Chapter 50 - Titik Harapan

1180 Kata
"Maaf Kek bukannya tidak mau tinggal lebih lama lagi di sini. Xynerva sangat ingin sekali bisa berkumpul dengan kakek dan juga sepupu-sepupu yang lain. Tapi aku dan teman-temanku harus pulang karena saat ini kami sudah menghilang beberapa hari. Selain itu juga, guru-guru kami pasti sudah sangat khawatir," jelas Xynerva berharap kakek Seth bisa mengerti. Tentu saja Raja Seth menghela napas kecewa, tapi apa boleh buat. Pria itu juga tak ingin cucu perempuannya itu mendapatkan nilai yang buruk karena keegoisannya. "Baiklah, kakek mengerti maksudmu. Begini saja ke depannya kau harus sering-sering datang ke sini, ya?" pintanya. Xynerva mengangguk tersenyum, mengiakan. "Iya, itu pasti, Kek. Xynerva akan sering datang ke sini. Kalau bisa aku akan ajak mama dan nenek juga ke sini." Raja Seth menyodorkan sebuah gelang berbandul bintang emas pada cucu perempuannya. "Kakek menunggu kedatanganmu. Oh, ya, ini ambillah. Gelang ini pasangan dari kalung yang kau pakai. Gelang ini adalah hadiah dari kakek." "Terima kasih, Kek. Atas hadiahnya." Xynerva langsung memasangkan gelang ke tangan kirinya. Gelang itu tampak cocok di tangannya. "Adik Keempat, aku juga punya hadiah untukmu." Dari arah belakang suara Pangeran Keempat terdengar. Putri Xynerva berbalik ke belakang dan menemukan pangeran keempat berjalan menghampirinya. Pangeran Dhevin membungkuk hormat. "Salam Kakek." Setelah Raja Seth mengatakan Dhevin boleh berdiri, barulah pria itu kembali menegakkan punggungnya. "Terima kasih Kakek." Dhevin menyodorkan sebuah kotak kecil pada adik sepupunya itu. "Terima kasih," ujar Xynerva. "Kalau begitu aku pamit pulang," pamit Xynerva. Pangeran Dhevin sudah diberitahu sebelumnya kalau Xynerva akan pamit pulang. *** Ketiga gadis itu berenang bersama. Di tangan mereka membawa barang-barang. Sebenarnya Pangeran Dhevin ingin mengantar adik keempatnya sampai ke daratan, tapi ditolak oleh Xynerva karena takut hal itu akan membuat teman-teman satu sekolahnya heboh. Xynerva juga sudah pamitan dengan Amyra dan Loveleen. "Untung saja mereka baik hati melepaskan kita. Kalau tidak, aku tidak bisa selamanya tinggal di dalam penjara putih itu," ucap Lily membuka obrolan. "Ya, kau benar sekali. Walaupun kita di dalam penjara diberi makan. Yang namanya di dalam penjara tetap tidak enak," sahut Netti setuju. "Semoga saja kita tidak kena marah oleh Ibu Ratna," ujar Xynerva. Apalagi mereka sudah beberapa hari tinggal di dalam lautan. "Kalau Ibu Ratna marah-marah. Kita kasih tahu saja alasan yang sebenarnya. Dia pasti mengerti," ujar Lily. Setelah berenang cukup lama. Akhirnya mereka sampai juga di daratan tepatnya di pinggir pantai. Xynerva menarik napas dalam, lalu mengembuskannya berulang kali. "Aku sudah lama tidak menghirup udara segar," ujarnya dengan senyuman di wajahnya. Terdengar suara burung-burung yang melintas di langit. Hangatnya sinar matahari menyapa kulit. "Teman-teman, kenapa aku merasa ada yang aneh di sini. Kalian lihat banyak barang-barang yang berserakaan di pinggir pantai dan juga di tempat-tempat yang lain." Netti menunjuk barang-barang yang berserakan. Xynerva mengalihkan pandangan ke bawah dan menemukan bola pantai tergeletak tak berdaya. Gadis itu mengambil bola itu. "Kenapa bola ini bisa ada di sini?" tanyanya dengan raut wajah bingung. Lily menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Dahinya mengernyit heran. "Eh, Xynerva dan Netti. Kenapa pantai ini sepi sekali? Bukannya anak-anak lain dan guru harusnya ada di sini?" tanyanya beruntun. Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang kering. Mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan hotel. Di dalam hotel pun sama sepi sekali. Hanya ada pegawai hotel yang duduk di posisi masing-masing. Xynerva mengetuk pintu kamar Ibu Ratna. "Ibu Ratna, apa kami boleh masuk?" tanyanya dengan nada sopan. Ibu Ratna mempersilakan Xynerva, Lily, dan Netti untuk masuk ke dalam. Tidak lupa mempersilakan untuk duduk. "Anak-anak kalian dari mana saja?" tanya Ibu Ratna dengan ekspresi khawatir. "Kami bertiga berenang di lautan dan tak sengaja menemukan sebuah pulau kecil ketika tersesat," jelas Xynerva sedikit berbohong. Bukan keinginannya untuk berbohong, tapi Xynerva tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. "Kalian bertiga baik-baik saja, bukan?" tanya Ibu Ratna lagi yang dijawab anggukan ketiganya. Bukannya marah, Ibu Ratna terlihat lega. "Ibu, mau tanya kenapa di pinggir pantai banyak barang-barang yang berserakan?" tanya Lily. "Kalian sudah melihatnya? Beberapa hari yang lalu teman-teman kalian dan tiga orang guru ditangkap oleh para iblis." Penjelasan itu membuat Xynerva, Lily, dan Netti kaget dan seakan tak percaya. "Para iblis?" beo Xynerva, Lily, dan Netti bersamaan. Mereka saling berpandangan. "Ibu tidak tahu di mana para iblis itu membawa mereka pergi," ujar Ibu Ratna. "Lalu bagaimana, Bu?" tanya Xynerva menatap wajah Ibu Ratna. Ibu Ratna menggeleng. "Ibu belum menghubungi orang tua para murid karena takut orang tua murid juga datang ke sini dan mengakibatkan masalah yang lebih besar." "Iya, tindakan Ibu sudah benar. Para orang tua pun pasti akan sangat cemas," jawab Netti. *** Di ruangan pribadi Raja Iblis. "Mereka semua bukan orang yang saya cari. Kalian cari manusia yang lain!" perintah Raja Iblis pada para bawahannya. "Baik, Raja." Para bawahan mengangguk patuh. "Yang Mulia, lalu bagaimana dengan manusia-manusia itu? Apa kita melepaskannya saja?" tanya bawahan yang lain yang bertugas di penjara tahanan. "Biarkanlah mereka di dalam penjara," sahut Raja Iblis. Bawahan itu menangkupkan tangan dan mengangguk. "Baiklah, Yang Mulia. Akan dilaksanakan sesuai keinginan Yang Mulia." Dua tanduk di kepalanya menjadi ciri khas. Pria itu membungkuk hormat, lalu mundur beberapa langkah kemudian keluar dari ruangan Raja Iblis. *** Di salah satu kamar hotel Xynerva mengambil handphonenya dan membuka aplikasi si hijau. Ada banyak pesan dari mamanya dan juga dari Mall. Dia menoleh dan mendapati Lily teman sekamarnya sudah tertidur pulas. Nerissa Xynerva Zanitha Ma, maaf sebelumnya. Aku dan Lily baik-baik saja di sini. Mama Tersayang Syukurlah, kalian baik-baik saja. Mama dan nenekmu sangat khawatir karena tidak ada kabar dari kalian. Xynerva melihat layar smartphonenya yang berlatar salju. "Apa aku tanya sekarang saja, ya? Soal itu?" Xynerva bermonolog sendiri. "Ah, aku tanya setelah aku sampai di rumah saja. Lebih enak dan nyaman bicaranya," ujarnya beberapa saat kemudian setelah menimbang-nimbang. Nerissa Xynerva Zanitha Liburan kami di sini menyenangkan. Kemudian Xynerva beralih membuka pesan dari Mall. Isinya tentang pria itu yang menanyakan kabar dan rasa khawatir. "Mereka bertiga sama-sama khawatir," ujar Xynerva lalu tersenyum. Nerissa Xynerva Zanitha Mall, kau di mana sekarang? Mallory Osmond Quirin Di depan kamarmu Nerva. Xynerva mengajak Alpha Mallory untuk bicara di tempat lain. "Mall, kau pasti tahu 'kan mengenai para iblis?" tanya Xynerva langsung pada Lory. "Tahu. Ada apa Nerva? Apa para iblis itu menyakitimu?" tanya Apha Lory balik. Xynerva menggeleng. "Mereka tidak menyakitiku, tapi para iblis itu menangkap teman-temanku dan juga tiga orang guruku," jelasnya. "Begini Nerva. Iblis yang kau maksud yang mana? Ada beberapa kerajaan iblis. Kita harus memastikan dulu bawahan siapa yang menangkap itu?" Xynerva mengusap kepalanya pelan. "Aku tak tahu kalau kerajaan iblis itu banyak." Dia memasang pose berpikir. "Jangan khawatir, Nerva. Aku akan meminta anak buahku untuk mencari keberadaan teman-temanmu dan ketiga gurumu." Alpha Lory segera memindlink salah satu bawahannya untuk mencari informasi. Alpha Lory memiliki banyak bawahan. "Aku akan memberi tahu jika ada informasi yang didapat." "Terima kasih, Mall." Rasa rindu Alpha Lory terobati. "Mall, aku kembali ke kamarku untuk istirahat. Aku sudah mengantuk." Xynerva menguap, dia menutup mulutnya memakai tangan. Beberapa tetes air mata mengalir. Alpha Lory tersenyum. Dia mengantar belahan jiwanya kembali ke kamar. Setelah itu melaksanakan permintaan dari sang Luna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN