Ku lihat Adit menghampiriku, dan meninggalkan temannya, Rizky. Tak lupa ia melemparkan senyumnya yang manis itu.
“ja”
“iya dit?”
“boleh duduk disini?” tanya Adit, sambil memegangi kursi yang ia maksud.
“oh iya, dit. Boleh” sahutku singkat.
“kamu udah makan, ja?”
“he..emh” jawabku singkat sambil menganggukkan kepala ku.
Kami terdiam beberapa saat. Ku lihat Adit sedang sibuk memainkan handphone miliknya, sambil sesekali tersenyum.
“dit, aku duluan, ya” kata ku, karena dari awal ya memang niatnya ingin pulang, namun terhalang oleh kedatangan Adit.
“bentar, ja” Adit langsung sigap menghalangi langkah ku. Aku sedikit terkejut dan menatap Adit heran.
“ada apa, dit?”
“boleh minta nomer mu gak, ja?” dalam hati aku bersorak gembira, namun seketika aku teringat kembali percakapan antara aku dan Desi.
“buat apa, dit?” sebenarnya bisa saja langsung ku berikan, tapi dia yang sebentar lagi akan menikah, untuk apa meminta nomer ku? Untuk di suruh bagikan undangannya, kah? Kalaupun iya, pasti langsung ku tolak mentah-mentah.
“buat di kasihkan ke Rizky” sahutnya, dengan wajah tanpa dosa. Aku terdiam, sambil sesekali memainkan bibir. Adit langsung tertawa melihat ekspresi ku.
“gak kok, ja. Aku yang minta, ya pasti buat aku lah” aku hanya mengangguk sambil memainkan kedua belah alis.
“boleh, gak, ja?” tanya nya lagi.
“buat apa dulu nih? Kalau buat di suruh bagiin undangan, aku gak mau” jawabku, ku palingkan pandangan ku. Adit langsung kebingungan mendengar ucapan ku.
“hah? Gimana gimana? Maksudnya undangan apa, ja?”
“ya undangan nikah lah, masa undangan ulang tahun. Ya kali” jawab ku dengan nada kesal. Masih tak mengerti, lalu Adit menggaruk-garuk tengkuknya.
“nikahan siapa sih, ja? Beneran aku gak ngerti ini, coba kamu jelasin” pinta Adit.
“ya,, kamu kan memang mau menikah” ucap ku lirih. Mendengar hal tersebut, Adit langsung terkejut tak percaya.
“kamu kata siapa, ja?” Adit memegang tangan ku, sambil menatap wajah ku.
“tadi aku di telpon Desi, ku pikir penting. Ternyata cuman mau ngasih tau itu doang. Buang-buang waktu” jawab ku, ku lepaskan tangan Adit dari tangan ku.
‘ya penting lah, soal nya aku berharap kamu itu masa depan ku. Tapi nyata nya kamu malah ingin menikah dengan wanita lain’ ucapku lirih dalam hati.
“kalau gak penting, kenapa kamu dari tadi marah-marah gak jelas?” goda Adit.
“apaan sih, aku tuh ya gak lagi marah-marah sama kamu”
“terus sama siapa?”
“tau ah, gak penting ngomongin ini, gak penting juga ladenin kamu” ku tinggalkan Adit, dia hanya diam mematung.
***
Ku lihat handphone di atas meja yang tiba-tiba bergetar dan menyala. Ternyata ada pesan masuk.
[ja, ini aku Adit. Maaf, aku tadi minta nomer kamu ke Dinda] from +628********12.
Langsung ku cari Dinda, adikku.
“Diiinnn… Dindaaaa” teriak ku.
“apa sih, ja, teriak-teriak. Malu kedengeran tetangga. Anak gadis kok teriak-teriak” tak ku hiraukan perkataan ibu. Aku masih sibuk mencari Dinda.
“Dinda mana, bu?” tanya ku ke ibu, sambil bolak-balik dari kamar Dinda ke dapur terus ruang tamu.
“baru aja pergi lagi”
‘awas aja anak itu kalau pulang’ ucapku sambil mengepalkan tangan. Langsung masuk kedalam kamar.
“emang kenapa, ja?” tanya mama penasaran.
“gapapa, bu” berteriak dari dalam kamar.
Ku tatap diri ku di cermin.
‘entah kenapa aku marah ketika tahu bahwa Dinda memberikan nomer ku ke Adit. Seharusnya kan senang’ ucap ku dalam hati.
“senang apa nya, jodoh orang, b**o” ucapku pada pantulan diri ku yang ada di cermin. Lalu ku lihat lagi pesan masuk dari Adit. Ku simpan nomer telponnya.
[iya, dit, gapapa. Ada apa?] send Adit.
[kayaknya penting banget, ya? Sampai-sampai kamu bel-belain minta nomer ku ke Dinda?] send Adit.
[iya, penting banget] from Adit.
‘anjerr, cepet juga dia balasnya’ ucap ku.
[apa] send Adit.
[kayaknya kita harus ketemu deh, ja] from Adit.
[harus? Lewat sini kan bisa.] send Adit.
Sudah lima belas menit lebih, taka da balasan dari Adit.
‘drrttt.. Drrrttt..’ Adit.
“halloo, dit” dengan sedikit gugup.
“keluar bentar bisa, ja? Ku tunggu di jembatan arah ke jalan Manggis”
“nga-“ belum selesai, Adit sudah mematikan telponnya lebih dulu.
Aku bersiap-siap terlebih dahulu, serta mengganti baju. Ku langkahkan kaki ku keluar rumah.
"mau kemana, ja? Rapi banget” tanya bapak yang sedang santai di teras depan.
“rapi apaan, pak? Model baju kaos sama celana jeans gini di bilang rapi” sahutku. Menanggapi itu, bapak hanya tertawa.
“mau kemana, hum?” tanya bapak.
“ke depan bentar, pa” jawabku, lalu pergi dengan mengendarai sepeda motor matic milikku.
Jarak dari rumah ku ke jembatan itu lumayan jauh, hampir satu kilometer. Ku lihat Adit sedang duduk di atas sepeda motornya. Langsung ku hampiri Adit. Adit yang sadar akan kedatangan ku, langsung turun dari sepeda motornya.
“sudah lama?” mencabut kunci dari sepeda motor.
“nggak juga. Aku juga baru sampai, kok” jawab Adit, sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya.
“ada apa, dit? Kayaknya memang penting banget, ya?” aku masih terlihat cuek dengan Adit.
‘perempuan ini kenapa sih, gatau salah apa. Tiba-tiba dari kemaren cuek aja, marah-marah gak jelas. Padahal sebelumnya baik-baik aja’ batin Adit.
“aku mau ngomong serius sama kamu, tapi kamu janji jangan bilang siapa-siapa, ya?” kali ini Adit dengan wajah seriusnya, semakin membuat ku heran.
“ngomong apa, dit?” dan sekarang, aku juga mulai serius.
“janji dulu tapi” rengeknya, seperti anak kecil yang di janjikan akan di belikan permen oleh orang tuanya. Melihat ekspresi dan tingkah Adit yang tiba-tiba berubah seperti anak kecil itu, aku hanya tertawa kecil sambil menganggukkan kepala.
“sebenarnya, aku itu suka sama kamu” seketika wajah Adit berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.
‘hah? Apa ini? Adit nembak aku?’ aku tertawa kegirangan di dalam hati, ku kulum bibir ku untuk menahan senyum karena malu.
“tapi bo’ong” lanjut Adit. Aku yang awalnya merasa terbang melayang di langit ke tujuh, tiba-tiba terhempas kencang, rasanya sakit sekali, d**a ku langsung nyeri di buatnya, untuk bernafas pun sangat sulit. Aku hanya tersenyum sambil mencoba untuk menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa ini.
Adit terdiam, rupanya ia melihat ekspresi kekecewaan yang sangat nampak di wajahku. Tak terasa air mata ku mengalir begitu saja membasahi kedua belah pipi ku. Kecewa? Marah? Sakit? Entahlah, semuanya sudah bergabung menjadi satu. Lalu Adit menarik tangan ku, di usapnya air mata ku. Dia memandangi wajahku dengan seksama.
“ja?” sadar Adit yang sedang memanggil ku, sontak langsung ku singkirkan tangan Adit yang masih berada di wajah ku itu. Lalu ku palingkan badan membelakangi tubuh Adit. Ku tarik nafas dalam, lalu ku hembuskan secara perlahan. Ku lakukan berulang-ulang sampai perasaan ku sudah mulai kembali normal.
“ja?” Adit menepuk pundak ku.
“maaf, dit. Aku gak suka dengan kelakukanmu tadi. Itu gak bisa di jadikan sebagai bahan lelucon” tanpa menatap wajah Adit. Aku langsung berjalan menuju sepeda motor ku. Ku ambil kunci sepeda motor di saku celana jeans ku, lalu ku nyalakan sepeda motor matic itu, dan berlalu meninggalkan Adit. Sesekali ku tatap di kaca spion, Adit yang sedang mengacak-ngacak rambutnya sambil menendang angin.