisy menciut lantas menunduk takut. “Setiap hari saya memang bangun dini hari untuk membersihkan rumah, Tuan,” lirihnya.
“Maka cepat lanjutkan pekerjaanmu dan jangan mencampuri urusan saya. Ingatlah kalau kau hanya asisten rumah di sini, jangan bertindak di luar batas!” Usai mengatakan itu, Spaso pun menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada.
“Baik, Tuan,” desis Daisy lemah lalu melanjutkan kegiatannya menyapu lantai dengan sedih.
Padahal aku hanya bertanya, kenapa dia sensitif sekali? Daisy memanyunkan bibir kecewa.
***
Spaso membuka mata tatkala alarm-nya berbunyi, menunjukkan pukul tujuh pagi. Spaso duduk seraya mengangkat tangan, menggeliat. Tidur selama empat jam mampu membuat badannya lumayan bugar.
Spaso bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya, bersiap-siap bekerja, lalu setelah rapi dengan setelan jas, Spaso menuju dapur.
Bola mata Spaso bergerak ke kanan dan kiri, mengabsen seisi ruang dapur mencari gadis dengan gaun vintage dan celemek yang selalu bersikap hangat kepadanya.
Tidak ada.
Spaso hanya melihat ada tudung saji yang teronggok di meja. Spaso membuka tudung saji itu, keningnya berkerut saat menemukan sesuatu.
Rupanya di dekat piring ada secarik kertas yang menarik perhatian Spaso. Pria dengan rambut belah pinggir itu membaca beberapa kalimat yang tertulis di sana
Sarapannya ada di meja, Tuan.
Maaf, saya mengatakannya lewat tulisan, soalnya kata Tuan saya tidak boleh banyak bicara.
Membaca kertas itu, Spaso terkekeh pelan. “Dia marahku padaku? Dia seperti anak kecil!”
Spaso pun lekas menyarap, melahap makanan hingga tandas. Setelah selesai, Spaso menuju halaman belakang, yakin pasti Daisy ada di sana.
Dan rupanya benar. Gadis dengan rambut lebat yang dikuncir pita merah itu tengah menyirami bunga dengan alat gembor.
Begitu menyadari Spaso datang, Daisy hanya membungkuk hormat sepersekian detik lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dia tidak mau berbicara kepadaku? batin Spaso.
“Cepat ganti bajumu. Kita akan pergi ke suatu tempat,” tutur Spaso.
Daisy mengendikkan mata, isyarat bertanya kepada Spaso bahwa dia akan diajak ke mana.
“Apa kau sariawan?”
Daisy menggeleng.
“Kenapa tidak mau berbicara?”
Daisy menggeleng, ingat perkataan Spaso dini hari tadi. Spaso meminta Daisy tidak banyak bicara, bukan?
“Cepat ganti bajumu, atau kau akan saya beri hukuman!” ancam Spaso.
Cepat-cepat Daisy meletakkan alat penyiram tanaman lalu nyelonong pergi begitu saja.
Sikap Daisy membuat Spaso menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir.
Sepersekian detik kemudian, Daisy muncul dengan baju berbeda dan membawa tas selempang mungil.
“Kau sudah siap?”
Daisy menganggukkan kepala.
***
“Apa Spaso sudah menemukan pemasok bahan?” tanya Paolo yang kini tengah duduk berhadapan dengan seorang pria di sebuah kafe.
“Dia belum menentukan pilihan, tapi sudah menghubungi beberapa pemasok. Sepertinya besok malam dia akan memberikan keputusannya,” cakap mata-mata Paolo.
“Kau sudah mencari info pemasok mana saja yang dia hubungi?” Paolo menagih informasi.
Pria itu langsung menyerahkan amplop coklat berisi informasi yang diminta oleh Paolo.
Paolo meraih amplop, mengecek isinya, lalu meringis licik. “Bagus. Awasi terus Spaso. Kau harus memata-matainya di mana pun.”
Siapa mata-mata itu? Jangan-jangan salah satu orang terdekat Spaso adalah pengkhianat?