Gengsi Davian

1087 Kata
Pukul sembilan seperti biasa Indira dan seluruh kepala karyawan dari berbagai divisi di perusahaan Pramana Group tengah menunggu kedatangan Davian di lobi utama. Hal yang selalu dirindukan oleh Indira selama dua hari wanita itu tidak bekerja dan hanya beristirahat di rumah. “Kau sudah kembali pulih, Indira?” tanya Revan sambil berbisik di telinga Indira. Indira membalasnya dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Syukurlah kau pulih lebih awal karena jika tidak, lelaki itu akan sering datang ke ruanganku dan mengeluh sebab merindukanmu,” tambah Revan yang membuatnya tertawa kecil sesaat karena setelah itu mereka harus kembali fokus pada kedatangan Davian yang baru saja turun dari mobil. “Selamat pagi, Pak Davian,” kata mereka serempak memberikan salam kepada Davian sambil sedikit membungkukkan badan. “Selamat pagi,” balas Davian dengan tatapan matanya yang sinis ke arah Revan dan juga Indira. Sepertinya lelaki itu sempat memperhatikan keduanya yang tampak akrab mengobrol sebelum menyambut kedatangannya. “Apa yang terjadi dengan Davian?” tanya Revan yang menyadari tatapan sini yang sempat Davian berikan kepadanya dan Indira. Indira mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya karena memang wanita itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tanda tanya besar yang memenuhi kepala mereka, kini keduanya segera bergabung ke dalam rombongan yang kini mengikuti langkah Davian. Selama perjalanan menuju ruang kerjanya Davian sempat bertanya kepada Indira perihal jadwalnya hari ini, lalu diselingi beberapa pertanyaan mengenai kemajuan proyek yang dikerjakan oleh beberapa divisi perusahaan. “Kalian boleh kembali ke ruangan kerja masing-masing tapi untuk Pak Revan, saya ingin bicara,” titah Davian ketika mereka semua sudah berada tepat di depan pintu ruang kerja Davian. Mereka pun langsung bubar sesuai perintah atasan mereka, Davian pun masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Revan. “Duduklah, Pak Revan,” suruh Davian dengan penekanan saat menyebutkan ‘Pak Revan’ ketika lelaki itu sudah duduk di sofa. Tatapan Davian kepada Revan tidak berubah sedikit pun hingga hal itu membuat Revan takut dan menuruti ucapan Davian dengan cepat. “Maaf tapi kalau boleh tahu mengapa Pak Davian ingin bicara dengan saya?” tanya Revan yang terdengar formal apalagi ketika mendengar Davian yang sama-sama bicara formal kepadanya. “Apa anda tidak mengetahui kesalahan anda sendiri?” tanya Davian yang kini sudah menyadarkan tubuhnya di sofa dengan tangan dan kakinya yang saling bersilang. Revan menatap bingung ke arah Davian dengan dahinya yang berkerut. “Apa sekarang kau berusaha mendekati Indira?” tanya Davian lagi. “Apa maksudmu, Dav? Mana mungkin aku menusukmu dari belakang?” tanya Revan yang tak habis pikir dengan pertanyaan sahabatnya tapi beberapa saat kemudian lelaki itu sadar maksud sang sahabat. “Kau cemburu karena aku dan Indira tadi sempat tertawa bersama?” Revan kembali bertanya untuk memastikan. Kini Davian bingung harus memberikan jawaban apa karena lelaki itu terlalu gengsi hanya untuk mengatakan fakta tentang hal itu. “Aku bukannya cemburu hanya saja aku takut jika hal buruk yang sudah aku lakukan di belakang Angela terjadi juga kepadaku apalagi dilakukan oleh orang terdekatku,” jawab Davian yang tentunya membuat Revan tersenyum karena lelaki itu tahu apa yang Davian pikirkan saat ini. “Oh ya? Berarti kau tidak benar-benar jatuh cinta dengan Indira?” tanya Revan yang sengaja ingin menjahili Davian sekaligus ingin membuktikan seberapa besar cinta Davian kepada Indira. “Kau ini benar-benar...” Davian kini merubah merubah posisi duduknya menjadi berdiri dengan kedua tanganya yang terkepal ingin meninju Revan saking kesalnya. “Sudahlah kembali ke ruangamu sana!” Davian melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya dengan salah satu tangannya melonggarkan dasinya yang terasa sesak. Kalau saja Revan bukan sahabatnya mungkin Davian sudah melemparkan tinju kepadanya hingga babak belur. “Kau yakin tidak merasa cemburu sedikit pun kepadaku yang sedang mendekati Indira? Kau tahu ‘kan, aku ini tampan,” ledek Revan sambil membenarkan dasinya dan bersikap persis model iklan. Hal itu tentu membuat Davian mual dan semakin kesal. “Revan jika kau tidak segera pergi aku akan—“ “Ayolah aku hanya bercanda, Dav,” potong Revan yang memohon kepada Davian yang kali ini terlihat semakin kesal dan hal itu terlihat dari wajah Davian yang memerah serta rahangnya yang mengeras. “Pergilah sekarang atau....” “Baiklah aku akan keluar sekarang.” Kali ini Revan menyerah menggoda singa yang baru saja bangun dari tidurnya tersebut. Revan setengah berlari menuju pintu keluar ruang kerja Davian. Indira terlihat bingung melihat tingkah Revan yang baru saja keluar dari ruang kerja Davian. “Ada apa Pak Revan? Apa ada masalah?” tanya Indira penasaran. “Tidak hanya saja kau harus berhati-hati karena ada singa yang baru saja bangun dari tidur panjangnya,” jawab Revan yang masih saja sempat-sempatnya bercanda bersama Indira. Lelaki itu tidak tahu saja singa yang dimaksudkan oleh masih mengamati pergerakannya dari jendela kaca yang mengarah tepat ke meja kerja Indira. “Singa? Apa maksud Pak Revan?” tanya Indira bingung dengan Jokes yang dilontarkan oleh lelaki itu. “Nanti kau akan tahu setelah ini, jadi tunggu saja giliranmu,” jawab Revan yang kali ini tertawa renyah ketika mengingat kembali ekspresi Davian yang gengsi untu mengakui kalau memang ia cemburu. “Apa ini ada hubungannya dengan Pak Davian?” tebak Indira yang masih saja penasaran dengan ucapan Revan yang terdengar ambigu baginya. Revan menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang, sampai jumpa Indira,” pamit Revan sambil melambaikan tangannya. Setelah itu Davian menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam ruangan kerjanya. Jantung Indira mulai berdebar kencang apalagi ketika mengingat ucapan Revan beberapa waktu lalu. “Apa Pak Davian memerlukan sesuatu?” tanya Indira dengan kepalanya yang tertunduk setelah memasuki ruang kerja Davian. “Kemarilah, ada hal penting yang ingin aku bicarakan,” titah Davian dengan raut wajahnya yang terlihat sangat serius. Indira segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja kerja Davian lalu berdiri tepat di sampingnya. Tangan Davian memegang remote untuk mengendalikan tirai vertikal Blind agar dapat menutup dengan sempurna. Sebenarnya Davian tidak masalah jika ada yang melihat nanti tapi ia masih memikirkan masa depan Indira dan tidak ingin kekasihnya tersebut di cap sebagai pelakor oleh seluruh penghuni kantor. “Duduklah di sini, Sayang,” pinta Davian sambil menepuk pahanya yang kini sudah memutar kursinya mengarah tepat di hadapan Indira. “Dav, saat ini kita sedang berada di kantor jadi berusahalah bersikap seprofesional mungkin,” kata Indira yang mengingatkan Davian agar tidak meminta hal aneh kepadanya. Otak Indira masih cukup waras untuk menjaga citra keduanya selama di kantor. “Ayolah Sayang, tirai sudah aku tutup lalu ruangan ini kedap suara jadi apa lagi yang kau khawatirkan?” tanya Davian yang seolah tidak memikirkan hal buruk lainnya jika terjadi kesalahan sedikit saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN