Chapter 46 - Pangeran Keempat

1105 Kata
Sejak beberapa saat yang lalu Alpha Lory menunggu chat dari Luna Nerva. Selama Nerva liburan di pantai tidak pernah menghubungi lagi. Antara lupa mengabari atau sibuk bermain? pikirnya. "Jayce, menurutmu apa alasan Luna Nerva tidak memberi tahu kita?" tanya Alpha Lory pada sisi serigalanya itu. "Mungkin saja Luna Xynerva sedang menikmati waktu liburannya itu. Lain kali kita harus mengajaknya liburan juga," sahut Jayce memasang posisi berpikir. "Iya, itu pasti aku akan mengajaknya." "Abbyan, cepat datang ke mari!" perintah Alpha Lory melalui mindlink. "Baik, Alpha. Saya akan segera menuju ke sana," jawab Abbyan. Pria itu kebetulan sedang bersantai menikmati camilan paginya. Tanpa menunggu waktu lama Abbyan telah hadir di hadapan Alpha Lory. Pria itu membungkuk hormat sembari mengucapkan salam. Abbyan adalah seorang pemuda yang memiliki keturunan darah India. Kulit badannya sawo matang. "Abbyan, kau cari informasi yang terjadi di pantai Kireina mengetahui Luna Nerva. Saya ingin informasinya sudah saya terima siang nanti!" perintah Alpha Mallory tegas. Aura wibawanya membuat orang-orang terkesan. Jas hitam membalut kemeja hitam yang dipakainya berpadu dengan celana formal berbahan dasar hitam. "Baik, Alpha. Saya akan langsung memberikan informasi begitu saya mendapatkannya." Abbyan membungkuk hormat, berjalan mundur beberapa langkah ke belakang dan berlalu ke luar ruangan Alpha Lory. Saat ini Alpha Lory sedang berada di perusahaan Gold Qui. Seorang sekretaris laki-laki memberi tahu jika satu jam lagi akan diadakan rapat antar perusahaan yang membahas barang baru yang akan diproduksi bulan ini. *** Jangankan menghubungi Alpha Lory. Mama dan neneknya saja tidak dihubungi beberapa hari ini. Hal itu membuat mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi? Tapi mereka berusaha untuk berpikir positif. "Ibu, harusnya Xynerva dan Lily baik-baik saja karena di sana empat orang guru yang menjaga mereka," ujar Zeline pada ibu kandungnya itu. Dia berkata dengan nada tenang. Informasi mengenai anak-anak dan tiga orang guru diculik belum sampai pads orang tua murid. Jika saja orang tua murid mengetahui soal itu, maka semua orang tua akan merasa sangat cemas dan khawatir. Satu lagi hal yang dipastikan orang tua pasti akan berbondong-bondong menuju pantai Kireina. "Iya, aku akan berusaha mengerti. Ibu Ratna sebagai penanggung jawab liburan di pantai pasti akan menghubungi kita jika telah terjadi sesuatu." "Betul, Ibu. Aku akan menyiapkan beberapa camilan untuk dimakan," ujar Zeline, lalu berlalu ke dapur untuk membuat beberapa camilan yang enak. Mereka berada di toko alat tulis. Bagian belakang toko terdapat dapur yang didesain khusus untuk membuat makanan dan minuman. *** Ibu Ratna menimbang-nimbang akan memberi tahu orang tua murid atau tidak. Wanita itu saja tidak tahu di mana letak para iblis itu menahan anak-anak murid dan tiga rekan kerjanya. Ibu Ratna memakan makanan yang dia pesan sambil berpikir. "Memberi tahu orang tua murid kurasa itu hanya sia-sia saja," ujarnya. Hanya tersisa beberapa anak murid saja yang saat itu kebetulan sedang berada di kamar hotel bermain monopoli. "Iya, Bu. Kami juga setuju. Orang tua murid pasti akan langsung datang ke sini jika diberi tahu. Dan akan membuat suasana tambah runyam saja. Pastinya Ibu akan disalahkan," ujar seorang siswi bijaksana. Namanya Intan. "Iya, yang kau katakan betul. Anak-anak apa kalian punya rencana?" tanyanya mengalihkan pandangan pada empat orang anak-anak kelas sebelas yang kebetulan juga ikut. Anak-anak tidak langsung menjawab. Mereka tampak sedang berpikir. "Ibu, kira-kira apa tujuan mereka menangkap kakak-kakak kelas kita?" tanya salah seorang siswa laki-laki. *** Acara rapat meeting telah selesai. Orang-orang kalangan atas kini sedang bersalam-salaman atas rencana peluncuran produk parfum terbaru pada minggu depan nanti. Alpha Lory segera berjalan menuju ruang kerjanya untuk beristirahat sejenak melepas lelah. Alpha Mallory mempersilakan Abbyan untuk berjalan masuk ke dalam. Seperti biasa pria tampan khas india itu membungkuk hormat sebelum berbicara. "Alpha, saya telah menyelidiki apa yang terjadi di pantai Kireina. Menurut informasi yang saya dapat, beberapa hari yang lalu anak-anak sekolah SMA Bunga Indah diculik oleh para iblis." "Diculik? Lalu bagaimana dengan Luna Nerva?" tanya Alpha Lory tak sabar, jantungnya berdetak kencang. Raut wajahnya sangat khawatir. Dia tidak begitu peduli dengan orang-orang lain selain belahan jiwanya. "Luna Nerva juga tidak berada di sana, tapi ada yang bilang tiga orang gadis berenang ke dalam lautan. Mungkin saja salah satu gadis itu adalah Luna," beber Abbyan tenang. "Baiklah, kau bisa pergi sekarang. Dan cari informasi dan langsung kasih kabar jika menemukannya," perintah Alpha Lory yang dipatuhi Abbyan. Alpha Lory meminta Darren untuk mengambil alih tugas-tugas kantornya untuk beberapa hari ke depan, sedangkan Alex dipinta untuk mengurusi masalah pack Quirin. Setelah mengganti pakaian formal dengan pakaian yang non formal. Alpha Lory segera berangkat ke pantai Kireina dengan membawa puluhan warrior bersamanya. Dia harus memastikan sendiri keselamatan Luna Nerva. *** Semua seleksi telah selesai. Xynerva, Amayra, dan Loveleen berhasil lolos seleksi menjadi pelayan kerajaan. Mulai hari ini mereka bekerja di bagian dapur istana karena kemampuan mereka yang bagus. Mereka melayani pangeran keempat kerajaan Bintang. Xynerva, Amayra, dan Loveleen juga mendapatkan kamar khusus pelayan di kediaman pangeran keempat. "Rencana kita berhasil teman-teman," ujar Xynerva dengan raut wajah bahagia. Mereka bertiga sedang merapikan barang-barang yang dibawa seperti pakaian di dalam lemari. "Kita berhasil! Kita akan mencari kesempatan untuk melakukan aksi kita!" sahut Loveleen senang. "Kita beberapa hari ke depan harus melayani Pangeran Keempat dengan baik untuk mendapatkan kepercayaannya," ucapan Amayra disetujui oleh Xynerva dan Loveleen. Setelah mengganti pakaian dengan pakaian khusus pelayan dan merapikan barang-barang mereka segera menuju ke kediaman Pangeran Keempat. "Salam Yang Mulia Pangeran Keempat!" ucap Xynerva, Amayra, dan Loveleen bersamaan membungkuk hormat di hadapan Pangeran Keempat. Pangeran Keempat mengangguk pelan. "Silakan berdiri kalian bertiga! Kalian sebutkan nama kalian," perintahnya. Mereka bertiga berdiri kembali sembari, lalu menyebutkan nama masing-masing secara bergantian. "Pangeran Keempat, saya akan menyiapkan secangkir teh untuk Anda." Xynerva, Amayra, dan Loveleen bergerak ke dapur untuk membuat secangkir teh dan kudapan atau makanan ringan. Mengapa aku merasa familiar dengan gadis pelayan itu? Aku seperti pernah melihatnya, batin Pangeran Keempat memasang pose berpikir. Dia meletakkan kuasnya ke tempat semula. Xynerva meletakkan nampan berisi cangkir di atas meja. "Silakan dinikmati, Pangeran Keempat," ujarnya dengan nada sopan. "Xynerva, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Pangeran Keempat langsung, menatap Xynerva yang berada di hadapannya. Xynerva memasang pose berpikir, lalu mengingat-ingat. "Tidak pernah, Pangeran Keempat. Apa ada yang salah?" tanyanya penasaran. Ya, tentu saja dia ingin tahu, takutnya dia pernah menyinggung keluarga kerajaan. "Baiklah, jika tidak pernah. Mungkin aku yang terlalu berpikir berlebihan." "Pangeran Keempat, saya permisi dulu. Jika Yang Mulia memerlukan bisa memanggil namaku saja." "Kau bisa pergi." Xynerva hendak berbalik dan berjalan. Belum sampai lima langkah. "Tunggu sebentar, Xynerva." Ada apa lagi dengan Pangeran Keempat ini? batin Xynerva bingung. Dia berbalik menghadap dan menunggu kelanjutan kalimat Pangeran. "Kau bisa temani aku bermain catur?" tanyanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN