Chapter 48 - Fakta Yang Mengejutkan

1131 Kata
"Putri Xynerva, mengenai hal itu kami kurang tahu. Yang kami ketahui bahwa kalung berbandul bintang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan," sahut Loveleen menyisir rambut panjang Xynerva dengan hati-hati. "Jujur rasanya aneh dipanggil Putri oleh kalian," aku Xynerva jujur. Selama ini dia tidak tahu jika dia juga termasuk keluarga kerajaan. Mama dan neneknya juga tak pernah mengatakan soal itu. Terlebih lagi Khansa adalah seorang ratu di Kerajaan Bintang. Aku pasti akan menanyakan tentang semua hal pada mereka. Dan aku berharap mereka tidak menutupinya lagi, batin Xynerva bertekad bulat. "Tapi Putri Xynerva, jika kami memanggil nama langsung itu namanya tidak sopan," jelas Amayra sembari mengambilkan perhiasan-perhiasan mewah berbentuk sederhana sesuai keinginan Putri Xynerva. "Baiklah, terserah kalian sajalah. Aku tak ambil pusing lagi," ujar Xynerva dengan nada pasrah. *** Semua pelayan dan prajurit yang berpapasan dengan Nerissa Xynerva dan Dhevin Rayyan membungkuk hormat sembari mengucapkan salam. "Pangeran Keempat dan Putri." Haduh, aku jadi merasa ingat saat masih tinggal di packnya Mall. Tiap pelayan mau pun pengawal selalu membungkuk hormat, batin Xynerva, lalu mengangguk mengiakan meminta bawahan menegakkan punggung kembali. "Kakak mengerti, Adik Keempat pasti tidak biasa dengan sikap hormat para pelayan dan prajurit 'kan? Tapi tenang lama kelamaan pasti akan terbiasa." Pangeran Dhevin mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. Pria itu melirik sekilas Xynerva yang berjalan di sampingnya. "Rasa hormat ini seharusnya sudah Adik Keempat dapatkan sejak dulu," lanjutnya. "Iya, aku mengerti, Kak," jawab Xynerva, lalu tersenyum menawan. "Akhirnya Adik Keempat mengakuiku juga." Perkataan Pangeran Dhevin membuat Xynerva terkekeh pelan merasa geli. Memakai gaun merah muda khas kerajaan membuat aura keagungan Putri Xynerva keluar. Ditambah dengan perhiasan-perhiasan berbentuk sederhana, tapi mewah menambah kecantikannya. Rambut hitam panjangnya dibentuk sedemikian rupa. Xynerva mengalihkan pandangan ke sekelilingnya. Bangunan istana berwarna emas begitu indah dan cantik. Interior istana khas kerajaan duyung juga turut menambah keindahan. Sebelumnya aku hanya melihat bangunan kerajaan melalui film yang aku tonton. Tak kusangka ternyata lebih indah, batin Xynerva kagum. Pangeran Dhevin membawa Adik Keempatnya menemui Raja Seth di dalam ruangannya. Kedatangan keduanya diumumkan oleh kasim yang berjaga di depan pintu. Pangeran Dhevin membungkuk hormat pada Raja Seth yang sedang membaca buku laporan tentang pajak wilayah kerajaan meletakkan buku tersebut di atas meja. "Salam Kakek." Nerissa Xynerva yang sering menonton drama kolosal juga ikut membungkuk hormat. "Semoga Yang Mulia panjang umur seribu tahun!" ujarnya. Raja Seth menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kemudian mempersilakan kedua cucunya itu untuk berdiri. "Terima kasih Kakek!" sahut Pangeran Dhevin. "Terima kasih Yang Mulia!" ujar Xynerva. Xynerva selama ini tidak pernah bertemu langsung dengan kakeknya. Dia hanya mengetahui nama saja. Raja Seth bangkit dari posisi duduknya, lalu berjalan memeluk cucu perempuannya itu. Xynerva yang dipeluk tiba-tiba sedikit kaget. Setelah beberapa saat Raja Seth baru melepas pelukannya itu, dia memandang Xynerva dengan tatapan rindu. "Cucuku Xynerva. Kakek terakhir kali melihatmu saat masih bayi dan sekarang kau sudah besar." "Mengapa mama dan nenek tidak memberi tahuku jika aku memiliki bibi, paman, dan sepupu?" tanya Xynerva langsung. Dia harus mengetahui alasannya itu. Raja Seth sudah mengira Xynerva akan menanyakan hal tersebut. Dia menghela napas panjang. "Xynerva, kakek akan memberi tahumu pelan-pelan. Mungkin saja mama dan nenekmu masih marah karena kejadian beberapa tahun yang lalu." Xynerva menanti kelanjutan kalimatnya dengan raut wajah serius. "Kau bisa bertanya langsung alasannya pada mama dan nenekmu," lanjut Raja Seth setelah keheningan beberapa saat. Xynerva mengembuskan napas kecewa, tapi dia tidak mungkin memaksa sang kakek untuk bicara. Walau bagaimana pun Raja Seth adalah Raja Kerajaan Bintang. "Baiklah, kakek aku akan bertanya pada mereka nanti," ujarnya. "Aku senang kau mengerti. Saat ini kakek ingin mendengar ceritamu selama tinggal di dunia manusia," pinta Raja Seth setelah membawa Xynerva dan Dhevin ke ruangan yang lebih privasi. Ruangan itu menampilkan pemandangan ikan-ikan yang dipelihara kakak Seth. "Baiklah, aku akan cerita. Di dunia manusia ada banyak benda-benda yang canggih dan modern seperti sepeda motor, mobil, televisi. Di sana ada banyak bangunan yang tinggi dan besar semuanya dibangun di atas daratan. Aku bersekolah di SMA Bunga Indah salah satu sekolah unggulan." "Aku ingat waktu di kediamanku Adik Keempat mengatakan pandai di bidang akademik," sela Pangeran Keempat. "Ya, itu benar. Tiap semester aku selalu mendapatkan juara pertama di kelas. Dan tentunya aku mendapatkan hadiah satu lusin buku dan sekotak pena dari sekolah," beber Xynerva dengan raut bahagia di wajahnya ketika bercerita. "Ternyata cucu kakek. Murid yang pintar," puji Kakek Seth merasa bangga. Mengusap kepala cucunya pelan. Xynerva hanya membalas dengan senyuman khasnya. Apa aku juga harus cerita mengenai Mall yang mengaku sebagai mateku? batin Xynerva menimbang-nimbang. "Nanti kakek akan memberikanmu hadiah. Bagaimana dengan keadaan Ratu Khansa?" tanya Raja Seth. Dia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan istrinya tersebut setelah kejadian tersebut. Tidak bisa dilukiskan seberapa besar rasa kerinduan yang ditanggung Raja Seth selama ini. "Keadaan nenek baik-baik saja. Dia juga masih tetap cantik walaupun usia terus bertambah," balas Xynerva. Raja Seth tertawa pelan. "Kecantikan Ratu Khansa tidak akan termakan oleh waktu. Apalagi jika terus berada di kerajaan. Xynerva, kau tahu di sini ada banyak ramuan awet muda." "Itu keren sekali. Jadi, walaupun usia sudah tua, tapi masih terlihat awet muda." Tiba-tiba Xynerva teringat dengan Lily dan Netti yang masih dikurung. "Oh, ya, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Xynerva menatap kakeknya tersebut. "Katakan saja ingin meminta apa, jika selama masih bisa dilakukan. Kakek akan mewujudkannya." Melihat respon dari kakek Seth. "Apa aku boleh menjenguk dua orang manusia yang beberapa hari yang lalu ditahan oleh prajurit kerajaan?" "Adik Keempat, Kakak tahu mengapa kau ikut seleksi menjadi pelayan kerajaan," potong Pangeran Dhevin. "Xynerva ikut seleksi menjadi pelayan kerajaan?" ulang Raja Seth menatap Xynerva. "Ya, aku lolos ikut seleksi menjadi pelayan kerajaan. Dan sempat beberapa hari melayani Pangeran Keempat," jelas Xynerva. "Adik Keempat, mendapatkan juara pertama di seleksi pelayan kerajaan. Aku juga sudah mencicipi teh buatannya yang sangat enak itu." Selama beberapa hari menjadi pelayan di sisi Pangeran Keempat. Pangeran Dhevin tidak pernah menyulitkannya. "Xynerva, bisa kau tuliskan resep teh buatanmu itu. Kakek juga ingin mencicipinya," pinta Raja Seth. "Baiklah, aku akan memberikannya pada pelayan dan meminta membuatkannya untuk kakek." "Kakek aku mohon supaya bisa melepaskan dua orang manusia yang tak sengaja menerobos wilayah kerajaan tanpa izin. Mereka adalah teman-temanku. Mereka adalah gadis yang baik," mohon Xynerva. "Dua orang gadis manusia itu? Jangan khawatir mereka tidak apa-apa. Kau bisa menjenguknya di ruang penjara khusus." "Terima kasih, Kakek." "Dhevin, antarkan Xynerva ke ruang penjara khusus. Beberapa prajurit akan ikut mengawal kalian," perintah Raja Seth. Sepertinya kakek belum percaya jika Lily dan Netti adalah gadis-gadis yang baik. Ya, tapi tidak bisa disalahkan juga, batin Xynerva berpikir. Sebelum melangkah pergi, mereka berdua meminta izin untuk meninggalkan ruangan Raja. Di lorong istana yang panjang keduanya mengobrol. "Adik Keempat, kau tidak takut teman-teman manusiamu itu berbuat jahat?" tanya Pangeran Keempat melirik Xynerva yang berjalan di sampingnya. Di belakang mereka sepuluh prajurit mengawal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN