Chapter 40 - Berenang Yok!

1120 Kata
Xynerva sedang sibuk bermain dengan pasir membentuknya menjadi istana pasir. Gadis itu tidak menyadari jika Lily sejak tadi menyapanya karena terlalu fokus menghayati membuat sebuah dongeng tentang putri salju. "Aku sejak tadi mencari ke sana ke mari dan memanggilmu berulang kali, tapi ternyata kau malah sibuk bermain dengan pasir sendirian." Lily mengambil sekop kecil yang lain yang tidak terpakai menyendokkan pasir, lalu mulai membentuk sebuah goa pasir. "Ah, kalau begitu maafkan aku. Dan terima kasih karena telah mencariku ke sana ke mari," ujar Xynerva menatap gadis berambut pirang yang duduk di dekatnya sedang bermain pasir juga. "Tidak perlu berterima kasih, kita memang harus selalu bersama. Supaya bisa terhindar dari masalah." Seorang gadis berambut cokelat sebahu datang menghampiri mereka berdua. "Hai, kalian berdua sedang bermain pasir ya?" Xynerva dan Lily tersenyum bersamaan. "Iya, seperti yang kau lihat. Kami sedang membentuk benda-benda dari pasir. Kau mau ikut bergabung bersama kami?" tawar Xynerva. "Aku sejak kecil suka bermain dengan pasir. Aku juga membawa peralatan-peralatan seperti sekop." Netti Dama Yanti mengeluarkan isi kantong cokelat yang dibawanya ke atas pasir. "Kalau begitu kita sama. Aku dan Xynerva juga suka bermain pasir. Kami di rumah punya sekarung pasir ajaib untuk dimainkan ketika waktu luang," jawab Lily dengan nada antusias. Tidak banyak remaja yang berusia lima belas tahun ke atas masih suka bermain pasir. Kebanyakan anak-anak berusia di bawah sepuluh tahun yang masih suka bermain pasir. "Netti, biasanya kau bersama teman-temanmu. Kenapa kau tidak bersama dengan mereka? Apa kau bertengkar dengan mereka?" tanya Xynerva penasaran. Mulai lagi deh sifat penasaran Xynerva. Dia akan bertanya sampai puas. Netti menggeleng, lalu menarik sudut bibirnya tersenyum manis. "Tentu saja tidak Nerissa. Aku dan temanku tidak bertengkar. Mereka sekarang sedang bermain bola voli, sedangkan aku tidak bisa bermain bola voli," ujarnya. Di akhir kalimatnya dia tertawa. "Sebenarnya bermain bola voli itu menyenangkan kalau bisa. Aku juga tidak bisa main bola voli, padahal mamaku semasa mudanya lihai bermain bola voli. Bakat mamaku tidak menurun padaku," sahut Xynerva ikut tertawa. "Aku bisa bermain bola voli. Ya sampai pandainya itu bola voli jatuh menabrak keningku sampai merah," canda Lily. "Iya, aku masih ingat saat itu kita masih kelas sebelas. Bahkan guru olah raga kita Pak Jhony pun ikut tertawa," ucap Xynerva mengingat kenangan satu tahun yang lalu. Ketiga gadis itu bercanda dan bercerita bersama sembari bermain pasir pantai, sedangkan anak-anak lain ada yang sedang bermain bola voli, dan berbagai kegiatan yang lainnya. Puas bermain pasir pantai, mereka menangkap keong-keong kecil yang berkeliaran di bibir pantai. Tidak lupa menangkap kepiting-kepiting merah yang berkeliaran. "Teman-teman, bagaimana jika kita berenang ke laut juga?" ajak Netti yang disetujui oleh Xynerva dan Lily. "Baiklah, boleh itu. Aku akan mengambil dan meminjam peralatan renang di sana," ujar Lily menawarkan diri. Di dekat pantai ada sebuah toko yang meminjamkan peralatan renang dengan bayaran sukarela. "Nerissa, aku sudah satu minggu lebih tidak melihat John. Apa dia masih sakit?" tanya Netti setelah Lily meninggalkan mereka berdua di pinggir pantai untuk meminjam peralatan renang. Nerissa Xynerva Zanitha mengangguk mengiakan. "Iya, John masih sakit. Saat ini pria itu sedang dalam proses perawatan. Do'a kan saja agar dia cepat sembuh," ujarnya. Xynerva tidak bisa berkata jujur apa yang sebenarnya terjadi. "Pasti aku akan mendoakannya supaya cepat sembuh. Oh, ya Nerissa bagaimana menurutmu liburan kita saat ini?" tanya Netti melirik Xynerva yang duduk di dekatnya. "Liburan yang menyenangkan dan mengasyikkan. Sebagai refresing otak dari