Mata ku tak henti-henti berkeliaran kesana-kemari, mencari keberadaan sahabatku, Desi. Berjalan mondar-mandir. Sesekali aku melihat ke arah pintu yang bertuliskan plang ‘Selamat Datang’ itu.
‘drrttt.. Drrrttt..’
Ku raih handphone dalam tas ku yang tiba-tiba berdering. Tertulis nama ‘Desi’ disana. Tak menunggu waktu lama, langsung ku angkat telepon itu.
“hallo ja”
Belum sempat aku membalas, Desi langsung melanjutkan.
“ja, maaf banget ya, kamu pasti udah nunggu lama banget, kan? Aku tadi ada urusan sebentar”.
“hmm..” sahutku. Aku yang sudah terlanjur bete pun hanya mendengarkan setiap celotehan Desi.
“kamu tau nggak, ja?” tanya Desi yang akhirnya membuat ku mau untuk bicara.
“tau apa? tau baso? tau sumedang?”
“ihh, aku serius ini” jawab Desi dengan nada seriusnya.
Sejak kapan sih Desi bisa serius seperti ini. Setahu ku dia tidak pernah seserius ini, karena memang dia selalu bercanda di setiap obrolan. Sehingga siapa saja yang mengobrol dengannya, bahkan orang yang baru bertemu dengannya sekalipun, merasa seperti orang yang sudah kenal lama jika sedang mengobrol dengannya.
“apa sih, serius banget” jawabku dengan nada kesal. Entah kenapa aku masih dendam dengan Desi.
Mungkin karena sekitar 15 menit yang lalu, dia berhasil membuat ku layaknya orang b**o, yang celingak-celinguk sambil mondar-mandir kesana-kemari. Bahkan tak sedikit orang yang memperhatikan ku, karena di rasa aneh.
“anuu.. ja” jawab Desi sedikit bingung.
“anu.. anu..” sahut ku tak santai.
“adit katanya mau pindah ke kota sama orang tuanya, ja”
‘uhukk...’ tiba-tiba aku tersedak aqua yang dari tadi ku minum.
Aku bingung, kenapa mereka mau pindah ke kota. Padahal kan ini kampung halaman mereka. Yaa, benar sih suka-suka mereka. Tapi kan orang tua mereka asli sini, maksud nya sebelum orang tua nya Adit menikah, mereka memang tinggal di sini.
Padahal setahu ku mereka tidak ada masalah apa-apa. Seketika banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dan asumsi sendiri di kepala ku.
“ja, kamu gapapa, kan?” ucap Desi di seberang sana.
“iya gapapa. Teruss?” jawabku, agak kaget sih, tapi aku mencoba biasa saja agar Desi tak sungkan untuk memberikan kelanjutan informasi nya.
Karena sebelum ini, aku sering sekali bercerita tentang Adit ke Desi. Jadi mungkin hal ini yang menyebabkan Desi langsung menelpon ku ketika mengetahui kabar Adit ingin pindah itu.
‘tapi, kenapa Desi seserius ini? Padahal kan kalau cuman pindah biasa, masih bisa jalan-jalan kesini nanti. Toh, keluarga nya disini semua kan’ ucapku dalam hati.
“katanya dia mau menikah dengan orang kota, ja. Makanya mereka mau pindah, sekalian orang tuanya mau tinggal sama Adit dan istrinya nanti” jawab Desi dengan hati-hati.
Desi tau, sebenarnya Senja menyukai Adit. Tapi Senja sering mengelak. Tetapi tetap saja, disetiap pertemuan mereka, Senja selalu membahas Adit. Apalagi kalau bukan suka.
Aku tersentak kaget mendengar pernyataan Desi tadi.
‘benarkah? mana mungkin Adit akan menikah. Kalaupun iya, pasti satu kampong sudah heboh’ batin ku tak percaya.
Seketika aku terdiam. Merasakan detak jantung yang ku rasa sudah tak berdetak, darah yang berhenti mengalir, sesak serta nyeri di d**a, seperti ada beribu-ribu anak panah yang menghujani jantung ku. Air keringat dingin yang mengalir membuat tubuhku mengigil dan hampir pingsan.
Di seberang sana, terdengar suara Desi yang sibuk memanggil-manggil nama Senja. Namun panggilan itu seolah tak terdengar di telinga Senja. Hingga akhirnya Desi menutup teleponnya.
Hati Senja menjadi tak karuan. Air mata mulai terlihat di ujung matanya. Namun langsung di usapnya air mata itu. Dia tak yakin harus menangis disini. Karena mungkin saja tak seorang dua orang yang akan melihatnya menangis.
Tempat ini sangat ramai. Apalagi kalau di kampung sini, detik ini ada kejadian, detik berikutnya satu kampung akan tau. Karena tentunya hal itu akan jadi bahan pembicaraan mereka. Seperti itulah kira-kira.
Tiba-tiba aku tersentak kaget. Mendengar ada yang memanggil, sambil mendaratkan tepukan tepat di pundak sebelah kanan ku.
“kak!”
Ternyata itu Dinda.
“kakak kenapa?” Tanya dinda heran, sambil menunjuk ke arah mata ku.
“eh, gapapa, Din. Tadi kena asap rokok, jadi berair” jawab ku meyakinkan Dinda.
Dinda hanya mengangguk, mengambil aqua yang berada di atas meja tamu undangan, lalu meminumnya.
“kamu sendirian aja? Ibu mana?” tanya ku. Karena biasanya kalau ada acara nikahan seperti ini, Dinda pasti pergi dengan ibu, dan aku selalu dengan Desi. Tapi tidak untuk hari ini, karena Desi yang tiba-tiba ada kesibukan mendadak.
“nggak, tadi sama ibu kok. Cuman ibu lagi ngambil makanan”
Aku cuman mengangguk.
“kakak nggak makan?”
“ini mau ambil makanan dulu. Kakak kesana dulu ya” jawabku sambil menunjuk ke arah meja yang penuh dengan makanan.
“iya kak”
Kemudian aku berlalu meninggalkan Dinda sendirian.
***
“alhamdulillahh..” hal yang pertama ku ucapkan ketika melihat mangkuk berisikan soto itu telah habis.
Lalu ku ambil tissue, untuk membersihkan sisa kuah soto di sekitar bibir ku.
Saat aku hendak berdiri menanggalkan kursi yang ku tempati. Aku melihat Adit dan temannya. Seketika itu pun tubuh ku terasa bergetar. Teringat apa yang di katakan oleh Desi tadi ketika di telepon.