Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Spaso akhirnya membelokkan mobil memasuki area mall.
“Cepat turun!” seru Spaso saat mobilnya telah terparkir di basement mall dengan baik.
Daisy mengangguk lalu lekas turun. Daisy berjalan mengekori Spaso, padahal biasanya ia menyejajarkan langkah dengan majikannya. Karena perkataan Spaso yang kasar dini hari tadi membuat Daisy terus tutup mulut.
Daisy ikut berbelok arah saat Spaso memasuki toko pakaian wanita dengan brand yang cukup ternama. Daisy menyipitkan mata, kenapa Spaso harus masuk ke toko baju wanita, seharusnya jika ingin membeli baju, Spaso masuk ke toko pakaian pria.
Mungkin dia ingin membeli baju untuk seorang wanita, pikir Daisy kemudian.
Daisy membuntuti Spaso yang tengah memilih-milih baju di rak deretan gaun. Spaso terlihat cukup selektif.
Daisy membelalak kaget ketika Spaso menempelkan gaun yang dia pilih ke tubuh Daisy seperti tengah mengukur.
Apa wanita Spaso memiliki ukuran tubuh seperti Daisy?
Setelah merasa pakaian itu cocok di tubuh Daisy, tanpa aba-aba Spaso melempar baju itu begitu saja ke arah Daisy.
Daisy hanya bisa mendengus sambil menyingkirkan baju dari wajahnya, lalu menjinjingnya dengan tidak ikhlas.
Apa dia balas dendam karena semalam aku bikinkan mie nyemek pedas? pikir Daisy.
Daisy kembali mengekori Spaso yang kembali memilah-milah baju, menempelkannya di tubuh Daisy lalu melemparnya kepada Daisy untuk kesekian kalinya.
Daisy merasa ingin berteriak ketika Spaso terus melemparkan baju demi baju kepada Daisy, membuatnya kewalahan membawa baju yang super banyak. Hingga pada saatnya, langkah Spaso berhenti di depan kasir.
“Tolong bungkuskan semua ini,” kata Spaso menatap kasir, lalu tatapannya beralih kepada Daisy. Dengan isyarat mata Spaso meminta Daisy memberikan baju-baju itu kepada kasir agar ditotal dan dibungkus.
Usai membayar, Spaso pun meninggalkan Daisy dengan beberapa paper bagi begitu saja.
“Aku juga yang harus membawa semua ini?” gerutu Daisy yang dua tangannya kini penuh dengan paper bag. Tertatih-tatih Daisy mengejar langkah Spaso yang super cepat.
Spaso menoleh ke belakang, tertawa kecil melihat Daisy yang menahan emosi. “Dia kalau marah ternyata lucu juga,” komentarnya lalu memperlambat langkah agar mampu dikejar oleh asisten rumahnya.
“Semua itu untukmu,” ungkap Spaso saat Daisy telah berjalan di sampingnya.
Jadi semua baju itu bukan untuk wanita Spaso? Semua itu benar-benar untuk Daisy?
Sontak Daisy menghentikan langkah, kekesalan di wajahnya seketika sirna, berganti dengan mata mendung. “Semua ini beneran untuk saya, Tuan?” ceplosnya yang kali ini mau berbicara, tidak diam seperti orang bisu seperti tadi.
Spaso mengangguk. “Saya lihat bajumu itu-itu saja. Saya baru ingat kalau kau tidak membawa apa-apa saat mulai tinggal di rumah saya.”
Kini air mata Daisy jatuh dan dia lekas menyekanya dengan tangan. “Benar, Tuan. Bahkan, baju yang saya pakai ini saya beli di pasar loak hiks…hiks.”
Daisy menangis haru.
Melihat Daisy menangis, bukannya kasihan, Spaso justru melayangkan tatatapan tajam. "Kau mau semua orang mengira saya yang membuatmu menangis?”
Daisy menggeleng sambil menyedot ingus. “Terima kasih, Tuan,” ucapnya dengan senyum manis.
“Kau tidak marah lagi dengan saya?”
Daisy menggelengkan kepala.
“Kalau begitu ayo kita cari makan di mall sini saja.” ucap Spaso sambil meneruskan langkah.
Dan Daisy mengikutinya. “Bagaimana kalau kita makan di warung saja, Tuan?”
“Makan di warung?”
Daisy mengiyakan. “Kenapa? Tuan gak pernah makan di warung? Secara Tuan kan orang kaya hehe." Disogok baju, kemarahan Daisy hilang, berganti sikap Daisy yang periang. Daisy yakin konglomerat seperti Spaso tidak mungkin mau menginjakkan kaki di tepat makan orang-orang menengah ke bawah.
“Ayo ke warung langganan saya.”
Daisy tergugu. Ternyata seorang konglomerat juga sering makan di warung?
“Ayo, tunggu apa lagi?” seloroh Spaso karena Daisy tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.
Daisy berkedip cepat, lantas segera berjalan menyusul majikannya. “Tunggu, Tuan!”
Beberapa menit perjalanan, akhirnya Spaso menghentikan mobil di dekat mulut sebuah gang kecil.
“Kenapa berhenti di sini, Tuan?” Heran gadis dengan rambut berpita itu.
“Mobil tidak bisa masuk di gang ini, jadi saya parkir di sini saja,” jelas Spaso lalu beranjak turun.
Daisy manggut-manggut paham. Ia pun menyusul turun. Keduanya kini berjalan beriringan memasuki gang sempit menuju warung yang ada di ujung jalan.
Lalu sampailah Spaso dan Daisy di sebuah warung soto.
“Ayo duduk di sana.” Spaso mengajak Daisy duduk di kursi yang dekat dengan televisi.
Setelah soto yang dipesan datang, keduanya pun lekas larut dalam asyiknya makan.
Daisy memandang majikannya dalam. “Tuan, benar-benar orang kaya, kan?” bisiknya agar tidak terdengar oleh pengunjung warung lainnya.
“Memangnya kenapa?” balas Spaso datar, tanpa menatap wajah Daisy, karena kini dirinya tengah sibuk makan.
Tangan Daisy kembali membentuk corong untuk berbisik. “Setahu saya orang kaya alergi tempat kumuh seperti ini. Atau sebenarnya Tuan selama ini pura-pura kaya?” tebak Daisy, jangan lupakan ekspresinya yang polos dan tidak tahu diri.
“Cepatlah makan atau kau yang saya makan!” kecam Spaso mulai jengah.
“Ba-baik, Tuan,” ceplos Daisy takut, lalu kembali melanjutkan makan, berhenti merecoki Spaso.
Televisi yang mulanya menampilkan film, kini beralih kepada siaran terkini.
---Pemirsa, kota B semakin memprihatinkan karena diduga semakin banyak pemuda yang terjerat kasus nark0ba. Setelah tujuh belas pemuda diamankan polisi, kini ditemukan lima yang juga terindikasi sebagai pemakai nark0ba. Polisi masih menyelidiki para pengedar, dan di mana distribusi nark0ba dijalankan.
Mari berharap semoga polisi lekas memutus rantai peredaran nark0ba agar tidak semakin banyak orang yang mengonsumsi obat terlarang yang bisa menghancurkan generasi bangsa---
Daisy menggeleng menyaksikan berita itu, lalu menatap Spaso. “Para pengedar nark0ba itu enaknya diapain ya, Tuan? Kalau saya kenal orangnya pasti sudah saya bejek-bejek. Ishh!” Tangan Daisy mengepal seperti tengah membejek-bejek sesuatu.
Uhukkk-uhukkk
Spaso tersedak makanan melihat ekspresi Daisy. Lalu cepat-cepat Spaso menenggak habis minumannya.
“Hati-hati makannya, Tuan.”
Spaso mengangguk kikuk. Daisy tidak menyadari jika pria yang tengah berada di depannya adalah salah satu pengedar nark0ba, komplotan yang merusak generasi penerus negeri.
***
Markas ABW.
Markas ABW adalah tempat perkumpulan anak buah William, termasuk di dalamnya adalah anak buah Spaso dan Paolo. Para anak buah telah berada di sana untuk menyaksikan penilaian bahan serbuk yang yang didapatkan Spaso dan Paolo.
“Tunjukkan hasil kerja kalian,” perintah Wallian sebagai juri yang kini tengah duduk di sebuah kursi kebanggaan selayaknya seorang raja. Bukan selayaknya lagi karena Wallian benar-benar seorang raja, Raja Mafia.
Baik Spaso maupun Paolo mengode kepada anak buah mereka untuk meletakkan sebuah tas berisi bahan serbuk di hadapan Wallian, di atas meja.
Anak buah dari masing-masing kubu itu membuka tas, mempersilakan Wallian untuk menilainya.
Wallian menatap Spaso dan Paolo secara bergantian sebelum akhirnya memeriksa isi masing-masing tas.
Diam-diam Paolo melirik mata-matanya yang berada di kubu Spaso dengan senyum licik. Sepertinya ada yang tidak beres dari tingkah laku Paolo.
Wallian menjumput serbuk dalam tas Paolo, lalu menatap putra sulungnya. “Kau mendapat barang ini dari mana, Paolo?”.
“Mr. Choi, Korea, Ayah.”
Wallian manggut-manggut, “Kau cukup pintar memilih bahan,” puji Wallian membuat Paolo merasa di atas angin. Anak buah Paolo pun ikut menyombongkan diri, menatap rendah anak buah Spaso.
Lalu Wallian beralih untuk menjemput serbuk dalam tas Spaso. Wallian tampak mengamati lekat-lekat serbuk itu, lalu mengedarkan mata untuk menatap putra bungsunya. “Kau dapat dari mana, Spaso?”
“Toshiro, Jepang, Ayah,” jawab Spaso.
Mata Wallian kemudian menyipit, memeriksa serbuk Spaso sekali lagi. “Kau mau membohongi Ayah?” Wallian tidak percaya.
“Spaso betul-betul memesan dari Toshiro, Ayah.”
“Tidak mungkin. Ayah sudah lama menjadi langganan tetap Toshiro. Produk Toshiro tidak mungkin buruk seperti ini. Atau kau hanya mengaku-ngaku saja, padahal aslinya kau malas mencari bahan serbuk yang bagus?”
Spaso tidak mengiyakan tuduhan Wallian. “Spaso tidak berbohong, Ayah. Spaso sendiri yang mengambilnya dari kapal. Spaso juga memastikan bahwa serbuk itu berkilau yang menandakan berkualitas tinggi.”
“Jadi kau menganggap Ayah menuduhmu? Jika kau tidak percaya, coba lihat sendiri. Kau bisa bandingkan serbuk milkmu dan serbuk milik kakakmu.”
Merasa penasaran Spaso pun melangkah maju, membandingkan serbuk dalam dua tas itu. Spaso yakin jika bahan serbuk pilihannya itu benar-benar bagus.
Setelah membandingkan, Spaso tergugu karena serbuk miliknya tidak ada kilau sama sekali, sedangkan serbuk milik Paolo berkilau cerah.
Paolo mengulas senyum kemenangan, dia berhasil menyabotase hasil kerja Spaso.
“Apa kau masih menganggap Ayah menuduhmu?” Wallian buka suara.
Spaso terdiam.
Beberapa saat kemudian, Wallian kemudian mengumumkan hasil penilaian. Wallian memutuskan bahwa akan memberikan bintang kepada Paolo karena mendapatkan penilaian lebih tinggi. Sehingga akumulasi bintang Paolo kini bertambah satu menjadi enam, sedangkan bintang Spaso masih tetap di angka empat.
Anak buah Paolo sontak bertepuk tangan, membanggakan diri sekaligus tengah mengejek anak buah Spaso.
Wallian kemudian menutup acara penilaian lalu pergi.
Paolo menghampiri Spaso. “Kau tidak akan bisa bertarung denganku, Spaso,” ujarnya.
Spaso tersenyum masam, mengabaikan Paolo, pergi begitu saja. “Rupanya ada pengkhianat di antara anak buahku.”
Spaso kemudian mengoordinir anak buahnya. “Semua berkumpul di Markas Rajawali. Siapa pun, tanpa terkecuali. Ada hal yang harus kita lakukan,” seru Spaso yang langsung diangguki anak buahnya secara serempak.