Setelah menghabiskan makanan dari Hallen, Aldrick langsung meminum minuman americano ice yang sudah di pesannya tadi. Sudut matanya melirik kearah Hallen yang kini sedang memandanginya.
"Ehm! Kau tidak apa-apa kan?"
Suara deheman pria itu, membuat Hallen sadar. Dia memalingkan wajahnya dan mengedarkan pandangannya kemana-mana. "Engh-- ng--nggak kok Om, heheh cuma seneng aja makanan Hallen dihabiskan sama Om."
Aldrick merasa geli dengan apa yang diucapkan oleh gadis yang berada di hadapannya ini. "Tapi jujurly, masakanmu sangat enak. Saya saja tidak sungkan-sungkan buat menghabiskan masakanmu ini."
Dengan malu-malu Hallen menganggukkan kepalanya kecil dan menyengir kuda.
"Oh ya, kamu tidak kerja?" tanya Aldrick tiba-tiba.
"Saya ada shift malam Om."
Aldrick memungutkan kepalanya mengerti. "Daripada tidak ngapa-ngapain, lebih baik kamu titip makanan kesini? Kue? Atau masakan yang lainnya?"
Gadis itu menerjapkan tidak percaya. "Se--serius Om? Tapi kan? Saya kerja di restoran sebelah. Takutnya ada yang salah paham, dikira saya manfaatin Om lagi," kata Hallen.
Pria itu tertawa kecil mendengarkan perkataan gadis ini barusan. "Kamu ini, saya yang punya cafe disini. Jadi kamu tidak usah khawatir. Saya yang menyuruhmu."
"Masih banyak waktu buat kamu usaha, tidak selamanya kamu ikut sama orang. Semua bos yang berada di cafe atau yang lainnya ingin anak didiknya itu merintis sendiri. Mereka menerima kamu buat belajar dan mempelajari apa yang pernah kamu dapat. Kamu mengerti?"
Hallen terdiam sejenak, menyerna apa yang dikatakan Aldrick barusan. Kemudian dia mengangguk mengerti.
"Saya juga dulu seperti kamu, tapi saya ingin berhenti. Alasannya karena bos saya tidak memperbolehkan kerja di dia terus. Akhirnya saya sadar, kemudian saya mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh bosku. Dan akhirnya sekarang saya merintis cafeku sendiri," jelas si pria tersebut.
"Saya bisa membantumu, supaya orang yang berada di dekatmu bisa bangga denganmu. Mulai dari menitipkan masakanmu, jualan kecil-kecilan, bisa saja nanti kamu bisa membuat cafe sendiri," lanjutnya.
"Saya masih pengen kerja direstoran. Kalau memang saya pengen merintis sendiri, saya akan minta bantuan sama Om," kata Hallen diselingi dengan cengiran khasnya.
Pria itu mengangguk mengerti. "Baiklah, saya tunggu, saya akan membantumu jika kamu meminta bantuan sama saya."
"Permisi, ini minumannya." Salah satu karyawan meletakkan dua porsi minuman di meja mereka.
Aldrick menoleh ke samping lalu tersenyum pada karyawan tersebut. "Terimakasih ya, ini minumannya buat kamu."
Hallen mengangguk kecil.
"Ah iya, kalau boleh tau bagaimana dengan ayahmu kemarin?" tanya Aldrick tiba-tiba.
"Saya tidak tau dan tidak ingin tau."
Pria itu menghembuskan napasnya pelan, kemudian menarik gelas minuman yang di pesan dan meneguk minumannya. "Bukannya saya ikut campur urusan kamu. Tapi, ayahmu sudah membuat kesalahan pada putrinya sendiri. Kalau saya jadi kamu, pasti saya sudah melaporkan polisi."
"Saya tidak mungkin melaporkan ayahku begitu saja, Om."
Aldrick sempat terkekeh kecil. "Okey, saya paham."
"Hei! Aldrick!" teriak seorang pria dari ambang pintu sana dan mendekat kearah mereka.
Mendengar suara yang menggelegar di telinga merekapun langsung menoleh ke suara itu.
"Kenapa?" tanya Aldrick dengan tampang datarnya.
"Wait!?" Ucapan pria dengan menggunakan jaket kulit itu terhenti saat melihat gadis yang bersama Aldrick. "Siapamu itu? Kekasihmu?" Keningnya mengkerut, kemudian sudut matanya melirik ke Aldrick.
"Vincent!"
Vincent langsung diam, kemudian menjejerkan gigi putihnya dan menunjukkan dua jari tangan. "Sorry, Al."
"Namanya siapa?" Vincent bertanya kepada Hallen dengan santainya.
"Hallen," jawab gadis itu diselingi dengan senyuman manisnya. Vincent langsung mengulurkan tangannya di depan Hallen.
"Vincent, teman Aldrick. Kalau mau nanti kita tukar nomor telepon."
Hallen membalas ulurannya dengan lembut.
Aldrick melirik tangan mereka yang belum dilepas, sekilas dia menghembuskan napasnya pelan dan memutarkan bolamatanya. "Vincent, sepertinya gadis ini tidak pas denganmu. Lihat deh dia terlihat sangat risih."
"Sirik ya?" Tidak lama Vincent melepaskan uluran. "Boleh minta nomor telepon?" Dia mengambil ponsel di sakunya dan memberikan pada gadis tersebut.
Hallen agak meringis pelan, mau tidak mau dia mengambil ponsel pria tersebut dan memberikan nomornya pada Vincent. "Ini, sudah saya namai Hallen." Dia memberikan pada Vincent kembali.
"Wah baik sekali kamu Hallen, kalau begini aku merestui hubungan kalian," kata Vincent diselingi dengan cengiran khasnya.
"Kalau boleh tau sudah berapa hari, heum?" tanya pria itu dengan wajah penasaran.
Lagi-lagi Aldrick menghembuskan napasnya kesal. "Bisa pergi dari sini?"
"Santai dong, aku cuma minta nomor telepon saja."
Aldrick berdecak pelan.
"Kalau begitu aku duluan ya Hallen, jangan lupa nanti malam ada acara di rumahku, aku menunggu kehadiranmu ya!" Vincent menepuk bahu Aldrick sebelum keluar dari tempat tersebut.
Pria itu hanya diam, menatap punggung Vincent yang semakin hilang dipandangannya.
"Temen Om itu?" Hallen terus menatap ke pintu. "Lucu," lanjutnya.
Kening Aldrick mengkerut, kemudian menatap kearah gadis tersebut. "Kamu menyukai dia?"
Hallen menoleh ke samping dan menerjapkan matanya. "Kata siapa? Kan saya bilang lucu. Bukan berarti Hallen suka sama Vincent."
"Dia seumuran sama kamu."
Gadis itu memungutkan kepalanya.
"Saya ke belakang dulu, habis ini kita jalan. Kemudian nanti saya antar kan ke restoran kamu," kata Aldrick beranjak dari tempat itu dan pergi dari hadapan Hallen.
Hallen hanya diam di sana, menunggu Aldrick kembali lagi.
Tidak lama kemudian, Aldrick kembali lagi dan mengkode untuk mengikutinya. Tentunya Hallen tau jelas, dia langsung mengikuti pria tersebut.
***
"Terimakasih ya, Om," ucap Hallen langsung keluar dari mobilnya dan menuruni di depan restorannya sendiri. "Hati-hati ya Om!" Dia melambaikan tangannya kearah mobil tersebut, tidak lama mobil tersebut menghilang dari pandangannya.
Dilain sisi, ada Emily yang melihatnya dari dalam. Kemudian dia keluar untuk memastikan temannya itu. "Hallen? Itu siapa!" tanya Emily dengan serius, sesekali melihat jalanan yang sudah dilewati oleh mobil tadi dengan hebohnya.
"Adadeh!" jawab Hallen sembari tersenyum-senyum tidak jelas, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Apa tadi pacar baru Hallen?" gumam Emily, kemudian mengikutinya dari belakang. "Hallen, itu tadi pacarmu! Kenapa kamu tidak cerita sama aku hah!"
Hallen tidak memperdulikannya, dia langsung mengambil celemek restoran dan memakainya.
"Hallen, aku serius! Tadi itu siapa!"
Hallen memutarkan bolamatanya males, sudut mata dia melirik kearah Emily. "Astaga, Emily. Bisa nggak sih nggak usah heboh?"
"Kan tanya, bagaimana bisa kamu kencan sama orang bermobil mewah seperti itu?"
Gadis itu menghela napasnya pelan. "Privacy, lagian nggak terlalu penting juga Emily. Sudah sut! Jangan diungkit lagi."
"Dih, awas saja ya Len. Kalau ketemu tuh orangnya, bakalan aku gebet," kata Emily sambil tertawa kecil, kemudian melanjutkan kerjanya disana.
Hallen hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan temannya barusan. Dia tidak pernah menganggap bercandaannya itu serius. Lagipula, dia sudah kenal dekat dengannya. Jadi apa yang perlu ditakutkan? Cuma saja dirinya belum siap cerita apa yang sebenarnya.
Cling! Tiba-tiba saja ada notif dari Aldrick. Setelah melihat namanya yang sudah jelas di layar, dia langsung membukanya.
Om Aldrick
Nanti jam 9 siap-siap, saya akan izin ke bosmu.
Kening Hallen mengkerut. Tak lama, dia langsung membalas pesan dari Aldrick.
Ada apa Om?
Om Aldrick
Saya mau kamu menemani saya ke acara temanku nanti. Acaranya si Vincent.
Lantas, kenapa harus dirinya? Kenapa bukan wanita lain?
Om Aldrick
Tidak ada kata penolakan, nanti saya jemput ke restoran kamu.
Okey, see you
Hallen mengirim pesan emot jempol, kemudian meletakkan ponselnya dan menghela napasnya pelan.