Chapter 42 - Ke Mana?

1167 Kata
"Itu pasti luar biasa. Apa buah-buah itu rasanya enak?" tanya Amayra lagi. "Iya, rasanya sangat enak. Kami terkadang membuatnya menjadi jus. Buah-buah yang sudah matang dimasukkan ke dalam blender bersama air. Begitu selesai jus tersebut dimasukkan ke dalam gelas," jelas Xynerva Zanitha antusias. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Amayra permisi untuk membukakan pintu. Seorang gadis muda, temannya Amayra berbicara dengan heboh. "Amayra, aku mendengar berita bahwa ada dua orang manusia yang ditangkap oleh prajurit kerajaan," ujarnya menggebu-gebu. Amayra mempersilakan temannya itu untuk duduk terlebih dahulu. "Dua orang manusia?" beo Amayra, dia mengalihkan pandangan ke arah Xynerva. Ekpresi Xynerva berubah menjadi sedikit pucat. Gadis itu ingat jika dia bersama Lily dan Netti berenang di lautan. Xynerva ikut berbicara. "Bagaimana ciri-ciri dua orang itu?" Pertanyaan itu membuat temannya Amayra sadar jika ada orang lain di dalam ruangan. Loveleen memasang pose berpikir. Hening beberapa saat. "Kalau tidak salah, dua-duanya perempuan, yang satu rambutnya pirang dan satunya rambutnya hitam." "Apa ada lagi ciri yang lain?" tanya Xynerva menatap Loveleen dengan raut wajah serius. Dia tidak bernafsu lagi melanjutkan makannya yang belum selesai. Loveleen mengambil sumpit, lalu menyumpitkan potongan rumput laut ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan. "Sebentar, aku pikir dulu. Apa ada lagi ciri yang lain. Ada, mereka memakai pakaian aneh dan juga ada alat mirip seperti selang dan benda bentuk tabung. Aku tak pernah melihat benda itu sebelumnya, jadi aku tak tahu itu namanya apa." "Amayra, kau punya teman baru sejak kapan? Dia datang dari lautan mana?" tanya Loveleen semangat pada Amayra. "Aku baru bertemu dengannya pagi ini." Amayra mengambil posisi dan meminum segelas air. "Kenalkan namaku Loveleen. Dan namamu siapa?" Loveleen dengan senyuman yang menghiasi wajahnya menyodorkan tangannya. Xynerva menyambut uluran tangannya sembari menyebutkan namanya. "Amayra dan Loveleen, apa kalian tahu di mana letak penjara istana yang kalian katakan itu?" Bagaimana pun caranya Xynerva harus membantu Lily dan Netti. "Tentu saja berada di dalam Kerajaan Bintang. Mengapa kau menanyakan soal itu?" tanya Loveleen. "Baiklah, aku harap kalian tidak mengatakan hal ini pada orang lain. Aku harus menyelamatkan dua orang yang ditangkap oleh prajurit kerajaan. Mereka berdua adalah temanku," jelas Xynerva yang mendapatkan tatapan bingung Loveleen. "Temanmu bagaimana bisa?" Loveleen mengernyitkan dahi heran. "Aku sebenarnya juga manusia," ucap Xynerva akhirnya. Amayra menutup mulut Loveleen yang hampir saja teriak heboh. "Shh! Kecilkan suaramu! Kau mau kita semua ditangkap karena hal ini?" tanya Amayra, yang dijawab gelengan Loveleen. Amayra melepaskan bekapan di mulut Loveleen. "Penampilan ekor duyung palsumu benar-benar menipuku," aku Loveleen jujur. Xynerva terkekeh pelan. "Ini semua idenya Amayra. Jadi, bagaimana kalian bisa membantuku 'kan?" Harapan yang bersinar di kedua netra cokelatnya membuat Amayra dan Loveleen tak sanggup menolak. "Kami mau saja membantumu. Ada satu hal yang harus kau ketahui menerobos penjara bisa membuat kita semua ditahan juga di penjara kalau ketahuan oleh prajurit yang berjaga," beber Amayra. "Benar yang dikatakan Amayra. Selain itu kita juga tidak mudah masuk ke dalam kerajaan," tambah Loveleen. Xynerva mengembuskan napas panjang, meletakkan tangan di bawah dagu. Dia menyenderkan punggung di kursi. "Lalu bagaimana? Aku takut Lily dan Netti nanti disakiti oleh prajurit kerajaan." "Xynerva, kau tinggallah di sini beberapa hari lagi sembari kita memikirkan caranya," ujar Loveleen. Aku punya waktu lima hari sebelum pihak sekolah mengajak untuk pulang, pikir Xynerva. Jari-jarinya menghitung. "Baiklah, aku akan menurut." *** Di dalam ruangan yang lumayan besar ada banyak kurungan besi. Penjara ini berisi kaum duyung yang melakukan kesalahan seperti mencuri. Sebagian besar berisi. Di Kurungan besi yang terletak paling ujung mengurung dua orang gadis di dalamnya. Walaupun di penjara namun di setiap kamar penjara terlihat bersih dan rapi. Para prajurit duyung berjaga di setiap lorong penjara. "Ly, napasku tersendat-sendat sepertinya isi tabung oksigenku sudah habis," ujar Netti. Napasnya terengah-rengah. "Aku juga merasa begitu. Aku sebenarnya tidak ingin kita dikurung di dalam penjara. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana kondisi Xynerva saat ini," sahut Lily. Napasnya juga terengah-rengah. Tidak lama kemudian kedua gadis itu tergeletak pingsan. Air laut memasuki paru-paru mereka. Prajurit yang berjaga segera berenang menghampiri penjara tersebut yang terletak paling ujung. "Dua orang bangsa manusia ini pingsan. Kalian cepat beritahu kepala prajurit penjara!" perintahnya pada teman satu kerjanya itu. *** Raja mengalihkan pandangan pada pintu yang diketuk oleh seseorang. Setelah dipersilakan masuk orang tersebut berjalan masuk ke dalam, segera memberi hormat dan membungkuk. "Raja, kami telah menangkap puluhan manusia yang. Mohon Raja beri petunjuk apa yang harus kami lakukan selanjutnya," ujarnya dengan nada sopan. Raja meletakkan gulungan kertas yang baru setengah dibacanya dan meletakkan di atas meja. Pria itu menatap bawahannya. "Masukkan mereka semua ke dalam penjara. Biarkan aku sendiri yang meneliti mereka," ujarnya. "Baiklah, Raja. Saya mohon undur diri." Pria itu berjalan mundur ke belakang dan berbalik ke luar ruangan Raja. *** Puluhan siswa dan siswi serta tiga orang guru dikurung di dalam penjara yang berbeda-beda. Para prajurit berwujud iblis menjaga di setiap penjara sangat kecil kemungkinan peluang untuk bisa kabur dari pengawasan. "Lepaskan kami! Kami tidak punya salah dengan kalian!" teriak salah seorang laki-laki. "Kalian pasti akan dihukum oleh ayah dan ibuku karena berani putri kesayangannya!" jerit seorang siswi perempuan. "Anak-anak kalian harus tenang!" pinta Ibu Citra mencoba menenangkan anak-anak didiknya tersebut. "Kami tidak bisa tenang, Bu! Kami tidak pernah mengira akan terjadi hal yang semengerikan ini. Jika kami tahu, kami tidak akan ikut liburan ke pantai," ujar siswi yang berdiri tepat di samping Ibu Citra. Ibu Citra tidak bisa menyalahkan anak-anak yang tidak tenang. Ya, siapa pun akan merasa ketakutan dan cemas. Terutama mereka masih anak-anak remaja yang membutuhkan perlindungan dari orang tua. Beberapa orang siswi menangis tersedu-sedu. Para siswa mencoba untuk mencari jalan keluar. "Kalian kaum manusia benar-benar berisik! Suara tangisan kalian seperti suara kaset rusak!" komentar salah satu prajurit yang merasa risih. "Di mana letak kesombongan kalian? Yang menganggap kaum manusia lebih tinggi? Dikurung sebentar saja sudah menangis tak karuan," ejek prajurit yang lain yang memiliki t**i lalat di atas hidung bangirnya. Entah apa kesalahan yang telah aku perbuat? batin salah seorang siswa. Ayah, ibu, dan kakak tolong aku! Aku takut berada di tempat yang gelap ini, batin seorang siswi meringis. Air mata mengalir di sudut matanya. Ibu Citra mencoba mengedarkan pandangannya ke arah anak-anak didiknya. Dia menyadari ada tiga orang muridnya yang kurang. "Elis, kau melihat Nerissa, Netti, dan Lily?" tanyanya. Ellis menggeleng. "Tidak, Bu. Aku tidak melihat mereka sejak tadi." Apa Nerissa, Netti, dan Lily selamat dari kejaran para iblis ? batin Ibu Citra. Sedangkan dua orang guru yang lainnya mencoba untuk menenangkan anak-anak. Kemungkinan begitu. Ibu Ratna juga tidak ada di sini. Bagus sekali, aku yakin mereka akan menyadari guru dan teman-temannya yang diculik. Setidaknya ada kesempatan untuk keluar dari penjara, pikir Ibu Citra. Wanita itu tentu saja harus berpikir positif. Sementara itu di tempat lain, tepatnya di pinggir pantai. Ibu Ratna sedang mencari anak-anak didiknya yang tidak kelihatan dan rekan sesama guru. "Aneh, kenapa mereka tidak ada di sini? Harusnya mereka ada." Ibu Ratna baru saja kembali dari hotel untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan di kamar hotel. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN