Chapter 49 - Maafkan Aku Kakek

1140 Kata
"Tentu saja tidak. Mereka adalah teman-temanku apalagi Lily dia temanku sejak kecil," jelas Xynerva pada kakak sepupunya itu. Bagi bangsa duyung tidak mudah untuk mempercayai bangsa manusia, karena bangsa manusia sering kali mencoba menangkap bangsa duyung untuk dijadikan bahan penelitian dan juga memanfaatkan air mata duyung yang bisa berubah jadi mutiara. Pangeran Dhevin takut terjadi sesuatu pada Adik Keempatnya itu. "Baiklah, kakak akan mencoba untuk mempercayai dua temanmu itu, tapi jika mereka berani menyakitimu kakak tidak akan tinggal diam saja. Kakak akan membuat mereka menyesal." Perkataan Pangeran Dhevin membuat Xynerva balas tersenyum saja. Keheningan menguasai selama perjalanan. Setelah beberapa saat berenang tiba mereka di depan bangunan penjara khusus. Penjara ini dibangun khusus untuk para manusia yang tidak bisa hidup di penjara biasa. Di dalam bangunan yang sempit ini, tidak ada air, melainkan hanya ada udara saja. "Kakak, tunggu di sini saja. Kakak tidak bisa masuk ke dalam," ujar Pangeran Dhevin pada Putri Xynerva sembari menyodorkan kunci penjara. Bangsa duyung tidak bisa bernapas di udara. Untuk Xynerva sendiri, dia tergolong special karena memiliki dua campuran darah sekaligus yaitu darah mermaid dan manusia. Dia bisa bernapas di darat mau pun di lautan. "Baiklah, kak. Aku akan segera kembali setelah bicara dengan mereka berdua." Xynerva membuka kunci gembok, kemudian mendorong pintu putih s**u tersebut. Dia melangkah masuk ke dalam dan menutup pintu kembali. Lily dan Netti sedang duduk berhadapan ketika Xynerva menghampiri mereka. Melihat kedatangan Xynerva. Lily dan Netti spontan berdiri, berlari memeluk teman perempuannya itu erat. "Xynerva, kau baik-baik saja 'kan? Kami sangat khawatir," ujar Lily setelah mengurai pelukannya. Dia menatap Xynerva dengan lega. "Iya, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan kalian sendiri? Apa pihak kerajaan memberikan kalian makanan?" tanya Xynerva beruntun. Tubuh Lily dan Netti tampak lebih kurus. Pakaian terakhir bertemu sudah berganti dengan pakaian baru. Rambut mereka masih tertata rapi. Di dalam penjara khusus yang tertutup hanya ada satu meja, dua kursi, dua ranjang tempat tidur, peralatan makan dan minum serta selimut. Xynerva yang mengetahui hal itu cukup lega karena walaupun tahanan Lily dan Netti diperlakukan dengan manusiawi. "Ya, pihak kerajaan memberikan kami makanan. Mereka juga bersikap baik pada kami." "Xyverna, maafkan kami yang tidak bisa menemukanmu. Kami keburu ditangkap oleh para prajurit yang berjaga," jelas Netti. "Aku senang karena pihak kerajaan memperlakukan kalian dengan baik," sahut Xynerva. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Apa kau menerobos juga?" tanya Lily khawatir. Jika Xynerva menerobos maka bisa dimasukkan ke penjara juga seperti Lily dan Netti. Dan tinggal di dalam penjara itu tidaklah enak, walaupun para prajurit memperlakukan dengan baik. "Kalian jangan khawatir! Aku telah minta izin pada pihak istana terlebih dahulu. Teman-teman aku sangat merindukan kalian berdua." "Kami juga merindukanmu Xynerva," sahut Lily dan Netti bersamaan. Selama di dalam penjara mereka berdua memikirkan keadaan Xynerva. "Oh, ya, kalian makanlah pil ini masing-masing satu supaya kalian bisa bernapas di dalam air." Xynerva memberikan masing-masing satu pil napas pada Lily dan Netti. Tanpa bantahan dan bertanya lebih lanjut, kedua gadis itu mengunyah pil bulat putih tersebut. Rasa pil itu asam bercampur manis. "Aku akan membawa kalian keluar dari sini," ajak Xynerva yang dijawab anggukan Lily dan Netti. Lily dan Netti menatap takut karena ada banyak prajurit berpakaian baja yang berjaga ketika mereka berenang keluar. Jangan lupakan senjata tajam dan perisai di tangan mereka. "Kalian jangan takut, karena sudah mendapat izin untuk pergi. Lagipula kalian tidak menyakiti siapa pun." Xynerva tersenyum, dia mencoba menenangkan Lily dan Netti. "Xynerva, kau harus membawa dua temanmu menghadap Raja terlebih dahulu," perintah Pangeran Keempat yang dibalas anggukan Xynerva. "Baiklah, Pangeran Keempat!" jawab Xynerva patuh. Sebelumnya Xynerva meminta pada kakak sepupunya itu untuk jangan memanggil adik keempat karena tidak ingin teman-temannya tahu yang sebenarnya. Ada saatnya nanti Xynerva akan cerita. *** Di ruangan aula Kerajaan Bintang yang luas. Seorang Raja duduk berwibawa di atas kursi tahtanya. Pakaian kebesaran merah dan emas bersulam duyung membalut tubuh kekarnya. Dua orang pelayan wanita berdiri di samping kiri dan kanan mengipasi sang pimpinan. Di lantai yang lebih rendah tepatnya di tengah aula tiga orang gadis muda sedang membungkuk hormat pada Raja Seth. Karena pil yang diminum, Lily dan Netti bisa bernapas dengan baik tanpa perlu tabung oksigen. Untuk satu pil yang dimakan bisa bertahan untuk dua puluh empat jam setara dengan satu hari. "Semoga Yang Mulia panjang umur seribu tahun!" Xynerva yang mewakili mengucapkan salam. "Kalian bertiga silakan berdiri kembali!" perintah Kakek Seth dengan nada berwibawa. Mahkota emas sebagai lambang raja bertengger di atas rambut hitamnya. "Terima kasih Yang Mulia Raja!" jawab Xynerva, Lily, dan Netti secara bersamaan. Tanpa basa-basi Raja Seth segera melontarkan pertanyaan. "Kalian berdua jelaskan apa tujuan kalian menerobos wilayah kerajaan tanpa izin?" Pria yang tampak awet muda walau usianya sudah tua itu menatap dua orang gadis manusia secara bergantian. Lily dan Netti sekali bersujud ketakutan. Mereka takut dihukum lagi seperti beberapa hari ini. Untuk pertama kalinya mereka bertemu seorang Raja secara langsung. Jantung mereka berdetak kencang. "Ma-ma-maafkan kami Yang Mulia Raja yang terhormat. Kami berdua tidak tahu jika itu wilayah kerajaan. Mohon maafkan kesalahan kami, kami saat itu panik dan cemas mencari Xynerva teman kami yang tiba-tiba menghilang," ujar Lily terbata-bata hingga akhirnya bisa bicara lebih lancar. Tampaknya Xynerva belum memberi tahu identitas yang sebenarnya pada kedua gadis manusia temannya itu, batin Raja Seth mengerti. "Lalu bagaimana dengan kau?" Pandangan mata tajam Raja Seth tertuju pada Netti yang menunduk ketakutan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. "Sa-saya bersama dengan Lily berenang mencari Xynerva yang menghilang. Saya tidak mungkin membiarkan teman saya hilang Raja. Saya sangat minta maaf karena melakukan kesalahan." Netti sekali lagi bersujud memohon maaf. Raja Seth tampak menimbang-nimbang apakah dia harus membebaskan dua gadis manusia itu atau tidak. Dia mengingat ucapan Putri Xynerva dan penjelasan dua anak manusia itu sama. Raja Seth Kerajaan Bintang memutuskan untuk membebaskan Lily dan Netti. "Terima kasih Yang Mulia atas kebaikan hati Anda!" Netti dan Lily membungkuk hormat. Netti dan Lily dipinta untuk menunggu di ruangan penantian. Sementara itu, Putri Xynerva mengucapkan terima kasih pada Kakek Seth. "Kakek, aku harus pergi bersama dengan teman-temanku kembali ke daratan," pamit Xynerva. Raja Seth merasa kurang setuju dengan permintaan Xynerva. "Xynerva, Kerajaan Bintang adalah rumahmu juga. Kau harus tahu, kami semua adalah keluargamu bukan orang asing. Selain itu, kakek yakin kehidupanmu di sini lebih menyenangkan dibanding di daratan," bujuk Kakek Seth berharap cucunya yang baru saja berkumpul itu untuk tinggal lebih lama. Xynerva akui tinggal di Kerajaan Bintang memang lebih enak dibanding di daratan. Di sini status Xynerva sebagai seorang putri yang dihormati. Para pelayan melayani Xynerva dengan baik mulai dari bangun tidur sampai beristirahat. Semua yang gadis itu inginkan semuanya dipenuhi tanpa terkecuali. "Tapi di daratan rumahku juga. Di sana aku juga bersekolah," tolak Xynerva. "Ayolah, Xynerva. Tinggallah beberapa hari lagi di sini. Kau juga baru saja bertemu dengan saudara-saudaramu yang lain 'kan?" Raja Seth tak menyerah terus membujuk Putri Xynerva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN