Sekarang mereka sedang menuju ke perjalanan rumah Hallen, tentunya semobil. Jujur saja dia terlalu tegang jika diantar sama orang yang baru saja dia kenal.
"Om?"
"Ya?" Jawaban singkat dari Aldrick membuat Hallen meringis kecil.
Hallen tidak berbicara lagi, melainkan tangannya memainkan seatbelt yang berada disana. Dia bingung harus berbicara apa.
"Baru saja kau mau bilang apa?" Pria itu menoleh ke samping untuk memastikan gadis itu.
Hallen langsung menoleh ke samping, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak Om, lupa Hallen."
Pria itu agak meringis kecil. "Sepertinya kau masih takut denganku? Bisa lebih rileks sedikit?"
Hallen menerjapkan mata, kemudian menatap ke samping. Tidak menjawab apa yang sudah dikatakan Aldrick barusan.
"Rumahmu dimana?"
"Lurus saja Om, di gang mawar no 129."
Aldrick mengangguk kecil, mengikuti arahan dari gadis yang berada disampingnya ini.
"Hallen?"
"Iya Om?"
"Apa kamu sudah mempunyai kekasih?"
Kening Hallen itu mengkerut seketika. Kenapa tiba-tiba pria itu bertanya seperti itu kepadanya. Aish, sepertinya tidak beres dengan pria yang berada didekatnya. Dia harus waspada dengan dia.
"Kenapa tanya seperti itu Om?"
Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Lupakan, kita akan segera sampai di rumahmu," kata Aldrick dengan santainya.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di gang rumah Hallen. Tanpa basa-basi gadis itu langsung menuruni mobil pria tersebut. "Terimakasih Om! Hati-hati ya!"
Aldrick tersenyum kecil ke arah gadis itu, tak lama kemudian Hallen langsung berlari kearah gang rumahnya. Namun dilain sisi, terdapat sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Aldrick. Sehingga membuat kening pria itu mengkerut heran. Dia terus melihat mobil itu.
Sebentar? Seorang pria tua keluar dari mobil tersebut. "Apa itu ayah dari Hallen?" gumamnya. Segera pria itu mengikuti pria tua iku sampai masuk ke gang rumah Hallen tadi.
Brak! Pintu rumah Hallen tiba-tiba terbuka. Betapa shocknya ketika melihat seorang pria tua yang datang tiba-tiba masuk ke rumahnya.
"A--ayah?"
"Kenapa? Kaget? Sekarang ikut Ayah." Ayah Hallen langsung menarik tangan gadis itu untuk segera keluar dari rumah sederhananya itu.
"A--ayah! Lepasin tangan Hallen!"
"Berani sekali kamu sama Ayah!"
Hallen tidak meresponnya, dia terus memberontak untuk bisa dilepaskan tangannya itu.
"Kenapa tidak berani! Hallen sudah nggak mau lagi sama Ayah!"
Ayah Hallen membulatkan matanya seketika. "Apa katamu!"
"Anak kurang ajar ya kamu Hallen!" Ayah Hallen menarik rambut gadis itu dan menampar pipi putih itu dengan keras.
Tamparan Ayahnya itu membuat Hallen merintih kesakitan. Beberapa air mata lolos keluar dari matanya, gadis itu memalingkan wajahnya dan memegang pipinya yang sudah memerah.
"Siapa suruh kamu melawan Ayah hah!"
Hallen tidak berkutik apapun, dia hanya bisa menangis disana.
Sedangkan dilain sisi, semuanya dilihat oleh Aldrick. Rasa kesal dan juga kasian muncul tiba-tiba. Akhirnya dia memutuskan untuk mendekati mereka.
"Stop!"
Kedua orang tersebut menoleh ke sumber suara, tentunya membuat Ayah Hallen merasa heran pada pria yang berpakaian rapi muncul dihadapannya.
Aldrick menatap datar Ayah Hallen, kemudian mendekati Hallen untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. "Are you okay?"
Hallen diam, menatap pria itu nanar dan menganggukkan kepalanya pertanda dirinya baik-baik saja. Namun, Aldrick merasakan kalau Hallen sedang kesakitan.
Kemudian pria itu mengalihkan pandangan kearah Ayah Hallen. "Kenapa berani sekali menyakiti gadis seperti dia? Apa kau tidak punya hati? Harusnya kau memberikan kasih sayang sama anakmu! Bukan sebaliknya! "
Pria tua itu berdecih pelan. "Sebentar? Saya tanya padamu, orang asing. Kau siapa dia? Kenapa kau sangat peduli pada anakku ini?"
Aldrick terdiam sejenak, kemudian melirik Hallen sekilas. Sebelum berbicara. "Saya kekasih dia. Jadi, saya berhak untuk melindungi dia dari pria jahat sepertimu."
Ucapan Aldrick sontak membuat mata Hallen membulat tidak percaya. "Kekasih! Itu sangatlah konyol," batin gadis itu.
Ayah Hallen menganggukkan kepalanya. "Oh."
Tapi pria tua itu tidak memperdulikan ucapan Aldrick, dia menarik tangan Hallen mendekat kearahnya. "Cuma kekasih kan? Saya tidak peduli! Saya lebih berhak untuk anakku."
"Berhak kau bilang? Lihat! Anda sudah menyelakai anakmu sendiri!" Aldrick menunjuk-nunjuk Hallen yang sedang ketakutan. "Apa anda masih punya muka untuk mengakui dia sebagai anak anda!" Wajah Aldrick memerah, dia sangat marah. Bagaimana tidak? Orang tua yang sebenarnya tidak akan memperlakukan anaknya seperti tong sampah.
Tiba-tiba saja Ayah Hallen mengingatnya dengan jelas, pria yang bersama anaknya itu adalah seorang pria yang sempat meminta maaf padanya, namun dirinya tidak memperdulikannya. Senyuman miris dari bibir Ayah Hallen terangkat disana.
“Hallen kamu tahu dia siapa hah?” Ayah Hallen menunjuk kearah Aldrick. Kening Hallen sempat mengkerut, setelah itu Ayahnya itu melanjutkan ucapannya. “Dia itu-“
“Stop Ayah!”
"Kenapa?"
"Hallen nggak mau mendengarkan ucapan Ayah lagi," kata Hallen sembari menggelengkan kepalanya cepat.
“Mengerti sekarang?” kata Aldrick sembari menatap Ayah Hallen dengan wajah datarnya.
Pria kembali menarik tangan gadis itu. "Sekarang silakan pergi dari tempat ini!" Dia menunjuk ke sembarang arah lain supaya pria tua itu pergi dari hadapan mereka.
Ayah Hallen tentunya tidak terima, namun dia hanya diam. Dia menatap anak perempuannya dengan tajam. "Ayah akan kembali," kata pria tua itu sebelum pergi dari sana.
Hallen menatap punggung Ayahnya dengan nanar. Dia ingin menahannya, tapi niat dia terkurung. Dirinya takut kejadian dulu akan terulang kembali. Matanya dipejamkan, sungguh dia sangat sakit sekali.
"Ayo kita masuk," kata Aldrick dengan lembut sembari memapah gadis itu masuk ke dalam rumah sederhananya itu.
"Aku kompres pipimu."
Aldrick langsung berjalan kearah dapur setelah menyuruh Hallen duduk di sofanya. Mata Hallen terus menatap punggung pria itu sampai menghilang dari pandangannya.
"Kenapa Om itu sangat baik? Padahal aku tidak pernah mengenalnya," ucap Hallen dengan pelan.
Tidak lama kemudian Aldrick membawa sebuah baskom yang berisi esbatu dan juga lap untuk mengompres pipi Hallen.
"A--aws! Om-- Hallen tidak apa-apa serius."
Aldrick menghentikan kegiatannya. "Tidak apa-apa gimana? Lihat sudut bibirnya itu sobek, ada sedikit darah, pipimu juga lebam. Itu namanya tidak apa-apa hah!"
Gadis itu tidak berkutik setelah itu, akhirnya Aldrick melanjutkan untuk mengompres pipi Hallen.
"Terimakasih Om," kata Hallen dengan nada lembut.
Aldrick menoleh dan mengulas senyumannya disana. "No problem, lebih baik diobati langsung dari pada nanti kamu kenapa-kenapa."
Hallen menganggukkan kepalanya pelan. "Om, kalau tidak ada Om. Mungkin Hallen sudah disuruh ikut sama Ayah."
Pria itu menatap gadis itu dengan lembut dan meletakkan lap yang ditangannya di baskom. Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Hallen.
"Sebenarnya kamu ada masalah sama Ayah kamu itu?"
Hallen terdiam, menundukkan kepalanya.
Aldrick menghembuskan napasnya pelan. "Sepertinya kamu belum siap menjawab pertanyaanku barusan. Tidak apa-apa."
Sedetik pula, Hallen medongakkan kepalanya untuk menatap pria dihadapannya ini. Matanya berkaca-kaca, seakan dia ingin bercerita apa yang terjadi pada keluarganya.
"Ayah sudah menikah lagi semenjak aku berumur 15 tahun."
Kening Aldrick mengkerut, menatap Hallen dengan serius. "Apa karna itu alasannya kamu tidak ingin kembali ke Ayah kamu?"
Hallen menggelengkan kepalanya. "Sebelum itu, ayah sering menyakiti Ibu. Setelah semuanya tau yang sebenarnya, Ibu langsung menalak ayah."
"Tau yang sebenarnya? Maksud kamu?"
"Ayah saya selingkuh di belakang Ibu," lirihnya, Hallen kembali menundukkan kepalanya. Isakan tangis gadis itu mulai terdengar di telinga Aldrick.
Demi apapun, Aldrick tidak tega jika ada wanita yang menangis di depannya. Dia merasakan sesak di dadanya, dia ingin menarik dan mendekap gadis tersebut. Namun, dia tidak berani melakukan hal itu. Akhirnya pria itu langsung menarik tangan Hallen dengan lembut dan mengusapnya dengan pelan.
"Maaf, saya tidak bermaksud."
Tidak ada jawaban, pria itu menghela napasnya pelan.
"Kamu pasti bisa melalui itu semua, Hallen."
Kepala Hallen diangkat oleh Aldrick. "Semua memang mempunyai waktu untuk sedih dan untuk bahagia. Terutama kamu, kamu akan merasakan kebahagiaan disuatu saat nanti. Percaya padaku," kata pria itu dengan nada lembut.