Xynerva menatap batu bulat merah muda yang berada di genggaman tangannya. Batu itu sebagai tanda jika dia sudah mendaftar untuk mengikuti seleksi menjadi pelayan kerajaan.
"Kira-kira seleksinya memakai cara apa, ya?" ujarnya memasang pose berpikir.
"Xynerva, kau mendaftar ikut seleksi jadi pelayan kerajaan?" tanya Amyra. Gadis yang seusia dengan Xynerva baru saja pulang dari bekerja di toko.
"Ya, begitulah. Ini bagian dari rencanaku jika rencanaku berhasil," jawab Xynerva menatap Amayra serius.
"Katakan padaku, kau punya rencana apa?" Amyra bertanya dengan nada ingin tahu. Barangkali dia membutuhkan bantuan Amayra juga.
"Jika aku berhasil melewati seleksi menjadi pelayan kerajaan. Aku akan mencari celah untuk mencari kedua temanku dan membebaskan mereka. Setelah itu kami akan pergi dari sini, dan kembali ke daratan," beber Xynerva dengan penuh ketekatan di kedua matanya. Keberanian Xynerva patut diacungi jempol.
"Xynerva, tapi sepertinya rencanamu itu sulit untuk dijalankan. Terutama untuk lolos dari seleksi pelayan kerajaan. Dari yang aku tahu seleksinya sangat susah." Amayra bicara apa adanya. Karena Loveleen tahun lalu ikut seleksi, tapi tidak lolos.
Xynerva menarik sudut bibirnya tersenyum, dia menggenggam tangan Amayra. "Amayra, walau sekali pun tes seleskinya sangat sulit seperti yang orang-orang katakan. Hanya itu satu-satunya jalan yang terpikirkan supaya kita bisa masuk ke dalam istana." Xynerva menarik napas sebelum melanjutkan. "Kita harus mencobanya walau bagaimana pun hasilnya. Kita akan berusaha semaksimal mungkin."
"Baiklah, aku setuju. Hari ini aku akan mendaftar juga. Supaya kita besok bisa seleksi bersama-sama." Xynerva benar tidak ada salahnya kami mencoba, ucapnya dalam hati.
***
Mendengar Xynerva dan Amayra yang mendaftar seleksi membuat Loveleen juga ikut mendaftar seleksi pelayan kerajaan untuk yang kedua kalinya.
"Loveleen, kau 'kan sudah pernah ikut mendaftar seleksi. Pastinya kau tahu apa yang nanti bakalan di tes nanti?" tanya Xynerva. Paling tidak mereka memiliki gambaran mengenai tes itu.
Loveleen berdiri dari posisi duduknya berenang ke sana ke mari pelan. "Aku tahun kemaren hanya sampai di tahap satu saja. Karena tidak lolos. Seleksi tahap satunya membuat secangkir teh. Teh itu nanti akan dicicipi oleh petugas seleksi."
"Nanti akan diberi tahu lolos atau tidak seleksi tahap pertama. Jika lolos lanjut ke tahap yang selanjutnya."
"Jadi kemungkinan besar seleksi tahap pertama ini adalah penyajian teh," simpul Xynerva.
"Amayra, apa di sini ada perpustakaan? Tempat peminjaman buku?" tanya Xynerva. Amayra dan Loveleen berpikir sejenak.
"Di sini ada tempat peminjaman buku. Apa kita akan pergi ke sana untuk meminjam sebuah buku?" Amayra balik bertanya.
"Ya, kau betul sekali. Kita ke sana untuk meminjam beberapa buku untuk kita baca," sahut Xynerva.
Bagus sekali! Di sana mungkin saja ada buku yang aku cari, batin Xynerva.
Loveleen dan Amayra membawa Xynerva ke perpustakaan terdekat. Di hadapan mereka terlihat bangunan yang berdiri kokoh di bagian depan terpasang plang yang terbuat dari kayu tertulis tulisan perpustakaan. Tampak beberapa putri duyung dan putra duyung berkeliaran sembari membawa setumpuk buku di tangan.
Mereka berjalan masuk ke dalam.
"Jarang-jarang sekali kalian ke perpustakaan? Kalian mau cari buku apa?" sapa petugas perpustakaan dengan raut wajah yang ramah.
"Iya, ini karena ada teman kami yang suka sama buku. Kami akan keliling dulu sebelum memilih buku yang ingin dipinjam," sahut Amayra ikut tersenyum. Iya, memang mereka berdua sangat jarang ke perpustakaan, jika dihitung paling satu atau dua kali dalam sebulan.
"Silakan cari buku yang kalian suka. Kalian bisa meminjam buku sesuka kalian, yang penting jangan lewat hari dikembalikan," pesan wanita yang memiliki rambut abu-abu itu.
