Seorang gadis cantik membuka kelopak matanya, lalu menguap. Setelah beberapa menit mengumpulkan nyawa dia mengubah posisi menjadi duduk.
"Sekarang jam berapa, ya?" Gadis itu mencari keberadaan jam dinding yang kunjung belum ditemukannya.
Biasanya setiap pagi ada sinar matahari yang menerobos melalui jendela kamarnya yang dibuka mamanya serta suara ayam jantan berkokok. Ah, Xynerva jadi merindukan suasana itu.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian gadis berambut hitam sepinggang itu. "Masuk saja, Amayra! Pintunya tidak dikunci," ujarnya.
Amayra mendorong pintu, kemudian berenang masuk. "Bagaimana tidurmu nyenyak tidak?" tanyanya dengan nada ramah.
"Untuk pertama kalinya aku tidur di dalam laut. Tidurku lumayan nyaman," balas Xynerva. Ternyata tidur di daratan mau pun di lautan sama saja. Yang membedakan hanya lokasi tempat istirahatnya.
"Baguslah. Aku awalnya khawatir kau tidak terbiasa tidur di sini. Yok, kita makan dulu!" ajak Amayra yang dijawab gelengan pelan Xynerva.
"Aku mandi dulu setelah itu baru sarapan." Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil sebelum mandi dia tidak akan sarapan. Katanya jika belum gosok gigi, maka makanan yang dimakan itu akan kotor.
"Baiklah, aku akan menunggu di meja makan."
***
Setelah menghabiskan sarapan pagi bersama gadis berambut ungu, Xynerva terlihat sedang berdiri di mulut goa, dia melihat-lihat keadaan sekitar. Ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari. Hewan-hewan laut berjalan-jalan di atas tanah pasir.
Aku ingin tahu apa aku bisa bernapas di dalam air? batin Xynerva ingin tahu.
Jika aku bisa, aku bisa mendapatkan ide untuk menyelamatkan Lily dan Netti, sambung Xynerva dalam hati.
Xynerva mencoba berenang keluar dari goa. Dengan perlahan dia mencoba mengambil napas dan ternyata dia bisa bernapas tanpa kesusahan. Dia mengingat lokasi goa sebelum berenang untuk keliling. Tidak lupa menuliskan surat untuk Amyra. Dia tidak sempat meminta izin karena Amyra saat ini sedang bekerja di toko pakaian.
Ada banyak sekali putra duyung dan putri duyung di sini, ucapnya ketika melihat sekumpulan para duyung muda yang berkumpul sedang bermain.
Dia berenang di jalan yang sisi kiri dan kanannya dipenuhi rumah penduduk. Para duyung melakukan aktivitas beraneka ragam. Xynerva berjalan minggir ketika beberapa kendaraan kereta yang ditarik oleh kuda laut lewat.
Keren sekali! Di lautan rupanya pakai kuda laut! pujinya dengan tatapan kagum.
Lelah berenang, Xynerva memutuskan untuk beristirahat di salah kursi yang kosong di taman perumahan penduduk. Terlihat beberapa pasang duyung yang sedang berduaan, ada juga yang bersama teman dan ada pula yang bersama dengan keluarga mereka.
Xynerva jadi teringat ketika di taman dunia manusia. Zeline, Khansa, dan Xynerva piknik di taman. Walaupun tanpa kehadiran sosok laki-laki yang disebut papa, mereka juga bahagia. Xynerva yakin jika ada papa pasti semuanya akan lebih bahagia.
Waktu Xynerva masih kecil sering menanyakan di manakah papanya? Zeline hanya bisa menjawab jika papa sedang mencari uang yang banyak untuk membelikan banyak mainan untuk Xynerva. Hingga tahun berganti tahun, semuanya hanyalah penantian saja. Satu kali pun Xynerva tak pernah melihat sosok papa selain melihatnya di foto pernikahan orang tuanya itu.
Dulu sebelum mereka pindah di perumahan Shiary yang sepi penduduk. Mereka tinggal di perumahan yang padat penduduk. Di perumahan bougenvil tersebut para penduduk di sana menghina, mencemooh Zeline karena suaminya tidak ada. Menuduh wanita itu jika melakukan perbuatan yang tidak benar dengan laki-laki. Xynerva pun juga dibilang anak yang tidak sah dan anak yang tidak punya ayah.
Panggilan seseorang membuat lamunannya buyar.
"Nona, aku baru pertama kali melihatmu. Apa kau penduduk baru di sini?" tanya seorang putra duyung dengan nada ramah. Ekornya berwarna hijau menyejukkan senada dengan warna matanya. Wajahnya juga tampan, tapi tidak setampan Alpha Lory dan Fahar. Xynerva berkata jujur. Pria itu mengambil posisi duduknya di sampingnya.
"Ah, iya begitulah. Aku baru saja pindah beberapa hari yang lalu," jawab Xynerva dengan nada ramah. Dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang menawan yang mampu menghipnotis lawan bicaranya.
"Kalau begitu mari berkenalan. Namaku Julian Gilbert. Dan namamu, Nona?" Julian menyodorkan tangan yang disambut Xynerva sembari menyebutkan nama panggilannya.
"Nama yang indah, Nona Xynerva," puji Julian yang dibalas ucapan terima kasih Xynerva. Julian merasakan aura yang keluar dari tubuh Xynerva tidak seperti gadis-gadis biasa.
"Kau ke taman sendirian saja? Tidak mengajak teman?" tanya Julian ingin tahu.
"Aku sendirian saja. Temanku lagi kerja di toko."
Kalau pria asing ini berani macam-macam. Aku tidak akan segan-segan memukul wajahnya, batin Xynerva. Gadis itu bukanlah gadis yang tidak bisa apa-apa, dia paling tidak mengerti sedikit tentang bela diri.
Setelah keheningan beberapa saat di antara mereka Julian membuka obrolan yang baru. "Nona Xynerva, aku tidak sengaja membaca di pengumuman yang ditempel di papan. Yang isinya pihak kerajaan sedang membuka seleksi untuk menjadi pelayan kerajaan."
"Pelayan kerajaan itu bukankah pelayan yang bekerja untuk keluarga istana?" tanya Xynerva. Xynerva sering menonton film drama kolosal kerajaan. Bahkan dia sangat suka nonton drama tersebut.
Julian Gilbert mengangguk mengiakan. Rambut merah bata pendeknya bergerak terbawa air. "Bisa menjadi pelayan kerajaan melayani keluarga istana merupakan salah satu kehormatan. Selain itu upah yang diberikan juga lebih besar dibanding bekerja di toko atau menjadi asisten rumah tangga," beber Julian.
"Julian, pendaftaran sebagai pelayan itu apa harus berasal dari keluarga bangsawan?" tanya Xynerva melirik Julian di sampingnya.
"Tahun-tahun lalu harus berasal dari keluarga bangsawan, tapi tahun ini semua golongan bisa ikut mendaftar.
Pendaftarannya dari tanggal 1 Februari sampai 3 Februari. Kalau ingin mendaftar segera mendaftar di istana."
Penjelasan Julian menimbulkan ide yang cemerlang di otak Xynerva ibarat hujan yang turun di tengah kemarau.
"Julian terima kasih atas informasinya."
***
Xynerva bertanya-tanya pada warga sekitar di mana letak istana. Setelah itu dia langsung berenang menuju ke istana. Sesampainya di depan gerbang istana. Banyak sekali warga yang bergerombol mendaftar apalagi karena peraturan tahun ini sedikit berubah. Petugas pendaftaran meminta para calon pendaftar untuk berbaris rapi. Kebanyakan yang mendaftar adalah perempuan.
Setelah menunggu giliran akhirnya tiba giliran Xynerva untuk mendaftar. Dia mendaftar menggunakan nama Xynerva Zanitha saja. Petugas memberikan batu berbentuk bulat berwarna merah muda.
***
Semua prajurit membungkuk hormat ketika kasim meneriakkan jika raja datang berkunjung. Pakaian kebesarannya membalut tubuh gagah perkasanya. Satu orang kasim kepercayaan berjalan di sisi kanannya.
"Raja, semua barang-barang yang diminta telah hamba siapkan." Seorang Kepala Prajurit yang memiliki tanduk hitam di kepalanya berbicara dengan sopan dan membungkuk hormat.
"Bagus! Kau bisa kembali ke posisimu dan bawa lima orang anak manusia, lalu ikat mereka di tiang," perintahnya dengan nada tegas. Aura keagungannya terpancar.
Siswa dan siswi merasa ketakutan dan memberontak saat beberapa prajurit menyeret mereka dan mengikat mereka di tiang sesuai dengan perintah dari Yang Mulia Raja Iblis.
Kepala Prajurit menyerahkan pisau kecil yang terletak di dalam kotak yang dilapisi kain beludru merah pada Raja sembari membungkuk hormat. Raja Iblis mengambil kotak tersebut dan meraih pisau kecil.
Di setiap tiang yang mengikat anak-anak muda ada mangkuk keramik putih bersih yang telah diisi cairan khusus.
"Bersiap-siaplah, kau yang akan menjadi percobaan pertama," ujar Yang Mulia Raja Iblis terdengar mengerikan di setiap indra pendengaran.
"Tolong jangan lakukan sesuatu padaku! Aku mohon! Aku tidak mengenalmu! Aku juga tidak punya salah!" Siswi tersebut bernapas terengah-rengah ketakutan. Jantungnya berdetak kencang, seakan memukul-mukul dadanya. Cairan bening mengalir di kedua sudut matanya.