Seorang pria masuk dengan santainya dan duduk di salah satu kursi di restoran elite tersebut. Tentunya membuat semua penghuni restoran merasa sangat terkejut akan adanya dirinya di tempat ini. Siapa lagi kalau bukan Aldrick.
"Sepertinya itu pemilik cafe sebelah," bisik salah satu orang yang berada disana.
"Iya, dia tampan sekali." Teman yang berada disebelahnya tidak kalah antusias saat melihat Aldrick disana.
"Selamat siang, Mas. Mau pesan apa?"
Suara lembut itu membuat Aldrick mendongakkan kepalanya ke atas. Dan ternyata gadis tadi yang sudah yang sudah ditolongnya bergerak cepat untuk mendekatinya.
"Hai?" sapa pria itu dengan senyuman manisnya.
"Astaga dia tersenyum sama karyawan itu!" satu lagi, tidak kalah antusias dari orang tadi.
Gadis itu membelalakkan matanya shock melihat pria yang sudah menabraknya itu. "K-kamu?" Dia menunjuk pria itu, sesekali melihat ke sekitar. "Bagaimana kamu tau?" gumamnya,
Pria itu hanya tersenyum pada gadis itu. "Suatu kebetulan bukan? Saya pesan americano ice."
Hallen meneggukkan ludahnya susah payah, dalam hatinya apa pria itu pria yang mengikutinya dari tadi seperti yang di novel-novel kemudian enculiknya. Astaga, Hallen harus berhati-hati dengan pria ini, umpatnya, sekilas ia memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya sekilas.
Segera dia mencatat apa yang pria itu inginkan. "Ada lagi?"
"Kamu," lanjut pria itu dengan nada santai.
Kening gadis cantik itu mengkerut, melihat ke kanan kiri memastikan tidak ada seseorang yang berada di belakang. "A--aku?"
Aldrick tersenyum puas melihat tingkah Hallen barusan. "Saya hanya bercanda, cuma itu saja. Jangan terlalu manis atau terlalu pahit."
"O--ouh, baik. Tunggu sebentar ya Om."
“Tunggu!”
Kaki gadis itu hampir saja ingin melangkah, namun langsung terhenti ketika pria itu memanggilnya lagi. “Ada apa lagi, Om?”
Sudut mata Aldrick melirik ke kaki Hallen. “Sudah sembuh?”
Hallen melihat apa yang dilihat oleh pria tersebut. Sekilas dia meringis kecil. “S-sudah Om. Terimakasih ya tadi,” katanya sambil menjejerkan gigi putihnya. “Saya buatkan minuman dulu ya Om, saya kasih gratis kok sebentar.”
Gadis itu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Aldrick tanpa basa-basi. Selang beberapa menit, minuman yang dipesannya sudah berada di meja Adlrick.
"Silakan diminum Om."
Sudut matanya melirik ke arah gadis tadi dan meraih gelasnya dan meminumnya.
"Racikanmu sendiri?" tanya Aldrick disela-sela tegukannya.
Hallen mengangguk kepalanya. "Iya Om siapa lagi?"
"Yasudah terimakasih."
Gadis itu hanya diam, kemudian berlalu dari sana. “Astaga, untung saja dia langsung meminumnya,” gumamnya. Dia melihat plaster yang sudah menempel di lututnya. Tanpa dia sadari dia tersenyum lebar dan engingat kejadian tadi.
Sedetik pula, Hallen langsung menyadarkan lamunannya itu dan menepuk pipinya sendiri. “Astaga Hallen! Sadar!”
Dilain sisi Aldrick masih menikmati racikan americano ice dari Hallen dan ternyata racikan gadis itu sangat enak. Dari beberapa kopi yang dia minum, ternyata kopi yang diminum sekarang adalah kopi yang paling dia suka.
Tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering dari kantongnya, sehingga menghentikan pandangan dari gadis yang sudah menghilang dari tempat itu.
“Peter,” gumamnya. Kenapa dia menelponya? Sedetik pula dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Peter?"
'Maaf mengganggu Bos, saya sudah mendapatkan data dari Hallen secara lengkap.'
"Cepat sekali, tapi kerja bagus. Habis ini saya ke apartemen, kamu kesana saja dulu. Paswordnya masih sama."
'Baik Bos, saya tunggu disana.'
Tut! Sambungan telepon langsung dimatikan. Sekilas dia menghembuskan napasnya pelan. Pria itu langsung beranjak dan membayar ke kasir sebelum pergi dari tempat itu.
Seperti yang dilihat oleh gadis itu ternyata pria yang kemarin sudah menghilang dari tempat itu. Sempat bergumam, dia merasa aneh dengan orang tersebut.
"Masa iya kebetulan? Atau dia mengikutiku?" gumamnya. Hallen menggelengkan kepalanya menepis pikiran anehnya. "No, kenapa dia mengikutiku. Atas dasar apa? Minta imbalan karena dia membantuku?" desisnya.
***
Ctak! Pria itu menghidupkan lampunya, sebelum melangkahkan kakinya di kursi depan Peter. Menatapnya dengan serius.
Peter menoleh ke sumber suara, dia langsung beranjak dan meletakkan beberapa berkas di meja. "Aku sudah ada data profil dari Hallen Ros , tentang pekerjaan diadan juga beberapa foto dari Hallen, terutama gambar darimu kemarin."
Aldrick menatap berkasnya, tanpa berpikir banyak ia membuka satu-persatu berkas untuk melihatnya. Senyumannya dinaikkan sebelah, senyum miris.
"Dia kerja di restoran, sudah tau kan Bos?"
"Saya belum tau tempat tinggalnya di mana. Kita harus mengikuti dia sampai rumahnya."
Petir menghembuskan napasnya pelan. "Saya sudah mencari datanya, di sana sepertinya ada alamat rumah dia. Bos bisa mencarinya. Saya pastikan data yang saya ambil sudah 95 persen lengkap."
Aldrick mengkerutkan keningnya, melirik Peter sekilas kemudian melihat data kembali. Yang benar saja, ternyata semua sudah tertulis di data itu. Sangat lengkap.
"Bagus, kalau begitu." Pria itu menutup beberapa berkasnya dan mengambil satu bungkus uang yang sudah rapi di dalam amplop. "Ini untukmu, gaji khusus buatmu."
Petir menatap amplopnya itu, tanpa berpikiran panjang dia lansung mengambilnya.
"Kau bisa pergi sekarang, kalau aku butuh bantuan aku akan meminta bantuan ke dirimu."
Senyuman Peter mengembang disana. "Dengan senang hati aku akan membantumu." Dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari mediaman Aldrick.
Aldrick menghembuskan napasnya, dia melihat-lihat berkasnya itu. Tidak jauh dari apartemennya. Dia pasti bisa bertemu dengan gadis itu.
Peter nampak tidak percaya, dia langsung membungkukkan kepalanya untuk berterimakasih dengan bosnya. "Terimakasih Bos, kalau begitu saya pergi dulu," pamitnya, kemudian pergi dari hadapan Aldrick.
Aldrick tersenyum tipis, ia melihat foto-foto yang terpampang di tangannya. Senyumannya mengembang begitu saja. "Dia sangat cantik, sepertinya aku tidak boleh melewatkan kecantikan gadis satu ini."
***
Sedangkan dilain sisi Hallen nampak merasakan gelisah. Ada orang yang selalu mengikutinya dan gadis itu merasakannya, bahkan di waktu yang saa ada Aldrick yang sudah datang di restorannya. Dia mengambil minuman di gelas, kemudian diteguk untuk menghilangkan rasa gelisahnya itu.
"Ah-- kenapa aku memikirkan itu? Masa iya aku diikuti sama orang misterius itu? Dan? Om tadi?"
"Hei! Kenapa kamu melamun?" Salah satu rekan kerjanya itu mengejutkan Hallen. Sehingga membuat gadis tersebut menoleh ke samping.
"Astaga, Emily. Kamu bikin aku terkejut tau?!"
Emily tertawa kecil.
"Lagian dari tadi kamu melamun terus. Apa ada masalah?"
"Bukan masalah, tapi-- sepertinya ada yang mengikutiku," kata Hallen sembari membersihkan piring-piring yang kotor.
"Mengikuti kamu? Apa kamu serius?"
Hallen mengangguk mantap. "Iya, aku serius. Tapi, aku belum yakin sih. Nanti aku kegeeran lagi."
"Yaudah kalau begitu kamu harus berhati-hati mulai dari sekarang. Intinya tetap tenang okey!" Emily menepuk pundak Hallen supaya bisa lebih tenang.
Hallen menatap Emily, senyumannya melebar. "Makasih Emily."
***
Pukul 21.00 malam Hallen memutuskan untuk pulang karena sudah jadwal pulangnya. Sebelum keluar Hallen mengambil jaket dan bergegas untuk keluar dari dapur. Tapi, sebentar dia melihat pria yang tak asing dari penglihatannya. Seorang pria yang masih duduk manis di kursi restoran tersebut. Padahal sudah banyak yang sudah pulang, bahkan hanya dirinya dan juga karyawan lainnya disini.
Dia memincingkan matanya, kemudian mendekati kearah pria tersebut.
“Selamat malam, Hallen,” sapa pria itu dengan senyuman hangatnya setelah melihat Hallen yang mendekat kearahnya. Tentunya membuat Hallen terkejut.
“O—om? Kenapa ada disini?” kata Hallen sambil menunjuk kearah wajah pria itu tidak eprcaya, sesekali melihat ke sekitar. Sudah tidak ada pengunjung satupun, tapi kenapa pria ini masih disini?
Aldrick tersenyum lebar, menopang dagunya dikedua punggung tangannya. “Saya menunggumu, saya ingin menjemputmu dan mengantarkanmu pulang,” jawab pria itu dengan nada santainya.
Tentunya perkataan Aldrick barusan berhasil membuat mata Hallen membulat. “Dia gila atau bagaimana,” batin Hallen tidak percaya.
“Om, lebih baik Om pulang deh, engh—“ gadis itu mengedarkan pandangannya, takutnya kalau ada yang melihat dan mendengarkan ucapan pria ini barusan. “Tidak enak juga kalau ada yang mendengarkannya.”
Kening pria itu dikerutkan. “Apa saya salah?”
“Ish! Bukan begitu!” kesalnya, kemudian Hallen menarik tangan Aldrick untuk keluar dari tempat kerjanya.
Tentunya Aldrick mengikuti gadis itu dari belakang. Sesekali melihat tangannya yang sudah digenggam. Bibirnya terukir senyuman disana.
Hallen melepaskan tangan pria tersbut dan berhenti agak jauh dari tempat kerjanya.
"Om, jangan ikuti aku bisa tidak?"
Kening Aldrick mengkerut, kemudian dia tertawa kecil. "Saya tidak mengikutimu, Hallen. Saya hanya ingin mengantarkanmu pulang."
"Tau tidak Om, kita saja baru kenal. Itupun tidak sengaja. Malah Om seenaknya main ngantar anak orang?"
"Jadi, kau menolak tawaranku?"
Tidak ada jawaban dari gadis tersebut.
"Okey, saya tidak akan memaksamu. Lagipula, ini sudah larut malam. Harusnya kau ikut denganku supaya aman nantinya," lanjutnya.
Benar juga, ini sudah malam. Tapi dirinya juga tidak ingin ikut dengan pria yang baru saja dia kenal.
Pria itu menghela napasnya. "Baiklah, kalau begitu." Dia langsung melangkah kakinya dengan santainya menuju ke mobilnya sendiri.
"Tunggu, Om!" teriaknya spontan Hallen meningikuti pria berjas itu.