Karyawan perempuan di sana meletakkan pesanan mereka di meja mereka. Dengan spontan kedua orang tersebut tersenyum lembut ke karyawan tersebut.
"Terimakasih," kata mereka barengan. Kemudian Hallen menatap kearah Aldrick, begitupun dengan pria itu. Tak lama, mereka saling tertawa kecil.
"Yasudah kamu makan saja eskrimnya, makannya yang santai saja."
Hallen menganggukkan kepalanya mengerti, lalu mengambil porsi eskrim miliknya. "Om? Aku boleh tanya sesuatu?"
Sebelum memakan, Aldrick menoleh ke depan dengan mengkerutkan keningnya. "Boleh, katakan saja."
"Orangtua Om dimana?" tanya gadis itu tiba-tiba disela makan.
"Orangtua? Mereka kerja diluar negeri. Saya sudah terbiasa hidup sendiri. Mereka sudah percaya saya disini," kata pria itu diselingi dengan senyuman, sesekali dia mengambil sesuap eskrim untuk dimakan.
Hallen mengangguk mengerti. "Apa Om nggak pernah kangen sama mereka?"
"Kangen itu pasti, tapi mereka kan kerja. Mau bagaimana lagi?" Dia mengangkat bahunya pelan.
"Tapi, masa iya mereka nggak pernah jenguk Om?"
"Pernah sih, biasanya tiga bulan mereka kembali. Kalau tidak sibuk."
Hallen menghela napasnya pelan. "Keren ya Om, aku saja nggak bisa kalau ditinggal sama orangtua. Semuanya terlihat sangat beda," kata gadis itu dengan wajah kusutnya.
"Saya sudah terbiasa, jadi tidak kaget lagi. Dari kecil saya sudah sering ditinggal kerja. Bahkan saya sangat iri kalau ada teman saya yang sering bermain sama keluarga mereka," kata pria itu di selah kekehan kecilnya.
Gadis itu terdiam, tidak melanjutkan makan. Dia merasa kasihan pada Aldrick kali ini. "Lalu, apa Om nggak berniat untuk menikah supaya punya teman?"
"Ada, tapi saya masih menunggu."
Hallen tersenyum kecil, entah kenapa hatinya merasa sangat panas disana. Dia mengulas senyumannya di bibir mungil miliknya. "Hallen tunggu ya Om, Om juga berhak bahagia," katanya diselingi dengan senyuman kecilnya, kemudian melanjutkan makan eskrimnya dengan tergesa-gesa.
Aldrick terdiam, menatap gadis itu terus-menerus. Keningnya terangkat. "Hallen? Makan eskrimnya bisa santai saja? Saya tidak akan meninggalkan kamu disini nanti."
"Ya-- uhulk ... Uhulk--" tiba-tiba saja dia terbatuk. "Minum ...."
"Sebentar, saya ambil minuman dulu." Aldrick beranjak dair tempat itu untuk membeli minuman mineral disana, lalu kembali untuk memberikan minumannya ke gadis itu. Sudah terlihat jelas kalau pria itu sangat khawatir sama Hallen. "Minum dulu."
Gadis itu menerima minuman dari Aldrick, tanpa bicara apapun dia meminum beberapa tegakan. Setelah minum dia langsung mengusap bibirnya pelan. "Terimakasih Om."
"Kamu tidak apa-apa kan? Lain kali pelan-pelan saja," kata pria itu dengan nada cemas.
Hallen menatap kearah pria itu, kemudian mengangguk kecil. Dia benar-benar sangat malu, kenapa dirinya sangat bodoh sekali.
"Habiskan eskrimmu, kentangmu juga. Saya membelikan itu buat kamu."
Hallen menganggukkan kepalanya kembali dan melanjutkan makan eskrimnya, sesekali melirik kearah pria itu. Sungguh, dia tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Wajahnya ditaruh dimana?
"Apa yang kamu pikirkan tadi? Sampai kamu tergesa-gesa buat makan?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak papa, cuma Hallen pengen cepat-cepat balik saja," alibinya dengan wajah tegang.
Kening Aldrick mengkerut, seperti tidak percaya pada gadis itu. "Oke, kamu habiskan dulu. Setelah itu, saya antarkan kamu pulang."
***
Setelah selesai makan, mereka lngsung menuruni kedai yang berada di sana. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrak Hallen, sehingga membuat tubuh gadis itu hampir saja terjatuh.
"Hallen?!" Secara spontan Aldrick langsung menangkap tubuh gadis itu dan untungnya pria itu berada di sampingnya tadi. "Are you okay?"
Hallen menoleh ke samping, sekilas dirinya menghela napasnya pelan. "Nggakpapa Om, terimakasih," katanya sembari beranjak dan menjajarkan tubuhnya dengan pria itu.
Aldrick menatap punggung orang yang berlari tanpa meminta maaf kepada Hallen. "Dia sangat tidak bertanggung jawab, untung saja kamu tidak kenapa-kenapa," gerutunya.
"Nggak papa Om, ish! Hallen baik-baik saja sekarang!"
"Ya tapi kan--"
"Mungkin dia buru-buru Om, udahlah ayo." Hallen segera menarik tangan Aldrick untuk menuju ke mobil. Tentunya pria itu masih belum lepas pandangannya ke arah orang tadi meskipun orangnya sudah menghilang dari penglihatannya.
"Lain kali kamu harus mengalah, dari pada kamu kenapa-kenapa nanti," kata Aldrick setelah memasuki mobil mewahnya itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan minimal.
Hallen menoleh ke samping, sekilas dia menerjapkan matanya. "Gitu amat, padahal aku nggak kenapa-kenapa," gerutunya.
"Ya sama saja, itu membahayakan kamu."
Gadis itu hanya berdehem kecil, sekilas dirinya memutarkan bolamatanya. "Ya."
Pria disampingnya menatap gadis itu dari spion, sekilas dirinya menghembuskan napasnya pelan. Tidak lama kemudian, mereka sampai di gang rumah Hallen.
"Sudah sampai, sana keluar," suruhnya.
Hallen tidak menoleh sama sekali, dia melepaskan seatbeltnya kemudian menuruni mobilnya dan menutup kembali pintu ya sebelum berjalan kearah gangnya.
Kening Aldrick mengkerut, kenapa Hallen tiba-tiba saja berubah? Apa ada masalah pada dirinya?
"Dia marah karena saya atau gimana?" gumam Aldrick, kemudian menggelengkan kepalanya dan melajukan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
Di setiap perjalanan Aldrick merasa ada mobil mengikutinya dari belakang. Dia terus memandangi mobil tersebut dari spion, semakin lama mobil tersebut ingin menjajarkan mobilnya sendiri.
"s**t, sepertinya mobil itu mengikutiku," gumamnya sesekali menatap ke belakang. Tak lama kemudian, mobil Aldrick didahului oleh mobil tadi. Dan kagetnya mobil tersebut berhenti di hadapan mobilnya. Dan itu membuat pria itu mengerem secara mendadak. Wajahnya sangat shock.
"Gila," gumamnya dengan wajah sangat marah. Setelah itu dirinya langsung menuruni mobil itu.
Tidak lama, seorang pria tua keluar dari mobil menuruni mobil tersebut. Kening Aldrick sempat mengkerut, dia menghela napasnya pelan. Lagi-lagi dirinya bertemu dengan pria tua itu. Sekilas dirinya menyunggingkan senyuman devilnya.
"Kenapa lagi? Saya sudah tidak ingin ikut campur urusanmu lagi."
"Begitu? Tapi saya ingin bicara denganmu," kata pria tua itu dengan mengulas senyuman di bibirnya.
Pria itu memalingkan wajahnya kesal. "Ini untuk terakhir kalinya, tinggalkan saya. Dan jangan dekati Hallen lagi, saya tidak ingin anda melukai Hallen kembali."
"Terserah saya, Hallen itu anak saya. Dan anda sekarang dekat dengan anak saya. Lebih baik anda menjahui anak saya mulai dari sekarang?"
Aldrick mendecih pelan. "Kalau saya tidak mau, bagaimana heum?"
"Anak kurang ajar," gumam pria tua itu hampir saja ingin memukul Aldrick. Untung saja ada dua bodyguard yang menahannya.
"Biar saya yang urus dia, Tuan Christian," kata salah satu bodyguard tersebut menatap ke temannya untuk mengkode.
"Oh, jadi nama Om Christian? Sangat disayangkan. Namanya bagus, tapi perlakuan anda tidak baik untuk ditiru sama anak anda," lanjutnya dengan tersenyum devil.
"Bisa diam tidak! Jangan menjelek-jelekan nama Tuan Christian ya!"
"Kalian juga, kenapa ikut sama Christian? Tidak ada gunanya, lebih baik kalian ke kerja yang benar. Masih banyak kerjaan buat kalian," desisnya, kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan mereka.
Sedangkan Christian mengkode supaya menariknya ke mobil. Tentunya bodyguard tersebut mengiyakan apa yang dikatakan oleh Christian.
Dua bodyguard kekar tersebut menarik Aldrick dengan sekuat tenaga. Satu bodyguard mengikat tangan pria itu ke belakang.
Aldrick langsung berontak ketika suruhan Christian menahannya. "Sial, kalau mau anak anda balik! Lebih baik bicara baik-baik sama anak anda sendiri!"
"Sudah lihat kemarin anak saya sudah menolak saya mentah-mentah? Bahkan dia lebih memilih kau dari pada saya!?"
"Itu derita anda, Christian. Itu bukan urusan saya. Sekarang lepaskan saya!" geramnya.
Satu pukulan keras mendarat ke pipi Aldrick sehingga mengeluarkan darah segar di sudut bibirnya yang kini tersungkur di aspal. Pria itu terdiam di tempat menatap pria tua dan kedua bodyguard yang mendekat kearahnya.
"Kau tidak ingat siapa orang yang kau bunuh, hah?"
Mata elang Aldrick menatap tajam kearah Christian. Rahangnya kian mengeras, wajahnya memerah.
"Lebih baik kau menghindari anakku mulai dari sekarang, mengerti. Atau tidak," ucapan Christian menegaskan sebelum dilanjut. "Kau akan tau imbasnya nanti," lanjutnya sebelum mereka pergi dari hadapan pria itu.
Dia tidak menjawabnya. Pria itu menyeringai menatap mereka yang sudah hilang dari pandangannya, kemudian bangkit dari aspal tanpa memperdulikan ucapan pria tua itu. "Kau kira aku akan berhenti begitu saja Kakek tua," gumamnya.