tugas-tugas sekolah yang bertumpuk," aku Xynerva jujur. Walaupun Xynerva adalah juara kelas di kelas, dia juga merasa jenuh dan bosan karena tiap hari harus bertemu dengan berbagai mata pelajaran. "Ku pikir kau tidak merasa bosan karena kau adalah juara kelas," goda Netti yang dijawab kekehan geli Xynerva. "Oh, tentu saja tidak Netti. Aku juga merasa jenuh dan bosan sama seperti kalian. Aku juga membutuhkan waktu untuk jalan-jalan dan bersenang-senang," sahut Xynerva menatap ombak air laut yang bergelombang. "Teman-teman, ini aku sudah pinjamkan peralatan renang. Dan aku juga sudah membawa pakaian ganti setelah kita berenang nanti." Xynerva dan Netti Dama Yanti mengambil peralatan renang satu per satu, lalu mengucapkan terima kasih. Pakaian ganti mereka masukkan ke dalam kantong plastik dan menyimpannya di tempat yang aman. "Kalian sudah siap?" tanya Lily menatap dua orang gadis secara bergantian yang sudah memakai peralatan renang seperti kaca mata dan tabung oksigen. "Tentu saja, kami sudah siap!" jawab Netti dan Xynerva secara bersamaan. *** Puluhan pria bergerak menangkap anak-anak yang sedang bermain di pinggir pantai. Anak-anak itu berusaha berlari agar tak tertangkap, tapi usaha mereka sia-sia saja. Pantai menjadi kacau balau, dan barang-barang berserakan tidak beraturan. Satu orang guru ditahan dan puluhan anak-anak perempuan dan anak-anak laki ditangkap. "Bawa mereka semua! Jangan sampai ada yang tersisa!" perintah seorang pria bertubuh besar. Rambut birunya menghiasi wajahnya yang berbentuk bulat. "Tolong lepaskan kami, Tuan! Kami tidak mengenal kalian!" mohon siswi-siswi perempuan menangis. Anak laki-laki yang tersisa lima orang masih berusaha melawan. Tentu saja kekuatan mereka tidak sebanding. Dengan mudahnya orang-orang berambut warna-warni seperti gulali itu melumpuhkan anak-anak cowok. "Mengapa kalian para manusia begitu bodoh? Masih berani melawan kami?" tanya seorang yang lain dengan nada angkuh dan sombong. "Derajat kami lebih tinggi daripada kalian makhluk rendahan!" Keadaan sudah seperti ini, tapi masih saja beberapa orang masih berani merendahkan. Mereka benar-benar tidak sayang dengan nyawa. Puluhan pria asing tertawa mengejek. "Apa kami tidak salah dengar? Kalian menyebut kami makhluk rendahan? Jika kami makhluk rendahan, lalu apa sebutan kalian?" tanya seorang pria yang tubuhnya memiliki tatto kalajengking di tangan kirinya menunjuk puluhan manusia yang diikat memakai sihir. "Kalian bahkan tidak mempunyai kekuatan sihir seperti yang kami miliki," sambungnya kembali. "Kami memang tidak mempunyai kekuatan sihir, tapi derajat kami di atas kalian!" Seorang guru wanita berani berkata begitu. "Cukup, kau tidak perlu berdebat dengan mereka! Kita cukup bawa mereka menghadap atasan kita," sahut pria yang satu tim dengan pria berambut biru. *** Terumbu karang, berbagai jenis ikan beraneka ragam, dan pemandangan yang lain membuat ketiganya terkagum-kagum dengan keindahan di bawah laut. Pantai Kireina terjaga kelestariannya. Tidak ada satu pun sampah yang ditemukan mengambang di dalam laut. Xynerva tanpa sadar berenang mengikuti seekor ikan yang cantik, warnanya biru cerah. Ikan itu cantik sekali, aku harus memotonya untuk menunjukkan pada teman-teman nanti, batin Xynerva. Dia terus mengejar sampai tidak menyadari jika dia telah berenang terlalu jauh dan meninggalkan kedua temannya. Sebuah pemukiman di dasar laut? ucap Xynerva dalam hati ketika netra matanya melihat pemandangan rumah-rumah penduduk yang berbentuk hewan-hewan laut. Dia bisa melihat seekor putri duyung dan putra duyung yang berenang. Mereka sedang bercengkrama. Xynerva takut ketahuan, dan bersembunyi di balik batu karang yang besar. Bagaimana jika mereka melihat seorang manusia yang tanpa diundang mendekat? pikir Xynerva. Raut wajahnya tampak khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN