bc

Rahasia Bos Tampan

book_age16+
665
IKUTI
2.9K
BACA
HE
friends to lovers
heir/heiress
drama
bxg
loser
detective
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana jika seorang pria mencintai seorang gadis anak dari ibu yang sudah dibuat meninggal olehnya?

Aldrick Halbert yang awalnya hanya ingin menyelesaikan misinya saja, melindungi Hallen jika ada bahaya. Seiring berjalannya waktu pria itu menaruh hati sama Hallen, gadis yang didekatinya. Meskipun terus ditolak oleh Hallen, namun Aldrick tetap menunggu jawaban dari gadis sampai menerimanya. Banyak masalah yang menimpanya membuat Aldrick gelisah. Terutama masalalu yang meregut nyawa ibu Hallen dan juga ayah kandung Hallen yang selalu mengusiknya untuk membongkar rahasia yang harus dia jaga.

Lantas, bagaimana jika semuanya rahasia Aldrick akan terbongkar begitu saja di hadapan Hallen?

chap-preview
Pratinjau gratis
Suatu Kebetulan
Pria tersebut melajukan mobil dengan kecepatan maksimal karena terburu-buru supaya bisa cepat sampai ke lokasi yang akan dikunjunginya. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang akan menyebrang dizebra cros. Wajah pria itu nampak terlihat sangat panik, mobil susah untuk mengerem mendadak. "Astaga remnya blong!" Dengan rasa paniknya dia terus menginjak rem terus-menerus, bahkan stir yang digunakan tidak berfungsi. "Awas!" Pria itu sontak terbangun dari mimpi buruknya, napasnya terengah-engah. Matanya menatap kosong ke depan, dia langsung bangun dari tidurnya. "Astaga, aku mimpi itu lagi," gumamnya, lalu dia mengusap wajahnya kasar. Aldrick menghidupkan lampu tidur dan langsung mengambil gelas yang berisikan air putih di meja untuk diminum. Lagi-lagi dia dihantui dengan masalah itu. "Sepertinya aku harus mencari gadis itu." Pria itu langsung beranjak dari tempat tidur melangkahkan kakinya keluar dari apartemen dengan membawa kunci mobil sambil diputar-putar seperti komedi putar. Pyaar! Langkah pria itu terhenti seketika. "Siapa itu?" batinnya, dia menoleh ke belakang. Pandangannya diedarkan kemana-mana. Suaranya terdengar di salah satu lorong yang berada diapartemen sebelah, segera dia berjalan mendekati kearah sumber suara tersebut. "Meong!" Aldrick menghembuskan napasnya pelan, sekilas dia menatap vas bunga yang sudah pecah. "Tck! Aku kira siapa, ternyata kucing," desisnya. Dia langsung membawa kucing itu dari sana. "Ikut aku ya." Setelah menuruni lift sampai lantai bawah, dia langsung melepaskan kucingnya. "Cari indukmu, nanti aku akan kembali." Pria itu keluar dari gedung apartemen, lalu menelpon Peter untuk bertemu di tempat kediamannya. "Saya tunggu di rumah saya, jangan sampai ada yang tau. Mengerti?!" Tut! Dia langsung mematikan ponselnya, kemudian masuk ke dalam mobil dan dilajukan dengan cepat. *** "Cari anak dari Ibu ini, saya tidak mau tahu. Kau harus mencarinya sampai ketemu." Pria berkulit putih nan dingin itu memberikan satu kertas dan juga gambar gadis cantik di atas meja ke orang suruhannya yang bernama Peter. Ya, mereka kini berada di kediaman rumahnya dan hanya berdua disana. Peter mengkerutkan keningnya. Nyaris tidak mengerti apa yang akan dilakukan pada bosnya ini. "Anak? Buat apa?" Aldrick menoleh ke Peter dan memungutkan kepalanya. "Saya akan bertanggung jawab apa yang sudah aku lakukan pada orangtua gadis ini." "Dia mempunyai satu anak yang bernama Hallen. Saya memintamu mencari tempat tinggalnya dan data dari gadis itu secara lengkap," jelasnya. "Terus apa yang akan Bos lakukan setelah menemui anaknya itu?" tanya Peter dengan nada penasaran. Mata elang sang Aldrick menatap Peter tersebut dengan tajam. "Kau tidak perlu tahu, kau hanya perlu menyelidiki gadis kecil itu!" tegasnya. Peter menganggukkan kepalanya sekilas, rasanya takut kalau bertanya lagi dengan pria di hadapannya ini. "Baiklah, saya akan mencari tahu tentang gadis ini." Dia mengambil data dan gambar Hallen yang sudah tertata rapi. "Dan ini uangmu, jangan sampai kau tidak memberi info tentang Hallen." Pria itu memberikan amplop yang di dalamnya berisi uang kurang lebih 5 juta. "Saya akan menunggu info tentang Hallen. Kalau sudah bertemu tentang Hallen, aku akan menambah upahmu itu." Peter mengambilnya, kemudian beranjak dari tempat duduk. "Baiklah Bos, saya akan memberitahu jika ada info tentang Hallen. Kalau begitu saya permisi." Pria tersebut menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat dan berlalu di tempat tersebut. Aldrick menghembuskan napasnya pelan, dia menyandarkan kepala di sofa. Lalu memijat keningnya yang terasa sakit. *** Kini Aldrick berada di cafenya sendiri. Melihat karyawan yang sedang bekerja disana. Rasanya sangat senang sekaligus bangga melihat karyawan yang rajin dan juga merasa nyaman dengan cafe yang semakin lama semakin mewah. "Selamat pagi, Bos," sapa salah satu karyawan dengan nada sopan. Aldrick tersenyum simpul kepada karyawan tersebut. "Apa kau sudah menghandle cafenya dengan baik, Arthur??" "Sudah Bos, seperti yang Bos lihat. Semuanya terlihat baik-baik saja." Pria tersebut melihat ke sekitar cafenya. Mungkin banyak yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Tapi dirinya tidak mempermasalahkan semuanya. Yang paling penting cafenya baik-baik saja. Aldrick melihat cafenya itu dari sudut ke sudut, kepalanya di anggukkan pelan. "Bagus, kalau begitu silakan lanjutkan bekerja," kata Aldrick, kemudian melanjutkan jalannya untuk melihat ke dapurnya. Semua terlihat normal-normal saja seperti yang dilakukan layaknya pelayan yang berada di cafe. Tidak lama pria itu keluar dari cafenya untuk mencari suasana baru selain cafenya. Lalu dia menaikki mobil mewah yang berwarna hitam dan melajukan mobilnya pergi dari tempat sana. Di setiap perjalanan dia tidak bisa fokus karena dering ponsel di sakunya selalu mengganggunya. Pria itu melihat layar telepon yang tertera nama mantan kekasihnya disana. Dia berdecak pelan. Jujur saja dia sangat tidak suka dengan orang yang tidak penting selalu mengganggunya. "Kenapa lagi sih dia?" desisnya. Dia meriject langsung tanpa berpikir untuk mengangkatnya. Namun nihil, deringan itu kembali terdengar di telinga pria itu lagi. Aldrick berdecak kesal, melihat layar ponselnya itu ternyata nama itu masih sama. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengangkat telepon dari Tara. "Kenapa lagi sih hah!" bentaknya. 'Aldrick, bisakah kita bertemu?' Pria itu memejamkan matanya sekilas. "Tidak, aku sibuk," kata Aldrick dengan nada datarnya. 'Ayolah Aldrick, aku ingin bicara sama kamu!' "Kamu tuli ya? Aku sibuk! Tidak usah hubungi aku lagi, mengerti!" tegasnya, kemudian mematikan panggilan itu. Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang ingin menyebrang tanpa melihat kanan kiri, sehingga membuat mata pria itu membulat dan berteriak. Tin! Tin! "Awas!" Klakson tersebut sontak membuat gadis itu menoleh dan ikut berteriak. Dan untungnya mobil yang ditumpangi Aldrick segera berhenti. Napas pria itu tidak beraturan, dia menatap gadis di depan mobilnya yang terlihat berjongkok menutupi kepalanya dan ketakutan. "Untung saja," gumamnya. Segera dia mengambil air mineral di mobil dan menuruni mobilnya untuk mendekati gadis tersebut. "Kau tidak apa?" tanya Aldrick sembari memegang bahu gadis tersebut. Mata gadis itu terbuka, melihat ke sekitar, kemudian menatap pria yang berada di sebelahnya. Dia melihat ke dirinya sendiri, melihat apakah dirinya masih hidup. "A-aku masih hidup?" tanyanya pada dirinya sendiri dan mengecheck kondisinya saat ini, sesekali