Eps 1: Awal
Suara desir angin yang terdengar semakin meyakinkan bahwa tempat tersebut sangat sunyi. Dimana pohon-pohon yang bergoyang karena tertiup hembusan angina, terlihat sangat indah.
Tak lama kemudian ada suara sepeda motor yang mendekat. Terlihat dari kejauhan nampak pak Udin dan anak nya, Adit. Pak Udin mengendarai motor bebek, dengan Adit di belakangnya yang sedang memegang gerobak, agar gerobaknya tidak oleng.
“jaa..” kata pak Udin mengangguk dengan senyum.
“iya pak” kata ku membalas anggukan dan senyuman itu.
Pak Udin dan Adit pun berlalu dari hadapan ku. Adit yang terlihat sibuk memegangi gerobak itu pun sesekali melemparkan senyumnya. Lalu ku balas senyuman Adit.
Aku terpana melihat ketampanan Adit. Kulit putih bersih dan badan yang berisi dengan tinggi badan sekitar 170cm. Mata nya yang coklat dan bulu mata nya yang lentik, sangat indah, serta hidungnya yang mancung. Dan tak ketinggalan lesung pipi yang sangat manis itu, apalagi ketika dia sedang tersenyum. Mata kami beradu tatap, hingga motor yang di tungganginya itu tak terlihat lagi.
Matahari pun sudah hampir menenggelamkan dirinya. Saat itu juga aku harus pulang, aku takut bapak dan ibu akan khawatir, jika jam segini anak gadisnya belum juga pulang.
Sebelum pulang ke rumah, aku mampir sebentar ke warung bu Aminah untuk membeli mie instant.
“bu, beli mie Indonesia nya tiga, sama telur dua” pinta ku
“ini, ja. Apa ada lagi?” tanya bu Aminah.
“nggak ada bu, itu aja. Berapa?”
“Sembilan tambah empat. Tiga belas ribu, ja” jawab bu Aminah. Lalu aku mengeluarkan uang sepuluh ribu dan lima ribuan.
“beli apa, ja?” aku terkejut melihat Adit yang tiba-tiba ada di sebelah ku. Enggak aneh sebenarnya dia tiba-tiba ada disini, karena Adit merupakan keponakan dari bu Aminah, dan rumah mereka juga bersebelahan.
“eh, dit. Beli mie sama telur” sahut ku sambil memperlihatkan belanjaan ku.
“kembaliannya, ja” kata bu Aminah, sambil memberikan uang kertas seharga dua ribu rupiah.
“kamu ngapain, dit? Mau belanja?” tanya ku.
“enggak, ja. Tadi tiba-tiba liat kamu kesini, jadi aku kesini aja” sahutnya, sambil mengedipkan mata.
‘jlebb..’ ada perasaan aneh di dalam diri ku.
‘entah kenapa aku seperti ini, apakah karena aku sudah lama menjomblo? Sehingga aku merasa sedang di goda oleh Adit’ Tanya ku sendiri.
“ka Senjaa..” ku dengar teriakan seseorang dari jauh, ternyata Dinda adikku. “kakak di cari bapak, suruh pulang katanya, sudah hampir malam.
‘tuh kan, sudah ku duga. Pasti di cariin’ sahutku dalam hati. Aku menganggukkan kepala ku.
“dit, aku pulang dulu” ucap ku, sambil berjalan meninggalkan Adit, menuju ke arah Dinda.
“yuk, pulang” ucap ku pada Dinda.
Adit merupakan warga asli kampungku, akan tetapi ia sudah lama merantau ke kota. Dia langsung di ajak bekerja di kantor tempat ia magang waktu SMK dulu. Dan ketika weekend dia selalu pulang dan menghabiskan waktu di kampung halamannya, rumah orang tuanya.
Mengingat keberuntungan yang di dapatkan oleh Adit pun, aku merasa sangat iri.
‘huhh.. aku yang lulus sarjana saja belum mendapatkan kerja’ celetuk ku dalam hati.
***
Ayam berkokok pertanda hari sudah pagi. Ku buka mata ku perlahan dan menggosok nya dengan kedua punggung tangan ku. Lalu ku buka jendela kamar yang memang di desain langsung mengarah ke halaman rumah itu.
Ku lihat dari jendela, ada ibu yang sedang menyapu halaman, dan bapak yang sedang memakai sepatu boots miliknya. Segera bapak mengambil karung dan sebilah parang yang sudah ada di sampingnya. Iya, bapak akan mencari rumput untuk di berikan kepada sapi peliharaan kami di belakang rumah.
Ku lihat bapak yang mulai menaiki motor butut nya, yang memang dikhususkan hanya dipakai untuk mencari rumput.
Lalu aku mulai beranjak dari tempat tidur.
Terdengar suara ibu yang memanggilku dari luar.
“jaa...”
“iya bu”, aku pun langsung keluar rumah. “ada apa bu?” Sahut ku lagi.
“ibu mau ikut bapak cari rumput, kamu jaga rumah baik-baik ya” pinta ibu.
“iya bu” sambil ku anggukkan kepala ku pelan.
Ku lihat motor butut yang di tunggangi oleh bapak dan ibu mulai berjalan, meninggalkan aku perlahan yang sedang sendirian di halaman rumah.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu yang kira-kira jaraknya sudah sekitar 50 meter itu.
“ja, bangunkan adik mu. Hari ini katanya dia mau ada interview”
“iya bu” sahut ku, membalas teriakan ibu.
“sarapan sudah ibu buatkan, sudah ada di atas meja makan” teriak ibu sambil melihat ke arah ku.
Aku hanya mengangguk pertanda setuju.
Lagi-lagi aku di buat iri oleh adik ku. Dia baru saja selesai sekolah SMA, dan mengajukan lamaran di salah satu kantor yang ada di kota, untuk posisi staf admin.
‘apakah memang aku yang sedang belum ada rezeki nya, atau gimana?’ Tanya ku dalam hati. ‘padahal lamaran yang ku buat sudah hampir ratusan’ lanjut ku lagi.
Mengingat Senja yang lulus sarjana kurang lebih 3 tahun, maka sudah pasti banyak sekali surat lamaran pekerjaan yang di buatnya.
***
“dek... bangun” aku menggoyangkan tangan Dinda, berharap dia bangun. Berkali-kali ku goyangkan tangan dan kakinya juga. Namun dia tak kunjung bangun. Lalu ku ambil gayung mandi berisikan air, ku percikkan sedikit air di wajahnya. Lalu Dinda terbangun sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
“kak! Jam berapa sekarang?” Tanya Dinda panik.
“masih jam setengah 7 dek” sahut ku tenang.
Dinda mengelus pelan d**a nya sambil menghembuskan nafas dari mulutnya secara perlahan.
“memangnya jam berapa kamu interview?” Tanya ku.
“jam 10 kak” jawab Dinda.
“ohh.. yasudah, kamu mandi dulu. Terus langsung sarapan, biar nanti kamu bisa berangkat cepat”.
Dinda hanya mengangguk, dan beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi.
Aku yang sedari tadi mengalungkan handuk, berniat untuk mandi. Ternyata malah menyuruh Dinda mandi terlebih dahulu.
‘hmm, tak apa lah. Lagian juga dia mau ada interview pagi ini, jadi di dahulukan saja lah’ Gumamku dalam hati.
***
‘tokk.. tokkk..’
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam. Iya, sebentar” teriak Senja dari dalam rumahnya.
Seketika Senja membukakan pintu. Matanya terbelalak melihat pria yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Ya. Adit. Pria itu mampu membuat tubuhnya terasa bergetar di iringi dengan degupan jantungnya yang sangat kencang.
“a..ada apa?” tanya Senja gugup.
Adit pun terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Senja. Dia menatap Senja hampir tak berkedip, tertegun dengan kecantikan wajah Senja yang alami tanpa polesan apapun. Dia bisa melihat bahwa Senja memang baru saja selesai mandi, karena handuk yang masih menempel di kepalanya.
Dia hampir lupa kapan terakhir dia melihat Senja. Dia merasa baru kali ini melihat Senja dengan sangat jelas. Karena memang biasanya hanya melihatnya sekilas, itupun sangat jarang karena kesibukan bekerja di luar kota yang mewajibkannya pulang saat weekend saja.
Senja yang sadar akan tatapan Adit itupun berusaha menyadarkannya.
“dit?”
Adit pun tersentak mendengar suara Senja yang memanggil namanya.
“anu.. emm.. bapak nya ada?” Tanya Adit dengan gugup.
‘sial, pasti dia tau kalau dari tadi aku memikirkannya’ umpat Adit dalam hati.
“oh bapak. Bapak tadi keluar sama ibu, cari rumput” jawab Senja, menggaruk keningnya yang ia gunakan untuk menutupi salting nya itu.
‘astaga.. kenapa jadi aku yang salting, seharusnya kan dia yang salting karena ketahuan memikirkan aku dari tadi. Tapi Adit biasa saja’ batin Senja dengan pede nya.
“kamu tau, dimana biasanya bapak cari rumput?” Tanya Adit.
“biasanya sih di ladang, belakang rumah pak Nanang” jawabnya.
Adit hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengurungkan niat nya untuk mengucapkan terimakasih saat Senja kembali bertanya.
“memangnya kenapa, dit?” Tanya Senja heran.
“itu, tadi bapak ku nyuruh bapak mu, untuk bantu persiapan acara nikahan Hasna buat besok, jadi nanti sore beberes dulu, ngerapiin kursi-kursi segala macem” jawab Adit antusias.
Senja yang mendengar jawaban Adit pun mengangguk pelan. “iya, nanti aku bilangin bapak ya” balas Senja.
“iya, terimakasih ja. Aku pamit dulu. Assalamu’alaikum”.
“wa’alaikumsalam”.