“Permisi Pak Revan, Sa—“
Reva terkejut melihat Revan yang kini tengah mabuk berat di ruang kerjanya kala wanita itu ingin berpamitan dengan Revan. Reva langsung berlari mendekat ke arah Revan yang sudah duduk di lantai sambil menangis seperti anak kecil.
“Astaga Pak Revan, apa yang terjadi dengan bapak?” tanya Revan yang kini sudah berjongkok tepat di hadapan Revan. Terlihat penampilan Revan yang kini sudah sangat berantakan dari atas sampai bawah hingga timbul sebuah rasa iba di dalam hati Reva terhadap bosnya tersebut. Hal ini bukan pertama kalinya Reva melihat keadaan Revan yang tampak kacau sore itu tapi mungkin sudah berkali-kali hanya saja yang berbeda dengan hari ini adalah air mata yang keluar dari manik mata Revan.
“Reva, kau....” Revan langsung memeluk tubuh Reva karena hanya itu yang saat ini dibutuhkan oleh laki-laki itu. Hatinya terasa hancur dan sangat sakit karena pasalnya untuk kesekian kalinya Revan mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Nara, kekasihnya yang sudah ia tangkap basah siang tadi. Tapi kali ini Nara tanpa ragu mengelak hubungan perselingkuhan tersebut dan ingin berpisah dari Revan.
“Maaf jika saya lancang tapi saya ingin seperti ini sebentar saja,” lanjut Revan dengan suaranya memohon kepada Reva sebelum wanita itu melepaskan pelukannya. Reva sendiri tidak keberatan jika harus berpelukan seperti ini dengan Revan karena wanita itu merasa tidak tega melihat ketidakperdayaan Revan saat ini.
Lima belas menit kemudian, akhirnya Revan melepaskan pelukannya dengan Reva. Suasana hatinya kini sudah terasa lebih baik dari sebelumnya. Namun Revan merasa jika wibawanya di hadapan Reva kini sudah jatuh akibat kelakuannya sendiri. Apakah setelah ini Revan masih punya muka di hadapan sekretarisnya tersebut.
“Terima kasih, Reva. Berkatmu saya merasa jauh lebih baik sekarang,” kata Revan tanpa menatap wajah cantik wanita itu. Suasana canggung pun sempat menyelimuti keduanya tapi Reva berusaha sebisa mungkin bersikap seolah tidak ada hal yang terjadi di antara mereka.
“Maaf tapi apakah Bapak ingin minum teh hangat?” tawar Reva yang kini mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah karena ia ingin menemani Revan di sini. Setidaknya wanita itu tidak ingin hal buruk terjadi kepada Revan setelah ia meninggalkannya sendirian.
“Boleh jika tidak merepotkanmu,” jawab Revan sambil memijat pelipis kepalanya yang kini terasa sangat pusing akibat minuman beralkohol yang diminumnya. Revan merasa beruntung walau mabuk tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya hingga tidak terjadi hal yang buruk dengannya.
“Ah Nara, kau benar-benar wanita yang sangat kejam!” tangan Revan terkepal ketika mengingat kembali kejadian siang ini kala lelaki itu menangkap basah mantan kekasihnya. Dan hal yang paling melukai hatinya ketika Nara seakan membuangnya begitu saja tanpa mengingat bagaimana dirinya selalu memanjakan serta memberikan segenap hatinya kepada wanita itu.
“Berkali-kali aku sudah memaafkanmu tapi—“
“Permisi Pak, ini teh hangat untuk bapak,” potong Reva sambil memberikan teh hangat kepada Revan. Lelaki itu menoleh ke arah Reva lalu tersenyum tipis sambil meraih cangkir teh tersebut.
“Bagaimana? Apa bapak merasa lebih baik sekarang?” tanya Reva ketika Revan sudah menengguk cangkir berisi teh hangat. Revan membalasnya dengan menganggukkan kepala.
“Maaf karena sudah membuatmu pulang terlambat, Reva.” Revan membuka obrolan di antara untuk mengusir suasana hening yang sempat singgah. Keduanya terlihat sama-sama canggung saat ini.
“Tidak apa-apa, Pak, kalau bapak ingin bertukar pikiran saya siap mendengarkan tapi jika tidak sa—“
“Oh ya Reva, apakah kau pernah merasakan dikhianati oleh pasanganmu?” potong Revan yang sepertinya mulai tertarik untuk berbagi cerita dengan sekretarisnya tersebut. Apalagi sejak tadi Davian sulit dihubungi sehingga lelaki itu bingung harus berbagi cerita dengan siapa.
“Pernah, Pak.”
Revan menoleh ke arah wanita yang kini duduk di sampingnya dengan pandanganya yang tertunduk ke bawah. Lelaki itu seakan bisa merasakan kesedihan yang kini mungkin dirasakan oleh Reva walau hanya melihat wajahnya dari samping.
“Maafkan saya karena sudah membuatmu bersedih,” kata Revan lalu Reva menoleh ke arahnya dengan kedua matanya yang tengah berkaca menahan air matanya yang ingin keluar.
“Tidak apa-apa, Pak, lagi pula hal itu sudah berlalu sangat lama hanya saja rasa sakitnya masih terasa sampai saat ini, menyedihkan bukan?” balas Reva sambil tersenyum karena wanita itu enggan membuat Revan merasa kasihan kepada dirinya.
“Ya kau benar rasa sakitnya akan terus membekas selamanya walau orang yang kita cintai sudah bahagia dengan yang lain.” Revan kini sadar dengan ucapan Davian yang selalu mengatakan agar tidak terlalu memanjakan Nara dengan harta yang ia punya, apalagi setelah wanita itu berkali-kali main api di belakangnya. Sungguh sekarang Revan merasa terlihat sangat bodoh.
“Tapi bukankah sekarang kita harus mengobati luka itu agar kita bisa merasakan bahagia, Pak?” Revan menoleh ke arah Reva yang kini tengah tersenyum ke arahnya. Pertanyaan Reva barusan seakan membuka pikiran Revan agar dirinya segera bangkit dari keterpurukannya saat ini.
“Ya sekali lagi kau benar, Reva. Hidup harus terus berjalan walau rasa sakit masih saja hinggap,” kata Revan sambil tersenyum. Keduanya terihat sepeti saling menyemangati dan menguatkan ketika keduanya merasakan hal yang sama.
“Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita pulang?” Revan sudah berdiri lalu mengulurkan tangannya tepat di depan wajah wanita itu. Reva pun meraih tangan itu dan segera berdiri.
“Apa Bapak sudah baik-baik saja?” tanya Reva untuk memastikan.
“Seperti yang bisa kau lihat aku sudah baik-baik saja, sekarang kembalilah ke meja kerjamu dan ambil semua barang-barangmu karena aku akan mengantarmu pulang,” jawab Revan sembari memberikan perintah kepada Reva.
“Tapi, Pak—“
“Saya tahu kau khawatir karena aku sedang mabuk saat ini tapi tenang saja kita akan pulang menggunakan taksi,” potong Revan lalu laki-laki itu beralih ke arah meja kerjanya untuk merapihkan penampilan serta mengambil barang-barang miliknya. Tak lupa tangan Revan tergerak mengotak-atik ponselnya untuk memesan taksi. Reva pun kembali ke meja kerjanya untuk mengambil barang-barang miliknya.
“Apakah kau sudah selesai?” tanya Revan yang sudah keluar dari ruangannya dan menghampiri Reva yang juga sudah siap.
“Sudah, Pak.”
“Berhenti memanggil Pak tapi panggil nama saya saja Revan karena kita ini sudah di luar jam kerja, Reva.” Tegas Revan.
“Baik Pa— maksud saya, Revan.” Reva terlihat gugup dan canggung.
“Good, kau memang sekretarisku yang pintar, Reva. Kalau begitu kita keluar sekarang karena supir taksi sudah menunggu di bawah,” puji Revan kepada Reva yang selalu menuruti perintahnya. Keduanya pun berjalan ke arah lift agar bisa segera sampai ke lantai dasar. Keadaan kantor saat itu sudah sangat sepi karena semua karyawan sudah pulang kecuali para petugas keamanan.