Xynerva meneguk ludahnya dengan susah payah saat dia merasakan sebuah tangan memegang bahunya. Dia berbalik dan menemukan seorang perempuan tengah menatapnya lekat. Tanpa aba-aba perempuan itu menarik Xynerva bersamanya.
Siapa gadis yang menarikku ini? batin Xynerva menatap gadis berambut ungu setelah berhenti berenang.
"Maaf atas ketidak sopananku bangsa manusia. Aku tidak berniat untuk melukaimu, aku hanya ingin memberi tahu dan menyelamatkanmu dari prajurit istana yang berpatroli, yang akan menangkapmu karena datang tanpa diundang," ujar gadis berambut ungu. Xynerva bisa mendengar ketulusan saat gadis yang seumuran dengannya itu berbicara.
Gadis asing itu mengajaknya untuk bersembunyi di dalam sebuah goa yang lumayan besar. Xynerva mengangguk sebagai jawaban.
Ini gas oksigen di dalam tabung ini sepertinya sudah habis, aku harus bagaimana? batin Xynerva khawatir. Menatap selang dan tabung oksigen secara bergantian.
Xynerva menahan napasnya untuk beberapa saat, hingga dia tidak tahan lagi.
Apa aku akan kehabisan napas? pikir Xynerva bimbang.
"Kenapa kau tidak bisa bernapas di sini? Coba saja dulu, dari yang aku tahu goa ini memiliki sedikit kekuatan sihir yang bisa membuat makhluk yang berada di dalamnya bisa bernapas," saran gadis berkulit kuning langsat itu.
Baiklah, aku tidak ada pilihan lain. Aku akan mencoba melakukannya, pikir Xynerva.
Dia mencoba mengambil napas. Xynerva melepaskan selang dan tabung oksigen, meletakkan dua benda itu di atas lantai bebatuan goa.
Eh, gadis itu benar aku bisa bernapas, batin Xynerva.
"Terima kasih, Nona ..." Xynerva menarik sudut bibirnya tersenyum. Senyumannya sangat menawan.
"Bangsa manusia, namaku Amayra." Nona yang mengaku bernama Amayra itu menyodorkan tangannya yang langsung disambut Xynerva dengan tulus.
"Perkenalkan namaku Xynerva. Salam kenal, Amayra," ucap Xynerva.
Amayra mengajak teman barunya itu untuk masuk ke ruang ganti pakaian yang berada di dalam goa tersebut.
Xynerva terpana saat melihat pakaian putri duyung yang tergantung dan berjejer di dalam lemari transparan. Gaun-gaun itu hampir mirip dengan motif yang ada di dunia manusia, bedanya gaunnya pendek. Ada juga pakaian bawahan untuk mengganti warna ekor. Beragam warna dan motif ada di sana.
"Xynerva, aku menyarankan agar kau memilih salah satu pakaian yang ada. Karena aku takut para prajurit akan melihatmu memakai pakaian aneh ini."
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan memilih salah satu pakaian." Xynerva mendekat, menyentuh dan mengangkat gaun hijau. "Bagaimana menurutmu, Amayra?" tanyanya seraya menunjukkan gaun hijau tersebut pada Amayra.
"Menurutku yang ini kurang cocok. Karena motifnya terlalu polos. Aku akan menyarankan yang ini saja. Ini gaunnya keluaran terbaru bulan ini." Amayra menyodorkan gaun merah muda bermotif cantik pada Xynerva.
"Wah, gaun ini cantik sekali Amayra. Amayra, apakah aku bisa mengatakan sesuatu mengenai dunia manusiaku?"
"Silakan, aku juga penasaran. Karena aku dengar di dunia manusia begitu banyak hal yang menarik dan menyenangkan."
"Di dunia manusia ada begitu banyak barang-barang yang canggih seperti mobil, sepeda motor, pesawat, smartphone."
"Kedengarannya begitu hebat," puji Amayra, gadis berambut ungu. Ekornya warna ungu muda.
"Ya, tapi di laut dan samudra juga tidak kalah indah. Di sini ada banyak hal yang tidak bisa ditemukan di dunia manusia seperti rumah-rumah berbentuk hewan-hewan laut." Xynerva berjalan masuk ke ruang ganti pakaian dan mengganti pakaiannya dengan gaun merah muda tersebut.
"Bagaimana bagus tidak?" Xynerva berdiri di hadapan Amayra.
"Bagus, cocok sekali!"
Xynerva sekarang sedang memilih ekor yang cocok. Dia menemukan ekor biru yang indah dan elegan. Gadis itu tampak kesusahan ketika berenang memakai ekor.
"Kau terlihat seperti seorang putri duyung sungguhan. Aku yakin beberapa saat setelah latihan kau pasti akan terbiasa."
"Haduh, aku harus berusaha lebih keras." Xynerva mencoba berenang ke sana ke mari secara perlahan. Setelah berusaha, dia memilih untuk istirahat terlebih dahulu di kursi yang ada. Gelembung-gelembung air terbentuk ketika bernapas.
Amayra tak sengaja melihat sebuah kalung yang tergeletak di atas lantai bebatuan. Diambilnya kalung tersebut.
Sepertinya aku pernah melihat kalung ini, tapi di mana ya? Amayra mengingat-ngingat dan akhirnya menemukan sebuah jawaban.
Kalung ini sekilas mirip kalung yang dipakai oleh keluarga kerajaan, batin Amayra. Dia menatap gadis cantik berambut hitam yang duduk di sampingnya.
Jika dia memang keluarga kerajaan. Mengapa dia tidak memiliki ekor? batin Amayra. Dia jadi bingung dan tak mengerti sendiri.
"Xynerva, apa ini milikmu? Aku tak sengaja menemukannya di lantai." Amayra menyodorkan kalung emas yang disambut Xynerva.
"Terima kasih, Amayra. Iya, ini kalungku. Untung saja kau menemukannya." Xynerva memakaikan kalung tersebut dengan hati-hati.
"Boleh aku bertanya tentang kalungmu, Xynerva?" tanya Amayra Renatha hati-hati.
"Silakan ingin bertanya apa?" balas Xynerva mempersilakan.
"Kalung itu pemberian orang tuamu, Xynerva?" tanya Amayra dengan raut wajah penasaran.
Dengan polos Xynerva mengangguk. "Amayra, apa ada sesuatu yang aneh dari kalung ini?" Xynerva berbicara sembari memegang kalung emas berbandul bintang.
Mungkin saja ini memang kebetulan, pikir Amayra sebelum menjawab.
"Tidak apa-apa, kalungmu itu bentuknya bagus," puji Amayra.
Sementara itu di tempat yang lain, di sisi lautan yang lain. Lily dan Netti sibuk melihat dan memoto ikan-ikan yang berenang.
"Xynerva, indah bukan? Keindahan lautan tidak kalah dari daratan. Terumbu karang ternyata bisa menjadi tempat tinggal para ikan," ujar Lily masih fokus memoto ikan-ikan. Karena tidak ads respon dari orang diajak bicara membuat Lily menoleh. Matanya melebar, dan terkejut karena hanya menemukan Netti seorang.
"Netti, kau melihat Xynerva?" Pertanyaan itu mengagetkan Netti.
"Bukankah dia berenang di samping kita. Lah dia kenapa tidak ada?" Netti pun sama terkejutnya. Dia mengira di sepanjang perjalanan masih bersama dengan Xynerva.
"Dia berenang ke mana? Kenapa dia tidak memberi tahu kita terlebih dahulu?"
Mereka berdua keliling lautan mencari keberadaan teman mereka yang tidak tahu arahnya ke mana. Kebetulan beberapa orang prajurit kerajaan yang berpatroli melihat mereka dan menangkap mereka. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran, namun karena jumlah prajurit yang lebih banyak mereka tetap kalah.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Lily pada gadis yang tahannya diborgol di sebelahnya. Mereka berdua ditahan dan dijaga beberapa prajurit.
"Aku tidak tahu harus bagaimana? Kita saja ditahan oleh mereka," ucap Netti Dama Yanti dengan raut wajah pasrah.
Rombongan prajurit patroli melewati rumah-rumah penduduk. Beberapa putri duyung dan putra duyung yang kebetulan sedang berada di luar dengan berbagai kegiatan melihat Netti dan Lily.
"Dua orang manusia itu bodoh sekali. Mengapa berani masuk ke wilayah kekuasaan kerajaan?" ucap salah seorang putri duyung yang memiliki rambut kuning cerah pada temannya yang lain.
"Mereka tidak lain akan dimasukkan ke dalam penjara karena berani menerobos," jawab teman satunya.
Apa? Penjara? Kenapa kami harus dimasukkan ke dalam penjara? Kami 'kan tidak menyakiti orang-orang, batin Lily. Mereka mendengar percakapan dua putri duyung itu.
Kami bukannya ketemu dengan Xynerva, malah kami ditahan oleh prajurit-prajurit yang entah muncul dari mana? batin Netti melihat para prajurit.
***
"Maaf ya di tempat tinggalku hanya ada rumput laut," ujar Amayra merasa bersalah karena tidak dapat menjamu tamu dengan baik.
Xynerva menarik bibirnya membentuk senyuman. "Tidak apa-apa. Makanan ini sudah cukup, rasanya juga enak. Aku sebelumnya tidak pernah makan rumput laut." Dia menyumpitkan sepotong rumput laut hijau mengunyahnya pelan. Rasa kenyal dan manis bersatu padu di dalam mulut.
"Oh, jadi kau di dunia manusia makan makanan apa?" tanya Amayra penasaran. Selama ini gadis berambut ungu itu ingin sekali bisa naik ke daratan dan bertemu dengan para manusia. Namun dia tidak bisa karena biaya untuk membeli sebotol ramuan pengubah kaki sangatlah mahal.
"Daging ayam, kentang, tahu, tempe, dan makanan-makanan yang lain. Di daratan ada pohon-pohon seperti pohon mangga, pohon pisang, pohon apel. Mereka akan berputik ketika saatnya tiba dan ketika buahnya matang bisa menikmatinya," jelas Xynerva. Dia dengan semangat bercerita.