***
Sesampainya di rumah, Xynerva mengeluarkan tiga buku dari dalam tas rajut. Buku tersebut memiliki judul yang sama. Gadis itu membagikan satu buku untuk Amayra dan satu buku untuk Loveleen. Judulnya seni membuat teh.
"Kalian berdua silakan baca isi buku ini untuk persiapan besok. Di dalamnya ada banyak seni membuat teh, kalian tinggal pilih saja," ujar Xynerva yang dibalas anggukan pelan Amayra dan Loveleen secara bersamaan.
Xynerva mencari lokasi yang menurutnya nyaman untuk membaca. Begitu juga dengan Amyra dan Loveleen.
Sementara itu di tempat yang lain. Tepatnya di wilayah kekuasaan Raja Iblis. Aura tempat mencekam. Yang Mulia Raja Iblis telah selesai menggoreskan satu per satu jari bangsa manusia yang ditahan. Cairan merah kental ditampung di dalam keramik putih bersih yang sudah dicampur dengan cairan khusus. Di setiap mangkuk keramik telah diberi nama masing-masing orang. Bangsa manusia itu dimasukkan kembali ke dalam kurungan penjara yang berbahan besi.
"Kalian bawa mangkuk-mangkuk keramik ini ke dalam ruangan khusus," perintahnya dengan tegas. Pria itu kemudian meninggalkan ruangan penjara.
"Mereka setelah ini akan membuat kita seperti apa?" tanya seorang siswa laki-laki. Pakaian yang dipakai kusut dan kosong. Rambut pun berantakan tak karuan.
"Tidak tahu Raka. Semoga saja mereka tidak membunuh kita," jawab siswi yang lainnya dengan nada putus asa.
Selang beberapa saat kemudian dua orang wanita berambut pendek bertanduk kecil membawa dua keranjang berisi makanan dan minuman. Mereka berjalan di lorong-lorong penjara sembari membagikan makanan tersebut di setiap orang yang ditahan. Sebagian orang-orang menyambut dengan wajah senang dan gembira karena mendapatkan makanan.
"Berikan padaku satu, aku sangat lapar."
"Tolong tambahkan satu roti lagi padaku!" pinta seseorang menyodorkan tangannya.
"Kenapa roti ini lagi? Aku bosan!"
"Ini makanan apa? Aku tidak pernah melihatnya?" tanya seorang siswi perempuan, menatap sepotong roti bulat yang baru saja diberikan oleh petugas pemberi makanan.
"Makan saja, Mira. Kita masih beruntung diberi makanan daripada mati kelaparan," sahut temannya yang lain, lalu memakan roti miliknya dengan lahap. Karena memang dia sangat lapar.
"Ini semua adalah mimpi burukku. Tolong bangunkan aku dari mimpiku ini." Seorang siswi yang lain tak terima dengan keadaan seperti ini. Dia biasanya memakan makanan yang mewah dan bergizi, bukan sepotong roti bulat saja dan segelas air putih.
Penjaga penjara tiap tiga jam sekali diganti. Alurnya penjaga paviliun jile akan bergantian dengan penjaga penjara.
"Bangsa manusia, aku akan beri tahu kalian soal roti yang kalian makan itu. Kalian tidak tahu jika di dalamnya telah dicampur dengan obat tidur yang membuat kalian akan tidur selama tiga hari. Hal itu berguna untuk menghemat pengeluaran mereka." Salah seorang wanita iblis yang juga dikurung memberi tahu. Penjara iblis dan manusia digabung menjadi satu.
"Aku tahu, tapi apa boleh buat. Jika tidak dimakan, kami bisa mati kelaparan. Paling tidak masih bisa bertahan," jawab Ibu Lafely, lalu memakan roti miliknya.
"Kau benar itulah hal yang sama yang aku lakukan," jawabnya. Wanita itu sudah dikurung selama lima ratus tahun karena menghina Yang Mulia Raja Iblis tepat di acara ulang tahunnya. Menurutnya apa yang dikatakannya itu semuanya adalah kebenaran, Raja memang orang yang kejam dan tidak punya hati.
Pikirkanlah di saat Raja dan keluarganya menikmati kemewahan, rakyat biasa yang kesusahan yang untuk makan pun tidak ada. Yang Mulia Raja tidak memedulikan keadaan rakyatnya sama sama sekali. Jangankan rakyat biasa, bahkan pejabat yang tidak satu pendapat dengannya akan dibunuh.
Yang Mulia Ratu Iblis jatuh sakit sejak seribu tahun yang lalu. Sinar kehidupan ratu terpecah belah. Penyebabnya karena dilukai oleh pihak musuh.
***