Pangeran Keempat dan Xynerva bermain catur untuk yang kelima kalinya. Dan selama bermain empat kali itu, Xynerva kalah terus.
"Kau ini bodoh atau pura-pura mengalah dariku, hm?" tanya Pangeran Keempat. Pria itu mengetuk kepala Xynerva pelan.
"Pangeran Keempat, kepalaku ini bukan batu tahu!" sungut Xynerva menyerucutkan bibirnya lucu. Dia mengusap kepalanya pelan.
"Ayo jawab pertanyaanku sebelumnya, kau ini pura-pura mengalah atau memang bodoh?" Ulang Pangeran Dhevin menghiraukan ucapan yang tidak sopan dari pelayannya itu.
"Tidak bisa dibilang bodoh juga tahu. Aku mungkin tidak pandai bermain catur, tapi untuk urusan akademik aku jagonya." Xynerva paling anti dibilang bodoh, apalagi dia di kelas selalu mendapatkan juara satu.
Sebelumnya Pangeran Keempat tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan pelayan. Entahlah, Dhevin juga tak tahu alasannya dan pasti akan segera menemukan alasannya itu.
"Maksudmu urusan mata pelajaran di sekolah?" Dhevin sengaja bertanya. Jika seorang gadis bisa mendapatkan pendidikan itu berarti dia termasuk berasal dari keluarga yang berada. Yang menjadi pertanyaan mengapa Xynerva harus menjadi pelayan?
Xynerva dengan polosnya mengangguk, tanpa menyadari apa akibatnya itu. Sepertinya dia keceplosan.
"Ada apa Pangeran Keempat? Bukankah mendapatkan pendidikan itu hak setiap orang?" Xynerva malah balik bertanya lagi dengan raut wajah polos.
Ada yang salah dengan gadis ini. Tidak semua orang bisa mendapatkan pendidikan di Kota Bintang, batin Pangeran.
Pangeran Keempat bangkit dari posisi duduknya, lalu menatap gadis yang lebih muda darinya itu. "Katakan kau siapa? Berasal dari mana?" Yang Mulia Pangeran bertanya dengan nada tegas.
Xynerva sedikit terkejut dengan pertanyaan dari Dhevin. Sementara itu, Amayra dan Loveleen yang berdiri tidak jauh dari situ sudah takut dan cemas. Ketakutan nanti identitas asli Xynerva terbongkar. Jantung mereka berdetak dengan kencang.
"Aku Xynerva dan berasal dari lautan sebelah sana, Pangeran Keempat," sahut Xynerva berusaha untuk tetap tenang.
"Kau jelas tahu, apa yang ingin aku dengar dari ucapanmu. Katakan dengan jujur!" tekan Pangeran Dhevin menatap lurus Xynerva yang berdiri mematung.
Baiklah, aku harus mengatakan kebenarannya. Daripada Amayra dan Loveleen harus terlibat, pikir Xynerva.
Xynerva bersujud memohon ampun di atas lantai. "Maafkan aku Pangeran Keempat. Aku adalah seorang gadis manusia. Tujuan awal aku mengikuti seleksi menjadi pelayan kerajaan untuk menyelamatkan kedua temanku yang tak sengaja ditahan oleh prajurit istana."
Pangeran Dhevin cukup kaget dengan pernyataan tersebut. "Ternyata dugaanku benar, ada yang berbeda darimu."
"Bagaimana ini? Kita tak mungkin membiarkan Xynerva dihukum oleh Pangeran Keempat," bisik Amayra pada Loveleen.
"Bagaimana pun cara kita akan menolong Xynerva. Gadis itu adalah teman kita," balas Loveleen juga berisik.
Tanpa menunda lagi, Amayra dan Loveleen menghadap dan membungkuk hormat. "Mohon Pangeran Keempat jangan menghukum Xynerva. Dia tidak bersalah. Sebagai gantinya hukum saja kami," ujar Amayra dan Loveleen bersamaan.
Pangeran Keempat masih berdiri di posisinya yang sama. "Jadi, kalian berdua juga tahu jika Xynerva bukanlah putri duyung? Dan kalian berani membohongiku? Apa kalian tidak tahu jika berbohong pada keluarga kerajaan adalah kejahatan yang besar?"
"Kami tahu soal itu Pangeran, tapi Xynerva tidak tahu menahu mengenai peraturan itu. Xynerva berani berbohong kepada Pangeran Keempat karena demi menyelamatkan teman-temannya," ujar Amayra dengan berani.
"Maafkan aku sekali lagi, Pangeran Keempat. Hukum saja aku, Amayra dan Loveleen tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan ini." Xynerva sekali lagi membungkuk hormat.
Pangeran Keempat tak sengaja melihat kalung yang terpasang di leher Xynerva ketika dia membungkuk hormat tadi.
Kalung itu bukankah hanya untuk .....? Mengapa gadis ini memilikinya? batin Pangeran Keempat penasaran.
Gadis ini memiliki banyak rahasia yang tersembunyi. Aku tidak akan melepaskankannya dengan mudah, ucapnya dalam hati.
"Kalian bertiga akan aku hukum karena kesalahan kalian!" tegas Pangeran Keempat, kemudian tatapan beralih pada Xynerva yang menunduk.
"Lepaskan kalungmu dan berikan padaku," perintahnya tegas.
Xynerva menurut saja, dia melepaskan kalungnya dan menyodorkannya pada Pangeran Keempat.
Pangeran Keempat menatap lekat kalung berbandul bintang yang berada di genggaman tangannya. "Dari mana kau mendapatkan kalung ini? Apakah kau mencurinya?" Pertanyaan sang pangeran membuat Xynerva sedikit jengkel.
Enak saja, dibilang mencuri? Memangnya muka aku ini termasuk tipe pencuri apa? batin Xynerva. Namun Xynerva tetap memberikan senyuman. "Tentu tidak Pangeran. Kalung ini diberikan oleh mamaku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke satu tahun," jawabnya dengan tenang.
"Baiklah, aku akan melihat apa yang kau katakan itu benar atau tidak?"
"Silakan Pangeran."
Pangeran Keempat melihat sekilas Xynerva yang tampak tenang saja, lalu membuka bandul berbentuk bintang tersebut. Ketika bandul kalung dibuka muncul cahaya berwarna ping dan biru bersamaan dengan gelembung-gelembung dan muncul tulisan Nerissa Xynerva Zanitha berbentuk cahaya ping.
Bukan hanya Pangeran Keempat yang kaget, tapi Xynerva, Amayra, dan Loveleen juga kaget. Karena Xynerva tidak pernah sekali pun membuka bandul berbentuk bintang tersebut selama ini, dia juga tidak tahu kalau bandul tersebut bisa dibuka.
"Mengapa kau begitu terkejut, Pangeran Keempat?" tanya Xynerva setelah menetralkan keterkejutannya itu.
"Siapa nama ibumu?" Bukannya menjawab Dhevin malah bertanya kembali.
"Untuk apa Pangeran Keempat bertanya nama ibuku?" Mendapat tatapan tajam Dhevin. "Baiklah, aku akan mengatakannya nama mamaku Zeline Zakeisha Lovata dan sekalian nama nenekku juga mungkin Yang Mulia juga ingin tahu Khansa Quenby Lituhayu. Dan untuk nama kakekku Seth Uhtred Tyaga. Kurasa itu cukup, Yang Mulia."
"Xynerva kau benar-benar tidak tahu siapa aku?" Pertanyaan itu membuat dahi Xynerva mengerut tak mengerti.
"Ya, tentu saja aku tahu. Kau adalah Yang Mulia Pangeran Keempat dan Tuanku," jawab Xynerva enteng.
Pangeran Dhevin tiba-tiba memeluk Xynerva dengan erat membuat gadis itu kaget. "Ada apa denganmu, Yang Mulia?" tanya Xynerva dengan nada heran.
Sepertinya Pangeran Dhevin habis obat, pikir Xynerva dalam hati.
"Akhirnya aku menemukanmu Adik Keempat," ujar Pangeran Keempat setelah mengurai pelukannya. Pria itu menatap gadis di hadapannya dengan senyuman. Xynerva bisa mendengar ada kelegaan saat Pangeran Keempat mengucapkannya.
"Adik Keempat? Apa tidak salah Pangeran? Aku tidak punya saudara. Jadi, bagaimana mungkin aku adik keempatmu? Dan juga kita beda kelas. Yang Mulia Pangeran keluarga kerajaan dan aku hanya rakyat biasa." Tentu saja Xynerva sangat kebingungan saat ini karena dia tidak tahu apa-apa.
"Jangan berkata begitu, Adik Keempat. Aku adalah kakak sepupumu Dhevin Zayyan Naaman."
Aku semalam mimpi apa? Kenapa bisa jadi seperti ini? batin Xynerva tak mengerti.
Melihat raut wajah kebingungan Adik Keempatnya itu membuat Pangeran Keempat memahami suatu hal. "Aku mengerti, Bibi Zeline tak pernah memberi tahumu soal paman dan bibi serta saudara-saudari sepupumu. Tak apa."
Mamaku hanya bilang jika dia tidak punya saudara, tapi mengapa Pangeran Keempat berkata begitu? pikir Xynerva.
"Aku akan meminta pelayan membantumu berhias. Setelah itu, aku akan membawamu menemui keluarga kita yang lain," ujar Pangeran Keempat.
***
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Pangeran Keempat bilang dia adalah kakak sepupuku?" ujar Xynerva pada Amayra dan Loveleen yang saat ini membantunya berhias. Dalam waktu sejenak statusnya berubah dari seorang pelayan menjadi seorang putri kerajaan.
"Xy- Putri Xynerva, sebenarnya aku juga menduga kau adalah keluarga kerajaan. Karena melihat kalung bintang yang terpasang di lehermu itu," jawab Amayra.
"Kalung bintang ini? Bukankah kalung ini bisa saja ditiru oleh orang lain?" tanya Xynerva.