Bab 12. Jadi Selama Ini...

1163 Kata
Para anak buah yang terdiri hampir lima puluh orang itu beralih dari markas ABW menuju Markas Rajawali. Markas Rajawali adalah markas khusus untuk anak buah Spaso. Di markas miliknya, Spaso meminta perhatian kepada para anak buah untuk mendengarkan sesuatu yang ingin dia bicarakan. “Apa kalian tahu jika baru saja kita mendapatkan penilaian buruk dari Ayah?” Spaso membuka suara. Semua mafia memanggil Wallian memang dengan sebutan ayah. Mereka semua menganggap Wallian sudah seperti ayah mereka sendiri. “TAHU, BOS!” jawab mereka serempak. “Apa kalian percaya kalau bahan serbuk kita berkualitas buruk?” Bungkam. Para anak buah saling berbisik, beberapa dari mereka ada yang tidak tahu menahu terkait bahan serbuk karena sibuk dengan tugas masing-masing. Salah seorang anak buah angkat bicara. “Bos, apa maksud Bos ada yang mencurangi bahan serbuk milik kita?” “Padahal aku sendiri yang mengambilnya di kapal. Tidak mungkin pihak pemasok yang curang,” kata Spaso. Seseorang menyahut. “Itu artinya ada pengkhianat di antara kita?” ceplosnya. Spaso mengangguk. “Benar. Itu memang inti dari pertemuan kita kali ini. Aku yakin di antara kalian, pasti ada yang sudah jadi mata-mata Paolo. Siapa pun itu, angkat tangan. Aku akan mengampuni kesalahan kalian untuk hari ini, tapi jika kalian tidak mengakuinya, jangan salahkan ketika aku akan menggunakan cara durjana.” Semua pasukan diam seribu bahasa. Mereka hanya saling melirik, mengawasi siapa pun yang akan mengangkat tangan mengakui diri bahwa dialah pengkhianat yang membuat Spaso kehilangan bintang. Frans yang berdiri di samping Spaso berbisik, “Tidak ada yang mau mengaku, Bos.” Spaso mengu lum senyum masam. “Apa betul-betul tidak ada yang mengaku?” Hening. Semua menunduk. Spaso kecewa. “Apa upah yang kuberi itu kurang sehingga kalian mau jadi jongos Paolo?” Semuanya menggeleng. Pasti ada satu di antaranya yang menggeleng palsu. “Baiklah, jika memang tidak ada yang mengaku. Aku akan cari tahu sendiri siapa b*****h menjijikkan itu. Begitu tertangkap, aku akan melesakkan peluru tepat di ulung hatinya. Sekarang kalian semua boleh bubar!” Para anak buah Spaso pun bubar seketika, kembali kepada tugas masing. Spaso membagi tugas kepada anak buahnya dengan adil. Ada yang ditugaskan untuk mengurus kelab malam, bar, restoran, warung, kafe, kantor real estate, dan lain-lain. Spaso menggaji mereka secara adil sesuai tugas yang mereka lakukan. Sebagian besar anak buah Spaso berasal dari gelandangan, anak jalanan, atau geng motor pengangguran. Spaso merekrutnya untuk memberikan mereka pekerjaan meski jenis pekerjaan gelap. Syarat untuk menjadi anak buah Spaso ada dua: satu memiliki loyalitas tinggi untuk tim, dua jago baku hantam. Sepertinya, salah satu anak buah Spaso yang berkhianat telah melanggar syarat menjadi anak buah Spaso. Spaso akan menyelidikinya lalu mengadilinya dengan seadil-adilnya. “Menurutmu siapa pengkhianat itu?” tanya Spaso seraya menatap Frans yang tengah fokus menyetir di kursi kemudi. Frans menatap Spaso sepersekian detik, lalu pandangannya kembali fokus ke jalan yang gelap. “Seseorang yang mungkin jarang terlihat. Paolo memanfaatkan orang sejenis itu untuk menjadi mata-mata di markas kita.” “Kau tahu siapa orangnya?” Spaso bertanya lagi. “Saya akan menyelidikinya. Ada beberapa nama yang saya kantongi.” “Baiklah, kalau kau sudah tahu siapa orang itu. Kau masih ingat tradisi di markas kita untuk kasus seperti ini, bukan?” Frans menjawab dengan mantap. “Karena dia berkhianat kepada tim, maka tim yang akan menghukumnya.” Spaso mengangguk-angguk, menyandarkan punggung, sepertinya ingin tidur. “Bos?” “Hm?” respons singkat Spaso yang kini mulai memejamkan matanya. “Apa Bos tahu foto pria yang dipajang Ayah?” Spaso sontak membuka matanya, tidak jadi tidur. Spaso berdehem, sepersekian detik menatap keluar jendela, lalu menatap Frans sedikit gugup. “Ehm, maksudmu pria berkumis yang foto dengan Ayah?” Frans mengangguk. “Dia sepertinya teman baik Ayah. Tapi kenapa saya tidak pernah melihatnya? Atau jangan-jangan dia sudah mati?” “Dia memang orang kepercayaan Ayah, tapi setelah itu dia menjadi pengkhianat,” jelas Spaso kemudian berdehem lagi, seperti ada yang dia sembunyikan dari Frans. “Apa dia juga diadili satu tim?” Frans tampak sangat penasaran. “Dia mati di tangan orang yang sangat percaya kepadanya.” Spaso menatap Frans dalam. “Ayah yang sudah membu nuhnya.” Frans menelan salivanya kasar, berkedip cepat lalu fokus menatap jalan. Kenapa tiba-tiba Frans bertanya demikian? *** Tok tok tok Spaso mengetuk pintu berharap Daisy lekas membukakannya karena di luar udara sangat dingin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tok tok tok Spaso terpaksa mengulangi mengetuk pintu, mulai kesal karena Daisy tidak kunjung membuka pintu. “Di mana dia, huh!” Spaso mencoba memutar kenop pintu, saat pintu itu berhasil terbuka, Spaso tambah kesal. “Dia lupa dengan pesanku untuk selalu mengunci pintu?!” Pria dengan jaket kulit berwarna coklat dan topi berwarna hitam itu lekas masuk rumahnya. Mengumpulkan tenaga untuk mengomeli Daisy karena kecerobohan gadis itu. Bagaimana kalau tiba-tiba Paolo atau anak buahnya kembali menculiknya? Spaso yang sudah bersungut-sungut tiba-tiba menghentikan langkah ketika mendengar suara tangis dari kamar asisten rumahnya. Ketegangan di wajah Spaso yang berencana marah itu berangsur mereda. Kedua tangannya yang mengepal pun mulai mengendur. “Dia menangis?” Spaso bergegas menuju kamar Daisy, mengetuk pintu sebelumnya. Namun, pintu tidak kunjung dibuka, sementara suara tangis belum juga mereda. Terbesit kehawatiran dalam benak Spaso, takut terjadi sesuatu terhadap gadis yang dia sandra bagai bud4k itu. Ceklekkk Spaso yang cemas akhirnya nyelonong masuk begitu saja. “T-Tuan?” pekik Daisy terkejut, cepat-cepat membersihkan air mata dengan tangan. Tidak lupa dia menghirup ingusnya agar kembali masuk ke dalam. Spaso melihat asistennya itu tengah duduk di lantai menyandarkan punggung di kaki ranjang. Gadis itu tengah memeluk sebuah kertas. “Kenapa menangis?” tanya Spaso seraya mendekat. Daisy menggeleng. Karena Daisy tidak mau jujur, akhirnya Spaso merebut kertas yang dia bawa. Kertas itu rupanya adalah sebuah foto Daisy saat masih kecil dengan seorang pria yang bagian wajahnya telah pudar karena mungkin terkena air. Jadi, Spaso tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. “Siapa dia? Daisy masih berusaha menormalkan napasnya yang sesenggukan seraya menghirup ingusnya yang hampir keluar. “Itu foto saya dengan Bapak saya.” “Kau merindukannya?” Daisy mengangguk. “Tapi saya tidak akan pernah bertemu Bapak lagi.” “Memangnya dia ke mana?” “Mati. Orang jahat sudah membu nuhnya,” jawab Daisy dengan kesal. Dari cara bicara Daisy, Spaso bisa merasakan jika gadis itu menyimpan dendam dalam hatinya. “Orang jahat?” beo Spaso. Daisy menatap Spaso intens. “Mafia.” Tatapan tajam Daisy serasa menembus ulung hati Spaso. Spaso menjadi gugup. Seperti biasa, ia berdehem untuk menyingkirkan kegugupan itu. Spaso mengamati lagi foto di tangannya, sayangnya foto Bapak Daisy tidak jelas. Tapi tunggu, dari kertas foto yang lecek itu, Spaso melihat ada tahi lalat di dagu pria yang berfoto dengan Daisy. Spaso kemudian berusaha mengingat pria yang berfoto bersama ayahnya. Lalu batin Spaso bermonolog: Jangan-jangan Bapak gadis ini adalah teman Ayah? Kalau itu benar, artinya mafia yang dimaksud membunuh Bapak gadis ini adalah keluargaku? Dan bagaimana reaksi gadis ini jika tahu keluargaku adalah pembunuh bapaknya? Apakah dia akan balas dendam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN