Jam menunjukkan pukul 9 malam tepat saat Hallen keluar dari dapurnya, tapi dia masih memakai pakaian kerja. Berbeda dengan pria yang sudah masuk ke dalam restoran yang sudah siap dengan memakai jas setelan yang rapi. Aldrick mengulas senyumannya ketika mendapati Hallen yang sudah di sana. Pria itu langsung melangkahkan kakinya mendekat kearah gadis itu.
"Sudah siap?" Aldrick menyunggingkan senyumannya disana.
Hallen bergidik pelan, melihat senyuman dari pria itu, kemudian dia melihat pakaiannya sendiri. "Saya belum ganti pakaian," ringisnya. Jujur saja dirinya sangat malu saat ini.
"Yasudah, ikut saya. Saya sudah menyiapkan pakaian untukmu," kata pria itu dengan lembut.
"E--eh Om? Serius nih? Tapi saya nggak mungkin ngabisin uang Om," katanya dengan nada tidak enak.
"Tidak apa-apa Hallen, kan saya yang mengajak kamu. Yasudah ayo." Aldrick menarik tangan gadis itu dengan lembut keluar dari restorannya.
Sedangkan dilain sisi, Emily yang melihat temannya ditarik oleh pria itupun langsung mengikuti mereka. "H--hei! Mau bawa temanku kemana!" teriaknya.
Tentunya membuat kedua orang tersebut menoleh ke belakang. Kening Aldrick sempat mengkerut, kemudian melirik ke Hallen sekilas.
"Engh-- sorry Om. Dia temanku, Emily."
Aldrick menganggukkan kepalanya mengerti. "Saya pinjam temanmu sebentar, nanti ada yang gantiin dia. Tidak usah khawatir nanti saya jagain temanmu ini."
Aldrick mengkode Hallen supaya masuk ke dalam mobilnya yang sudah dibukakan pintunya.
Sedangkan Hallen tersenyum pada Emily. "Tidak usah khawatir, nanti aku balik. Aku belikan oleh-oleh untuk kamu. Aku duluan ya," kata gadis itu sebelum masuk ke dalam mobil mewah milik Aldrick.
"Hati-hati, Hallen!" teriak Emily sembari melambaikan tangannya disaat mobil pria itu semakin lama, semakin menghilang dari pandangannya.
Hallen terus menatap spionnya, dimana Emily berada disana. Sekilas ia menghembuskan napasnya, kemudian menatap ke depan setelah temannya itu sudah menghilang dari pandangannya.
Melihat gadis itu merasa khawatir pada temannya itu, Aldrick langsung angkat bicara. "Saya tidak akan lama membawamu ke acara itu, bilang pada temanmu. Biar dia tidak mengkhawatirkanmu," kata pria itu dengan lembut.
Gadis itu menoleh ke samping, ternyata pria disampingnya ini peka sama perasaannya kali ini. Segera dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk Emily.
"Sudah?"
Hallen menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah Om."
"Kita mampir ke salon dulu, saya sudah menyediakan bajunya disana. Sekalian kamu mempercantik diri."
Sebentar, Hallen tidak salah mendengar kan? Dia langsung menoleh ke samping, keningnya mengkerut. "Kenapa ke salon Om? Bukannya cukup ke toko baju?"
Aldrick tersebut kecil, menatap gadis itu dari spion. "Kita mau ketemu sama keluarga terhormat Hallen, jadi kamu harus berdandan cantik."
Setelah lama mengobrol di jalanan, akhirnya mereka sampai ke tujuannya yaitu ke salon yang menurut Aldrick sudah memiliki rating yang paling bagus. Pria itu langsung membuka pintu mobil setelah memarkirkan mobilnya. "Ayo turun."
Tentunya gadis tersebut tersenyum kikuk. Tidak enak juga kalau orangtua seperti Aldrick membukakan pintu untuknya. "Makasih Om."
"Harusnya Hallen buka sendiri, kan saya punya tangan."
Pria itu hanya tertawa kecil. "Sekarang kamu adalah tamu untuk saya, Halen," kata Aldrick dengan nada lembut, kemudian menarik lembut tangan gadis itu untuk masuk ke dalam salon tersebut.
"Selly, bisa tolong benarkan rambut Hallen? Sekalian kalian makeupin. Jangan terlalu tebal, yang natural saja. Intinya kalian harus membuat dia secantik mungkin."
Selly terdiam menatap Hallen dari bawah ke atas. "Woah? She really is beautiful. Apa dia kekasihmu, Aldrick?" tanyanya dengan wajah terkesima.
Hallen tersenyum ramah, pipinya merona. "Makasih, Tante."
"Baru calon, doakan saja Sel," kekehnya, sudut mata pria itu melirik ke gadis itu dengan wajah menggodanya.
Wanita itu tertawa kecil. "Oke . Oke ... Saya doakan saja biar kalian berjodoh," katanya sembari melihat mereka bergantian. "Namanya Hallen? Ayo ikut saya."
Hallen menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti Selly dari belakang. Benar-benar dirinya ingin keluar dari sini, wajahnya pasti sudah merah sekarang.
Pemilik salon tersebut menyuruhnya untuk duduk supaya segera di rapihkan rambutnya.
Sedangkan Aldrick menunggu di kursi dan memainkan ponselnya supaya tidak bosen.
"Drick, pakaiannya sudah saya siapkan beberapa. Saya mengikuti kemauan yang kamu inginkan."
Pria itu menoleh ke arah Selly yang sedang bekerja. "Setelah selesai, langsung ganti baju saja. Nanti saya lihat mana yang cocok di badan dia."
Beberapa menit kemudian, seorang gadis keluar dari bilik ganti dan itu membuat pria yang berada disana terkesima melihatnya. Apalagi gadis itu memakai dress yang dimaksud, berpaduan dengan makeup natural dan juga rambut bergelombangnya. Dan itu sangat perfect dimata Aldrick.
Mata Aldrick tidak berkedip sama sekali, bahkan dia tidak bisa berbicara kali ini. "H-hallen?" Dia memastikan kalau gadis yang berada di hadapannya ini benar-benar Hallen.
"Iya, Om. Ini Hallen."
"Bagaimana Al? Cantik bukan?"
"Cantik."
Aldrick menerjapkan matanya, mengalihkan pandangan sekilas untuk menyadarkannya.
Ucapan Aldrick membuat pipi Hallen memerah, dia menundukkan kepalanya supaya tidak terlihat oleh orang yang berada di sana. "Help, aku bener-bener salting," batinnya.
"Ma-kasih Om," katanya diselingi dengan kekehan kecilnya.
"Kalau begitu, kita langsung ke acara," kata Aldrick sembari mengulurkan tangannya di hadapan gadis itu. "Ayo."
Hallen melihat tangan pria itu dengan jelas. Kenapa dirinya diperlakulan seperti tuan putri yang berada di kayangan? Apa itu terlalu berlebihan.
Dia mengulurkan tangannya, membalas uluran pria itu tanpa berbicara apapun.
Senyuman dibibir Aldrick melebar seketika, dia merasa hangat ketika di sebelah gadis itu. Sekilas dia melirik ke Selly. "Selly, saya duluan. Semoga laris setelah ini," guraunya, kemudian dia langsung menarik lembut tangan gadis itu.
Hallen merasa gugup saat ini, apalagi tangannya di genggam oleh pria tampan seperti Aldrick dan juga dilihat orang-orang yang berada disana. Pasti mereka menganggap kalau dirinya sangat beruntung.
Gadis itu menghembuskan napasnya pelan untuk menepis rasa gugupnya itu setelah masuk ke dalam mobil Aldrick. Merasa kalau gadis itu nampak gelisah, pria yang berada di sampingnya itu menarik tangan Hallen dan menggenggamnya.
Terasa di tangan Aldrcik kalau tangan Hallen sangat dingin. "Kamu gugup?"
Hallen menoleh, sekilas ia melirik tangannya sendiri dan tersenyum kikuk. "Iya Om, saya sangat jarang pergi ke acara orang," ringisnya.
Pria itu tertawa kecil. "Tidak usah gugup, disana cuma ada teman-temanku saja," katanya, kemudian melakukan mobilnya itu pergi dari tempat tadi.
"Ya, sama saja Om," gerutunya, dia menatap ke depan mobil.
Aldrick melirik dari sudut mata, tepatnya di spion kaca. Terlihat wajah gadis itu sudah memerah. Dia sangat menyukainya dan itu membuat dirinya merasa gemas.
"Aku sangat menyukainya," kekehnya.
Hallen menoleh ke samping, keningnya mengkerut. "Apa?"
"Pipimu," kata Aldrick dengan memasang wajah tidak berdosa.
Hallen terdiam, dia memegang kedua pipinya. Kemudian menatap spion untuk memastikannya.
Dia menggerutu pelan, sekilas gadis itu memejamkan matanya menahan rasa malu disana. Kenapa pipinya masih saja merah, astaga dia sangat malu. Mau dibawa ke mana wajah dia?
"Kenapa ditutupi?"
"Malu," kata Hallen dengan nyali ciut. Dia menutupi memakai tas ranselnya.
"Kenapa harus malu?"
"Malu aja, harusnya saya tidak seperti ini," kata gadis itu dengan wajah kikuk.
Aldrick tertawa kecil. "Sudah biasa, pasti kamu sangat gugup? Atau? Kamu tidak pernah jalan dengan kekasihmu itu?"
Hallen menggerutu pelan, tidak merespon ucapan pria itu barusan. Tapi justru itu membuat Aldrick merasa gemas dengan tingkahnya.
Kalau dipikir-pikir kenapa juga Hallen salah tingkah, bahkan wajahnya memerah. Padahal dia hanya menemani ke acara teman Aldrick?