melirik ke Aldrick. "Menurutmu? Minum dulu." Aldrick menyodorkan minuman yang berada di tangannya tadi. Gadis itu masih bengong saking shocknya, menatap pria itu dan melihat minuman yang di tangan Aldrick dengan tangan bergetar. Dia menerima minuman pria itu dan meminum air mineralnya beberapa tegakan. Melihat gadis yang dihadapannya ini mengingat gambar foto yang diberikan oleh Peter tadi. Nyaris persis, atau memang dia gadis yang dicarinya? "Om?" Gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Aldrick. Membuat pria itu membuyarkan lamunannya. "Kamu tidak apa-apa kan?" Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya. Sedetik pula dia menyadari kalau dirinya tengah jalan dan hampir celaka gara-gara mobil itu. Matanya dipincingkan menatap pria yang berada dihadapannya ini. "Baik-baik gimana? Lihat? Saya hampir celaka tadi?!" omelnya, kemudian beranjak dari duduknya. "Ditanyain baik-baik juga," batin Aldrick. Pria itu menghela napasnya pelan, lalu menjajarkan tubuhnya dengan gadis kecil tersebut. "Masih sempatnya kamu marah dengan saya?" "Bagaimana tidak marah! Om hampir saja menabrakku tadi!" Aldrick terdiam sejenak, kalau diteruskan kemungkinan masalah ini tidak akan selesai. "Yasudah saya minta maaf." Hallen tidak meresponnya, dia melihat lututnya yang tergores aspal sembari mengkerucutkan bibirnya kesal. Aldrick melihat apa yang dilihat oleh gadis itu. "Biar saya obati, ikut saya." Dia menarik lembut tangan gadis kecil itu untuk mengikutinya dari belakang. "Apaansih! Aku masih bisa jalan!" "Kalau tidak cepat-cepat diobati nanti bisa infeksi." Hallen hanya pasrah, pintu mobil dibukakan untuk Hallen. "Duduk di kursi. Saya ambilkan kotak P3K di belakang." Tanpa menolak, Hallen duduk di sofa mobil menghadap keluar. Menunggu Aldrick kembali untuk membersihkan lukanya. Agak nyeri, meskipun cuma sedikit. Matanya melihat ke dalam mobil, ternyata pria yang barusan yang menabraknya adalah orang kaya. Tidak lama, pria itu kembali dan berjongkok di hadapan Hallen dengan membawa kotak obat. Kemudian dia membersihkan luka gadis itu perlahan supaya tidak terasa sakitnya. "Aws! Jangan ditekan!" Sudut mata pria itu melirik ke gadis tersebut. "Saya tidak menekannya, tahan sebentar." Dia menatap lekat wajah gadis itu, sekilas dia mengingat bahwa wajah gadis ini mirip dengan gambar tadi. Wajahnya seperti gambar yang tadi, ada dia gadis yang aku cari? Batin pria itu menatap lekat wajah gadis itu. "Namamu siapa?" tanya Aldrick disela-sela dia mengobati lutut Hallen. "Aku?" Gadis itu menunjuk ke dirinya sendiri. "Iya?" "Hallen Ros, kenapa tanya?" Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum kecil. “Cuma tanya saja,” kata Aldrick. Benar yang dia duga, Hallen Ros seseorang yang dicari-carinya. Pria itu ikut beranjak dan menjajarkan berdirinya dengan Hallen. Hallen mengangguk kecil. "Makasih ya Om." Gadis itu membungkukkan badanya sekilas dan tersenyum kecil "Seperti bunglon, sifatnya berubah-ubah," batin Aldrick. "Tidak masalah, lain kali hati-hati." Aldrick menepuk pundak Hallen dengan lembut. Hallen hanya mengangguk kecil. "Saya duluan Om," kata gadis itu sebelum pergi dari tempat tersebut. Aldrick hanya diam memandangi punggung gadis kecil itu. "Ah iya, kenapa aku tidak tanya tempat tinggal dia?" ringisnya, dia langsung menaiki mobilnya itu dan mengikut gadis tersebut dari belakang. Ternyata gadis itu masuk ke sebuah restoran yang terkenal. "Apa dia kerja disini?" gumam pria itu memandangi terus dari dalam mobil. Pria tersebut mengambil gambar gadis itu dari luar, lalu mengirimkannya ke Peter. Aku sudah bertemu dengan gadis itu, dia sekarang lagi di restoran. Cari tau lebih detail tentang dia.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook