Ada sekitar lima puluh calon pelayan kerajaan yang berbaris di halaman belakang yang lolos di tahap pertama yaitu menuliskan nama sendiri dengan benar. Yang mendaftar ada beberapa yang buta huruf.
Seorang wanita berdiri di hadapan mereka semua. Pakaian ungu yang menandakan dia kepala pelayan membalut tubuh gemuk berisinya. Rambut hitam legamnya diikat dengan rapi.
Dia menatap satu per satu calon pelayan kerajaan dengan tatapan menilai. "Selamat untuk kalian yang telah lolos tahap pertama. Namun kalian jangan senang dulu, masih banyak tahapan-tahapan seleksi yang lainnya. Oleh karena itu kalian lakukan yang terbaik sebisa kalian," saran Kepala Pelayan tersebut yang dibalas anggukan semua calon pelayan.
"Kalian termasuk beruntung, karena tahun ini Raja memperbolehkan rakyat dari berbagai golongan untuk ikut seleksi," sambung wanita itu. Ekornya berwarna ungu tua.
"Di seleksi yang kedua ini sama seperti yang sebelumnya. Setelah selesai akan diberi tahu secara langsung siapa saja yang berhak melanjutkan ke tahap yang selanjutnya."
"Ingat pihak kerajaan hanya akan memilih pelayan-pelayan yang berkualitas!" ujar wanita itu dengan nada penuh penekanan di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
Windy mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Baiklah, ujian tahap kedua ini kalian harus membuat satu cangkir teh. Untuk semua alat-alat akan disiapkan oleh pihak istana."
Puluhan pria berpakaian pelayan membawa alat-alat membuat teh dan meletakkan satu per satu di setiap tempat duduk calon-calon pelayan. Setelah selesai puluhan pria itu kembali ke tempatnya masing-masing.
"Alat-alat membuat teh telah disiapkan. Saya akan memberi tahu waktu yang kalian punya untuk membuat teh yaitu satu jam," ujarnya lagi memberikan instruksi.
Seorang pria di sampingnya memukulkan gendang sebanyak satu kali sebagai tanda dimulainya waktu seleksi.
"Silakan dimulai!"
Xynerva, Amayra, dan Loveleen duduk satu baris tepatnya di barisan nomor empat dari sepuluh barisan yang ada.
Xynerva memandang kedua temannya tersebut sembari mengangkat tangannya sebagai kata semangat.
Xynerva mulai mengambil daun-daun teh, memasukkannya ke dalam wadah penggilingan, lalu memutarnya sampai halus. Setelah daun-daun teh halus. Xynerva bangkit dari posisi duduknya menuju ke sumur terdekat, dia mengambil satu ember air dan tak lupa memetik beberapa lembar daun mint merah. Gadis itu mendapatkan tatapan yang berbeda dari tim juri yang akan menilai. Xynerva kembali ke posisi duduknya kembali, tangannya menuangkan sedikit air yang diambilnya ke dalam wadah. Daun-daun teh yang sudah halus dimasukkan ke dalam wadah bulat yang sudah berisi air bersih, dia kemudian mengaduk-ngaduknya sampai rata. Setelah itu dia mengambil saringan untuk menyaring teh sembari menambahkan beberapa daun mint. Usai disaring, dia memasak air teh tersebut sampai benar-benar matang.
Amayra melirik sekilas yang dilakukan oleh temannya tersebut. Dalam hati dia memuji kreativitasnya tersebut.
Loveleen juga melihat sekilas Xynerva. Awalnya dia takut jika Xynerva tidak bisa membuat teh. Alasannya sederhana karena Xynerva mengaku baru kemaren belajar membuat teh secara langsung dari alam. Biasanya ketika membuat teh di dunia manusia Xynerva tinggal mencelupkan saja teh yang sudah jadi. Kini dia tidak hanya bernapas lega, dia juga tersenyum bangga.
Waktu yang disediakan sudah habis. Kini waktunya satu per satu calon pelayan untuk membawa satu cangkir teh buatan mereka untuk dicicipi oleh tim juri.
Xynerva memberikan tatapan semangat untuk kedua sahabatnya. Yang dibalas oleh Amyra dan Loveleen juga.
Tiba saatnya giliran mereka untuk membawa teh untuk dicicipi oleh juri. Sebagai perwakilan seorang pelayan wanita membawa yang berisi beberapa cangkir buatan calon pelayan barisan keempat ke depan.
Tim juri berjumlah empat orang yang terdiri dari dua orang wanita dan dua orang pria. Mereka duduk berbaris di kursi nyaman yang telah disediakan. Secara bergantian tim juri mencicipi masing-masing teh secara bergantian dan memberikan penilaian. Di setiap cangkir teh telah tertulis nama masing-masing yang membuatnya.
Walaupun mereka bertiga telah belajar dengan baik sebelumnya di rumah. Tidak menutup kemungkinan jantung mereka berdetak dengan kencang, deg-degan mendengar hasilnya.
Semua teh telah dicicipi oleh tim juri. Kini saatnya pengumuman siapa yang bisa lanjut ke tahap selanjutnya.
Kepala Pelayan bernama Windy bangkit dari posisi duduknya, dia berjalan ke depan setelah juri memberikan segulung kertas berisi penilaian. "Baiklah, semuanya calon-calon pelayan kerajaan! Seperti yang telah kalian ketahui di dalam kertas ini telah berisi hasil penilaian. Saya akan membacakannya."
Tidak hanya mereka bertiga yang menantikan hasil pengumuman, yang lain juga.
Dengan gerakan lambat yang disengaja, Windy membuka gulungan kertas tersebut. "Semua juri terkesan dengan secangkir teh buatan seorang gadis kecil yang bahkan mengalahkan orang yang lebih tua. Dari segi langkah-langkah teknik pembuatan, dan sampai proses pembuatan teh selesai. Di sini juga mengatakan aroma teh yang begitu berbeda dan aromanya yang menyegarkan membuat para juri jatuh hati. Apa kalian sudah tidak sabar ingin tahu siapa gadis tersebut yang berhasil mendapatkan juara pertama? Nama gadis itu adalah Xynerva Zanitha!
Pandangan calon-calon pelayan terarah pada Xynerva. Sebagian calon pelayan tersenyum bangga dan sebagian menatap tidak suka. Xynerva hanya membalas dengan senyuman khasnya.
"Selamat Xynerva, aku tahu kau pasti dapat juara satu!" puji Amayra memeluk Xynerva tulus.
"Selamat Xynerva! Kau berhasil mendapat juara pertama!" puji Lovellen seraya memeluk Xynerva.
"Terima kasih teman-teman," jawab Xynerva tersenyum senang.
"Oke, baiklah. Saya akan membacakan peringkat selanjutnya. Peringkat kedua dipegang oleh Amayra Kumala dan peringkat ketiga dipegang oleh Loveleen Zigar."
Kemudian kepala pelayan membacakan nama-nama yang lolos ke tahap yang selanjutnya. Total yang lolos ada dua puluh lima orang. Seleksi tahap ketiga akan dilaksanakan besok. Para calon pelayan dipersilakan untuk pulang beristirahat. Setiap orang yang bisa lolos ke tahap ketiga diberikan hadiah kecil yaitu berupa pakaian dan sejumlah uang untuk peringkat satu sampai lima. Sedangkan peringkat enam sampai selanjutnya diberikan pakaian.
***
Ibu Ratna merasakan ada yang tidak beres. Dia melihat bola voli, meja, kursi, payung, dan benda-benda yang lainnya tergeletak berantakan di pinggir pantai. Wanita itu berjongkok dan melihat tetesan cairan merah dan cairan merah kehitaman yang mengotori pasir pantai yang masih basah. Di pasir pantai ada banyak bekas cap kaki yang tidak wajar.
Ibu Ratna berjalan menghampiri toko yang tiba-tiba saja tutup. Padahal seingatnya toko peminjaman alat-alat renang baru akan tutup ketika malam hari jam 21.00 malam.
Ibu Ratna mengetuk pintu berulang kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam. "Apa ada orang? Halo?" teriak wanita itu kencang.
"Aneh kenapa tidak ada orang sama sekali?" tanya Ibu Ratna dengan ekspresi wajah heran.
Tiba-tiba seorang wanita menyentuh bahunya membuat Ibu Ratna menoleh. "Apa kau salah satu guru dari SMA Bunga Indah?" tanya wanita asing tersebut.
Ibu Ratna mengangguk mengiakan. "Iya, betul. Ada apa?" tanyanya dengan raut wajah keingin tahuan.
"Aku dimintai tolong oleh seorang ibu-ibu. Kau pasti ingin tahu apa yang telah terjadi di pinggir pantai ini. Puluhan iblis telah menculik anak-anak muda dan tiga orang wanita dewasa."
Penjelasan itu membuat Ibu Ratna kaget dan juga terkejut. "Puluhan iblis? Bukankah mereka harusnya tidak sampai ke sini?" tanya nya.
"Aku tidak tahu soal itu. Tadi sempat terjadi kekacauan," ujar wanita asing itu.