Balas Budi

1283 Kata
Air mata Hallen terus membendung di setiap perjalanan. Ya, sekarang gadis itu berada di dalam bus untuk menuju ke cafe Aldrick dengan kondisi melamun. "Kenapa dia kembali?" gumam gadis itu sembari menyenderkan kepalanya di kaca dan terisak pelan. Tiba-tiba saja ponsel Hallen bergetar, tandanya ada panggilan masu disana. Gadis itu langsung merogoh sakunya dan melihat nama Aldrick disana. Kemudian dia mengangkatnya. “Iya, Om?” ‘Kamu di mana?’ “aya di jalan,” jawab Hallen dengan nada pelan dan terdengar lirih. ‘Apa kamu baik-baik saja?’ Pria yang berada di sana nampak terdengar khawatir. “Iya saya baik-baik saja, habis ini saya akan sampai.” Hallen langsung menutup panggilan tersebut tanpa basa-basi. Setelah menutup telpon, dia langsung menyandarkan kepalanya di kepala kursi bus, dia sedikit memijat keningnya untuk mengurangi rasa nyeri di kepalanya. Dia terus menatap rumah-rumah dari tempat sana dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Awalnya gadis itu tidak menyadari kalau dirinya sudah sampai, untungnya ada mas-mas mengingatkannya untuk turun. Dan akhirnya dia langsung turun dari bus itu. Matanya kini memerah bahkan sembab. Dia terhenti di depan cafe Aldrick. Dengan cepat ia mengambil kaca di tasnya untuk menyembunyikan wajahnya itu. "Aish, mataku merah lagi, masa iya aku masuk dalam kondisi seperti ini?" gerutunya. Dia membalikkan badannya, namun ada pria yang menahan lengannya tiba-tiba. "Mau kemana?" Sontak membuat gadis itu menoleh ke belakang, sekilas ia melirik ke lengan yang di cekal. "O--om?" Kening Aldrick mengkerut saat melihat mata Hallen yang terlihat membengkak dan basah. "Ayo masuk," suruh pria itu dan menarik tangan Hallen dengan lembut. Tanpa memberontak sedikitpun, dia langsung mengikuti pria itu dari belakang. Aldrick menarik kursi untuk Hallen. "Duduk dulu." Hallen mengangguk kecil, sesekali menatap ke sekitar cafenya. Terlihat pengunjjng yang berada disana seperti merasa heran pada dirinya. Aldrick yamg melihat apa yang dihat oleh Hallen hanya menggelengkan kepalanya, lalu duduk di hadapan gadis itu. "Kenapa lama? Saya dari tadi menunggumu." "M--maaf Om, tadi macet," alibinya. Kening pria itu mengkerut. "Terus, kenapa matamu sembab? Kamu habis menangisi siapa?" Hallen menggelengkan kepalanya cepat. "T--tidak Om, tadi saya cuma kelilipan, i--iya heheh," alibi gadis itu sedikit gugup. Pria itu hanya meringis kecil, sebenarnya dia tidak percaya dengan ucapan gadis ini barusan. "Apa kamu yakin?" Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya Om, serius deh. Oh iya ini makanan yang Hallen janjikan." Dia langsung meletakkan tas yang berisi kotak makanan disana. Aldrick menatap kotak makanannya kemudian menatap mata Hallen kembali. Dia yakin kalau gadis ini sedang tidak baik-baik saja. Dari awal telpon yang suara terisak sampai matanya yang sembab. “Hallen? Apa kamu yakin kamu baik-baik saja?” Hallen menerjapkan matanya, lalu mengangguk kecil. “Iya, Hallen baik-baik saja.” “Saya bukan orang bodoh, katakkan kenapa kamu menangis?” Hallen terdiam, kemudian menundukkan kepalanya. Dadanya merasa sesak, lagi-lagi ingatannya diputar kembali ke kejadian tadi. Tangannya diremas pelan di bawah sana, seperti orang ketakutan. Merasa tidak beres, Aldrick menarik tangan gadis itu dan menggengamnya. Tangannya terasa dingin saat di genggam. Dia menatap Hallen dengan serius. “Kamu ketakutan? Apa ayahmu itu kembali lagi?” Hallen menggelengkan kepalanya cepat, ntapa dia sadari air matanya menetes di pipinya. “Terus apa? katakaan saja. Saya tidak akan membongkarnya.” Kepala Hallen didongakkan, dia terisak pelan. Dia terus menatap Aldrick, seakan dirinya ingin melepaskan uneg-unegnya ke pria di hadapannya ini. Tapi, dia menyadari pria ini masih asing buat dia. Aldrick terus menatap gadis itu, dia mengusap lembut punggung tangan Hallen. “Coba cerita sedikit ke saya. Saya akan mendengarkan cerita kamu sampai akhir.” Gadis itu tidak menjawabnya. “Kamu masih ragu buat cerita ke saya?” Hallen terisak pelan, sekilas dia menghembuskan napasnya pelan. “Om, kalau mantan Om kembali lagi. Apa Om bisa kembali ke mantan yang dulu?” Pria itu mencerna ucapan dari gadis ini barusan. Sekilas senyuman itu diukir di bibirnya. “Sebentar? Jangan bilang mantanmu kembali lagi?” Gadis cantik itu menganggukkan kepalanya pelan, pertanda kalau jawaban Aldrick itu benar adanya. Aldrick mengerti apa yang dirasakan oleh gadis ini. “Saya paham bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi—bukannya bagus kalau mantanmu kembali lagi? ada masalah?” “Kalau tidak ada massalah, tidak mungkin saya putus sama mantan saya itu.” Kata Hallen sembari terisak pelan. “Terus apa yang membuat kalian putus?” “Dia selingkuh di belakang saya. Saya yang memutuskannya.” “Terus?” “Dia tadi kembali dan menjelaskan kalau itu hanya salah paham,” lanjutnya. Pria itu tersenyum getir, seakan dirinya tidak percaya dengan alasan itu. “Udah basi, apa kamu percaya dengan alasan dia?” Hallen menggelengkan kepalanya. “Tidak, saya masih sakit hati sampai sekarang.” “Lalu? Apa kamu masih ingin kembali ke dia?” “Tidak.” “Kalau begitu, biarkan saja dia mengejarmu. Tunjukan sama dia kalau dia baik-baik saja tanpa mantanmu itu. Jangan buang-buang air matamu hanya untuk dia, percuma.” “Kamu bisa tegas sama dia, kalau kamu tidak ingin kembali lagi ke mantanmu itu,” tuturnya. Hallen hanya diam, dia mencerna apa yang dibicarakan Aldrick barusan. “Apa saya bisa Om? Saya kan tidak tegaan sama orang. Apalagi sama dia,” katanya sambil menatap pria itu nanar. “Kamu pasti bisa, kalau kamu benar-benar ingin menghidari dia.” Aldrick mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi gadis itu yang basah karena air mata. Hallen terdiam lagi, sepertinya yang dikatakan pria ini benar. Dia harus tegas supaya tidak ada yang menyakitinya lagi. Kemudian menganggukkan kepalanya mengerti dan mengusap matanya supaya tidak terlihat menangis. “Sudah agak legaan? Apa mau saya ajak keluar supaya bisa teriak sepuasmu?” Gadis itu tertawa kecil disela-sela isakannya. “Tidak Om, terimakasih.” “Kalau butuh saya telepon saja. Saya siap 24 jam untuk menemani kamu,” kata pria itu kemudian membuka box makanan yang dibawa Hallen dan memakannya. Hallen sempat tidak percaya kalau pria itu berbaik hati untuk menawarkan semua iut, padahal dia dan juga pria di hadapannya ini baru saja kenal. Tapi kenapa pria ini sangat baik sekali denganya? “Masakanmu enak, saya menyukainya.” Ucapan Aldrick membuat lamunan Hallen buyar, dia menerjapkan matanya dan mengalihkan pandangannya ke sana kemari. “Benarkah? Itu racikan ibuku dulu. Saya sering memasak itu setelah ibuku meninggal.” Deg! Aldrick langsung menghentikan kunyahannya. Dia menatap gadis itu dengan jelas. Rasa bersalahnya tiba-tiba saja muncul. “Kamu sangat menyayangi ibumu itu?” Hallen mengangguk kecil. “Iya, saya sangat menyayanginya. Saya —benar-benar merasa kehilangan dia. Dia—selalu mengerti saya, bahkan dalam keadaan sulit.” Sekilas dia menghembuskan napas. “Tapi—semuanya sudah diambil, dari ibu, ayah dan juga Gabriel orang yang pernah menjadi teman hidupku,” kata gadis itu yang semakin memelan. Pria itu gelisah, dia benar-benar tidak ingin kalau gadis yang berada di hadapannya ini tau kalau dirinya telah menabrak ibunya. “Em—kalau boleh tau, apa kamu tau siapa orang yang menabrak ibumu.’ Gadis itu menggelengkan kepalanya, sekilas ia menepis sudut mata yang masih basah. “Tidak tau, saya tidak peduli siapa yang menabraknya. Saya hanya ingin orang itu diberikan hukuman yang setimpal itu saja dan saya ingin kalau orang itu meminta maaf pada saya.” “Kalau dia tau, pasti dia akan memarahiku habis-habisan. Sorry—kalau saat ini sepertinya saya tidak bisa, saya akan meminta maaf kalau sudah waktunya, Hallen,” batin Aldrick menatap lembut gadis itu. Merasa ditatap oleh pria itu, Hallen langsung angkat bicara. “Om?” Sedetik pula Aldrick meenyadarkan lamunannya. “Oh iya?” “Kenapa? Hallen sangat menyedihkan ya di hadapan Om?” ringisnya, lalu menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Aldrick menggelengkan kepalanya kikuk. “O—engh—no! tidak kok. Saya hanya menikmati ceritamu,” alibinya. “Kalau boleh, kalau saya ke restoranmu, bisa masakan ini lagi untukku?” “Boleh Om, dengan senang hati!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN